Personal Thought : Hidup Tanpa Harapan

fff

Saya sempat tertegun ketika salah satu sahabat SMA saya berkata bahwa kita hidup karena mempunyai harapan. Awalnya saya biasa aja menanggapi hal itu sampai bulan lalu adik saya mendapatkan jawaban dari doa yang selama ini ia pinta. Setelah menganggur lama semenjak lulus, adik saya tidak putus-putusnya berdoa agar bisa diterima di sebuah Konsultan Hukum. Adik saya berharap dapat diterima di sebuah kantor konsultan hukum yang memang sesuai dengan nilai-nilai yang ia pegang selama ini. Tentu saja saya mendukungnya dalam doa. Saya juga turut senang dengan wajah puas adik saya tiap kali pulang kantor meskipun ia sangat lelah mengarungi kemacetan ibu kota.

Kejadian ini mengingatkan saya bahwa doa sebenarnya merupakan bentuk harapan kita akan hari esok yang kita sampaikan kepada Tuhan. Ketika kita malas untuk berdoa bisa jadi karena kita malas untuk berharap lagi untuk hari esok. Tentu hidup sudah seharusnya penuh harapan, setidaknya berharap bahwa hari esok masih ada. Saya memang sudah lama tidak meminta di dalam doa saya. Salah satu alasan mengapa saya malas meminta dalam doa, karena saya takut terlalu berharap dalam hidup dan berakhir kecewa dengan kenyataan yang terjadi.

Saya pernah mengalami masa-masa tanpa harapan dalam hidup. Saya malas untuk bangun di pagi hari karena saya merasa tidak ada sesuatu yang wah akan terjadi dalam hidup saya. Saya juga ingat betapa bosannya saya melalui setiap hari karena saya pikir hari ini akan sama saja dengan hari esok. Saya malas untuk meminta dalam doa saya karena saya lebih takut sia-sia meminta. Hidup tanpa harapan memang mudah untuk dilakukan. Hidup saja tanpa berharap. Hidup saja tanpa meminta dalam doa. Hidup saja tanpa menanti sebuah perubahaan atau menanti mimpimu untuk tercapai.

Dalam hidup ini, saya menemukan banyak orang yang memberi saya harapan namun saya juga menemukan orang-orang yang telah membuat saya enggan untuk berharap lagi. Mudah untuk menghancurkan harapan seseorang. Bilang saja kepada orang itu bahwa ia tidak layak untuk bermimpi. Bilang saja pada orang tersebut bahwa ia tidak layak mendapatkan apa pun dalam kehidupan, karir dan hubungan. Remehkan mimpinya sehingga ia tidak berani bermimpi lagi. Ambil keputusan atas hidupnya, supaya dia merasa dia tidak punya hak untuk memutuskan dalam hidupnya. Tutup mata saja atas kerja kerasnya selama ini, meski yang ia lakukan sudah yang terbaik. Buat ia merasa tidak berharga dengan kata-kata kasarmu, sehingga ia merasa hidupnya tidak berharga lagi. Bukankah hal-hal ini yang sering terjadi sebelum seseorang akhirnya memutuskan untuk bunuh diri?

Sangat mudah untuk membenci dan menghilangkan harapan seseorang. Semua orang bisa melakukannya. Hal ini bukan sesuatu yang hebat malah menurut saya hal yang remeh banget untuk bisa dilakukan. Semua orang bisa jadi haters, semudah membuat akun bodong di media social dan mengincar orang-orang yang terlihat bahagia di media social untuk dijadikan objek kebencian. Tapi apakah si pembenci di ingat? Mungkin diingat, namun hanya sekedar sebagai penyebar kebencian.

Butuh usaha untuk menumbuhkan harapan di diri setiap orang yang sudah hidup tanpa harapan. Butuh kerja keras untuk membuktikan bahwa sebenarnya kita bisa maju dan berubah. Butuh keringat untuk membangun apa yang sudah rusak menjadi sesuatu yang berguna dan berharga lagi. Butuh semangat yang membara untuk membangkitkan semangat-semangat lain yang sudah padam sejak lama.

Malam kemarin saya yang sedang surut harapan ini, justru berdoa dan menangis untuk seseorang yang saya tidak kenal. Saya hanya tahu kerja kerasnya selama ini dari apa yang media sampaikan dan dari hasil kerjanya yang saya nikmati sebagai rakyat ketika saya jalan ke Ibu Kota. Belum pernah saya segitu perhatiannya dengan perkembangan di negara ini sebelum sosok ini muncul. Saya sedih ketika sosok ini dituduh atas tuduhan yang sebenarnya dibuat-buat saja. Mungkin ada yang tidak senang kalau bangsa ini pada akhirnya mempunyai harapan untuk berkembang dan maju.

Perbedaan memang sudah ada di negara ini sejak dulu, namun bukan berarti hal itu menjadi masalah yang harus dibesar-besarkan untuk suatu kepentingan politik. Selama saya hidup saya berusaha untuk menghormati segala perbedaan selayaknya saya ingin di hormati. Saya masih mengingat guru les bahasa inggris semasa SMA dulu yang beragama muslim, pernah menyidang salah satu teman les saya yang dengan frontal menghina teman les lain yang berdarah Tionghoa.

Beragam kata-kata kasar berbau sara ia lontarkan dengan pedenya kepada teman saya yang merupakan keturuan Tiong Hoa, pada saat kami sedang dalam proses belajar mengajar di tempat les. Padahal teman saya yang berdarah Tiong Hoa ini ga pernah nyinggung dia sama sekali. Kalau bisa dibilang sih hampir satu kelas ga suka sama orang ini yang tiba-tiba suka mengejek orang tanpa sebab. Saya bersyukur guru saya tegas waktu itu menyidang temen saya yang bandel itu di depan kelas, karena menurut guru saya, ia tidak ingin teriakan menyudutkan ras tertentu itu ditiru oleh anak-anak yang lain.

Salah satu sahabat SMA saya ada yang beragama muslim. Sampai sekarang saya banyak belajar dari sahabat saya tersebut. Ga pernah tuh kami ribut karena urusan agama. Salah satu sahabat semasa saya kuliah juga adalah seorang penganut Budha yang taat. Saya sering bertukar pikiran dengannya termasuk soal agama kami masing-masing. Pasti ada perbedaan pendapat diantara kami berdua, namun bukan berarti saya harus berteriak karena ia mempunyai pandangan yang berbeda. Setiap agama tentu mempunyai ajaran yang berbeda, namun satu hal yang kami terus pegang yaitu saling menghormati dan mengasihi satu sama lain di atas perbedaan tersebut. Lagipula agama adalah tentang hubunganmu dengan Tuhan dan bagaimana kamu memperlakukan sesama dengan baik, bukan tentang apa yang orang lain katakan tentang agamamu.

Seribu Bunga untuk Pak Ahok
Seribu Bunga untuk Pak Ahok

Saya terharu melihat siaran berita kemarin malam dimana banyak orang dari berbagai suku, agama dan ras berkumpul untuk menyalakan lilin pengharapan. Hukum negara ini memang sudah banyak timpang, bukan hanya pada kasus yang belakangan ini terjadi namun juga kasus-kasus yang sudah pernah terjadi sebelumnya di negara ini. Saya sedih menanggapi fenomena yang sudah terjadi. Saya juga sempat tidak semangat beberapa hari karena fenomena tersebut. Hanya saja saya masih mengingat sosok tersebut yang masih dengan sabar tersenyum dan tidak melawan ketika di bawa ke tempat penghukuman, mengingatkan saya akan Sosok Besar yang 2.000 tahun lalu yang pernah mengalami hal lebih berat dari ini.

Teruntuk Putera Bangsa…

yang raganya terkurung di balik jeruji besi,

Bapak mungkin ga kenal saya, ga perlu juga sih pak untuk mengenal saya. Saya cuma rakyat jelata yang mungkin belum ada kontribusi apa-apa bagi negara ini, namun saya kirimkan doa saya yang tulus untuk Bapak di sana. Saya harap Bapak tidak kehilangan harapan Bapak ditengah-tengah bangsa yang sedang hilang arah ini dan ditengah-tengah bangsa yang masih memilih membesar-besarkan hal yang sebenarnya ga perlu daripada membangun Negara. Saya berdoa agar Tuhan memberikan penghiburan terhadap Bapak di sana karena saya yakin damai sejahterah merupakan pemberian Tuhan bukan pemberian manusia yang fana. Terima kasih Pak untuk kerja kerasnya dan teladan hidup yang Bapak berikan selama ini, untuk bekerja dengan tulus meski di cemooh, menerima dengan sabar meski orang lain mereka-rekakan kejahatan dan dengan tetap teguh berharap kepada Tuhan. Terima kasih sudah menyalakan lilin dan harapan bagi kami di saat bangsa ini kehilangan harapan. Terima kasih untuk mengajarkan kami bahwa seorang pemimpin adalah teladan bagi orang lain dan bukannya hanya soal memiliki kekuasaan. Semoga suatu saat saya bisa bertemu dengan Bapak dan keluarga agar saya bisa lebih banyak belajar dari Bapak.

Tuhan menyertai Bapak selalu. Amin.

Tulisan ini saya buat bukan untuk membesar-besarkan masalah. Saya yakin semua berhak mengungkapkan pendapatnya dengan bijak tanpa perlu memaksakan kehendak. Saya yakin tidak usah berkoar-koar negatif jika pendapat orang berbeda denganmu. Sosok yang saya ceritakan sudah begitu berjiwa besar menerima hukuman yang dijatuhkan padanya, jika memang ada beberapa orang yang masih belum puas juga, saya rasa sudah seharusnya orang tersebut memeriksa hatinya sendiri. Keputusanmu sendirilah untuk masih memelihara sakit hati dan kebencian bukan karena orang lain lagi. Mintalah Tuhan memeriksa hatimu karena seorang manusia tidak mampu memeriksa hatinya sendiri dengan benar.

Ga perlu juga berpikir saya ingin famous dengan menulis artikel ini, ga perlu kamu mengenal saya. Saya sudah bahagia dengan memiliki sedikit teman yang benar-benar mengenal saya. Saya hanya berdoa pesan damai ini tersampaikan. Teriring doa saya juga untuk Gubernur yang terpilih semoga bisa banyak belajar dari pemimpin sebelumnya dan bisa bekerja lebih lebih baik lagi. Peran-mu sekarang berat Pak, karena sebelum dirimu sudah ada seorang pemimpin besar yang menyentuh banyak hati dengan ketulusan dan kerja kerasnya.

“Mintalah Tuhan memeriksa hatimu karena seorang manusia tidak mampu memeriksa hatinya sendiri dengan benar.”

Saya memilih mencintai perbedaan. Saya memilih menghormati perbedaan tanpa perlu memaksakan sesuatu kepada orang yang berbeda dengan saya. Saya memilih pengampunan daripada dendam. Saya memilih bersabar daripada reaktif. Saya memilih Indonesia yang penuh toleransi antar suku, ras dan agama.

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Pameran Baur Rasa

SAM_5228

Bulan lalu saya pergi ke pameran seni kecil di daerah Blok M. Kebetulan saya hari itu juga ada urusan ke daerah Jakarta. Siangnya saya juga ada janji sama adek kelas saya, Connie yang kerja dekat daerah situ. Saya pikir sayang kalau saya siangnya langsung kembali ke Bekasi padahal perjalanan ke Jakarta juga cukup memakan waktu. Setelah makan siang saya langsung memutuskan untuk pergi ke daerah Blok M untuk mengunjungi sebuah pameran seni.

Siapa yang disini suka mengambil foto dengan kamera atau hp? Sayaaa… Saya termasuk orang yang senang mengambil foto ketika saya sedang jalan ke suatu tempat meski saya bukanlah seorang Fotografer. Foto yang saya ambil juga lebih banyak untuk koleksi pribadi saya semata. Saya juga selalu membawa kamera pocket di tas saya untuk mengantisipasi kalau sewaktu-waktu saya perlu mengambil foto. Konon katanya kamu bisa mengetahui apa yang dianggap paling berharga atau bermakna bagi seseorang melalui apa yang orang itu abadikan dalam sebuah foto. Bila gambar mengungkapkan beribu kata, foto cenderung bisa mengungkapkan beribu rasa. Baik rasa yang pernah ada, masih ada atau yang selalu ada *jadi galau sendiri nulisnya. Terlepas orang tersebut merupakan forografer profesional atau bukan, sebuah foto biasanya dibuat dengan berbagai alasan-alasan termasuk alasan yang personal. Lima orang yang mengikuti Pameran Baur Rasa ini memamerkan foto-foto mereka untuk bercerita kepada pengunjung.

Saya datang sekitar siang menjelang sore ke Kedai Kopi Djule. Kedai kopi ini terletak persis di pinggir jalan besar. Kedai kopi ini tidak mempunyai tempat parkir sendiri, jadi saya harus memarkir kendaraan di dalam tempat parkir Plaza Blok M. Saya sampai di Kedai kopi tersebut dengan berjalan kaki dari tempat parkir. Waktu saya datang, kondisi di dalam kedai kopi ini lumayan sepi. Saya di arahkan ke lantai dua kedai kopi ini ketika pelayan tahu bahwa saya ingin mengunjungi pameran seni. Saya disambut oleh Ibu Ani yang merupakan salah satu seniman yang ikut serta dalam pameran tersebut. Ibu Ani juga menemani saya sambil menjelaskan satu persatu karya foto yang dipamerkan oleh empat orang lainnya.

SAM_5223SAM_5227

Pertama kali masuk, saya disuguhkan sebuah meja kerja yang diatasnya berserakan foto-foto hasil karya Gabriel Sena. Foto-foto yang ditampilkan berupa foto-foto koleksi pribadi dari momen-momen menyebalkan yang Sena alami. Karya ini sebenarnya lebih menekankan bahwa sebaik apapun kita merencakan hidup kita, akan selalu ada momen-momen menyebalkan yang terjadi tanpa bisa diprediksi, namun begitulah hidup. Hal paling penting adalah bagaimana kita menyikapi momen tidak terduga itu. Banyak koleksi foto yang membuat saya kesal, gemas dan juga tertawa karena foto tersebut berisi kejadian konyol yang dialami oleh si seniman.

SAM_5209

Tak jauh dari meja tadi saya lanjut ke karya berikutnya. Karya dari Gloria Pearl ini menyuguhkan foto-foto dari benda-benda pemberian orang terdekatnya. Ternyata benda-benda tersebut mempunyai kenangan berarti antara si pemberi dan si penerima meskipun si pemberi sudah tiada. Benda-benda tersebut seperti momento yang membuat si seniman bisa merasakan kembali rasa yang pernah ia rasakan dan juga mengingatkannya dengan si pemberi barang. Benda pemberian memberikan rasa pada waktu tertentu di masa lalu yang bisa membuat si penerima mengingat rasa dan momen tersebut.

SAM_5214

Saya melanjutkan langkah saya ke hasil karya dari Imron Zuhri. Imron memamerkan foto-foto dan beberapa barang kepunyaan ibunya. Karya ini sebagai cara Imron menenangkan dirinya dan berdamai dengan masa lalu. Imron memiliki hubungan yang naik turun dan banyak kesalah pahaman dengan ibunya, serta rasa-rasa yang belum ia ungkapkan sampai akhir hayat ibunya. Memandangi foto-foto mendiang ibunya menjadi obat dan doa tersendiri bagi Imron. Ketika saya melihat apa yang dipamerkan oleh Imron saya tentu teringat akan ibu saya sendiri. Sering kali sebagai anak kita sering cek cok dengan orang tua kita, namun karya ini juga mengingatkan saya akan ketakutan saya paling dalam yaitu ditinggalkan oleh orang tua saya. Sebanyak apapun perbedaan pendapat antara kita dan orang tua, kehilangan mereka akan jadi duka besar bagi kita. Barang-barang pribadi ibunya yang dipamerkan juga seolah-olah mengingatkan saya bahwa orang yang diceritakan ini pernah ada dan hidup.

SAM_5204

Saya beralih ke foto-foto karya Tandika yang kebetulan orangnya juga ada bersama saya di pameran tersebut. Tandika mengabadikan foto-foto ayah ibunya yang sedang beraktivitas dirumah. Ide ini diambil ketika ia balik ke rumahnya dan melihat foto-foto pernikahan ayah ibunya semasa muda dulu. Tandika mengambil foto ayah ibunya pada masa sekarang. Ternyata meski raga mereka telah tua, rasa dan keharmonisan masa lalu mereka masih terlihat dari foto-foto mereka berdua. Tandika juga sempat cerita ke saya bahwa ia pernah merasa kehilangan akan makna orang tua karena ia hidup merantau ke Jakarta. Tentu saya bisa mengerti maksudnya, meski saya hanya merantau dari daerah Jabodetabek ke Jakarta, namun rasanya ada yang hilang dari diri saya.

SAM_5200

Saya sampai pada hasil karya terakhir pada pameran seni yang terletak di bagian pojok ruangan. Hasil karya tersebut merupakan milik bu Ani yang dari tadi sudah menemani saya melihat karya-karya sebelumnya. Saya masuk ke ruangan kecil yang di pisahkan oleh sekat. Ruangan tersebut memang sengaja di buat redup hanya dengan beberapa lampu tambahan yang menyala. Saya memlihat banyak barang-barang pribadi milik seseorang di meja paling pojok. Saya juga melihat barang khas yang biasanya digunakan seseorang yang sedang sakit. Saya duduk di kursi yang disediakan sambil menonton foto-foto yang berlalu perlahan-lahan dari layar TV. Banyak foto-foto yang lokasinya diambil di rumah sakit. Saya sendiri hanya terdiam ketika menyaksikan gambar hitam putih itu berlalu di layar TV.

Bu Ani juga menceritakan tentang makna foto-foto yang ia ambil. Semua foto tersebut adalah foto yang diambil ketika ia menunggu suaminya di rumah sakit. Ibu Ani bilang bahwa semua benda kenangan yang tidak sempat suaminya pakai, masih ia simpan. Semua benda tersebut adalah benda yang menemaninya selama ia menunggu masa kritis suaminya. Saya hanya terdiam sambil mendengarkan cerita Ibu Ani. Rasa duka seperti masih begitu dekat, namun begitu juga dengan rasa ikhlas yang tergambar dari tulisan-tulisan Ibu Ani. Karya Ibu Ani sendiri mengingatkan saya akan sebuah rasa kehilangan yang pernah saya rasakan beberapa kali, ketika saya merelakan orang yang saya kasihi. Beberapa menit mendengar cerita Ibu Ani membuat saya terasa begitu dekat dengan beliau, seperti rasanya saya berbagi rasa duka kehilangan itu bersama-sama.

SAM_5231

Minum di Kedai Kopi Djule

Selesai saya mengucapkan terima kasih dan berpamitan kepada Ibu Ani dan Tandika, saya menuju ke lantai satu dari Kedai Kopi Djule. Kebetulan saya juga ingin bersantai sebentar di Kedai Kopi sebelum akhirnya saya pulang ke rumah. Saya memesan cokelat dingin dan kue tart kecil untuk jadi cemilan saya siang itu. Ternyata minuman selain kopi disediakan dalam bentuk botol yang sudah disimpan di lemari es untuk pengunjung.

Saya duduk sambil menikmati pemandangan Kedai Kopi tersebut. Tak seperti kebanyakan Kedai Kopi yang lebih menekankan nuansa redup, Kedai ini justru memiliki jendela yang banyak sampai lantai dua. Hal ini membuat cahaya matahari yang natural masuk dengan baik ke dalam ruangan. Saya mengambil foto sekitar jam 3 sore dan cahaya ruangan masih sangat baik untuk mengambil foto. Jendela besar yang merupakan sisi depan Kedai Kopi ini menjadi spot pemandangan yang menarik. Saya duduk sambil mengamati mobil lalu lalang dan juga mengamati Bajaj yang sedang menunggu penumpang. Bagian sisi dalam Kedai Kopi lebih redup dengan pencahayaan berwana kuning. Sama seperti Kedai Kopi pada umumnya, kesan ruangan terasa nyaman karena material kayu, beton dan bata yang digunakan pada ruangan. Hal yang paling menarik buat saya yaitu lampu besar di tengah ruangan Kedai Kopi ini yang terbuat dari kepingan keramik. Lampu yang bersifat sebagai dekorasi ini membuat kesan megah pada ruangan.

SAM_5242

SAM_5235

ttt

Kedai kopi ini lebih banyak menyediakan menu kopi dan snack ringan. Minuman non kopi pilihannya tidak terlalu banyak. Menu makananya juga tidak terlalu banyak. Saya pikir Kedai Kopi ini memang lebih dikhususkan untuk minum kopi. Rasa minuman cokelat yang saya pesan sih enak, pahit cokelatnya masih terasa ketika saya minum jadi manisnya pas menurut saya. Kue cokelat yang saya pesan juga enak. Harga minuman dan makanan di Kedai Kopi ini lumayan mahal menurut saya. Saya habis sekitar 100 ribu untuk minuman cokelat dan potongan kue tart. Kalau soal kopi mungkin saya ga bisa komentar karena saya bukan pecinta kopi namun melihat menu di sini lebih mengutamakan menu minuman kopi, seharusnya minuman kopinya sudah seharusnya enak.

Tak berapa setelah kue saya habis, saya memutuskan untuk pulang ke rumah. Kedai kopi ini sangat cocok untuk nongkrong dan berlama-lama bersama teman. Atmosfer yang diciptakan memang membuat saya cukup betah. Meski terletak di pinggir jalan, namun pemandangan ke arah jalan malah jadi pemandangan yang menarik. Pencahayaan di Kedai Kopi ini oke untuk mengambil foto karena lebih banyak mengutamakan cahaya natural dari matahari. Ada yang sudah pernah ke Kedai Kopi Djule? See you on my next post readers!

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Personal Thought : About Forgiveness

SAM_5190

Saya bukan tipe orang yang bisa mengampuni orang lain dengan baik. Saya bisa berkata seperti itu karena saya suka memendam masalah. Selama ini banyak yang mengira saya terlihat baik-baik saja namun saya orang yang begitu tertutup untuk urusan yang berhubungan dengan perasaan sakit hati.

Saya besar di keluarga yang kaku dengan gaya asuh orang tua yang otoriter. Hal kecil seperti berbeda pendapat dengan orang tua bahkan bisa di salah artikan sebagai bentuk perlawanan terhadap orang tua saya. Padahal sah-sah saja kok punya pendapat yang berbeda. Hal ini juga yang membuat saya membenci tipe kepemimpinan yang otoriter karena membuat saya merasa tertekan secara batin dan mental.

Ketika saya masih kecil, saya tumbuh dalam lingkungan yang penuh kata-kata negatif terhadap diri saya. Banyak perkataan menyakitkan yang saya dapatkan, bahkan dari lingkungan yang terdekat. Semakin saya menginjak dewasa ternyata mengampuni menjadi sesuatu yang sulit bagi saya. Semakin saya dewasa semakin saya juga merasa lebih sensitif, meskipun saya mulai belajar untuk tidak take it personally perkataan setiap orang yang belum tentu membangun.

Baca juga Sunday Thoughts : The Freedom of Taking Nothing Personally by Olivia Lazuardy.

Sebenarnya mengampuni bukan topik hangat yang sering saya ingat dalam hidup, sampai kotbah minggu kemarin di gereja kebetulan adalah tentang mengampuni. Kotbah ini sangat ingin saya lewatkan karena saya tidak ingin mengingat luka-luka lama yang ternyata masih saya simpan. Siapa sih yang mau teringat-ingat lagi dengan kepahitan-kepahitan di masa lalu? Pasti ngak ada kan.

Dalam kotbahnya, Pendeta tersebut menceritakan pengalamannya mengampuni rekan pendeta lain yang sering menjelekkan dirinya. Ternyata hidup dalam kepahitan dan sakit hati bukanlah hidup yang menyenangkan. Ada masa dimana setiap kali pendeta tersebut berdoa rasanya sangat hambar dan kosong, sampai Tuhan menyuruh bapak pendeta tersebut mengunjungi orang yang sudah menyakitinya. Hal yang tidak di duga ternyata terjadi, orang yang dikunjungi justru jadi orang yang menangis duluan untuk meminta pengampunan si pak pendeta. Sejak saat itu hidup pak pendeta mulai berubah menjadi lebih baik. Hubungan pak pendeta dan rekan se-kerjanya itu pun dipulihkan.

Selama kita hidup pasti ada banyak orang yang telah menyakiti perasaan kita. Saya juga pernah mengalami masa dimana ada aja orang yang dengan mudahnya merendahkan saya, menghina karya saya dan menganggap remeh apa yang saya kerjakan, meski saya sudah berusaha sebaik-baiknya. Saya bukan tipe yang meluap-luap secara frontal ketika menghadapi masalah, namun memang emosi saya bisa meledak ketika saya dalam keadaan sangat letih. Saya lebih sering memutuskan komunikasi dan hubungan dengan orang-orang yang menyakiti saya. Saya pikir tidak baik meneruskan hubungan yang tidak didasari oleh rasa saling menghargai satu sama lain. Saya juga merasa butuh jarak dan waktu ketika saya sedang terluka karena orang lain.

“Yang lain mati dengan sakit hati, dengan tidak pernah merasakan kenikmatan” (Ayub 21 :25)

Kok kita yang menderita? kan yang salah dia harusnya dia dong yang menderita. Pertanyaan ini juga muncul ketika kalimat tersebut terlontar dari kotbah minggu lalu. Ternyata orang yang menyimpan dendam dan kepahitan lebih rentan jatuh sakit dan meninggal. Itu sebabnya mengampuni bertujuan untuk menjaga agar kita hidup lebih bahagia dan sehat. Kitalah yang harus melepaskan pengampunan agar hidup kita lebih bahagia.

Saya masih ingat pernah mengalami sakit hati begitu dalam kepada seorang pria dari masa lalu. Saya ga akan panjang lebar menceritakan pengalaman tersebut. Tiga tahun kemudian setelah hubungan kami berakhir dengan masalah, pria tersebut menghubungi saya berkali-kali via sms dan telepon. Saya yang masih shock saat itu tidak membalas satu pun sms atau mengangkat telepon dari pria tersebut. Saya bingung harus merespon seperti apa. Di sisi lain saya masih merasakan sakit hati dan kegeraman di dalam hati saya meski tidak sebesar dulu. Untungnya saat itu sahabat-sahabat terdekat saya terus menerus menenangkan saya. Salah satu sahabat saya juga membujuk saya untuk mengampuni pria tersebut agar saya lebih bisa lega dalam menjalani hidup. Pada akhirnya saya membalas sms pria tersebut dengan singkat, padat dan jelas yang inti dari pesan saya ialah saya sudah mengampuni dia. Saya berharap dia bisa memperlakukan wanita selanjutnya dengan lebih baik.

Butuh perjuangan memang untuk mengampuni seseorang. Sampai detik ini saya masih berjuang untuk mengampuni orang-orang yang sadar atau tanpa sadar telah menyakiti saya. Saya juga mulai rutin berdoa meminta Tuhan untuk memberikan saya kekuatan untuk mengampuni karena sebagai manusia mungkin saya tidak sanggup untuk mengampuni. Saya juga harus menyadarkan diri saya bahwa saya masih ada sampai hari ini semua itu juga karena pengampunan Tuhan.

“Orang yang terluka cenderung melukai orang lain”

Ada satu kalimat menarik dalam kotbah minggu kemarin yaitu orang yang terluka cenderung akan melukai orang lain. Pernah ga sih kita melihat orang yang omongannya suka kasar dan perilakunya cenderung melukai orang lain bahkan dilakukan tanpa sebab tertentu? Pernah ga menemukan orang yang masih mengungkit trauma dan kesalahan orang lain? Saya pernah menemukannya, bahkan saya pernah berada di posisi orang tersebut. Saya jadi sosok yang sangat kasar karena saya sedang terluka sangat dalam saat itu. Itu sebabnya kadang ada orang yang gampang marah-marah ketika sakit hati bukannya malah menangis. Teriakan marah sebenarnya merupakan teriakan kesakitan dari orang itu sendiri.

Sekarang kalau saya lihat orang yang suka marah-marah tanpa sebab dan berkata kasar, saya coba untuk lebih mengerti kondisi orang tersebut. Bisa saja ia memang berasal dari keluarga yang berantakan, lingkungan kerja yang kasar, atau sedang melalui masalah hidup yang berat. Meskipun sebenarnya saya tidak pernah setuju dengan orang yang suka melampiaskan amarah ke orang lain secara membabi buta, saya tetap mencoba bersabar dan mengerti.

“…Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat…” (Lukas 23 : 34)

Orang dewasa cenderung lebih rentan untuk terluka karena hidup dalam banyak tekanan dan tanggung jawab. Meski kita sudah menjadi dewasa tetap saja inner children di dalam diri kita bisa merasakan sakit dan terluka. Saya juga sering melihat orang dewasa melampiaskan amarah dengan kata-kata yang sangat kasar kepada keluarganya, rekan se-kerjanya, bawahannya atau pun orang asing yang ia temui di jalan. Hidup dengan menyimpan luka memang sangat membahayakan bagi orang tersebut maupun bagi sekitarnya.

Saya harap tahun ini saya bisa belajar untuk melepaskan pengampunan lebih banyak lagi untuk diri saya dan orang lain, bahkan tanpa perlu mengharap permohonan maaf dari orang-orang yang telah menyakiti saya. Saya tidak ingin hidup dengan terus-terusan membawa luka. Saya harap artikel kali ini bisa bermamfaat bagi para pembaca khususnya yang belum selesai dengan luka lamanya. Sudahkah kita mengampuni hari ini? See you on my next post readers! 

“Bara api itu sudah seharusnya kamu lepaskan agar kamu sendiri tidak terbakar. -MD”

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Akhir Minggu Produktif di Kopi Kalyan

SAM_5173

Bulan lalu saya sempat mengikuti sebuah sesi sharing yang diadakan oleh Catalyst Art dan Publisher Indie The Pagggges. Acara sharing ini memang lebih terkesan santai yaitu berupa sharing pengalaman oleh beberapa illustrator yang berhasil mempublikasikan ide dan karya mereka dalam bentuk zine. Publisher Indie The Pagggges juga menceritakan awal mula terbentuknya The Pagggges sebagai publisher lokal yang bertujuan mempublikasikan karya illustrator ke beberapa komunitas penikmat seni.

Bagi yang belum tahu mengenai zine, sebenarnya zine itu sendiri berbentuk seperti booklet. Zine tidak dibatasi dalam bentuk tulisan, percakapan, ataupun karya seni. Istilah zine mulai populer ketika digunakan oleh kaum punk pada masa populeritasnya. Kaum punk menggunakan zine untuk menyebarkan idealisme mereka. Pada masa tersebut, zine sempat di larang oleh masyarakat dan pemerintah karena isinya yang mengandung konten vulgar, kekerasan dan terlalu bebas.

SAM_5193

Seiring berkembangnya jaman, zine juga berkembang menjadi sebuah media bagi para seniman untuk menyalurkan ide-ide mereka dalam bentuk kumpulan karya seni. The Pagggges sendiri berperan sebagai kurator dalam penyeleksian zine yang akan mereka promosikan. Para seniman sendirilah yang memperbanyak zine mereka apabila berhasil lulus dalam tahap seleksi. Zine juga bertujuan agar kumpulan karya seni para seniman dapat dibeli oleh penikmat seni dengan harga yang lebih terjangkau.

Setelah sesi sharing selesai, para peserta mengikuti workshop yang diadakan oleh panitia. Pada sesi ini setiap peserta diharapkan untuk spontan membuat doodling di sebuah kertas yang akan diberikan ke peserta lainnya secara bergantian. Peserta lainnya pun harus merespon doodling yang peserta sebelumnya buat secara spontan. Hasil kumpulan doodling tersebut kemudian digabungkan menjadi sebuah zine. Hasil akhirnya memang unik, zine kami berisi sesuatu yang nyeleneh dan lucu. Setelah sesi workshop selesai, saya berkeliling untuk melihat zine-zine yang dibuat oleh para seniman. Zine tersebut juga bisa dibeli selama pameran berlangsung.

SAM_5199

MAKAN SIANG DI KOPI KALYAN

Kebetulan hari itu saya tidak datang sendirian, saya datang bersama teman saya yang juga sama-sama menyenangi bidang seni dan illustrasi. Kami sempat membuka usaha kecil dalam bidang illustrasi produk. Sudah lama sekali kami tidak mengikuti workshop atau bertemu untuk membicarakan usaha kami untuk ke depannya. Teman saya memang sedang sibuk dengan kerjaan kantor sekarang, sedangkan saya juga mengikuti beberapa event blogger di akhir pekan. Saya juga sudah mulai mengikuti les bahasa Inggris pertengahan bulan lalu. Saya pikir mumpung akhir pekan ini waktu kosong kami sedang cocok, jadi sekalian saya sempatkan waktu untuk bertemu sambil makan siang.

Kopi Kalyan terletak di daerah Senopati yang lebih di dominasi dengan perumahan. Butuh sedikit usaha lebih untuk datang ke kedai kopi ini yang cukup jarang dilalui oleh angkutan umum. Saya sarankan untuk memakai kendaraan pribadi atau menggunakan transportasi online jika ingin datang ke tempat ini. Tempat parkir-nya juga sedikit, jadi lebih baik datang lebih pagi jika ingin membawa kendaraan sendiri.

SAM_5161

SAM_5160

Gaya interior yang ditonjolkan oleh Kopi Kalyan lebih ke arah industrial dengan tetap mempertahankan kesan bangunan unfinished. Material yang ditonjolkan pada ruangan kedai kopi ini lebih banyak menggunakan kayu, besi, dan beton unfinished. Material beton juga semakin di expose dengan membiarkan sisi tiang terkesan tidak selesai. Saya termasuk penyuka gaya industrial seperti ini, karena lebih terkesan simpel dan ga ribet. Saya malah kurang tertarik dengan interior ruangan diberi terlalu banyak material heboh yang menonjol. Meski kesan ruangan kedai kopi ini simpel namun kesan nyaman masih dapat tercipta dari ruangan kedai kopi ini.

SAM_5153

Tak berapa lama ketika saya sedang melihat menu makanan, seorang Bapak muncul dari balik pintu sambil membawa seekor anjing Alaskan Malmute yang besar. Beberapa pengunjung langsung berdatangan untuk menghampiri anjing besar tersebut, termasuk saya. Nama anjing Alaskan Malmute tersebut adalah Teebar. Anjingnya ramah kepada para pengunjung yang datang menghampirinya. Saya paling ga tahan kalau lihat binatang peliharaan apalagi anjing yang besar, pasti saya langsung pengen elus-elus.

SAM_5157

Selesai puas main dengan Teebar, saya pergi memesan makanan dan minuman. Saya memesan nasi goreng kebuli dan green tea latte. Saya ga memesan kopi karena saya memang bukan pecinta kopi. Nasi goreng kebuli kedai kopi kalyan ini enak banget, hanya saja rasanya pedas panas. Lidah dan perut akan terasa sedikit panas setelah memakannya. Nasi goreng kebuli merupakan salah satu menu favorite di Kopi Kalyan. Menu makanan di kedai kopi ini lumayan banyak dan harga yang ditawarkan juga lumayan. Saya habis sekitar 90 ribu untuk makanan dan minuman yang saya pesan.

Kedai kopi ini memiliki ruang luar hijau yang aktif yaitu dapat digunakan oleh para pengunjungnya. Salah satu ruang luar digunakan sebagai ruangan khusus merokok. Ruang luar merokok-nya asik untuk duduk-duduk atau pun untuk mengobrol. Ruang dalam kedai kopi ini justru lebih redup dengan cahaya namun lebih terasa adem. Bagian depan kedai kopi justru lebih terang dan sering dipakai untuk tempat pameran skala kecil. Para pengunjung yang datang ke kedai kopi ini biasanya melakukan aktivitas seperti mengerjakan tugas, nongkrong bersama teman, dan melihat pameran.

SAM_5163

Saya memang ingin lebih ingin produktif di akhir pekan. Jika saya ada acara di daerah Jakarta, sering saya padatkan acaranya seharian untuk ke pameran, workshop, atau sekedar menulis supaya besok-besoknya saya ga perlu pergi jauh ke Jakarta lagi. Hari minggu lebih saya khususkan untuk keluarga. Sebenarnya saya juga mulai jenuh dengan kemacetan daerah Jakarta, khususnya pada hari Jumat dan Sabtu malam. Kalau ga perlu-perlu amat, saya ga akan pergi ke Jakarta. Akhir pekan kali ini cukup produktif bagi saya karena siangnya saya membahas banyak hal tentang usaha kecil yang sedang kami bangun, jadi saya cukup puas hari itu.

Ada yang sering menghabiskan hari Sabtu dengan pergi ke pameran atau ikut workshop? Cerita dong di bagian komen tentang Sabtu produktif versi kalian. See you on my next post readers!

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

FOR MORE INFORMATION

Kopi Kalyan

JL. Cikajang no 61, Senopati. Jakarta

Open : Sun-Thur 7AM-10PM /Fri-Sat 7AM-11PM

Instagram : @kopikalyan

SAKALA Coworking Space

SAM_5432

Minggu lalu saya dihubungi oleh tetangga sebelah rumah saya via chat online Facebook. Mbak Pilag panggilan akrab saya terhadap beliau, mengundang saya untuk datang pada sebuah acara yang diadakan oleh SAKALA Coworking Space. Acara yang diajukan kepada saya merupakan beauty class dengan fokus riasan Smokey Eyes. Kebetulan Mbak Pilag sempat mampir ke blog saya yang banyak membahas seputar beauty sehingga timbul niat beliau menawarkan saya untuk ikut acara tersebut. Tanpa banyak basa-basi saya menerima undangan tersebut, saya pikir kapan lagi saya dapat mengikuti acara workshop di daerah Bekasi. Selama ini kelas workshop lebih sering diadakan di daerah Jakarta Selatan secara disana memang pusatnya seni. Karena undangan acara ini bersifat Free dari pihak SAKALA kepada saya yang seorang blogger, sebagai gantinya saya berjanji untuk mengulas SAKALA di blog pribadi saya.

Acara beauty class yang saya ikuti memang benar-benar bermamfaat. Pembicara beauty class tersebut yaitu mbak Ika Karwur (MUA & owner MSC Salon) benar-benar memberikan ilmu yang banyak untuk para peserta. Acara beauty class cukup berlangsung lama karena sesi awal full diisi dengan praktek pada model dan sesi tanya jawab. Para peserta baru memulai merias wajah sendiri pada sesi kedua yaitu setelah istirahat makan siang. Kebetulan sponsor beauty class kali ini ialah MAKE OVER, brand yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Brand ini memang gencar melakukan beauty class sebagai strategi untuk mengenalkan produk mereka ke masyarakat luas. Brand ini juga ga pernah pelit memberikan potongan harga pada produk mereka untuk event-event tertentu.

SAM_5358

SAM_5359

SAM_5368

Seharusnya saya melakukan tahap wawancara dengan Mbak Pilag dan Mas Fafan selaku Founder dari SAKALA Coworking Space setelah acara tersebut berakhir, namun karena acara hari itu cukup padat maka saya memutuskan untuk membuat janji ulang dengan Mbak Pilag dan Mas Fafan untuk sesi wawancara. Kebetulan lokasi SAKALA Coworking Space tidak terlalu jauh dari rumah saya. Sebenarnya saya bisa wawancara Mbak Pilag di rumahnya sendiri mumpung rumah beliau tetangga-an dengan saya, tapi saya perlu mengambil beberapa foto untuk artikel yang mengulas SAKALA. Kami akhirnya memutuskan untuk melakukan sesi wawancara pada hari Kamis di SAKALA Coworking Space.

SAKALA Coworking Space terletak di daerah ruko Galaxy, kota Bekasi. Lokasi Coworking Space ini cukup jauh dari hiruk pikuk lingkungan perumahan Galaxy yang biasanya ramai dengan kendaraan. Saya datang membawa kendaraan pribadi siang itu. Lokasi SAKALA sendiri sudah bisa di akses melalui google map atau waze jadi cukup memudahkan saya untuk tidak nyasar ke tempat tersebut. Lokasi SAKALA yang berada di deretan paling ujung merupakan nilai plus tersendiri karena bangunan in memiliki jendela samping dengan pemandangan menghadap ke taman.

SAM_5434

Setelah saya sampai ke tempat tersebut, saya disambut baik oleh salah satu Founder dari SAKALA Coworking Space yaitu Mas Fafan. Saya ngobrol sebentar sambil menunggu Mbak Pilag yang masih terjebak macet di daerah Kalimalang. Tidak berapa lama, Mbak Pilag sampai di SAKALA bersama salah satu staff yang hari itu ikut menemaninya. Sambil di suguhkan makanan, saya memulai wawancara saya dengan Mbak Pilag dan Mas Fafan selaku pemilik dari SAKALA Coworking Space.

bb

Bermula dari sebuah artikel koran yang di baca Mbak Pilag sewaktu berada di rumah mertuanya, suami istri tersebut memiliki rencana untuk membuka sebuah Coworking Space di daerah Bekasi. Mbak Pilag sendiri yang berprofesi sebagai psikolog dan beberapa kali bekerja sebagai vendor rekrutmen beberapa perusahaan, juga mengalami kesulitan dalam bekerja di rumah. Meski bekerja secara freelance namun pekerjaan tersebut berhubungan dengan banyak sekali kertas bertumpuk sehingga cukup susah untuk mencari tempat untuk bekerja. Keinginan untuk bisa bekerja kondusif di luar rumah juga ikut mendorong perwujudan dari Coworking Space yang mereka ingin bentuk.

Mengapa tidak mengerjakan tugas di Coffee Shop saja?

Pertanyaan ini pasti muncul di benak kita semua, secara gaya hidup masyarakat sekarang sering menjadikan kedai kopi sebagai tempat mereka mengerjakan tugas atau pekerjaan. Mbak Pilag sendiri mengakui tidak leluasa untuk bekerja di sebuah kedai kopi dengan harus membawa dokumen-dokumen yang akan dikerjakan. Saya yang sering menulis artikel untuk blog juga pernah merasakan kondisi coffee shop yang tidak kondusif untuk melakukan pekerjaan. Gangguan yang saya hadapi bisa berupa bising-nya suara obrolan pengunjung yang datang, apalagi jika kondisi kedai kopi saat itu sedang ramai-ramainya. Hal ini jelas tidak hanya sekali terjadi namun berkali-kali, maklum tujuan orang ke kedai kopi memang bermacam-macam, tidak sepenuhnya pengunjung kedai kopi datang untuk mengerjakan tugas.

SAKALA (bahasa Sansekerta) mempunyai arti mewujudkan sesuatu menjadi bentuk nyata yang bisa dinikmati oleh panca indera

SAKALA sendiri merupakan nama yang diambil dari bahasa Sansekerta. Nama ini mempunyai arti mewujudkan sesuatu menjadi bentuk yang bisa dinikmati oleh panca indera. Mbak Pilag sendiri mempunyai harapan agar tempat ini menjadi tempat dimana para pengunjungnya dapat mencurahkan ide ke dalam bentuk yang lebih nyata. Terbentuknya SAKALA juga diharapkan bisa menjadi tempat bagi para pengunjung untuk bisa leluasa berkarya. Fokus pada komunitas, tim SAKALA turut aktif dalam menjalin komunikasi dengan para pengunjungnya.

Membuka Coworking Space di daerah Bekasi memang tidak mudah mengingat istilah ini termasuk baru untuk daerah pinggiran Kota Jakarta, secara kota Bekasi lebih dikenal dengan daerah perindustrian. Berbagai kendala sempat di alami oleh kedua suami istri dalam membuka bisnisnya. Mulai dari kendala biaya yang ternyata lebih banyak dihabiskan untuk mengisi Coworking Space tersebut. Masa-masa sepi pengunjung pun pernah di alami oleh SAKALA. Memang Mbak Pilag sendiri mengakui kurang gencar mempromosikan SAKALA melalui media sosial ketika SAKALA pertama kali buka. Sekarang situasinya mulai berubah, Mbak Pilag sendiri tidak terlalu takut ketika pengunjung mulai sepi karena beberapa pengunjung SAKALA sudah mengambil paket bulanan sekaligus.

SAKALA sendiri pernah mendapat tawaran dari investor untuk buka cabang di Bali namun hal itu masih di dalam pertimbangan kedua Founder SAKALA. Mas Fafan dan Mbak Pilag lebih ingin fokus kepada keluarga sembari membangun bisnis Coworking Space ini. Saat ini team SAKALA juga masih dalam bentuk kecil yaitu dua founder dengan tugas yang berbeda, Mbak Pilag sebagai penyumbang ide, Mas Fafan yang bertugas sebagai kepala operasional dan bisnis. Dua founder didukung oleh anggota tim lain dari SAKALA yaitu berupa satu admin, satu office boy dan satu Freelance Senior Marcomm (Marketing Communication). Meski masih dalam bentuk tim kecil, Mbak Pilag sendiri tidak memungkiri untuk memperluas SAKALA dan menambah tim kerja jika bisnis ini semakin berkembang.

Suasana lantai 1 Sakala Coworking Space, Bekasi.
Suasana lantai 1 Sakala Coworking Space, Bekasi.
Suasana lantai 2 Sakala Coworking Space, Bekasi.
Suasana lantai 2 Sakala Coworking Space, Bekasi.

SAM_5445

Suasana ruang meeting lantai 3 Sakala Coworking Space yang bisa disewa
Suasana ruang meeting lantai 3 Sakala Coworking Space yang bisa disewa

Selain menyediakan tempat untuk bekerja, SAKALA juga rutin membuka kelas workshop tiap bulan. Lantai satu bangunan ini lebih di utamakan untuk menyambut pengunjung SAKALA. Ibaratnya lantai satu gedung ini seperti ruang tamu. Sudut pojok ruangan lantai satu disediakan kopi dan teh yang memang dapat digunakan oleh pengunjung. Lantai dua di khususkan untuk pekerja yang ingin memiliki privasi lebih. Ruangan ini sewaktu-waktu bisa dijadikan ruang untuk kelas workshop yang diadakan oleh SAKALA. Lantai tiga bangunan ini dikhususkan sebagai mushola dan ruang rapat yang dapat di sewa oleh pengunjung.

Hal ini juga yang menjadi fokus bisnis dari SAKALA yang lebih mengutamakan membangun komunitas daripada hanya sekedar mengejar uang

Harapan Mbak Pilag sendiri sebagai founder dari SAKALA yaitu ingin membuka SAKALA lainnya di beberapa tempat. Kedua founder tersebut juga berharap suatu saat dapat membangun gedung sendiri untuk SAKALA. Kedua founder juga merasa bisnis yang mereka bangun ini sudah sangat erat hubungannya dengan mereka, rasanya seperti merawat anak sendiri. Hal ini juga yang menjadi fokus bisnis dari SAKALA yang lebih mengutamakan membangun komunitas daripada hanya sekedar mengejar uang. Pihak SAKALA sendiri belum berniat untuk menambahkan menu makanan pada pelayanan tambahan Coworking Space ini, karena SAKALA sendiri sudah dikelilingi oleh banyak tempat makan. Pengunjung SAKALA juga bisa mendapatkan diskon jika memesan makanan dari toko sekitar.

Harga sewa tempat di Sakala Coworking Space, Bekasi.
Harga sewa tempat di Sakala Coworking Space, Bekasi.

SAM_5447Tidak terasa sesi wawancara saya cukup berlangsung lama dengan kedua founder SAKALA. Saya sendiri sampai kenyang dengan makanan yang disajikan untuk saya. Sesi wawancara juga ditutup dengan sesi curhat bersama Mbak Pilag dan Mas Fafan. Kebetulan Mbak Pilag merupakan seorang psikolog sehingga saya lebih banyak meminta saran dan nasehat terkait karir dan kehidupan. Saya pulang agak malam dari SAKALA hari itu, untungnya hari itu SAKALA sedang sepi pengunjung. Bagi warga Bekasi khususnya kehadiran SAKALA sendiri merupakan sebuah potensi yang sayang untuk dilewatkan. Saya sendiri merasa senang karena tidak perlu jauh-jauh ke Jakarta Selatan untuk mengikuti kelas workshop. Kamu bisa mengikuti Facebook atau Instagram SAKALA untuk update kelas workshop yang akan diadakan. Saran saya cepat-cepat booking kelas ya karena sering sekali banyak peminat yang tidak kebagian kelas workshop. Kelas workshop di SAKALA juga sering sold out mungkin memang peminat kelas di Bekasi cukup tinggi.

COME AND ENJOY SAKALA!

NOTE

This is a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and interviewees honest responds. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

FOR MORE INFORMATION

Sakala Coworking Space

Grand Galaxy City

blok RSN 7 no 36, Jakasetia, Bekasi 17148

Telepon : (021) 82733692

Email : sakala.space@gmail.com

Facebook : Sakala Coworking Space

Instagram : @sakala.space

Website : www.sakala.space

Daily Journal : Taking a New Step

SAM_5418

Bulan lalu adik saya mengungkapkan keinginannya untuk belajar bahasa Inggris lagi. Saya sempat menyarankannya untuk pergi ke sebuah tempat les Inggris yang pernah saya datangi, karena memang waktu itu saya tertarik untuk daftar. Saya tertarik dengan jadwal fleksibel yang di sediakan oleh tempat les tersebut. Tempat les tersebut memang di tujukan bagi para karyawan dan orang dewasa yang jadwalnya kurang menentu ketika berada di dunia kerja. Bagi para pekerja tetap maupun yang freelance seperti saya, jadwal les yang fleksibel tentu jadi keuntungan tersendiri. Jam pekerja kantor memang bisa berubah sewaktu-waktu karena lembur. Bagi pekerja freelance, jadwal memang terasa lebih fleksibel, namun tetap saja ada kendala lain seperti klien yang mendadak memindahkan hari untuk meeting dan job yang datang secara mendadak. 

Awalnya adik saya yang semangat banget untuk ikut les karena adik saya menyenangi bahasa Inggris dan bahasa ini sangat dibutuhkan di area pekerjaannya sekarang. Saya sebenarnya waktu itu ga terlalu tertarik untuk ikut les lagi, malah saya lagi mikirin banget mau les private make up. Setelah saya pikir-pikir lagi, bahasa Inggris bisa jadi modal dalam segala bidang termasuk juga memudahkan saya jika mau melanjutkan sekolah S2 di luar negri. Saya juga sudah lama tidak berada dalam situasi bekerja atau belajar secara kelompok, karena selama ini pekerjaan yang saya ambil lebih membuat saya bekerja sendirian. Kondisi usaha ilustrasi saya dengan teman juga lebih banyak mengutamakan komunikasi via email atau wa karena kebetulan teman saya lagi sibuk dengan pekerjaan kantornya.

Pertama kali saya memutuskan untuk bekerja sendiri memang saya sempat merasakan kesepian. Hal ini saya rasakan karena perpindahan pekerjaan dari yang kerja kantoran ke fase freelance. Saya akui kerja bersama orang lain apalagi dalam jumlah yang cukup banyak, sangat rentan dengan konflik mau dari segi pekerjaan atau segi kepribadian. Karena saya juga punya pengalaman tidak terlalu menyenangkan ketika berada di suatu kelompok pertemanan, saya kadang suka skeptis dengan lingkungan baru. Saya jadi was-was dan perlu waktu yang lebih lama untuk beradaptasi. Saya merasa memang lebih bijak untuk pelan-pelan mengenali seseorang atau ketika berada di sebuah komunitas daripada langsung membuka diri secara terang-terangan.

Setelah melakukan banyak pertimbangan, saya memutuskan untuk ikut mendaftarkan diri ke tempat les tersebut. Menurut saya ga ada salahnya menambah ilmu bahasa Inggris yang sudah lama saya lupakan. Apalagi bahasa itu dibutuhkan untuk berbagai bidang pekerjaan. Saya juga merasa perlu lingkungan yang mendukung untuk belajar, karena jujur belajar di rumah kurang kondusif bagi saya.

“Kenapa ga belajar sendiri aja?”

“Kan bisa beli buku materi Inggris untuk belajar sendiri?”

“Sayang dong uangnya emang dulu ga belajar bahasa Inggris?”

Salah satu ungkapan di atas sempat terucap oleh ayah saya yang sempat skeptis dengar saya mau les bahasa Inggris lagi. Saya tetap kekeh waktu itu ingin mengambil les bahasa. Bisa sih sebenarnya kita belajar bahasa sendiri, namun belum tentu kita bisa tahu salah kita yang mana sepenuhnya. Saya juga ga menghakimi orang yang merasa lebih suka belajar sendiri dibandingkan harus les. Semua orang punya kebutuhan yang berbeda menurut saya. Bila itu baik bagi orang lain belum tentu hal itu baik bagi saya. Jika kamu bisa lancar berbahasa Inggris dengan belajar sendiri, Good for you, not for me!

Hal yang saya paling suka dari tempat les ini ialah saya di tanya goal saya ke depan yang terkait dengan alasan saya untuk belajar bahasa Inggris. Pertanyaan ini juga bertujuan agar pembimbing les mengarahkan dan membimbing sesuai goal masing-masing bukannya untuk ber-kompetisi supaya lebih pintar menggunakan bahasa Inggris. Saya juga diberikan homework secara online seusai level saya sehingga pembimbing bisa mengetahui progress saya selama belajar.

Semakin dewasa semakin jelas bagi saya bahwa apa yang saya lakukan itu bukan untuk ber-kompetisi lagi karena goal hidup setiap orang berbeda-beda. Kompetisi menurut saya bertujuan untuk mengasah kemampuan kita lebih baik dari sebelum-sebelumnya, bukan hanya untuk lebih baik dari orang lain saja. Bahkan dulu saya sempat ga nyaman dengan sistem pendidikan sekolah di Indonesia yang terlalu kaku dengan sistem pembelajaran satu arah. Saya sendiri ga heran kenapa bimbingan belajar lebih laris karena memang fokusnya jelas membantu anak yang belum bisa menjadi bisa. Sistem belajar pun lebih di modifikasi sesuai kebutuhan anak. Sejauh pengalaman saya, guru bimbel lebih kreatif membawakan sebuah materi pelajaran. Saya ga bilang sistem pendidikan Indonesia sepenuhnya jelek lhoo, hanya saja memang kita perlu banyak berpikir lagi tentang sistem pendidikan yang baik bagi anak-anak, mengingat kemampuan setiap anak berbeda.

Pertama kali saya masuk ke tempat les, tentu ada perasaan takut yang timbul. Saya bahkan sampai berpikir apakah saya bisa nyaman dan cocok dengan lingkungannya. Ternyata ketakutan saya tidak sepenuhnya terbukti malah saya jadi rajin ikut kelas dan datang ke tempat les. Saya menemukan teman-teman baru yang bisa saya ajak diskusi tentang bahasa Inggris, karir, dan hidup. Saya bahkan pernah cerita tentang kebingungan saya akan karir yang akan saya pilih dengan Student Consultant yang saya kenal. Saya juga jadi bisa melihat dari sudut pandang lain karena orang yang saya temui bermacam-macam.

Setelah beberapa kali ikut kelas, minggu lalu saya memberitahukan kabar saya kepada psikolog kenalan saya. Saya bilang bahwa saya mengambil langkah les Bahasa Inggris untuk membiasakan diri saya berada di lingkungan baru, padahal dulu saya ogah beradaptasi dengan lingkungan baru. Saya lebih banyak memilih pekerjaan yang bisa saya lakukan sendiri. Psikolog kenalan saya langsung senang mendengar kabar saya. Beliau senang karena saya berani mengambil langkah berbeda setelah selama ini saya mengungkung diri saya sendiri. Saya juga bilang bahwa saya mulai membiasakan diri berada di lingkungan baru serta bersyukur bahwa lingkungan tempat les saya aura-nya lebih positif dan kondusif.

Bagi beberapa orang mungkin perkara mengambil les Bahasa Inggris merupakan perkara yang sepele, namun tidak bagi saya yang sempat mengalami social anxiety. Hal ini pekerjaan yang extra bagi saya. Saya harus mendorong diri saya keluar dari pemikiran buruk saya sendiri. Saya bahkan pernah mengalami masa dimana saya ga mau ketemu dengan orang-orang atau menutup diri saya sangat rapat. Saya bersyukur masa itu boleh lewat perlahan-lahan, meski jujur saya masih was-was kalau berkenalan dengan orang baru. Saya harap penderita anxiety bisa tetap mengambil langkah kecil untuk keluar dari pemikiran mereka.

Baru beberapa minggu berlalu sejak saya belajar bahasa Inggris, badan saya langsung kena flu. Saya memang terlalu tancap gas di awal yaitu langsung mengambil banyak jadwal kelas sampai malam. Badan saya masih belum terbiasa untuk pulang pergi dengan rute Bekasi-Jakarta karena sudah lama tidak ada kegiatan sangat rutin yang saya lakukan setiap hari. Banyak hal lucu juga terjadi selama saya berada di tempat les, mulai dari pelajar lain yang frontal menanyakan saya sudah punya pacar apa belum sampai kejadian saya di kira anak SMA ahahahhaa. Intinya saya lagi senang-senangnya belajar bahasa Inggris lagi. Semoga blog post kali ini menginspirasi pembaca untuk tetap belajar hal baru atau lama yang sudah lama ingin dipelajari. Adakah yang sudah mengambil langkah untuk belajar tentang sesuatu hal? Kamu bisa sharing tentang cerita-mu di kolom komentar. See you on my next post readers!

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Emergency kit for Acne, Derma Angel

SAM_5377

Pernah ga sih merasa ga pede ketika jerawat sedang timbul di wajah? Dulu saya paling ga pede dengan wajah saya, karena penuh dengan jerawat. Saya paling benci kalau jerawat tersebut berbentuk jerawat batu yang besar atau yang sudah ada “white head”-nya. Khusus untuk jerawat batu, saya masih bisa siasati dengan pemakaian concelear, namun untuk jerawat ber-nasi memang merupakan jenis jerawat yang susah untuk ditutupi dengan make up. Jerawat jenis ini paling mengganggu penampilan karena biasanya langsung terlihat menonjol di wajah. Jerawat jenis ini juga paling cepat iritasinya karena kulit area sedang dalam fase sensitif.

Salah satu cara menutupi jerawat yaitu dengan teknik make up menggunakan concelear, namun ada saja kasus dimana ketika jerawat di tutupi dengan make up, jerawat tersebut malah semakin bernanah. Saya sudah tidak membiasakan lagi menutupi jerawat iritasi dengan make up, biasanya saya beri obat jerawat saja tanpa ditutupi apapun. Hal tersebut saya lakukan agar setidaknya kulit saya bisa bernafas ringan tanpa perlu kerja keras untuk menyembuhkan diri. Hanya saja ada sisi yang kurang dari obat jerawat, yaitu tidak bisa menutupi keseluruhan penampilan jerawat yang sedang bernanah.

Kebetulan awal bulan ini saya mendapat kesempatan untuk mencoba produk Derma Angel untuk mengatasi jerawat yang timbul mendadak. Apa sih Derma Angel itu? Derma Angel adalah acne patch kasar (transparan) yang menawarkan perawatan lengkap dengan fungsi “heal and hide”. Produk ini dipercaya dapat meredakan jerawat dalam waktu 12 jam dan menyembunyikan jerawat dari paparan solusi dan bakteri dari lingkungan sekitar. Derma Angel juga dapat menyatu dengan baik pada riasan wajah yang sedang kita pakai.

Derma Angel adalah acne patch kasar (transparan) yang menawarkan perawatan lengkap dengan fungsi “heal and hide”

Pertama kali saya mendapatkan produk Derma Angel sebenarnya saya agak ragu bahwa produk ini bisa meredakan jerawat pada wajah saya. Apalagi saya bukan orang yang percaya banget dengan yang namanya Acne Patch. Wajah saya memang tidak rutin berjerawat sejak saya lepas dari masa puber, namun masih ada beberapa jerawat yang suka muncul mendadak karena berbagai hal yaitu alergi, polusi, atau pada masa haid. Kebetulan beberapa hari yang lalu sesudah saya haid, ada beberapa jerawat kecil yang tumbuh di wajah saya. Jerawat kecil tersebut biasanya langsung menunjukkan “white head”. Hal ini biasanya bikin saya kesel karena cukup menganggu penampilan wajah saya.

patch

KEUNGGULAN PRODUK DERMA ANGEL

Apa sih keunggulan dari produk ini? Produk Derma Angel memiliki beberapa keunggulan dibandingkan produk lain yaitu :

Invisibility (transparan)

Sangat tipis dan transparant sehingga memastikan patch menyatu dengan dengan warna kulit alami dan make up.

Anti Acne (Anti Jerawat)

Mengandung bahan hydrocolloid dressing yang berguna untuk menyerap lebih banyak cairan. Sedikit memblokir UVB untuk mengurangi pigmentasi

Protection

Lapisan luar tahan air (waterproof) yang melindungi kulit dari polusi eksternal dan menjaga higenitas pada bagian dalam. Tingkat kerekatan yang baik sehingga patch tidak mudah bergulir.

CARA MEMAKAI ACNE PATCH DERMA ANGEL

Cara memakai acne patch ini termasuk mudah. Bersihkan tangan dan area berjerawat terlebih dahulu sampai tahap pengeringan. Lepaskan setengah bagian patch dan tempelkan pada jerawat. Tekan patch selama 3-5 detik secara halus agar patch lebih merekat dengan baik pada kulit.

before1
Pada pukul 14.00 WIB foto menggunakan cahaya alami matahari sedangkan pada pukul 15.00 WIB dan 22.00 WIB foto menggunakan lampu ruangan kamar.

PEMAKAIAN ACNE PATCH DERMA ANGEL SELAMA 8 JAM

Saya mencoba produk Derma Angel pada titik-titik jerawat yang timbul di wajah saya. Saya memakai produk tersebut pada jam 14.00 WIB siang sampai dengan 22.00 WIB yaitu sekitar 8 jam. Setelah produk berubah menjadi putih susu maka saya melepaskan produk tersebut. Setelah melepaskan produk, white head dari jerawat saya juga ikut terangkat. Jerawat kecil saya berwarna sedikit merah. Keesokan harinya jerawat saya tersebut sudah mereda dan tidak menimbulkan tanda-tanda infeksi lanjut.

before2
Pada pukul 10.00 WIB foto menggunakan cahaya alami matahari sedangkan pada pukul 19.50 WIB dan 20.00 WIB foto menggunakan lampu ruangan Mall yang berwarna cenderung ke kuning.

PEMAKAIAN ACNE PATCH DERMA ANGEL SELAMA 11 JAM

Keesokan harinya saya mencoba produk Derma Angel lagi pada jerawat kecil yang timbul di wajah saya. Saya mencoba produk ini dua kali untuk memastikan hasil dari produk ini pada wajah saya. Saya memakai produk ini dari jam 10.00 WIB sampai jam 20.00 WIB. Produk ini saya pakai sekitar 10 jam untuk melihat hasil maksimalnya.

Kebetulan hari itu saya mempunyai jadwal les bahasa Inggris dari siang sampai malam. Saya juga ingin melihat apakah produk ini bisa disamarkan dengan make up yang sering saya pakai sehari-hari. Saya hanya memakai BB cream untuk riasan pada wajah saya hari itu. Saya cukup kaget sih karena produk ini bisa ditimpa dan disamarkan dengan BB cream yang saya pakai. Selama saya ikut kelas dan ngobrol dengan teman-teman di tempat les, belum ada sih yang tiba-tiba komplain tentang benda seperti stiker di wajah saya. Hanya adik saya aja yang komentar tentang patch ini ketika ia bertemu dengan saya di tempat les, tapi dia juga cukup lama menyadari ada acne patch di wajah saya. Saya coba selfie ketika menggunakan acne patch ini yang sudah di samarkan dengan riasan make up. Hasil fotonya seperti saya tidak pakai acne patch. Intinya kalo di foto, produk ini masih sangat bisa tersamarkan dengan riasan wajah.

mk
penampakan produk yang disamarkan dengan pemakaian BB cream pada wajah.
fr
Pada hasil foto selfie, produk Derma Angel tersamarkan dengan make up

KESIMPULAN

Setelah mencoba pemakaian produk ini dua kali, saya suka dengan produk Acne Patch dari Derma Angel. Saya bisa bilang produk ini bisa di jadikan emergency kit untuk menutupi sekaligus meredakan jerawat yang meradang, apalagi jerawat kemerahan dengan white head di bagian tengahnya.

Acne Patch-nya sangat merekat sempurna pada jerawat yang ingin kita sembunyikan. Saya pernah coba ketahanan acne patch ini terhadap air. Saya membersihkan wajah saya dengan susu pembersih dan sabun wajah ketika acne patch tersebut menempel di wajah saya. Hasilnya acne patch tersebut tidak lepas sama sekali dari wajah saya, bahkan air tidak masuk ke dalam acne patch tersebut. Saya cukup puas dengan dengan perlindungan yang acne patch ini berikan terhadap jerawat yang sedang meradang. Hasil pemakaian produk ini pada kulit wajah saya yaitu ampuh untuk jerawat dengan “white head” sedangkan untuk jerawat yang belum mempunyai mata, efeknya lebih untuk menenangkan.

Acne Patch ini juga aman digunakan bersama dengan riasan make up sehari-hari. Produk ini bisa di timpa dengan BB Cream atau Foundation untuk semakin menyamarkan area jerawat yang sedang ditutupi. Hasilnya lumayan tidak terlihat dan bisa disamarkan dengan make up. Hal ini menjadi salah satu poin plus dari produk tersebut.

Produk Derma Angel sendiri tersedia di e-commerce dan modern pharmacy lainnya. Harga produk ini juga masih sangat terjangkau. Produk ini juga memiliki beberapa varian yaitu Derma Angel Day 12 pcs ( Rp. 36.000,00), Derma Angel Night 12 pcs ( Rp. 36.000,00) dan Derma Angel Kombinasi Day 12 pcs dan Nights 6 pcs ( Rp 51.000,00). Adakah yang sudah mencoba produk ini? Kalian bisa share pengalaman dengan produk ini di kolom komentar. See you on my next post readers!

This article is included in blog competition hosted by BP Network and Derma Angel. The article was written based on the experience and personal opinion.

NOTE

This is a Sponsored Post. Every skin type is different. The products that work for me maybe will not work for you. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

FOR MORE INFORMATION

Facebook : Derma Angel Indonesia

Instagram : @AngelDerma_ID

Point Cut Salon by Irwan Team

SAM_5355

Setelah beberapa hari tidak post artikel tentang dunia kecantikan, kali ini saya post artikel tentang salah satu salon bagus di daerah Jakarta. Kebetulan minggu lalu saya mendapat kesempatan untuk mengulas perawatan rambut di Point Cut Salon by Irwan Team yang berada di daerah Bendungan Hilir. Ketika mendapat kesempatan tersebut, saya langsung bahagia karena saya sudah lama tidak mencoba salon lain, selain salon langganan saya yang berada di dekat rumah.

Bagi seorang wanita pemilihan salon bisa jadi pilihan yang cukup sulit. Kebetulan rambut saya tipe ikal mengembang kering yang agak susah untuk di modifikasi. Saya juga pernah merasa kesal ketika salon yang saya kunjungi tidak memberikan pelayanan yang baik dan tidak sabar dalam melakukan blow dry pada rambut saya, yang ujung-ujungnya bikin kepala saya sakit. Rambut keriting memang memerlukan perawatan yang lebih extra, kalau tidak sabar ya hasilnya langsung kelihatan pada bentuk rambut.

IMG-20170329-WA0001
Daftar Harga Point Cut Salon by Irwan Team, Bendungan Hilir

Sebelum saya datang ke Point Cut Salon, saya melakukan booking terlebih dahulu melalui telepon. Kebetulan pada hari H yang sudah saya booking, saya mendadak ada jadwal lain sehingga saya telat untuk datang ke salon. Saya sempat telepon terlebih dahulu agar saya bisa mengganti jam perawatan untuk hari H tersebut, namun ternyata tidak bisa karena jam berikutnya sudah full booking. Saya memutuskan untuk booking jadwal perawatan salon untuk keesokan harinya dan ternyata jadwal booking pun masih penuh. Akhirnya saya bisa baru booking dua hari setelahnya yaitu pada hari Selasa jam 13.00 siang. Saya di sarankan untuk datang tepat waktu. Pastikan booking terlebih dahulu untuk melakukan perawatan di Salon ini serta datang tepat pada waktu janjian yang sudah disepakati karena salon ini sering full booking apalagi ketika akhir pekan.

Saya berangkat lebih awal siang itu ke daerah Bendungan Hilir untuk mengantisipasi macet kota Jakarta yang sering menguras waktu. Untungnya meski menghadapi beberapa kemacetan di jalan, saya sampai 10 menit lebih awal dari waktu yang sudah saya sepakati. Point Cut Salon ini termasuk mudah di jangkau untuk para pekerja yang berada di tengah Jakarta, letaknya termasuk strategis karena berada di daerah tengah kota. Bangunan salon ini juga gampang terlihat dari jalan besar.

SAM_5318

Setelah memasuki salon, saya langsung memberitahukan nama dan paket perawatan salon yang sudah saya pilih sebelumnya yaitu Hair Cut, Medicure dan Pedicure. Resepsionis langsung menghantarkan saya ke salah satu kursi salon agar saya bisa duduk. Seorang hair stylist menghampiri saya untuk melihat rambut saya dan menanyakan potongan rambut seperti apa yang saya inginkan. Jujur saat itu saya bingung mau menentukan potongan rambut model apa, karena kebetulan dengan tipe rambut saya yang keriting agak susah untuk memilih model rambut dengan leluasa. Saya sangat menyarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan Hair Stylish sebelum memotong rambut. Pastikan juga Hair Stylish-nya melihat rambut kita dalam keadaan di lepas agar Hair Stylish bisa memberikan rekomendasi potongan sesuai jenis rambut. Mbak ErnaHair Stylish yang menanggani rambut saya, memberikan rekomendasi untuk memotong rambut saya dengan model ber-layer karena rambut saya tipe yang mengembang.

SAM_5351

SAM_5349

SAM_5345

Setelah sesi konsultasi selesai, saya di arahkan ke tempat cuci rambut. Sebelum rambut saya di cuci, Mas-nya menanyakan kepada saya tentang beberapa hal. Saya ditanya mau pakai air dingin atau air hangat. Saya juga ditanya mengenai kondisi rambut saya agar shampoo yang saya akan gunakan sesuai dengan kondisi rambut. Akhirnya saya dikeramas menggunakan air dingin serta shampoo dan conditioner khusus untuk tipe rambut yang kering. Sesi keramas benar-benar menjadi sesi relaksasi bagi saya, Mas-nya bahkan sampai menawarkan untuk memijat kepala agak lama jika saya tidak terburu-buru saat itu. Produk perawatan rambut yang dipakai oleh Point Cut Salon adalah produk-produk perawatan dari L’oreal.

IMG-20170404-WA0002

Setelah sesi keramas selesai, saya di arahkan ke tempat menggunting rambut. Petugas salon juga menawarkan beberapa pilihan minuman kepada saya sebelum rambut saya digunting. Rambut saya akhirnya di gunting oleh Mbak Erna yang merupakan salah satu Hair Stylish di salon tersebut. Awalnya saya mau potong rambut pendek banget supaya hasilnya ga nanggung, tapi saya di sarankan untuk ga memotong terlalu pendek karena hasilnya bisa lebih pendek dari yang saya bayangkan. Selama sesi potong rambut, kepala saya sering miring-miring karena asik mengambil foto dan video ketika rambut saya di potong, sampai saya di suruh ga boleh banyak gerak karena takut bisa salah potong hehehe. Selama sesi potong rambut, saya sempat mengamati bagaimana Hair Stylish memotong rambut saya. Mbak Erna sangat detail dalam memotong rambut saya, bahkan berkali-kali setelah di potong ia mengukur lagi apakah rambut sebelah kanan sudah sama panjangnya dengan rambut sebelah kiri. Saya baru kali ini sih liat Hair Stylish sampai sedetail itu ketika sedang memotong rambut.

SAM_5322

Setelah sesi pemotongan rambut selesai, saya di arahkan ke kursi lain untuk blow dry dan untuk sesi Medi Pedi. Sesi ini berlangsung cukup lama, petugas blow dry juga sangat telaten mengeringkan rambut saya. Saya sampai salut gitu karena sering banget kejadian petugas blow dry ga sabaran dengan rambut mengembang milik saya. Setelah blow dry selesai, rambut saya juga di catok agar terlihat rapi dan berbentuk. Selama sesi pengeringan rambut, saya juga sekalian melakukan perawatan Medi Pedi untuk tangan dan kaki. Petugas Medi Pedi juga sabar banget membersihkan kuku kaki dan tangan saya. Saya juga bisa memilih mau dipakaikan kutek apa tidak setelah sesi Medi Pedi. Saya juga bisa memilih warna dan brand sesuai selera saya dan tentunya yang memang disediakan oleh salon. Saya pilih kutek Revlon dengan warna ungu gelap. Perawatan Medi Pedi juga jadi salah satu relaksasi bagi saya, petugasnya juga rapi dan sabar memperbaiki kutek yang suka rusak karena tangan saya ga bisa diem heheheh.

SAM_5323

SAM_5341

Setelah rambut saya di blow dan di catokHair Stylish yang tadi menangani rambut saya masih merapikan rambut saya lagi. Rambut saya di potong ujung-ujungnya agar lebih terlihat rapi dan berbentuk. Hasil akhirnya pun memang sangat memuaskan. Potongan rambut saya jadi lebih terlihat, berbentuk dan rapi. Mood saya juga jadi naik karena puas melihat hasilnya. Sambil menunggu kutek saya kering, saya mengambil beberapa foto ruangan Point Cut Salon. Salon ini memang sangat nyaman dan bersih untuk berlama-lama melakukan perawatan rambut.

Setelah selesai perawatan, saya menuju kasir untuk diberikan nota daftar harga perawatan yang telah saya sudah lakukan. Total harga untuk perawatan cuci rambut, gunting stylist wanita, manicure basic, pedicure basic dan blow pendek variasi yaitu Rp 409.000,00. Harga yang menurut saya masih lumayan murah untuk perawatan yang sudah sekelas salon-salon mahal. Sejauh ini saya puas dengan perawatan rambut di Point Cut Salon, petugas-nya yang ramah dan profesional. Hasil akhir yang diberikan ke rambut saya juga sangat oke. Blow dry dan catok pada rambut saya bertahan sampai 4 hari. Tangan dan kaki juga jadi terasa halus dan bersih setelah perawatan manicure dan pedicure.

SAM_5330
hasil potong rambut model perempuan di Point Cut Salon, Benhil.

Salon ini juga saya rekomendasikan karena harganya yang masih terjangkau, pelayanan dan hasil perawatan rambut yang bagus, serta lokasinya yang strategis. Salon ini bisa jadi pelarian di sore hari sehabis pulang kantor apalagi kalau kantor kita berada di pusat kota. Terima kasih Point Cut Salon by Irwan Team dan Clozette atas kesempatan! See you on my next post readers!  

FOR MORE INFORMATION

Pointcut Salon by IRWANTEAM (09.00 – 20.00)

Jalan Bendungan Hilir Raya Blok G1 No.8 Jakarta Pusat.

Telp. (021) 5720 187 / 5735 822

Fax. (021) 5720 187

Instagram @pointcutsalonjakarta

NOTE

This is a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Tidak Pernah Sampai Namun Tidak Akan Pernah Sama

SAM_5317Saya bertumbuh di dalam banyak komunitas selama saya hidup sampai sekarang. Ketika saya kuliah, saya punya beberapa komunitas yang begitu mempengaruhi saya sebagai seorang individu. Saya masih mempertahankan hubungan dengan geng SMA saya. Saya masih menyempatkan diri untuk bertemu dengan teman-teman persekutuan semasa saya kuliah. Saya masih jalan dengan geng kuliah saya sampai sekarang. Saya masih melanjutkan Kelompok Kecil yang dulu saya ikuti dari kuliah. Komunitas yang baik telah banyak memberikan pertumbuhan dalam diri saya.

Saya berkembang dan bertumbuh di dalam komunitas yang memang sangat dekat hubungannya dengan saya. Tanpa saya sadari hal ini pun telah membuat saya begitu takut dan begitu lemah ketika komunitas tersebut tidak ada lagi buat saya. Lingkungan saya berubah beberapa kali ketika saya terjun dalam dunia kerja. Saya dituntut untuk lebih utuh secara individual dibandingkan harus berada di dalam sebuah kelompok. Saya harus siap membawa diri saya sendiri. Saya juga harus siap berenang di tengah-tengah kepentingan orang lain, karakter yang berbeda dan suara hati nurani saya sendiri.

Ada masa-masa dimana saya penuh dengan kebingungan dengan jalan yang harus saya hadapi. Sampai sekarang pun saya masih meraba-raba hari depan yang sebenarnya adalah sebuah misteri bagi semua manusia. Hari ini saya pikir keberhasilan akan datang, besoknya saya mengalami kegagalan. Malam ini saya bermimpi tentang banyak hal, besoknya saya bangun dengan menghadapi kenyataan.

Hal yang paling saya benci dari hidup adalah perasaan bahwa saya tidak akan pernah sampai. Saya benci untuk berpindah. Saya benci dengan perubahan drastis. Saya membenci sesuatu yang tidak pernah pasti. Saya benci dengan perasaan tidak pernah sampai. Saya benci harus memulai semuanya dari awal meskipun pada akhirnya saya memulai semua hal dari awal beberapa kali. Saya benci harus meninggalkan dan ditinggalkan, namun saya juga mengerti bahwa perpisahan pun sama baiknya dengan pertemuan.

Selalu ada ruang di antara kebahagiaan yang saya inginkan dengan apa yang akhirnya saya dapatkan. Selalu ada jarak dalam mimpi yang ingin saya wujudkan dengan kenyataan yang harus saya hadapi. Sejenak saya baru menyadari betapa melelahkan-nya sebuah kehidupan. Kita ingin mengapai banyak hal untuk kemudian kita lepaskan di penghujung kehidupan. Bahwa diantara kelahiran dan kematian, kita merajut kebahagiaan hidup yang kita inginkan.

Saya tidak akan pernah sampai dalam hidup. Saya hanya akan melewati waktu, ruang, tempat, rasa dan orang yang saya sudah temui, sedang saya temui dan akan saya temui. Saya akan berubah berkali-kali. Saya akan gagal kemudian berhasil dan gagal lagi. Saya akan bertemu dan berpisah berkali-kali. Saya tidak akan pernah sampai dalam menjalani hidup namun saya tidak akan pernah sama lagi untuk selanjutnya.

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Life After Death is a Good Life

SAM_4870

Bulan lalu saya pergi ke daerah Jakarta Barat untuk urusan pekerjaan. Ternyata urusan terkait pekerjaan tersebut selesai sangat cepat sehingga saya masih punya banyak waktu luang. Saya merasa sayang untuk langsung balik ke Bekasi mengingat perjalanan ke Jakarta pagi itu cukup padat. Kebetulan saya teringat sebuah pameran yang ingin saya kunjungi dari Sabtu kemarin. Tanpa pikir panjang saya bulatkan tekad untuk pergi ke daerah Kebayoran untuk melihat pameran seni tersebut.

Jalanan Jakarta ke arah Senopati pagi itu cukup bersahabat. Tidak butuh waktu yang lama bagi saya untuk sampai ke gedung tempat pameran berlangsung. Saya sempat salah lantai ketika mencari tempat pameran tersebut, ternyata pameran yang ingin saya kunjungi berada di lantai 1. Saya ga langsung masuk ke ruang pameran karena dari pintu kaca terlihat ada sekelompok orang yang sedang rapat. Karena tidak ada orang yang bisa ditanya, saya memutuskan untuk menunggu di ruang lobby depan.

Saya duduk bersebrangan dengan seorang gadis muda yang kelihatannya juga sedang menunggu. Saya pikir dia juga mau pergi ke pameran jadi saya dengan pede-nya langsung ngajak kenalan. Nama gadis yang saya ajak kenalan itu Tisha, dan ternyata dia bertugas sebagai penjaga pameran yang akan saya kunjungi. Gawatnya lagi Tisha juga bingung kenapa ruang pameran tersebut dipakai untuk ruang rapat, alhasil kami berdua menunggu tanpa kepastian.

Saya sempat ngobrol tentang banyak hal dengan Tisha mulai dari kuliah, kerjaan, kesibukaan dan lain-lain. Tisha juga sempat membagikan sebuah roti dari bekalnya untuk saya, she’s just too sweet and kind. Saya langsung bahagia di kasih roti karena sebenarnya saya udah kelaparan hehehe. Kami menunggu cukup lama sampai seorang pria keluar dari dalam ruang pameran dan menghampiri kami yang sedang duduk menunggu.

“Mbak masuk aja, boleh masuk kok ke ruang pamerannya”

“Kirain ga boleh Mas, tadi saya liat lagi rapat soalnya. Okelah kalo begitu, makasih ya Mas!”

Akhirnya saya masuk ke ruang pameran bersama dengan Tisha. Beberapa orang yang sedang rapat tampak tetap asik melanjutkan presentasi mereka. Tisha siap-siap di ruang peralatan sedangkan saya mulai melihat-lihat pameran. Tak berapa lama Tisha datang untuk menyalakan api pada lilin-lilin yang dipajang di salah satu instalasi seni. Saya mulai mengamati ruang pameran meski saya jadi ngak leluasa karena ada kelompok yang sedang presentasi.

Pameran yang saya datangi ini mempunyai tema tentang merayakan sebuah Kematian. Nah lho aneh banget kan tema-nya tentang merayakan Kematian. Justru karena temanya unik makanya saya bela-belain banget untuk datang ke pameran ini. Sebenarnya pameran yang saya datangi ini termasuk sebuah pameran kecil yang diadakan oleh sebuah sekolah seni, namun karya-karya yang di pajang tetap menarik untuk saya nikmati.

“Remember Me as…”

Pameran ini merupakan sebuah hasil karya para murid sekolah seni yang diambil dari tugas sekolah mereka sendiri. Para pengajar mengembangkan sebuah metode bagi para murid di @erudioschoolofart (sekolah seni) untuk menemukan tujuan hidup mereka dalam sebuah pertanyaan “Aku ingin diingat sebagai siapa?”. Pertanyaan ini seolah-olah membuat kita menarik mundur apa yang kita sudah kerjakan selama ini, agar kita juga bisa menentukan arah hidup ke depannya sebelum hidup itu sendiri berakhir.

SAM_4906SAM_4898

Hidup memang bisa penuh dengan banyak pilihan yang memicu kebingungan. Para pengajar erudioschoolofart berharap pertanyaan ini menjadi sebuah pertanyaan yang memicu para murid untuk akhirnya menemukan tujuan hidup mereka dan apa yang ingin mereka lakukan selanjutnya dalam hidup. Pada video dokumentasi tentang proses berkarya, para murid diberikan tugas untuk membuat berita kematian mereka sendiri dan sebuah karya seni sebagai bentuk refleksi dari hidup yang telah mereka jalani.

Karya-karya para murid erudioschoolofart dan berita kematian yang mereka buat sendiri di pajang di salah satu pojok ruang pameran. Saya cukup menikmati karya-karya yang disajikan. Secara tidak langsung saya bisa mengenal mereka dan impian mereka melalui karya dan berita kematian yang mereka tulis sendiri. Saya juga cukup kaget mengetahui bahwa berita kematian bisa merangkum semua hal yang pada akhirnya paling mereka inginkan dalam hidup.

SAM_4855

SAM_4852

Sudut pojok ruangan lainnya di dominasi oleh sebuah instalasi seni yang merupakan karya dari Pendiri Databo Dojo dan semua pegawai yang bekerja disana. Karya seni tersebut berbentuk sebuah altar besar yang dihiasi dengan lilin, bunga dan dekorasi khas pemakaman lainnya. Saya juga membaca sekilas kisah hidup pendiri Databo Dojo yang cukup menginspirasi, dari seseorang yang dulunya selalu mementingkan pekerjaan menjadi seseorang yang lebih mengutamakan keluarganya. Biasanya sebuah altar kenangan membuat saya takut namun ntah mengapa saya malah suka dengan dekorasi altar yang mereka buat tanpa mengurangi kesan sendu pada altar tersebut.

Salah satu instalasi yang paling berkesan bagi saya di pameran ini ialah instalasi seni dari Lala Bohang yang berjudul “Life After Life is a Good Life”. Instalasi seni ini berbeda dari karya-karya seni sebelumnya. Untuk menikmati karya seni ini, saya harus masuk ke dalam ruangan kecil yang diterangi lampu biru muram yang menimbulkan kesan duka. Pengunjung dapat merencanakan pemakaman mereka di dalam ruangan ini dengan mengisi Funeral Request yang disediakan. Funeral Request ini kemudian akan diikatkan ke tali balon berwarna putih yang telah di sediakan dalam ruangan. Kebetulan kertas Funeral Request-nya habis jadi saya ga bisa refleksi sekalian mengisi Funeral Request versi saya, padahal saya udah semangat 45 mau isi Funeral Request-nya ahahaha kezelss. Tisha juga sempat cerita kalau dari kemarin banyak pengunjung yang menanyakan kertas Funeral Request yang sudah habis, ternyata ga saya aja yang semangat mau isi Funeral Request ahahaha.

SAM_4902

SAM_4863

Untitled-1SAM_4856Untungnya saya membawa buku jurnal harian saya di tas, jadi saya tulis Funeral Request versi saya di buku jurnal sambil refleksi terhadap hidup yang sudah saya jalani. Saya sempat ga fokus untuk refleksi karena ruangan sebelah saya masih berisik dengan kelompok yang sedang presentasi. Saya baru bisa mulai fokus setelah saya menutup pintu ruangan tersebut meski suara dari sebelah ruangan masih sedikit terdengar. Perasaan saya cukup bimbang ketika saya mengisi Funeral Request versi saya, pastinya semua orang deg-degan jika disuruh membayangkan upacara kematiannya sendiri. Di sisi lain saya juga merasa cukup lega mengingat di dalam hidup ini pasti kita akan sampai pada fase istirahat abadi dari hidup.

SAM_4873

SAM_4874

MAKAN SIANG di GIOI

Karena waktu makan siang yang sudah dekat, saya pamit ke Tisha untuk makan siang sebentar di sekitar gedung. Cukup susah mencari restauran untuk makan siang di daerah ini yang lebih di dominasi dengan gedung perkantoran. Akhirnya saya memutuskan makan siang di sebuah restauran yang berada di sebrang gedung karena cuma itu restauran terdekat.

Saya langsung di sambut dengan hangat ketika saya masuk ke restauran tersebut. Saya dipersilahkan duduk di sebuah meja yang berada tepat di depan sebuah dinding besar yang penuh dengan hiasan. Pelayan dengan ramah menjelaskan menu makanan yang direkomendasikan kepada saya. Harga makannya cukup pricey yaitu mulai dari harga Rp 80.000,00-Rp 120.000,00. Saya pesan Asian Steak Tartare untuk makan siang karena menu ini salah satu menu yang di rekomendasikan oleh pelayan.

SAM_4879

SAM_4882

Saya sempat kaget ketika pesanan saya datang, isi dari makanan ini berupa daging sapi cincang masak, beberapa helai bunga, taburan buah delima dan beberapa emping yang di hias dengan caramel. Karena saya merasa janggal makan daging tanpa nasi maka saya akhirnya sekalian pesan nasi putih satu porsi. Beberapa saat kemudian seorang pelayan menghampiri saya sambil menerangkan bagaimana cara makan Asian Steak Tartare ini.

Ternyata cara makan Asian Steak Tartare ini memang agak unik. Kita harus memakan campuran daging sapi, helai bunga, dan buah delima bersamaan dengan emping yang sudah di hiasi caramel. Awalnya saya takut rasanya campur aduk tak terbayangkan, eh ternyata rasanya tuh enak bangetttt! Saya sampai ketagihan gitu makannya. Rasa gurih dagingnya bercampur dengan rasa manis segar buah delima, kemudian disusul dengan rasa gurih manis emping yang dibalut dengan caramel. Rasanya saling susul menyusul namun menciptakan rasa gurih manis sedap di lidah saya. Ini benar-benar eating experience yang sangat saya nikmati, salut sama Cheef-nya! Karena saya juga sudah pesan nasi jadi bablas deh saya makan sekalian bersama nasi hehehe, habis itu perut saya kenyang namun dalam kadar yang pas.

Selesai makan, saya dipersilahkan untuk isi kuosioner yang disediakan. Salah satu pelayan sempat nanya tentang pesanan saya dan menanyakan apa yang paling saya suka dari menu makanan yang saya pesan. Saya langsung jawab “Emping Caramel!” ahahahha. Jujur saya paling suka sama rasa emping caramel-nya, rasa gurih manis-nya pas dan nagih banget.

Selesai Makan, saya balik lagi ke pameran. Saya ngobrol dikit dengan Tisha sambil menceritakan makanan unik yang saya tadi makan. Kebetulan presentasi kelompok sudah selesai, sehingga saya bisa leluasa keliling pameran sekali lagi. Saya juga lanjut membuat berita duka versi saya sendiri dengan lebih fokus. Saya juga diberikan booklet berisi rangkuman berita duka cita dari para peserta pameran sebelum akhirnya saya pulang, it was really nice souvenir. Saya bisa mengenal mereka secara singkat melalui rangkuman berita duka cita mereka masing-masing.

SAM_4907

Sering kali kita menganggap sebuah kematian sebagai sesuatu yang negatif. Sama seperti Lala Bohang, saya selalu percaya bahwa kematian adalah sebuah fase istirahat total tanpa batas dari hidup. Sebagaimana sebuah kehidupan, sebuah kematian pun seharusnya bisa dirayakan dengan baik sesuai keinginan dan selera. Kalau seandainya tidak ada kematian, hidup abadi mungkin terasa lebih menakutkan dan membosankan. Pameran ini sekaligus menjadi refleksi bagi saya dalam menjalani hidup ke depannya sebelum akhirnya saya menghadapi kematian. Kematian pada akhirnya menjadi bahan refleksi mau ke arah mana hidup ini kita lanjutkan sebelum hidup itu sendiri berakhir.

Saya pulang siang itu dengan perasaan yang puas. Saya benar-benar menikmati pameran yang saya kunjungi. Pergi ke pameran seperti sebuah terapi tersendiri bagi saya apalagi saya senang menikmati sebuah karya seni. Anggota keluarga saya yang lain ga terlalu suka pergi ke pameran seni. Selama ini saya lebih sering ke pameran sendiri atau bersama beberapa teman dekat saya yang juga penikmati seni atau illustrator. Setelah mengikuti pameran tersebut saya juga ikutan buat berita duka cita versi saya. Perasaan saya sebenarnya agak campur aduk ketika menuliskan berita duka cita versi saya sendiri, namun juga ada perasaan bahagia dan lega karena pada akhirnya saya juga akan dikenang oleh orang-orang terdekat saya. Saya harap post kali ini juga menginspirasi pembaca sama seperti pameran tersebut juga menginspirasi saya. See you on my next post readers!

Funeral Letter

Today, I lost the love of my life, a great wife and a mother to my children. I remember the first day we met. We often fought with each other. You were the one with the hard shell. You said to me that you didn’t believe in love and relationship but we also fell in love each other in the end.

First, I could deny how I couldn’t stand your exploding anger, silence, and your stubbornness but then I also couldn’t stand to not fall in love with you. As we married, I have seen you grown beautifully as wife and mother of our child. You always took care of us with love and care. I also became a witness of how you struggle to fight your own demon inside your head. We really had many hard time back then.

I never been so grateful to have someone so lovely like you. You always live with many dreams and hope. You also had a hard time to believe in yourself and all the dreams that you had. You never really realize how beautiful and talented you were. I was glad you didn’t give up on yourself. You were truly inspiring, independent, and strong woman, and I was sad because you never realized that.

I never thought I lost you so quickly. Last night you told me that you really satisfied with your life. You also never though you figured out what you really wanted in your life until now. You said you never though you will married and have two handsome sons and grand children. We really had a nice time last night talking about our marriage and life. You said to me thank you and I love you several times. I never knew it was your last sentences for me.

And here I am with our children and grand children are standing in your funeral. My heart is broken seeing you leave. I also happy that you can rest peacefully now. Rest in peace my love. I love you so much. Farewell my love, till we meet again in heaven.

Your Husband

Remember me as a daughter, a co-worker, a wife, a mother, a lover and a child in her own world of imagination.

-M.D

FOR MORE INFORMATION

Exhibition info : @suarartspace

GIOI RESTAURAN

Senopati Raya no. 88, Jakarta

website : gioijkt.id

Instagram : @gioijakarta

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.