Pameran Baur Rasa

SAM_5228

Bulan lalu saya pergi ke pameran seni kecil di daerah Blok M. Kebetulan saya hari itu juga ada urusan ke daerah Jakarta. Siangnya saya juga ada janji sama adek kelas saya, Connie yang kerja dekat daerah situ. Saya pikir sayang kalau saya siangnya langsung kembali ke Bekasi padahal perjalanan ke Jakarta juga cukup memakan waktu. Setelah makan siang saya langsung memutuskan untuk pergi ke daerah Blok M untuk mengunjungi sebuah pameran seni.

Siapa yang disini suka mengambil foto dengan kamera atau hp? Sayaaa… Saya termasuk orang yang senang mengambil foto ketika saya sedang jalan ke suatu tempat meski saya bukanlah seorang Fotografer. Foto yang saya ambil juga lebih banyak untuk koleksi pribadi saya semata. Saya juga selalu membawa kamera pocket di tas saya untuk mengantisipasi kalau sewaktu-waktu saya perlu mengambil foto. Konon katanya kamu bisa mengetahui apa yang dianggap paling berharga atau bermakna bagi seseorang melalui apa yang orang itu abadikan dalam sebuah foto. Bila gambar mengungkapkan beribu kata, foto cenderung bisa mengungkapkan beribu rasa. Baik rasa yang pernah ada, masih ada atau yang selalu ada *jadi galau sendiri nulisnya. Terlepas orang tersebut merupakan forografer profesional atau bukan, sebuah foto biasanya dibuat dengan berbagai alasan-alasan termasuk alasan yang personal. Lima orang yang mengikuti Pameran Baur Rasa ini memamerkan foto-foto mereka untuk bercerita kepada pengunjung.

Saya datang sekitar siang menjelang sore ke Kedai Kopi Djule. Kedai kopi ini terletak persis di pinggir jalan besar. Kedai kopi ini tidak mempunyai tempat parkir sendiri, jadi saya harus memarkir kendaraan di dalam tempat parkir Plaza Blok M. Saya sampai di Kedai kopi tersebut dengan berjalan kaki dari tempat parkir. Waktu saya datang, kondisi di dalam kedai kopi ini lumayan sepi. Saya di arahkan ke lantai dua kedai kopi ini ketika pelayan tahu bahwa saya ingin mengunjungi pameran seni. Saya disambut oleh Ibu Ani yang merupakan salah satu seniman yang ikut serta dalam pameran tersebut. Ibu Ani juga menemani saya sambil menjelaskan satu persatu karya foto yang dipamerkan oleh empat orang lainnya.

SAM_5223SAM_5227

Pertama kali masuk, saya disuguhkan sebuah meja kerja yang diatasnya berserakan foto-foto hasil karya Gabriel Sena. Foto-foto yang ditampilkan berupa foto-foto koleksi pribadi dari momen-momen menyebalkan yang Sena alami. Karya ini sebenarnya lebih menekankan bahwa sebaik apapun kita merencakan hidup kita, akan selalu ada momen-momen menyebalkan yang terjadi tanpa bisa diprediksi, namun begitulah hidup. Hal paling penting adalah bagaimana kita menyikapi momen tidak terduga itu. Banyak koleksi foto yang membuat saya kesal, gemas dan juga tertawa karena foto tersebut berisi kejadian konyol yang dialami oleh si seniman.

SAM_5209

Tak jauh dari meja tadi saya lanjut ke karya berikutnya. Karya dari Gloria Pearl ini menyuguhkan foto-foto dari benda-benda pemberian orang terdekatnya. Ternyata benda-benda tersebut mempunyai kenangan berarti antara si pemberi dan si penerima meskipun si pemberi sudah tiada. Benda-benda tersebut seperti momento yang membuat si seniman bisa merasakan kembali rasa yang pernah ia rasakan dan juga mengingatkannya dengan si pemberi barang. Benda pemberian memberikan rasa pada waktu tertentu di masa lalu yang bisa membuat si penerima mengingat rasa dan momen tersebut.

SAM_5214

Saya melanjutkan langkah saya ke hasil karya dari Imron Zuhri. Imron memamerkan foto-foto dan beberapa barang kepunyaan ibunya. Karya ini sebagai cara Imron menenangkan dirinya dan berdamai dengan masa lalu. Imron memiliki hubungan yang naik turun dan banyak kesalah pahaman dengan ibunya, serta rasa-rasa yang belum ia ungkapkan sampai akhir hayat ibunya. Memandangi foto-foto mendiang ibunya menjadi obat dan doa tersendiri bagi Imron. Ketika saya melihat apa yang dipamerkan oleh Imron saya tentu teringat akan ibu saya sendiri. Sering kali sebagai anak kita sering cek cok dengan orang tua kita, namun karya ini juga mengingatkan saya akan ketakutan saya paling dalam yaitu ditinggalkan oleh orang tua saya. Sebanyak apapun perbedaan pendapat antara kita dan orang tua, kehilangan mereka akan jadi duka besar bagi kita. Barang-barang pribadi ibunya yang dipamerkan juga seolah-olah mengingatkan saya bahwa orang yang diceritakan ini pernah ada dan hidup.

SAM_5204

Saya beralih ke foto-foto karya Tandika yang kebetulan orangnya juga ada bersama saya di pameran tersebut. Tandika mengabadikan foto-foto ayah ibunya yang sedang beraktivitas dirumah. Ide ini diambil ketika ia balik ke rumahnya dan melihat foto-foto pernikahan ayah ibunya semasa muda dulu. Tandika mengambil foto ayah ibunya pada masa sekarang. Ternyata meski raga mereka telah tua, rasa dan keharmonisan masa lalu mereka masih terlihat dari foto-foto mereka berdua. Tandika juga sempat cerita ke saya bahwa ia pernah merasa kehilangan akan makna orang tua karena ia hidup merantau ke Jakarta. Tentu saya bisa mengerti maksudnya, meski saya hanya merantau dari daerah Jabodetabek ke Jakarta, namun rasanya ada yang hilang dari diri saya.

SAM_5200

Saya sampai pada hasil karya terakhir pada pameran seni yang terletak di bagian pojok ruangan. Hasil karya tersebut merupakan milik bu Ani yang dari tadi sudah menemani saya melihat karya-karya sebelumnya. Saya masuk ke ruangan kecil yang di pisahkan oleh sekat. Ruangan tersebut memang sengaja di buat redup hanya dengan beberapa lampu tambahan yang menyala. Saya memlihat banyak barang-barang pribadi milik seseorang di meja paling pojok. Saya juga melihat barang khas yang biasanya digunakan seseorang yang sedang sakit. Saya duduk di kursi yang disediakan sambil menonton foto-foto yang berlalu perlahan-lahan dari layar TV. Banyak foto-foto yang lokasinya diambil di rumah sakit. Saya sendiri hanya terdiam ketika menyaksikan gambar hitam putih itu berlalu di layar TV.

Bu Ani juga menceritakan tentang makna foto-foto yang ia ambil. Semua foto tersebut adalah foto yang diambil ketika ia menunggu suaminya di rumah sakit. Ibu Ani bilang bahwa semua benda kenangan yang tidak sempat suaminya pakai, masih ia simpan. Semua benda tersebut adalah benda yang menemaninya selama ia menunggu masa kritis suaminya. Saya hanya terdiam sambil mendengarkan cerita Ibu Ani. Rasa duka seperti masih begitu dekat, namun begitu juga dengan rasa ikhlas yang tergambar dari tulisan-tulisan Ibu Ani. Karya Ibu Ani sendiri mengingatkan saya akan sebuah rasa kehilangan yang pernah saya rasakan beberapa kali, ketika saya merelakan orang yang saya kasihi. Beberapa menit mendengar cerita Ibu Ani membuat saya terasa begitu dekat dengan beliau, seperti rasanya saya berbagi rasa duka kehilangan itu bersama-sama.

SAM_5231

Minum di Kedai Kopi Djule

Selesai saya mengucapkan terima kasih dan berpamitan kepada Ibu Ani dan Tandika, saya menuju ke lantai satu dari Kedai Kopi Djule. Kebetulan saya juga ingin bersantai sebentar di Kedai Kopi sebelum akhirnya saya pulang ke rumah. Saya memesan cokelat dingin dan kue tart kecil untuk jadi cemilan saya siang itu. Ternyata minuman selain kopi disediakan dalam bentuk botol yang sudah disimpan di lemari es untuk pengunjung.

Saya duduk sambil menikmati pemandangan Kedai Kopi tersebut. Tak seperti kebanyakan Kedai Kopi yang lebih menekankan nuansa redup, Kedai ini justru memiliki jendela yang banyak sampai lantai dua. Hal ini membuat cahaya matahari yang natural masuk dengan baik ke dalam ruangan. Saya mengambil foto sekitar jam 3 sore dan cahaya ruangan masih sangat baik untuk mengambil foto. Jendela besar yang merupakan sisi depan Kedai Kopi ini menjadi spot pemandangan yang menarik. Saya duduk sambil mengamati mobil lalu lalang dan juga mengamati Bajaj yang sedang menunggu penumpang. Bagian sisi dalam Kedai Kopi lebih redup dengan pencahayaan berwana kuning. Sama seperti Kedai Kopi pada umumnya, kesan ruangan terasa nyaman karena material kayu, beton dan bata yang digunakan pada ruangan. Hal yang paling menarik buat saya yaitu lampu besar di tengah ruangan Kedai Kopi ini yang terbuat dari kepingan keramik. Lampu yang bersifat sebagai dekorasi ini membuat kesan megah pada ruangan.

SAM_5242

SAM_5235

ttt

Kedai kopi ini lebih banyak menyediakan menu kopi dan snack ringan. Minuman non kopi pilihannya tidak terlalu banyak. Menu makananya juga tidak terlalu banyak. Saya pikir Kedai Kopi ini memang lebih dikhususkan untuk minum kopi. Rasa minuman cokelat yang saya pesan sih enak, pahit cokelatnya masih terasa ketika saya minum jadi manisnya pas menurut saya. Kue cokelat yang saya pesan juga enak. Harga minuman dan makanan di Kedai Kopi ini lumayan mahal menurut saya. Saya habis sekitar 100 ribu untuk minuman cokelat dan potongan kue tart. Kalau soal kopi mungkin saya ga bisa komentar karena saya bukan pecinta kopi namun melihat menu di sini lebih mengutamakan menu minuman kopi, seharusnya minuman kopinya sudah seharusnya enak.

Tak berapa setelah kue saya habis, saya memutuskan untuk pulang ke rumah. Kedai kopi ini sangat cocok untuk nongkrong dan berlama-lama bersama teman. Atmosfer yang diciptakan memang membuat saya cukup betah. Meski terletak di pinggir jalan, namun pemandangan ke arah jalan malah jadi pemandangan yang menarik. Pencahayaan di Kedai Kopi ini oke untuk mengambil foto karena lebih banyak mengutamakan cahaya natural dari matahari. Ada yang sudah pernah ke Kedai Kopi Djule? See you on my next post readers!

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Life After Death is a Good Life

SAM_4870

Bulan lalu saya pergi ke daerah Jakarta Barat untuk urusan pekerjaan. Ternyata urusan terkait pekerjaan tersebut selesai sangat cepat sehingga saya masih punya banyak waktu luang. Saya merasa sayang untuk langsung balik ke Bekasi mengingat perjalanan ke Jakarta pagi itu cukup padat. Kebetulan saya teringat sebuah pameran yang ingin saya kunjungi dari Sabtu kemarin. Tanpa pikir panjang saya bulatkan tekad untuk pergi ke daerah Kebayoran untuk melihat pameran seni tersebut.

Jalanan Jakarta ke arah Senopati pagi itu cukup bersahabat. Tidak butuh waktu yang lama bagi saya untuk sampai ke gedung tempat pameran berlangsung. Saya sempat salah lantai ketika mencari tempat pameran tersebut, ternyata pameran yang ingin saya kunjungi berada di lantai 1. Saya ga langsung masuk ke ruang pameran karena dari pintu kaca terlihat ada sekelompok orang yang sedang rapat. Karena tidak ada orang yang bisa ditanya, saya memutuskan untuk menunggu di ruang lobby depan.

Saya duduk bersebrangan dengan seorang gadis muda yang kelihatannya juga sedang menunggu. Saya pikir dia juga mau pergi ke pameran jadi saya dengan pede-nya langsung ngajak kenalan. Nama gadis yang saya ajak kenalan itu Tisha, dan ternyata dia bertugas sebagai penjaga pameran yang akan saya kunjungi. Gawatnya lagi Tisha juga bingung kenapa ruang pameran tersebut dipakai untuk ruang rapat, alhasil kami berdua menunggu tanpa kepastian.

Saya sempat ngobrol tentang banyak hal dengan Tisha mulai dari kuliah, kerjaan, kesibukaan dan lain-lain. Tisha juga sempat membagikan sebuah roti dari bekalnya untuk saya, she’s just too sweet and kind. Saya langsung bahagia di kasih roti karena sebenarnya saya udah kelaparan hehehe. Kami menunggu cukup lama sampai seorang pria keluar dari dalam ruang pameran dan menghampiri kami yang sedang duduk menunggu.

“Mbak masuk aja, boleh masuk kok ke ruang pamerannya”

“Kirain ga boleh Mas, tadi saya liat lagi rapat soalnya. Okelah kalo begitu, makasih ya Mas!”

Akhirnya saya masuk ke ruang pameran bersama dengan Tisha. Beberapa orang yang sedang rapat tampak tetap asik melanjutkan presentasi mereka. Tisha siap-siap di ruang peralatan sedangkan saya mulai melihat-lihat pameran. Tak berapa lama Tisha datang untuk menyalakan api pada lilin-lilin yang dipajang di salah satu instalasi seni. Saya mulai mengamati ruang pameran meski saya jadi ngak leluasa karena ada kelompok yang sedang presentasi.

Pameran yang saya datangi ini mempunyai tema tentang merayakan sebuah Kematian. Nah lho aneh banget kan tema-nya tentang merayakan Kematian. Justru karena temanya unik makanya saya bela-belain banget untuk datang ke pameran ini. Sebenarnya pameran yang saya datangi ini termasuk sebuah pameran kecil yang diadakan oleh sebuah sekolah seni, namun karya-karya yang di pajang tetap menarik untuk saya nikmati.

“Remember Me as…”

Pameran ini merupakan sebuah hasil karya para murid sekolah seni yang diambil dari tugas sekolah mereka sendiri. Para pengajar mengembangkan sebuah metode bagi para murid di @erudioschoolofart (sekolah seni) untuk menemukan tujuan hidup mereka dalam sebuah pertanyaan “Aku ingin diingat sebagai siapa?”. Pertanyaan ini seolah-olah membuat kita menarik mundur apa yang kita sudah kerjakan selama ini, agar kita juga bisa menentukan arah hidup ke depannya sebelum hidup itu sendiri berakhir.

SAM_4906SAM_4898

Hidup memang bisa penuh dengan banyak pilihan yang memicu kebingungan. Para pengajar erudioschoolofart berharap pertanyaan ini menjadi sebuah pertanyaan yang memicu para murid untuk akhirnya menemukan tujuan hidup mereka dan apa yang ingin mereka lakukan selanjutnya dalam hidup. Pada video dokumentasi tentang proses berkarya, para murid diberikan tugas untuk membuat berita kematian mereka sendiri dan sebuah karya seni sebagai bentuk refleksi dari hidup yang telah mereka jalani.

Karya-karya para murid erudioschoolofart dan berita kematian yang mereka buat sendiri di pajang di salah satu pojok ruang pameran. Saya cukup menikmati karya-karya yang disajikan. Secara tidak langsung saya bisa mengenal mereka dan impian mereka melalui karya dan berita kematian yang mereka tulis sendiri. Saya juga cukup kaget mengetahui bahwa berita kematian bisa merangkum semua hal yang pada akhirnya paling mereka inginkan dalam hidup.

SAM_4855

SAM_4852

Sudut pojok ruangan lainnya di dominasi oleh sebuah instalasi seni yang merupakan karya dari Pendiri Databo Dojo dan semua pegawai yang bekerja disana. Karya seni tersebut berbentuk sebuah altar besar yang dihiasi dengan lilin, bunga dan dekorasi khas pemakaman lainnya. Saya juga membaca sekilas kisah hidup pendiri Databo Dojo yang cukup menginspirasi, dari seseorang yang dulunya selalu mementingkan pekerjaan menjadi seseorang yang lebih mengutamakan keluarganya. Biasanya sebuah altar kenangan membuat saya takut namun ntah mengapa saya malah suka dengan dekorasi altar yang mereka buat tanpa mengurangi kesan sendu pada altar tersebut.

Salah satu instalasi yang paling berkesan bagi saya di pameran ini ialah instalasi seni dari Lala Bohang yang berjudul “Life After Life is a Good Life”. Instalasi seni ini berbeda dari karya-karya seni sebelumnya. Untuk menikmati karya seni ini, saya harus masuk ke dalam ruangan kecil yang diterangi lampu biru muram yang menimbulkan kesan duka. Pengunjung dapat merencanakan pemakaman mereka di dalam ruangan ini dengan mengisi Funeral Request yang disediakan. Funeral Request ini kemudian akan diikatkan ke tali balon berwarna putih yang telah di sediakan dalam ruangan. Kebetulan kertas Funeral Request-nya habis jadi saya ga bisa refleksi sekalian mengisi Funeral Request versi saya, padahal saya udah semangat 45 mau isi Funeral Request-nya ahahaha kezelss. Tisha juga sempat cerita kalau dari kemarin banyak pengunjung yang menanyakan kertas Funeral Request yang sudah habis, ternyata ga saya aja yang semangat mau isi Funeral Request ahahaha.

SAM_4902

SAM_4863

Untitled-1SAM_4856Untungnya saya membawa buku jurnal harian saya di tas, jadi saya tulis Funeral Request versi saya di buku jurnal sambil refleksi terhadap hidup yang sudah saya jalani. Saya sempat ga fokus untuk refleksi karena ruangan sebelah saya masih berisik dengan kelompok yang sedang presentasi. Saya baru bisa mulai fokus setelah saya menutup pintu ruangan tersebut meski suara dari sebelah ruangan masih sedikit terdengar. Perasaan saya cukup bimbang ketika saya mengisi Funeral Request versi saya, pastinya semua orang deg-degan jika disuruh membayangkan upacara kematiannya sendiri. Di sisi lain saya juga merasa cukup lega mengingat di dalam hidup ini pasti kita akan sampai pada fase istirahat abadi dari hidup.

SAM_4873

SAM_4874

MAKAN SIANG di GIOI

Karena waktu makan siang yang sudah dekat, saya pamit ke Tisha untuk makan siang sebentar di sekitar gedung. Cukup susah mencari restauran untuk makan siang di daerah ini yang lebih di dominasi dengan gedung perkantoran. Akhirnya saya memutuskan makan siang di sebuah restauran yang berada di sebrang gedung karena cuma itu restauran terdekat.

Saya langsung di sambut dengan hangat ketika saya masuk ke restauran tersebut. Saya dipersilahkan duduk di sebuah meja yang berada tepat di depan sebuah dinding besar yang penuh dengan hiasan. Pelayan dengan ramah menjelaskan menu makanan yang direkomendasikan kepada saya. Harga makannya cukup pricey yaitu mulai dari harga Rp 80.000,00-Rp 120.000,00. Saya pesan Asian Steak Tartare untuk makan siang karena menu ini salah satu menu yang di rekomendasikan oleh pelayan.

SAM_4879

SAM_4882

Saya sempat kaget ketika pesanan saya datang, isi dari makanan ini berupa daging sapi cincang masak, beberapa helai bunga, taburan buah delima dan beberapa emping yang di hias dengan caramel. Karena saya merasa janggal makan daging tanpa nasi maka saya akhirnya sekalian pesan nasi putih satu porsi. Beberapa saat kemudian seorang pelayan menghampiri saya sambil menerangkan bagaimana cara makan Asian Steak Tartare ini.

Ternyata cara makan Asian Steak Tartare ini memang agak unik. Kita harus memakan campuran daging sapi, helai bunga, dan buah delima bersamaan dengan emping yang sudah di hiasi caramel. Awalnya saya takut rasanya campur aduk tak terbayangkan, eh ternyata rasanya tuh enak bangetttt! Saya sampai ketagihan gitu makannya. Rasa gurih dagingnya bercampur dengan rasa manis segar buah delima, kemudian disusul dengan rasa gurih manis emping yang dibalut dengan caramel. Rasanya saling susul menyusul namun menciptakan rasa gurih manis sedap di lidah saya. Ini benar-benar eating experience yang sangat saya nikmati, salut sama Cheef-nya! Karena saya juga sudah pesan nasi jadi bablas deh saya makan sekalian bersama nasi hehehe, habis itu perut saya kenyang namun dalam kadar yang pas.

Selesai makan, saya dipersilahkan untuk isi kuosioner yang disediakan. Salah satu pelayan sempat nanya tentang pesanan saya dan menanyakan apa yang paling saya suka dari menu makanan yang saya pesan. Saya langsung jawab “Emping Caramel!” ahahahha. Jujur saya paling suka sama rasa emping caramel-nya, rasa gurih manis-nya pas dan nagih banget.

Selesai Makan, saya balik lagi ke pameran. Saya ngobrol dikit dengan Tisha sambil menceritakan makanan unik yang saya tadi makan. Kebetulan presentasi kelompok sudah selesai, sehingga saya bisa leluasa keliling pameran sekali lagi. Saya juga lanjut membuat berita duka versi saya sendiri dengan lebih fokus. Saya juga diberikan booklet berisi rangkuman berita duka cita dari para peserta pameran sebelum akhirnya saya pulang, it was really nice souvenir. Saya bisa mengenal mereka secara singkat melalui rangkuman berita duka cita mereka masing-masing.

SAM_4907

Sering kali kita menganggap sebuah kematian sebagai sesuatu yang negatif. Sama seperti Lala Bohang, saya selalu percaya bahwa kematian adalah sebuah fase istirahat total tanpa batas dari hidup. Sebagaimana sebuah kehidupan, sebuah kematian pun seharusnya bisa dirayakan dengan baik sesuai keinginan dan selera. Kalau seandainya tidak ada kematian, hidup abadi mungkin terasa lebih menakutkan dan membosankan. Pameran ini sekaligus menjadi refleksi bagi saya dalam menjalani hidup ke depannya sebelum akhirnya saya menghadapi kematian. Kematian pada akhirnya menjadi bahan refleksi mau ke arah mana hidup ini kita lanjutkan sebelum hidup itu sendiri berakhir.

Saya pulang siang itu dengan perasaan yang puas. Saya benar-benar menikmati pameran yang saya kunjungi. Pergi ke pameran seperti sebuah terapi tersendiri bagi saya apalagi saya senang menikmati sebuah karya seni. Anggota keluarga saya yang lain ga terlalu suka pergi ke pameran seni. Selama ini saya lebih sering ke pameran sendiri atau bersama beberapa teman dekat saya yang juga penikmati seni atau illustrator. Setelah mengikuti pameran tersebut saya juga ikutan buat berita duka cita versi saya. Perasaan saya sebenarnya agak campur aduk ketika menuliskan berita duka cita versi saya sendiri, namun juga ada perasaan bahagia dan lega karena pada akhirnya saya juga akan dikenang oleh orang-orang terdekat saya. Saya harap post kali ini juga menginspirasi pembaca sama seperti pameran tersebut juga menginspirasi saya. See you on my next post readers!

Funeral Letter

Today, I lost the love of my life, a great wife and a mother to my children. I remember the first day we met. We often fought with each other. You were the one with the hard shell. You said to me that you didn’t believe in love and relationship but we also fell in love each other in the end.

First, I could deny how I couldn’t stand your exploding anger, silence, and your stubbornness but then I also couldn’t stand to not fall in love with you. As we married, I have seen you grown beautifully as wife and mother of our child. You always took care of us with love and care. I also became a witness of how you struggle to fight your own demon inside your head. We really had many hard time back then.

I never been so grateful to have someone so lovely like you. You always live with many dreams and hope. You also had a hard time to believe in yourself and all the dreams that you had. You never really realize how beautiful and talented you were. I was glad you didn’t give up on yourself. You were truly inspiring, independent, and strong woman, and I was sad because you never realized that.

I never thought I lost you so quickly. Last night you told me that you really satisfied with your life. You also never though you figured out what you really wanted in your life until now. You said you never though you will married and have two handsome sons and grand children. We really had a nice time last night talking about our marriage and life. You said to me thank you and I love you several times. I never knew it was your last sentences for me.

And here I am with our children and grand children are standing in your funeral. My heart is broken seeing you leave. I also happy that you can rest peacefully now. Rest in peace my love. I love you so much. Farewell my love, till we meet again in heaven.

Your Husband

Remember me as a daughter, a co-worker, a wife, a mother, a lover and a child in her own world of imagination.

-M.D

FOR MORE INFORMATION

Exhibition info : @suarartspace

GIOI RESTAURAN

Senopati Raya no. 88, Jakarta

website : gioijkt.id

Instagram : @gioijakarta

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

COLOUR PALETTE DESIGN

Picture1

Selama ini saya selalu mempromosikan produk dari brand lain di blog saya tapi saya lupa belum pernah promosiin usaha saya sendiri di blog hehehe. Sebenarnya sempat ragu nanti dikira ngiklanin diri sendiri *padahal sih iya niatnya ahahhaha. Berawal dari keputusan saya untuk rehat dari dunia perkantoran timbul keinginan saya untuk membuka usaha sendiri bersama teman kuliah saya. Di tambah kecintaan dan hobi kami juga terhadap doodling dan graphic design maka kami membulatkan niat untuk membuka usaha ini. Pertama kali buka usaha tuh saya kepikiran “duh ada ga ya yang mau beli atau order” namun di awal usaha memang teman sekitar kami banyak yang memesan untuk keperluan hadiah wisuda, hadiah ulang tahun, untuk diri sendiri dan ada juga yang memesan untuk keperluan pernikahan.

Started from our love of “doodling”, graphic design and digital design, we decided to create an outlet for our hobby and creativity into a form which we call COLOUR PALETTE

Memang yang namanya usaha kadang ramai kadang sepi karena masih belum stabil. Saya juga sempat sibuk dengan blogging dan event sedangkan teman saya sekarang sudah bekerja kantoran lagi, jadi usaha kami pun sempat berjalan lambat. Pertimbangan untuk mencari suplier kain, bahan dan jahit juga salah satu faktor usaha kami sedang berjalan lambat, takutnya karena buru-buru, akhirnya malah dapat suplier yang ga bagus dan mengecewakan sehingga mempengaruhi produk yang dihasilkan.

Behind the name of COLOUR PALLETE

We believe that everyone has their own PALETTE, and have the right to choose their own COLOURS on their own canvas. This belief is what drives us to give our own personal touch to every work we do, while still accentuating our clients personal touch as well

Mengapa namanya COLOUR PALETTE DESIGN? Sebenarnya kami rada bingung mencari nama untuk usaha kami, udah cari nama dari yang alay sampai yang lucu, dari yang ada filosofinya sampai ngak nyambung sama sekali ama usaha kita ahahaha akhirnya nama COLOUR PALETTE DESIGN ini. Kami memberi nama COLOUR PALETTE DESIGN karena kami percaya setiap orang punya hak untuk memilih warna-warnanya sendiri di kanvas sehingga kami tetap memberikan sentuhan personal gambar kami di produk yang kami hasilkan tak lupa juga mengabungkan personal taste dari klien kami.

Ada dua tipe produksi yang kami hasilkan yaitu produk yang memang ready to sell dan produk by request. Produk ready to sell biasanya kami keluarkan jika ada acara khusus dalam waktu dekat seperti wisuda dan hari raya sedangkan product by request lebih personal untuk kebutuhan perusahaan, pernikahaan, party dan individu namun tidak menutup kemungkinan ada product by request untuk hari raya dan wisuda agar lebih terkesan spesial.

agreement rule part 2 colour palette design
agreement rule part 2 colour palette design

Kami juga mempunyai agreement rules yang akan kami kirimkan ke calon pembeli kami, jadi product by request benar-benar deal setelah calon pembeli oke dengan agreement rules tersebut dan mengetahui sistem kerja dari tim kami. Hal ini untuk mendukung agar product by request tidak berjalan bertele-tele, muter-muter seperti sinetron yang tidak tahu kapan habisnya *lebay dan memberikan jangka waktu bagi produk untuk di print atau di produksi oleh suplier kami khususnya untuk event besar, karena produksinya banyak tidak bisa dalam waktu semalam jadi hehehehe. Kami juga mempersilahkan klien jika punya saran untuk ide atau gambaran preseden (dalam bentuk contoh foto atau contoh gambar inspirasi) mau seperti apa produk yang akan di pesan, hal ini untuk mempermudah tim kami agar bisa mengembangkan ide tersebut dalam bentuk produk.

brosur2

Sebenarnya apa aja sih yang COLOURPALETTE DESIGN produksi? Produk kami memang beberapa lebih ke ilustrasi (berupa kartu, notebook dan portfolio), biasanya pesanan jenis ini lebih untuk hadiah ulang tahun, hadiah anniversarry pacaran atau untuk pernikahan. Produk jenis graphic design misalnya keperluan untuk profile band, event, dan untuk perusahaan lebih kepada info graphic atau graphic design, semua itu kembali lagi kepada selera dari pelanggan.  Kami juga akan mengirimkan price list beserta produk yang sudah pernah kami buat kepada klien lewat email bersama dengan agreement rules kami yang bertujuan agar klien sudah ada gambaran tentang harga produk.

Kami juga sedang mengembangkan untuk memproduksi scraf dan tote bag (dalam proses), kebetulan yang pesan scraf baru kenalan dekat kami hehehe. Jika ada hal yang ingin ditanyakan silahkan tanya via email atau LINE sesuai jam kerja kami yaitu Senin-Sabtu dari jam 09.00-19.00 WIB. Kalau kalian sendiri bagaimana? adakah hobi yang akhirnya dijadikan usaha kecil-kecilan? Have a great day readers! 🙂

FOR MORE INFORMATION

COLOURPALETTE DESIGN

FACEBOOK I INSTAGRAM

Email : colourpalettedesign@gmail.com

WA/LINE : 081316281866/08128415131

Art to Merchandise Workshop

2MADISON-Dec-05--From-Art-to-Merchandise--by-Diela-Maharanie-dan-Prasajadi-Heru-31

Hai! Saya minta maaf karena baru sempat menulis blog lagi dikarenakan kesibukan dirumah menyambut natal dan tahun baru. Sebenarnya workshop Art to Merchandise ini tanggal 5 Desember 2015 kemarin di Hello2madison. Partner kerja saya tiba-tiba whatsaap tentang acara ini dan akhirnya kami memutuskan untuk ikut karena temanya cocok dengan usaha yang sedang kami jalankan yang memang ingin lebih berfokus ke product meskipun tidak menutup kemungkinan akan berkembang ke hal lain. Ternyata kami daftar mepet dengan pendaftaran akan ditutup tetapi untungnya kami dapat kursi untuk ikut workshop.

Mentor untuk workshop ini ialah Mbak Diela Maharani dan Prasajadi Heru, untuk para ilustrator mungkin tidak asing dengan kedua nama ini hehhehe. Sesuai dengan temanya, workshop ini lebih menekankan bagaimana menuangkan sebuah seni yang dikemas dalam produk yang digunakan sehari-hari, ada sharing juga tentang pemasaran dan proses kreatif yang selama ini sudah dilakukan oleh Mbak Diela dan Mas Pras.

Tempat workshop kami di lantai 3 Hello2madison. Ketika kami datang, tempat sudah diisi dengan meja, kursi, kuas, notebook, pouch, dan tentunya snack. Kebetulan yang lebih banyak datang ke workshop adalah wanita, partner kerja saya cuma laki-laki satu-satunya yang ikut tentunya dengan salah satu mentor mas pras saja yang laki-laki hehehehe :D.

Sesi pertama worshop tentunya penjelasan tentang seni lukis atau illustrasi bisa dijadikan produk apa saja sih. Ada yang bisa jadi tas, notebook, fashion product dan juga produk interior seperti bantal, kursi, sofa dll. Kemudian dari kedua mentor mensharingkan pengalaman mereka dalam membuat produk kreatif, bagaimana memasarkan sendiri produk karya kita atau bisa juga kita menitipkan ke art galeri tentunya seperti Catalyst Art atau Kopi Keliling (yang sudah pernah saya tulis di blog ini juga) dengan penyeleksian dan agreement fee yang disepakati. Kemudahan media digital dan lifestyle manusia sekarang yang tidak bisa jauh dari gadget sangat mempengaruhi perkembangan dunia seni dan ilustrasi, setidaknya dengan adanya instagram dan path lebih banyak illustrator yang bisa menawarkan jasa dan produk ke masyarakat.

“Saya waktu itu mulai dengan sesuatu hal/produk yang saya sendiri ingin kemudian baru beberapa teman dekat mulai memesan.” D.M

Mungkin banyak dari para seniman atau illustrator yang bertanya awalnya, karya seni saya mau di jadikan produk apa ya? memangnya kalo saya buat produk ini akan ada yang beli? Itu pertanyaan awal saya ketika memulai usaha, saya dan partner kerja saya sempat bingung ini mau buat apa ya ke depannya. Project pertama kami adalah kartu, pembatas buku dan notebook dengan tema wisuda karena event yang dekat waktu itu wisuda, memang kami hanya jual ke beberapa teman dan grup di whatsaap dan line, kami bersyukur ada yang membeli meski tidak begitu banyak sampai akhirnya kami dapat pesanan kartu custom, portfolio band, dan keperluan event. Mbak Diela sendiri sempat sharing awalnya dia membuat sesuatu murni untuk keperluan personalnya saja sampai dapat pesanan dari teman dekatnya.

Mulailah dari sesuatu yang memang kalian inginkan secara personal dan mungkin orang lain menginginkan hal itu.

Salah satu peserta workshop juga sempat menanyakan, sampai ditahap apa Mbak Diela menemukan style gambarnya sendiri. Mbak Diela sempat menceritakan awalnya dia latihan menggambar terus sampai akhirnya yang digambar wanitanya berciri khas tertentu, sering memakai warna tertentu dan sebagainya, pasti ada satu titik akan sadar style gambarnya kita sendiri dan yang terpenting latihan terus menerus :). Peserta yang lain juga ada yang bertanya, bagaimana untuk menetapkan harga produk kita, kan kalau Mbak Diela mungkin pede menetapkan harga karena sudah punya nama tetapi kalau kami yang masih belum di kenal mungkin susah dan banyak komentar “kok mahal amat sih kan tas begitu paling cuma berapa puluh ribu?” dan sebagainya. Di situ kami di tekankan jangan takut untuk memberikan harga untuk hasil karya kita, harga tentunya sudah termasuk untung, biaya produksi, biaya transport kalau ada. Intinya sih jangan takut, karena pembeli bukan hanya membeli karya seni tetapi juga jasa dan produksi, toh masalah selera bagus atau tidak, balik lagi selera itu beda-beda setiap orangnya.

Setelah penjelasan dan sharing panjang lebar mulai deh kami melukis di sampul notebook yang memang khusus dibuatkan untuk dilukis dan pouch dari kanvas yang bisa dilukis juga :D. Cat yang kami gunakan merupakan cat Arcylic, katanya jika pouchnya di cuci tidak akan luntur karena pakai cat arcylic.

h4

Bagi yang ingin mencoba melukis dengan cat arcylic disarankan hati-hati ketika mem-blend catnya yang dicampur dengan air karena cat aryclic agak kental tidak seperti cat watercolour. Hasil karya saya yang atas, gambar seorang gadis sedang menanam, sedangkan yang bawah adalah gambarnya K (partner kerja saya). Saya agak belepotan ketika mencoba melukis dengan cat arcylic, sedangkan temen saya lebih jago mem-blendnya :p. Selesai kelas kami foto bersama dengan mentor dan peserta lainnya. Kami juga sempat foto bersama dengan mentor.

Bagi yang belum pernah ke Hello2madison, tempat ini tidak hanya untuk workshop lho tetapi juga menjual furniture untuk interior, art merchandise, dan di lantai paling bawah ada cafe kecil untuk minum dan makan-makan cantik.

h1

Lantai dua lebih banyak dengan keperluan interior seperti bantal, sofa, kursi dan sebagainya. Kalau kalian seperti saya yang memang suka dengan dunia illustrasi, seni dan ruang (karena basic saya Arsitektur) akan betah baget keliling liat-liat disini, rasanya pengen dibeliin satu-satu barang-barangnya hehehehe.

h2

Lantai pertama lebih banyak pajangan produk artwork, tas, pouch dan juga ada cafe untuk bersantai. Kami sempat makan di area cafe karena workshop hampir seharian jadi peserta tetap mendapat makan siang. Kami malah jadi lama pulang karena kelamaan lihat-lihat barang dan art merchandise.

Bagi yang penasaran tempat Hello2madison atau yang ingin kesana untuk belanja atau hang out di cafenya, Hello2madison ada di Promenade 20 Building jl.Bangka Raya 20 Kemang. Sekali lagi, ini bukan pesan sponsor lho ya, murni karena saya ikut workshop disana.

h5

Selamat menjelang Tahun Baru guys! 🙂

Kopi Keliling 2015

P1040607

Halo! Saya sempat berhenti update blog karena beberapa hari yang lalu saya jatuh sakit sehingga saya harus istirahat sekitar 3-4 hari karena demam. Akhirnya setelah agak merasa sehat saya lanjut lagi untuk menulis blog. Sebelumnya, saya sudah pernah menceritakan pengalaman saya ke Catalyst Art di blog ini, dan ternyata sebulan yang lalu saya mendapat email dari kopi keliling berupa info adanya pameran dan bazaar art di KunCit pada tanggal 29-30 November 2015. Saya sangat tertarik untuk datang, karena dilihat dari notif email lebih banyak yang berpartisipasi di pameran ini dan juga tidak hanya pameran seni tetapi juga ada stand-stand kopi disana.

Saya berangkat dari rumah agak siang dan karena sabtu macet sekali terutama daerah kuningan saya telat sampe 1,5 jam. Ada tiga spot di Kuncit yang menjadi area pameran kopi keliling, satu untuk bazaar karya seni, satu lagi khusus workshop, dan satu lagi untuk stand kopi dan beberapa karya seni. Ketika saya kesana, masih sepi pamerannya, mungkin karena hari pertama jadi pengunjung belum banyak yang datang.

Tujuan utama saya datang memang karena suka dengan artwork dan produk lokal seniman indonesia, biasanya saya bisa lihat-lihat sambil nanya bahan apa yang dipakai, bagaimana cara membuatnya, saya juga suka kenalan dengan seniman-seniman muda. Berhubung saya juga sedang membangun usaha dalam bidang grafis jadi lumayan bisa banyak belajar dan bisa melihat karya seni orang lain yang macam-macam bentuknya. Tiket masuk untuk pameran yaitu Rp. 25.000,- untuk satu orang dan tiket bisa di tukarkan dengan kopi yang ada di spot pameran selanjutnya.

Waktu pertama kali masuk ke pameran langsung warna warni muncul dari produk yang di pajang oleh pemilik stand. Barang-barang yang djual juga beragam dari boneka, tas, artwork, keramik dan lain-lain.

MY FAVORITE LIST AND WHAT I BOUGHT

Here is, my favorite stands! Beberapa dari stand ini berhasil membuat saya tidak bisa menahan diri untuk tidak beli hehehe.

P1040598

aufag

neng

sar

COFFEE AT THE END

Setelah seharian saya menjelajah bazaar dan membeli beberapa artwork, saya pergi ke spot terakhir pameran dimana ada beberapa stand kopi sudah siap menawarkan kopi racikan mereka. Tiket pameran bisa di tukar dengan se-cup kopi, bahkan panitia menyiapkan stiker supaya gelas cup kopi bisa dihias sesuka hati kita.

P1040608

Ada yang pergi ke pameran kopi keliling? feel free to share your own favorite stands 🙂

My Anxiety Box and Me

Rasanya lumayan cukup lama gak update blog lagi. Saya ingin share cerita tentang salah satu pengalaman yang saya alami beberapa minggu yang lalu dimana saya sedang iseng-iseng liat instagram dan ketemulah dengan instagramnya maubelajarapa ( ig : @maubelajarapa). Bagi yang belum tau tentang maubelajarapa, maubelajarapa adalah majalah dan direktori kursus pendidikan online di Indonesia (kamu bisa lihat keterangan lebih lengkap di facebook maubelajarapa, instagram dan situs web). Jadi di maubelajarapa ini, kamu bisa cari jadwal workshop yang kamu ingin ikuti. Waktu itu pas banget saya melihat ada jadwal workshop yang saya sangat tertarik untuk datang yaitu Learn The Art of Inxiety (Act of Release) Through Drawing by Lingkaran. 

Workshop ini diadakan oleh lingkaran. Apa itu lingkaran? Lingkaran is an alternative education community that transform creative-passionate into creativepreneurs through learning and opportunity in design, technology, and businesses (sumber : web lingkaran.co). Nah lingkaran sering mengadakan banyak workshop yang bisa kamu ikuti dan bisa dilihat jadwalnya di instagram ( ig : @lingkaran.co), facebook dan situs webnya.

Saya suka ikut workshop jika ada waktu dan dananya mencukupi. Saya berpendapat bahwa belajar itu akan selalu menjadi bagian dari hidup, bahkan sampai tua pun jangan kehilangan rasa ingin belajar sesuatu yang baru dan rasa ingin terus berkembang di bidang apapun itu. Mungkin banyak yang bertanya kenapa tidak ambil les atau kursus saja jika memang ingin belajar. Alasannya tentu karena tema workshop sangat beragam, dan belum tentu ada les/kursus khusus dengan tema beragam dan harga terjangkau tetapi jika memang menemukan les dengan metode dan cara pembelajaran yang baik sih sah sah saja. Alasan kedua ya workshop lebih menawarkan metode pembelajaran yang luas tergantung pengembangan dari mentornya serta lebih langsung praktek saat itu juga dan hal ini sangat berbeda dengan tipe mengajar sekolah di kelas dimana ada murid dan guru, kesannya sangat kaku. Alasan yang ketiga tentu karena suka menggambar dan karena aku sudah mulai sadar punya kecemasan yang berlebihan.

Learn The Art of Inxiety (Act of Release) Through Drawing by Lingkaran dengan mentor Lalabohang ( ig: @lalabohang). Mbak lala ini merupakan salah satu ilustrator yang dikenal, dengan gaya khas gambar dengan tinta serta gambarnya yang serba hitam putih. Kebetulan saya datang sekitar 15 menit lebih awal di tempat workshop. Tempat workshop berada di conclave, daerah jakarta selatan. Berikut foto tempat workshop.

lantai 1
lantai 1
IMG_20150425_180102 b
lantai 2 menuju ruang workshop
perpustakaan
perpustakaan

Tempat workshopnya jujur bikin saya betah ahahaha, rasanya ga mau balik cepet-cepet. Sebelum masuk harus lapor ke petugas di lantai satu karena masuknya menggunakan kartu dan ditukar sementara dengan KTP, jadi bisa dibilang gak sembarang orang bisa lalu lalang di dalam tempat workshop tanpa sepengetahuan petugas. Nah, tempat conclave ini juga sering dijadiin tempat untuk mengerjakan tugas bersama, tugas kelompok, atau pekerjaan pribadi dengan dikenakan tarif perjam.

Balik lagi ke workshop dengan mbak lala, saya lebih cepat datang jadi sempat mengobrol dengan mbak lala, kebetulan background kami sama yaitu sama-sama lulusan dari Arsitektur dengan beda Universitas, jadi sempat sharing dan cerita kehidupan setelah lulus dari kampus. Workshop akhirnya dimulai setelah cukup menunggu beberapa orang yang belum hadir. Pada awal workshop, mentor sempat presentasi awal tentang apa sebenarnya Anxiety, dan tentang banyak seniman yang menjadikan karya mereka sebagai terapi bagi diri mereka sendiri untuk melepas kecemasan dan masa-masa buruk yang mereka lalui. Mbak lala juga sempat menjelaskan beberapa teknik dengan menggunakan tinta dan kuas untuk menggambar.

Anxiety sebenarnya sangat wajar, semua org punya kecemasannya masing-masing, dan wanita sangat memiliki natur untuk dapat cemas berlebih dan hal itu masih dalam batas kewajaran. Setelah dipikir-pikir bener juga sih, dan terbukti dari peserta workshop saat itu 100 % adalah wanita. Menurutk saya, wanita lebih banyak mendapat tuntutan dibanding kaum pria, misal jika umur sudah mendekati 25an atau 30an kaum wanita lebih banyak dapat gunjingan tentang mengapa belum menikah dan setelah menikah pun punya anak jadi suatu hal yang digunjingkan society, image dunia kecantikan pun lebih bisa mempengaruhi wanita untuk cemas dari segi fisik untuk dibanding-bandingkan, sedangkan pria sepertinya tidak terlalu ditekan dengan berbagai beban ini meski mungkin ada beban lain yang mungkin tidak kaum wanita rasakan. Banyak aspek yang membuat wanita lebih wajar untuk cemas berlebih dan tentunya itu akan membuat kita jadi lebih memahami kenapa seorang ibu itu cerewet dan sering cemas, jadi bagi kaum pria, semoga anda-anda lebih bisa menghargai wanita.

Setelah presentasi dari mentor, kami disuruh mengambil kertas yang sudah dibagi ke beberapa bagian dengan label macam-macam anxiety. Kami disuruh menggambar apa yang kami gambarkan sebagai macam-macam anxitey tersebut. Setelah itu kami disuruh menjelaskan sesuai apa yang kami gambar. Keliatan seperti terapi ya? ahahaha..yang saya amati tuh semua org punya kecemasannya masing-masing dan tidak usah merasa diri paling hebat, merasa diri paling menderita juga, ataupun mengejek kecemasan orang lain, karena balik lagi kita adalah manusia dan manusia itu gak sempurna.

sedang berlangsung workshop
ketika berlangsung workshop

Tahap akhir, kami membuat satu gambar dengan durasi yang lebih lama dan juga ditambah menggunakan watercolour abu-abu. Setelah sesi berakhir, mbak lala sempat bertanya, “Gimana? Berasa lega setelah sesi ini?”. Saya entah kenapa merasa lega, ada sesuatu yang dikeluarkan dalam bentuk lukisan, dan lukisan itu punya meaning yang ingin saya sampaikan terkait dengan apa yang saya alami.

Workshop ini berkesan sekali untuk saya karena bisa jadi metode untuk melepas kecemasan berlebihan dalam hal yang positif dan kreatif. Banyak hal juga yang saya pelajari dalam workshop ini dan jadi pelajaran untuk ke depannya. Beberapa hal juga jadi buah pikiran saya setelah workshop ini berakhir yaitu…

Anxiety itu wajar, jangan pernah menutupi dan menimbun kecemasan di dalam diri

Kita sebagai manusia pasti punya kecemasan, cemas adalah bagian dari natur emosi yang Tuhan berikan, jadi sangat wajar bagi kita untuk cemas. Image dunia yang menampilkan kesempurnaan dalam kecantikan, karir, prestasi, betapa menariknya orang yang selalu positif terkadang mempengaruhi kita untuk menutupi kecemasan dan apa yang kita rasakan, kita takut di cap jelek serta mengakibatkan orang-orang tidak tertarik kepada kita. Tetapi sekarang, saya jadi terdorong untuk jujur terhadap emosi dan kecemasaan yang saya miliki, mengeluarkannya dengan bijak dan melepaskan orang-orang yang memilih pergi karena tidak mau menerima hal itu.

Semua orang punya struggle-nya masing-masing

Tidak perlu merasa lebih atau merasa kurang karena semua orang punya masalah dan bebannya masing-masing sesuai kemampuannya. Lebih banyaklah mendengarkan daripada mengomentari orang lain yang mengutarakan kecemasannya.

Anxiety merupakan sesuatu yang akan mengukir dirimu unik dan berbeda dari yang lain

Di blog sebelumnya tentang watercolour workshop, saya sempat bilang bahwa gambar setiap orang punya keunikan masing-masing sama seperti pribadi, setiap orang unik dan berbeda begitu juga jalan yang akan ditempuh pasti berbeda. Di sekolah/kuliah mungkin nilai dijadikan acuan untuk lulus atau tidaknya seseorang, di dunia pekerjaan hal itu lebih soal bisa bertahan serta berjuang atau tidak. Di sekolah mungkin kelas matematika wajib diikuti semua murid, dalam hidup, semua kelas yang dialami setiap orang berbeda satu sama lain. Saya semakin meyakini bahwa setiap individu punya jalannya masing-masing dan dibentuk dengan penempaannya masing-masing sesuai rencana sang Pencipta. Anxiety setiap individu berbeda, dengan begitu berbeda pula pembentukan setiap individu melalui anxiety-nya. Sebelum menuju akhir sesi workshop kami disuruh melihat hasil karya kami yang dipajang, dan disitu mentor menyadarkan bahwa sisi negatif pun bisa menghasilkan karya seni yang indah pada akhirnya.

Gambar bisa jadi sarana untuk lebih mengenal diri sendiri

Sejujurnya saya tidak terlalu suka dengan diri saya sendiri. Saya bisa mengeluh ke diri sendiri “duh lamban bgt”, atau “kok saya tidak sepintar dia ya”, dan banyak hal lainnya membuat saya tanpa sadar terlalu keras dengan diri sendiri. Menggambar jadi seperti dialog antara diri saya dengan diri saya sendiri bukan berarti gila ya ahahahah seperti apa yang saya alami dituangkan dalam gambar, trus balik nanya lagi kenapa harus berpikir seperti itu tentang apa yang dialami, aku suka menulis mimpi-mimpi yang belum terwujud dan juga keinginan yang ingin dicapai dalam waktu dekat tanpa ada intervensi pihak lain karena ini adalah dialog antara diri saya dengan diri saya sendiri.

Saya jadi sering corat coret sejak ikut workshop ini..ahahaha..kadang bahkan jadi kegiatan wajib di akhir pekan atau malam sebelum menjelang tidur. Lebih banyak waktu me time menggambar daripada hang out dengan teman, efeknya sih jadi lebih menenangkan dan lebih mengenal diri sendiri.

g
foto hasil karya dari workshop

Sebelum balik ke rumah, tentunya harus wajib bgt foto sama mentornyaa…ngefanss sama mbak lala bohanngg..karyanya keren-kerennn.

IMG_20150823_195446
Sebelum pulang wajib foto sama mentornya 😀

Terima kasih mbak lalabohang untuk ilmu dan sharingnya, semoga selalu sukses terus! Untuk maubelajarapa dan lingkaran.co terima kasih untuk memfasilitasi orang-orang yang masih tetap mau belajar dan membuat tema yang sesuai seiring perkembangan kehidupan masyarakat..hehehehe…

Watercolour Workshop Painting by Catalyst Art

Setelah beberapa hari yang lalu nge-post tentang Catalyst art market, sekarang saya akan menulis tentang workshop watercolour yang pernah saya ikuti di catalyst art. Kebetulan di IG catalyst_art membuat post kalo ada workshop watercolour painting, jadi teringat akan cinta lama bersemi kembali *lebay..yaitu menggambar dan melukis. Saya mulai bongkar lemari yang isinya peralatan kuliah dulu..wahh si watercolour reeves masih banyak dan masih awet banget cat-catnya..*maklum setelah kuliah dan sibuk kerja jadi lebih milih tidur dan jalan-jalan di sabtu minggu. Register dan transfer ke catalyst kemudian kirim email dengan foto bukti struck ATM dan sehari setelahnya di konfirmasi kalo mereka sudah menerima email dan bukti pembayaran.

Pas hari-H untuk workshop, saya memilih naik kereta trus nyambung naik taksi. Memulai perjalanan naik kereta sampai stasiun Duren Kalibata, trus nyambung naik taksi ke daerah kemang *maklum karena ga tau kalo ke daerah situ naik angkotnya gimana dan nomor berapa aja. Awalnya deg-degan karena akan ketemu banyak orang dan sempet kepikiran jangan-jangan yang ikut workshop udah seniman tingkat dewa sedangkan diri ini masih itik banget dalam urusan melukis pakai cat air. Sebelumnya, saya sempat menanyakan info ke catalyst tentang patokan ke galeri mereka, patokannya itu adalah gedung jonas, di jalan, keliatan kok, galeri catalyst persis di depan jalan raya yang sering di lewati kendaraan. Sesampainya di sana ternyata udah banyak yang datang, trus mas dari catalyst nanya nama dan mengecek di laptop dia untuk daftar peserta workshop. Saya akhirnya nunggu sama peserta lain dan disediakan kopi susu gitu *padahal ga terlalu suka kopi :p.

Workshop sempat agak telat karena yang membawakan workshop yaitu mas Muhammad Taufiq (instagram : @emteemte) lagi ada keperluan terkait pameran di daerah kemang juga. Sambil nunggu dan ngobrol-ngobrol, ternyata dari peserta workshop, beberapa memang bekerja sebagai ilustrator dan seniman, beberapa lagi kuliah di jurusan lain atau bekerja di ranah lain tapi hobi melukis. Setelah mas emte datang, baru deh dimulai workshopnya. Mas emte sendiri awalnya menjelaskan media yang dipakai yang cocok untuk melukis menggunakan cat air, dari segi kertas yang harus tebal agar tidak jd keriting karena terkena banyak air, kuas boleh macam-macam, dari merk cat air juga disesuaikan dengan nyamannya si pelukis. Ternyata banyak yang pakai macam-macam cat air, dan karakteristiknya ada yang hampir sama ada juga yang hampir beda.

Setelah memperhatikan para peserta, para peserta ternyata punya cara gambar yang beda-beda..ada yang lebih ke karikatur, ada yang lebih ke pemandangan, ada yang lebih ke animasi yang lucu-lucu, jadi ga perlu merasa minder atau bingung karya kita jelek..inget kan jelek dan cantiknya karya itu relatif..saya sendiri belajar menggambar senyamannya diri saya sendiri dengan objek-objek yang saya paling suka gambar. Saya juga jadi banyak liat dan bertanya gimana teknik-teknik mereka dalam menggambar, memadupadankan warna, nanya cat airnya juga merk apa, jadi banyak pengetahuan dan dengan tipe belajar yang santai sambil sharing satu sama lain, saya sih sangat nyaman ketika ikut workshop.

Saya share beberapa foto pas workhop di bawah ini. Galeri Catalyst ga besar-besar banget, satu ruangan dengan barang-barang seni di sekelilingnya, ruangannya cukup nyaman. Meja di tengah ruangan memang meja yang disiapkan untuk yang mengikuti workshop.

20150419_174818
Ruang galeri dan workshop catalyst
20150419_155406
Ruang galeri dan workshop catalyst
20150419_174841
Ruang galeri dan workshop catalyst

Untuk hasil dari workshop juga saya share disini. Saya mencoba gambar menggunakan satu warna dari gambar pemandangan, gambar wajah orang, dan gambar animasi yang lucu.

20150419_155413
Ruang galeri dan workshop catalyst
20150419_171045
Ruang galeri dan workshop catalyst

Menekuni hobi yang sempat terlupakan itu rasanya kayak CLBK *lebay ya. Saya sempat mengamati dari beberapa seniman juga yang ikut workshop kemarin itu ya tetap jadi diri sendiri, lukisan mencerminkan personal diri dari si pelukis jadi gak perlu banget membandingkan diri dengan orang lain atau hasil karya orang lain, pelukis itu punya keunikan masing-masing dan itu yang membuat masing masing jadi istimewa sama halnya bahwa setiap pribadi unik. Saya juga belajar melukis apa yang saya suka, dari situ saya belajar jujur dengan diri sendiri, apa yang dirasakan, apa yang disuka dan gak disuka bisa dituangkan dalam lukisan. Melukis jadi salah satu terapi bagi diri sendiri, sekarang sering sempetin waktu buat melukis, jelek atau bagus yang dikatakan orang lain gak jadi masalah bagi saya, yang penting tetap jadi diri sendiri.

“The only time I feel alive is when I’m painting.” -Vincent van Gogh

“The key to understanding any people is in its art: its writing, painting,sculpture.” 

– Louis L’Amour, Education of Wandering Man

Thanks untuk catalyst dan mas emte yang sudah mengajar di workshop…hehehe..sebelum pulang tentu gak lupa foto sama yang ngajar workshopnya.

20150419_181430
Sebelum pulang tidak lupa foto sama mentornyaa 😀

Catalyst_Art Market 4

Hi semua! akhirnya menulis lagi setelah blog ini mulai terlupakan, harus menguatkan niat untuk menulis lagi (*ayo mon,,semangat mon!!). Saya tau catalyst art dari salah satu teman dekat, Grace. Waktu itu sempat ngobrol-ngobrol tentang ingin melukis lagi karena keinget dulu waktu kecil saya suka banget menggambar atau melukis tapi sering kena marah ibu saya karena kerjaannya itu aja dan gak terlalu tertarik belajar, pada akhirnya jadi sibuk belajar belajar, it’s all about study and good grades (*tipikal pendidikan indonesia, upss!), jd terlupakan deh hobi ini.

Seni lukis atau menggambar merupakan sesuatu yang personal bagi saya, sangat membantu untuk menenangkan diri dan membantu mengeluarkan emosi yang ada didalam (*maklum tipe orang yang memendam emosi). Gambar bagi saya secara pribadi adalah ungkapan perasaan, jadi saya terbiasa menggambar apapun yang terpikir di otak, meski kadang belajar dari melihat contoh foto juga untuk latihan. Secara pribadi, saya sendiri meyakini gambar menyampaikan apa yang si penggambar/pelukis rasakan.

Ketika liat di instagram bahwa catalyst art membuka workshop melukis dengan cat air langsung deh mendaftarkan diri dan membuka tumpukan cat air jaman kuliah yang masih bersisa banyaakk (*harta terpendammm). Pengalaman workshop akan dibahas di blog selanjutnya ya hehehe..dari workshop ini juga di kasih tau sama Mas Adi salah satu yang mengurus galeri catalyst bahwa catalyst mengadakan art market, langsung deh tertarik banget buat datang dan liat-liat hasil seniman muda indo dan memang saya sangat tertarik dengan dunia seni.

Tempat catalyst art market 4 ini ada di kuningan city lantai 3 diadakan tanggal 25-26 April 2015, mall kuncit kayaknya memang lagi laris banget jadi tempat acara dan pameran..hehehehe..pas masuk akan di kasih cap trus membayar tiket masuk seharga 15 ribu, dan tiket yang sudah di kasih bisa langsung di tukar dengan coffee. Ketika saya sedang di stand coffee ditanya mau kopi hitam atau kopi susu, sebenarnya jujur saya gak terlalu suka kopi tp karena ini bonus dari tiket masuk (*emang gak mau rugi banget) akhirnya milih kopi susu truss nambahin air gula rada banyak,,hehehhe,,biar pahitnya ga terlalu kerasa (*soalnya kehidupan juga sudah pahit..curcol).

Catalyst art market 4 ini ramai waktu saya datang dan di area tengah ada meja dan kursi yang disusun untuk workshop, karena ada beberapa workshop juga yang diadakan ketika hari itu jadi sempat melihat orang-orang lagi pada asik workshop. Saya keliling stand dari awal sampe stand akhir tiga kali buat ngeliat ada gak sih yang langsung menarik mata dan hati untuk dibeli dan tentunya yang aman buat dompet sendiri..hehhehehe.

IMG_20150425_180102 A
workshop dilakukan ditengah ruangan
IMG_20150425_175925 B
workshop dilakukan ditengah ruangan

Setelah keliling dan lihat-lihat akhirnya beli barang juga, beli tas kecil, gantungan kunci berbau aroma terapi, dan dua hasil karya yang emang jadi favorit dan suka bangeeett sama lukisannyaaaa..hehehe. Saya share foto barang-barang yang udah di beli nih..hehehe.

IMG_20150425_175616 C
workshop dilakukan ditengah ruangan

Tas kecil motif kucing dan kelinci serta gantungan kunci bentuk bantal yang ada aroma terapi ini aku beli dari standnya kanigara (instagram : @_kanigara) , suka banget sama produknya, warnanya bagus, cerah, bahannya bagus, gambarnya lucu dan rapi jahitannya, dikasih post card sesuai sama gambar tas kecilnya. Saya beli dua karena yang satu dikasih ke adek sendiri yang sudah mau menemani ke art market, trus si adek langsung bahagia to the max dikasih tuh tas..ahahhaha…makasih banyak kanigara s(^.^)s. Dua hasil karya yang saya beli dan memang saya suka banget dari pas pertama liat itu hasil karyanya mas aditya pratama (instagram : @sarkodit) dan mbak cantik irene saputra (instagram : @nengiren)..suka banget sama hasil karya mereka berdua..hehehe sukses buat dua-duanya..

Ketika saya kesini, saya bener-bener menikmati hasil karya seniman-seniman muda indo..keren-keren..kreatif..kebetulan memang saya suka produk yang lucu dan kreatif, semoga makin banyak acara kayak gini sehingga seniman muda makin dikenal..kalo ada catalyst art market bakal kesana lagi dan harus nabung supaya bisa beli barang yang disuka..hehehe…kalo mau lihat atau beli barang-barang seni dan mau ikutan workshop bisa follow atau lihat instagramnya @catalyst_art.