Daily Journal : Saturdate at Casa Maitreya

Taman depan ruang makan Casa Maitreya
Taman depan ruang makan Casa Maitreya

Awal bulan ini saya, Wina, Susy, Fetty dan Stevany diajak ngumpul hari Sabtu di rumah Alodita. Saya langsung kosongin jadwal di Hari Sabtu supaya bisa ngobrol lama. Rumah Malo jaraknya cukup jauh dari tempat saya tinggal. Awalnya saya niat ingin naik angkutan umum saja, namun saya kepikiran sepertinya bakal sambung menyambung kendaraan umum untuk sampai ke sana dari rumah saya. Saya memutuskan untuk membawa kendaraan pribadi agar bisa menghemat waktu di jalan. Saya juga sempat mampir beli lapis bogor untuk di bawa sebagai cemilan ngobrol di sana manatau lanjut ngobrol lama sambil ngemil.

Saya berangkat lebih pagi untuk mengantisipasi jalanan tol Ibu Kota yang suka berubah mendadak jadi macet, padahal hanya selang beberapa menit. Saya sudah siapkan waze supaya saya ga nyasar dan mendapat rute yang lancar. Saya ternyata sempat nyasar juga lhoo ahahahha, akhirnya nanya orang setempat dan berhasil sampai ke rumah Malo di daerah Jakarta Selatan. Saya datang kecepatan sendiri. Kami janjian jam 11 siang eh saya udah sampe jam 10 pagi. Saya sempat ga enak juga datang kepagian, takutnya Malo dan keluarga lagi siap-siap dirumah. Ternyata Malo lagi pergi beli kopi, jadi saya disuruh masuk saja ke rumah karena Malo sudah bilang ke ART-nya kalau saya sudah menunggu di depan rumahnya.

Pertama kali saya masuk ke Casa Maitreya, mata saya langsung liat sana sini seluruh ruangan lantai 1 tempat saya menunggu. Mungkin karena saya dulu kerja sebagai Arsitek yang lebih sering mengurusi design rumah jadi saya suka penasaran banget dengan ruang-ruang di dalam rumah seseorang. Kepribadian seseorang atau keluarga bisa kelihatan dari ruang-ruang di dalam rumahnya, dari material yang digunakan, dan bahkan dari pernak pernik yang mereka pajang di dinding atau gelas minuman yang dikoleksi. Saya duduk di meja makan yang sepertinya berfungsi sekaligus sebagai meja untuk menyambut tamu, sambil menunggu Malo pulang. Saya cukup senang karena ruang makannya langsung menghadap taman luar jadi mata saya bisa lihat yang hijau-hijau sebentar.

Baca Juga : WEEKLY JOURNAL #07-FIRST LOOK OF CASA MAITREYA

Tak berapa lama Malo, Mas Abenk dan Aura pulang. Saya akhirnya ketemu juga sama Aura Suri. Aura awalnya agak malu-malu karena baru ketemu saya namun lama kelamaan jadi sering senyumin dan nunjuk-nunjuk ke arah saya heheheh. Selang beberapa menit kemudian, Stevany datang sambil membawa puding dua toples besar untuk cemilan.

Nasi Liwet @dapur_nengepoy
Nasi Liwet @dapur_nengepoy

Sembari menunggu yang lain, kami mulai menyusun nasi liwet dari @dapur_nengepoy untuk makan siang hari itu. Susy dan Fetty datang barengan di rumah Malo dengan menggunakan taxi online. Ada teman dekat Malo juga yang datang hari itu ke rumah, namanya Mbak Kenny. Seketika itu juga rumah langsung jadi rame karena ada anak-anaknya juga yang diajak ikut, Fetty bawa Enzo dan Mbak Kenny bawa Dommy.

“Semoga Berkat dan Karma Baik ini juga sampai dan mengalir ke kalian ya”

 -Alodita

Porsi nasi liwet hari itu ternyata banyak banget. Saya sengaja cuma minum jus dan makan roti karena takut kekenyangan pas menuju makan siang. Wangi nasi liwetnya memang menggoda, lauknya juga udah bikin ngiler mata dan perut. Sebelum kami memulai makan, kami mengucap syukur terlebih dahulu. Malo juga membuka ucapan syukur dengan kalimat “Semoga Berkat dan Karma Baik ini juga sampai dan mengalir ke kalian ya”. Setelah itu langsung deh kami makan nasi liwet. Beberapa menit kemudian Wina sampai di rumah Malo. Porsi nasi liwetnya ternyata memang banyak, bahkan kami masih sisa banyak setelah selesai makan.

hadiah arisan dari Malo
hadiah arisan dari Malo

Selesai makan siang, ternyata Malo menyiapkan sesi arisan dadakan berhadiah. Kami disuruh ambil nomor kocokan untuk mendapatkan hadiah sesuai nomor. Bingkisan yang kami dapat berisi skincare, make up dan beauty products dari Malo. Saya sempat kaget karena ada barang yang saya sudah lama inginkan namun terlupakan untuk saya beli, yaitu Lamica Instant Switcher. Ada conditioner Dove juga di dalam bingkisan saya, baru aja hari ini saya pengen beli conditioner karena conditioner Dove di rumah sudah habis eh kebetulan hari ini dapat conditioner baru. Bingkisannya jadi stock saya beberapa bulan ke depan supaya ga belanja make up untuk sementara hehehe. Thank youu Malooo..sangking terkejutnya kayak berasa mimpi gitu ngeliat hasil arisan yang di dapat *masih tercengang.

Selesai dengan arisan dadakan, kami naik ke lantai dua dimana ada ruang santai keluarga. Saya juga sempat intip ruang kerja Malo dan suami, duh jadi kepengen juga punya ruang kerja sendiri di rumah. Sampai sekarang saya masih menulis blog atau mengerjakan freelance di dalam kamar, itu pun pakai meja dan kursi kecil yang gampang di geser-geser. Memang ga terlalu kondusif kalau mengerjakan sesuatu di kamar karena dikit-dikit liat kasur jadi pengen rebahan terus bawaannya. Ada beberapa lukisan Mas Abenk dalam versi besar juga yang ditaruh dekat dinding ruangan lantai 2. Lukisan-lukisannya cakep-cakep bangettt, salut sama Mas Abenk yang bisa bikin lukisan sampai ukuran besar.

SAM_5457

Sesi penampilan tunggal Aura Suri yang menghibur kita semuaa :)
Sesi penampilan tunggal Aura Suri yang menghibur kita semuaa 🙂

Acara selanjutnya kami lebih banyak ngobrol, main juga sama Aura, Enzo dan Dommy. Obrolan kami ga jauh-jauh seputar blog, beauty products, anak dan kehidupan rumah tangga para wanita, trus saya lebih banyak dengerin karena belum punya suami dan anak hihihihi *semoga cepet nyusul aminnn! Tidak lupa kami dihibur dengan penampilan solo Aura Suri yang lincah banget jogetnya pas diputerin lagu-lagu kartun anak..gemesshh minta di bawa pulang Auraaanyaa. Kami ga tahan juga ikut ketawa liat tingkah Aura dan liat Malo yang ketawa ketiwi karena Aura joget-joget heboh di depan TV.

Kami ngobrol sampai hari menuju sore. Saya dan yang lain mulai beres-beres untuk pulang. Saya pamitan sama Malo dan yang lain. Sebelum pulang kami disuruh bawa bekal cemilan yang tadinya masing-masing kami bawa, pulangnya saya berasa bawa bekal buat di jalan hehehehe. Saya melaju meninggalkan komplek perumahan tempat Malo tinggal.

Stevany, Alodita, Susy, Fetty, Wina dan saya (dari kiri bawah ke kanan)
Stevany, Alodita, Susy, Fetty, Wina dan saya (dari kiri bawah ke kanan)

Sesaat sebelumnya saya masih ketemu Aura sama Mbak pengasuhnya, mereka lagi jalan sore. Saya langsung lambai-lambai tangan ke Aura yang kemudian Aura balas lambai-lambai tangan sambil bilang “Da Dagh”. Saya pulang sore itu melewati jalan tol lingkar luar Jakarta. Kebetulan sore itu ga terlalu macet, masih padat merayap di jalan sehingga saya ga terlalu malam sampai di rumah. Malamnya saya masih ngemilin bekal dari rumah Malo tadi hehehe. Malamnya juga saya langsung bablas tidur ga pake susah-susah tidur, mungkin karena seharian puas pergi dan ketemuan sama Malo dan yang lain. Terima Kasih Malo, Susy, Fetty, Stevany dan Wina untuk Saturdate-nya. Terima Kasih Malo untuk jamuan dan bingkisan arisannya, semoga Karma Baiknya selalu kembali lagi ke Malo dan keluargaa..amiinnn!

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Daily Journal : Taking a New Step

SAM_5418

Bulan lalu adik saya mengungkapkan keinginannya untuk belajar bahasa Inggris lagi. Saya sempat menyarankannya untuk pergi ke sebuah tempat les Inggris yang pernah saya datangi, karena memang waktu itu saya tertarik untuk daftar. Saya tertarik dengan jadwal fleksibel yang di sediakan oleh tempat les tersebut. Tempat les tersebut memang di tujukan bagi para karyawan dan orang dewasa yang jadwalnya kurang menentu ketika berada di dunia kerja. Bagi para pekerja tetap maupun yang freelance seperti saya, jadwal les yang fleksibel tentu jadi keuntungan tersendiri. Jam pekerja kantor memang bisa berubah sewaktu-waktu karena lembur. Bagi pekerja freelance, jadwal memang terasa lebih fleksibel, namun tetap saja ada kendala lain seperti klien yang mendadak memindahkan hari untuk meeting dan job yang datang secara mendadak. 

Awalnya adik saya yang semangat banget untuk ikut les karena adik saya menyenangi bahasa Inggris dan bahasa ini sangat dibutuhkan di area pekerjaannya sekarang. Saya sebenarnya waktu itu ga terlalu tertarik untuk ikut les lagi, malah saya lagi mikirin banget mau les private make up. Setelah saya pikir-pikir lagi, bahasa Inggris bisa jadi modal dalam segala bidang termasuk juga memudahkan saya jika mau melanjutkan sekolah S2 di luar negri. Saya juga sudah lama tidak berada dalam situasi bekerja atau belajar secara kelompok, karena selama ini pekerjaan yang saya ambil lebih membuat saya bekerja sendirian. Kondisi usaha ilustrasi saya dengan teman juga lebih banyak mengutamakan komunikasi via email atau wa karena kebetulan teman saya lagi sibuk dengan pekerjaan kantornya.

Pertama kali saya memutuskan untuk bekerja sendiri memang saya sempat merasakan kesepian. Hal ini saya rasakan karena perpindahan pekerjaan dari yang kerja kantoran ke fase freelance. Saya akui kerja bersama orang lain apalagi dalam jumlah yang cukup banyak, sangat rentan dengan konflik mau dari segi pekerjaan atau segi kepribadian. Karena saya juga punya pengalaman tidak terlalu menyenangkan ketika berada di suatu kelompok pertemanan, saya kadang suka skeptis dengan lingkungan baru. Saya jadi was-was dan perlu waktu yang lebih lama untuk beradaptasi. Saya merasa memang lebih bijak untuk pelan-pelan mengenali seseorang atau ketika berada di sebuah komunitas daripada langsung membuka diri secara terang-terangan.

Setelah melakukan banyak pertimbangan, saya memutuskan untuk ikut mendaftarkan diri ke tempat les tersebut. Menurut saya ga ada salahnya menambah ilmu bahasa Inggris yang sudah lama saya lupakan. Apalagi bahasa itu dibutuhkan untuk berbagai bidang pekerjaan. Saya juga merasa perlu lingkungan yang mendukung untuk belajar, karena jujur belajar di rumah kurang kondusif bagi saya.

“Kenapa ga belajar sendiri aja?”

“Kan bisa beli buku materi Inggris untuk belajar sendiri?”

“Sayang dong uangnya emang dulu ga belajar bahasa Inggris?”

Salah satu ungkapan di atas sempat terucap oleh ayah saya yang sempat skeptis dengar saya mau les bahasa Inggris lagi. Saya tetap kekeh waktu itu ingin mengambil les bahasa. Bisa sih sebenarnya kita belajar bahasa sendiri, namun belum tentu kita bisa tahu salah kita yang mana sepenuhnya. Saya juga ga menghakimi orang yang merasa lebih suka belajar sendiri dibandingkan harus les. Semua orang punya kebutuhan yang berbeda menurut saya. Bila itu baik bagi orang lain belum tentu hal itu baik bagi saya. Jika kamu bisa lancar berbahasa Inggris dengan belajar sendiri, Good for you, not for me!

Hal yang saya paling suka dari tempat les ini ialah saya di tanya goal saya ke depan yang terkait dengan alasan saya untuk belajar bahasa Inggris. Pertanyaan ini juga bertujuan agar pembimbing les mengarahkan dan membimbing sesuai goal masing-masing bukannya untuk ber-kompetisi supaya lebih pintar menggunakan bahasa Inggris. Saya juga diberikan homework secara online seusai level saya sehingga pembimbing bisa mengetahui progress saya selama belajar.

Semakin dewasa semakin jelas bagi saya bahwa apa yang saya lakukan itu bukan untuk ber-kompetisi lagi karena goal hidup setiap orang berbeda-beda. Kompetisi menurut saya bertujuan untuk mengasah kemampuan kita lebih baik dari sebelum-sebelumnya, bukan hanya untuk lebih baik dari orang lain saja. Bahkan dulu saya sempat ga nyaman dengan sistem pendidikan sekolah di Indonesia yang terlalu kaku dengan sistem pembelajaran satu arah. Saya sendiri ga heran kenapa bimbingan belajar lebih laris karena memang fokusnya jelas membantu anak yang belum bisa menjadi bisa. Sistem belajar pun lebih di modifikasi sesuai kebutuhan anak. Sejauh pengalaman saya, guru bimbel lebih kreatif membawakan sebuah materi pelajaran. Saya ga bilang sistem pendidikan Indonesia sepenuhnya jelek lhoo, hanya saja memang kita perlu banyak berpikir lagi tentang sistem pendidikan yang baik bagi anak-anak, mengingat kemampuan setiap anak berbeda.

Pertama kali saya masuk ke tempat les, tentu ada perasaan takut yang timbul. Saya bahkan sampai berpikir apakah saya bisa nyaman dan cocok dengan lingkungannya. Ternyata ketakutan saya tidak sepenuhnya terbukti malah saya jadi rajin ikut kelas dan datang ke tempat les. Saya menemukan teman-teman baru yang bisa saya ajak diskusi tentang bahasa Inggris, karir, dan hidup. Saya bahkan pernah cerita tentang kebingungan saya akan karir yang akan saya pilih dengan Student Consultant yang saya kenal. Saya juga jadi bisa melihat dari sudut pandang lain karena orang yang saya temui bermacam-macam.

Setelah beberapa kali ikut kelas, minggu lalu saya memberitahukan kabar saya kepada psikolog kenalan saya. Saya bilang bahwa saya mengambil langkah les Bahasa Inggris untuk membiasakan diri saya berada di lingkungan baru, padahal dulu saya ogah beradaptasi dengan lingkungan baru. Saya lebih banyak memilih pekerjaan yang bisa saya lakukan sendiri. Psikolog kenalan saya langsung senang mendengar kabar saya. Beliau senang karena saya berani mengambil langkah berbeda setelah selama ini saya mengungkung diri saya sendiri. Saya juga bilang bahwa saya mulai membiasakan diri berada di lingkungan baru serta bersyukur bahwa lingkungan tempat les saya aura-nya lebih positif dan kondusif.

Bagi beberapa orang mungkin perkara mengambil les Bahasa Inggris merupakan perkara yang sepele, namun tidak bagi saya yang sempat mengalami social anxiety. Hal ini pekerjaan yang extra bagi saya. Saya harus mendorong diri saya keluar dari pemikiran buruk saya sendiri. Saya bahkan pernah mengalami masa dimana saya ga mau ketemu dengan orang-orang atau menutup diri saya sangat rapat. Saya bersyukur masa itu boleh lewat perlahan-lahan, meski jujur saya masih was-was kalau berkenalan dengan orang baru. Saya harap penderita anxiety bisa tetap mengambil langkah kecil untuk keluar dari pemikiran mereka.

Baru beberapa minggu berlalu sejak saya belajar bahasa Inggris, badan saya langsung kena flu. Saya memang terlalu tancap gas di awal yaitu langsung mengambil banyak jadwal kelas sampai malam. Badan saya masih belum terbiasa untuk pulang pergi dengan rute Bekasi-Jakarta karena sudah lama tidak ada kegiatan sangat rutin yang saya lakukan setiap hari. Banyak hal lucu juga terjadi selama saya berada di tempat les, mulai dari pelajar lain yang frontal menanyakan saya sudah punya pacar apa belum sampai kejadian saya di kira anak SMA ahahahhaa. Intinya saya lagi senang-senangnya belajar bahasa Inggris lagi. Semoga blog post kali ini menginspirasi pembaca untuk tetap belajar hal baru atau lama yang sudah lama ingin dipelajari. Adakah yang sudah mengambil langkah untuk belajar tentang sesuatu hal? Kamu bisa sharing tentang cerita-mu di kolom komentar. See you on my next post readers!

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Unexpected Day!

SAM_4820

Bulan Januari lalu merupakan bulan yang cukup sibuk bagi keluarga saya, bukan sibuk masalah kerjaan atau apa tetapi karena banyaknya acara kumpul-kumpul keluarga. Bulan tersebut juga merupakan bulan dimana kakak tertua saya sibuk-sibuknya menyelasaikan thesis S2-nya di Kedokteran Gigi. Kesibukan kakak tertua saya ternyata berdampak juga kepada saya dan adik saya. Kami turut serta menyumbang tenaga untuk menghibur ponakan saya yang semakin tambah rewel karena sering ditinggal mamanya ke kampus.

Suatu hari di minggu pertengahan Januari, kakak saya tiba-tiba menelpon adik saya yang saat itu sedang berada di rumah. Saya sempat dengar beberapa kalimat percakapan adik saya di telepon karena kebetulan juga saya sedang di rumah. Setelah telepon ditutup, adik saya buru-buru menyuruh saya siap-siap untuk pergi. Saya agak bingung sih waktu itu. Ternyata kakak tertua saya minta dibawakan printer dari rumahnya ke kampus hari itu, karena tempat print di kampus penuh dengan orderan mahasiswa S1 dan S2. Kami buru-buru berangkat sambil membawa printer kakak saya itu ke daerah Salemba dengan menggunakan mobil.

Setelah kami sampai di kampus UI Salemba, kakak saya langsung mengambil printernya dibantu oleh kami berdua. Saya dan adik memutuskan makan siang di kantin kampus karena kami sampai tepat di jam makan siang. Karena kami juga akan menunggu kakak saya sampai urusan print-an thesisnya selesai, kami memutuskan untuk mencari cafe kecil daerah Menteng atau Cikini. Kebetulan kami ga tau-tau banget area sekitar Cikini selain tempat makan di Metropole 21. Saya sempat cari-cari tempat nongkrong area Cikini via instagram dan akhirnya postingan salah satu fashion blogger yang saya ikuti, Olivia Lazuardy, membawa saya dan adik saya ke Shophaus. Ternyata Lokasi Shophaus tidak jauh dari kampus Salemba dan mudah di lacak dengan waze.

SAM_4821

SHOPHAUS, Menteng.

Setibanya kami di Shophaus, petugas parkir lansung menawarkan valet kepada kami. Awalnya kami tolak karena takut harganya mahal namun ternyata layanan ini memang termasuk layanan dari Shophaus sendiri karena tempat parkir Shophaus sedikit, plus biaya parkir tetap normal kok kata si bapak petugasnya. Kami akhirnya mengunakan tawaran valet si petugas tadi supaya ga repot cari parkir ke area sekitar Shophaus.

Pertama kali yang saya amati dari tempat ini ialah bagian fasad (tampak depan) bangunannya yang dominan dengan jalusi kayu berwarna putih. Tampak depan bangunan ini sepertinya berfungsi sebagai fasad kedua untuk menjaga privasi dalam bentuk pandangan dari luar ke dalam bangunan tanpa menghalangi jalur sirkulasi udara. Hal lain yang saya amati dari tempat ini ialah perpaduan antara warna dominannya yaitu putih dan sentuhan material kayu yang digunakan dalam ruangan. Tidak kalah cantik lagi yaitu tangga spiral-nya yang menjadi salah satu spot bagus untuk foto-foto cantik.

SAM_4794 a

SAM_4799

SAM_4791

SAM_4802Shophaus sebenarnya terdiri dari beberapa toko di dalamnya seperti toko ice cream/gelato, dessert, barber shop, dan klinik kecantikan kecil. Khusus untuk lantai dua Shophaus dipakai untuk tempat sebuah restauran. Sepintas Shophaus mengingatkan saya dengan sebuah ruko, dimana biasanya di dalam sebuah ruko terdiri dari beberapa toko. Namun ruko memang terkesan lebih kaku dengan design yang hampir sama serta toko yang berjejer ke lantai atas, berbeda dengan Shophaus yang menawarkan sebuah design gabungan beberapa toko namun disesuaikan dengan lifestyle masyrakat kota sekarang yang tentunya tetap mencari suasana nyaman kekinian ditengah padatnya kota Jakarta.

SAM_4805

SAM_4787

SAM_4786aKebetulan setelah jam makan siang, pengunjung Shophaus tidak terlalu ramai, dalam artian kami masih dapat spot tempat duduk. Saya dan adik saya memesan satu cup kecil gelato dari Gelato Secrets. Satu cup kecil/cone terdiri dari dua varian rasa gelato yang bisa dipilih sendiri, tentunya bisa di coba terlebih dahulu dengan satu sendok kecil. Saya memilih satu cone kecil dengan dua rasa gelato yaitu chocolate dan charcoal seharga Rp 30.000,00. Satu porsi cukup membuat perut saya kenyang karena cone yang diberikan termasuk padat porsinya.

Pengunjung akan semakin padat ketika menjelang sore apalagi jam-jam menuju pulang kantor, hampir dipastikan akan susah untuk mendapatkan tempat duduk di sini. Tempat ini cocok untuk nongkrong lama karena tempatnya sangat comfy. Saya nongkrong makan gelato sekalian menulis draft blog post baru untuk blog yang sebenarnya sudah ada di buku jurnal saya. Kebetulan menjelang sore, cuaca cerah berganti dengan derasnya hujan di daerah Menteng. Area dalam ruangan langsung terasa ribut bukan hanya karena pengunjung namun karena bunyi air hujan yang jatuh dengan deras di atas sky light atap yang terbuat dari polycarbonate. Meskipun hal tersebut menyumbangkan suara ribut di dalam ruangan, pengunjung tetap bertahan dan melakukan aktivitas nongkrong mereka seperti biasa.

SAM_4823

METROPOLE 21, Cikini.

Menjelang jam makan malam, kami mendapat kabar bahwa kakak kami belum selesai urusan presentasi dan thesisnya. Kami memutuskan untuk mencari makanan berat sebagai makan malam di daerah Metropole 21. Setelah di renovasi menjadi lebih bagus memang Metropole 21 ini lebih banyak pengunjungnya karena sekarang tempatnya lebih bersih dan nyaman dibandingkan ketika jaman dulu hehehhe.

Kebetulan kami sampai di saat jam makan malam dan juga jam orang-orang kantoran pulang, jadi Metropole saat itu ramai sekali. Kami sempat tidak mendapatkan tempat duduk, baik di area dalam ataupun area luar, sampai mungkin sekitar 30 menit akhirnya kami dapat meja di bagian indoor. Kami sama-sama memesan satu porsi sate ayam dan lontong dengan harga Rp 25.000,00. Standard harga makanan di Metropole lumayan sih untuk pekerja kantoran yaitu kurang lebih start dari harga Rp 25.000,00 untuk makanannya.

Setelah kami selesai makan, kami memutuskan untuk nonton di Cinema 21 Metropole karena kabar dari kakak kami yang katanya baru akan selesai malam sekali hari itu. Ketika kami sedang pilih film bioskop, saya udah pesan duluan sama adik saya malam itu, “Jangan pilih film galau!”. Saya ga terlalu mood nonton film galau di bioskop hari itu. Pilihan kami akhirnya jatuh pada film Arrival yang merupakan film sci-fiction. Filmnya bagus menurut saya karena mengajarkan banyak hal, khususnya pentingnya arti komunikasi apalagi ketika menghadapi lawan bicara yang berbeda dimensi dengan kita, kalau dalam film sih lawan bicaranya Alien dari luar angkasa.

Sebelum jadwal film kami tayang, saya ga sengaja bertemu salah satu senior saya yang pernah satu kosan dengan saya disaat kuliah dulu. Ternyata kakak senior saya itu nonton film bersama suaminya sehabis pulang kerja, kebetulan kantor mereka dekat dengan Metropole 21. Saya sempat ga mengenali senior saya itu karena sekarang ia tambah gemuk dan sedang dalam keadaan hamil. Kakak senior saya itu nampak bahagia meski penampilannya berbeda dari terakhir kali saya bertemu dengannya ditambah dia sekarang sedang mengandung si buah hati, wow time flies so fast. Kami sempat mengobrol sebentar sampai akhirnya saya balik lagi ke tempat adik saya menunggu.

Selesai nonton film, saya dan adik saya menyusul kakak saya ke kampusnya. Ternyata abang ipar saya sudah ikut menunggu di kampus sekalian menemani kakak saya print tugas-tugasnya. Kakak saya selesai print sekitar tengah malam dan akhirnyaa saudara-saudara, kami pun pulang kerumah dengan saya yang bertugas sebagai supir. Sesampainya di rumah, saya dan adik saya tepar di kasur cuma kami senang sih meski capek nunggu berbuah jalan-jalan juga seharian ahahahha. Ternyata kadang sesuatu hal yang dadakan justru mengantarkan kita ke tempat-tempat yang tidak terduga. Padahal kalo direncanain biasanya malah sering banyak batalnya ahahahah. It’s really an unexpected day! but sure we really enjoy it. See you on my next post readers!

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

FOR MORE INFORMATION

Shophaus Menteng

Jl. Teuku Cik Ditiro No. 36

Everyday: 10am-10pm

t: +62 21 22393252

e: info@shophaus.id

w: www.shophaus.space

Metropole 21 Cikini

Kompleks Megaria

Jalan Pegangsaan No. 21

Jakarta Pusat

Terima Kasih atas Doanya!

SAM_4499
foto diambil ketika penerbangan pergi ke Bali

Saya termasuk orang yang paling suka menggunakan transportasi pesawat terbang untuk urusan traveling ke luar kota, meski hal itu jarang saya lakukan beberapa tahun belakangan ini. Saya juga penikmat rancangan bangunan bandar udara. Banyak spot menarik di Bandara untuk foto-foto atau sekedar jalan-jalan. Saya juga sering memperhatikan para pengunjung yang sedang mengucapkan kata perpisahan atau yang sedang memberi pelukan selamat datang untuk keluarga dan orang terdekat mereka. Bandara memang jadi tempat berpisah sekaligus tempat bertemu kembali bagi banyak orang.

Pesawat memang telah jadi kendaraan yang masih paling aman untuk traveling jarak jauh. Kendaraan ini masih tercatat mempunyai angka minim kecelakaan dibandingkan angka kecelakaan di jalur darat. Namun sekalinya mengalami kecelakaan, burung besi ini bisa merenggut banyak nyawa sekali jatuh.

Saya memang baru saja pulang dari liburan akhir tahun di Bali dengan menggunakan jalur pesawat terbang. Saya mengalami kejadian cukup menegangkan pada penerbangan saya dengan rute Denpasar-Jakarta. Saya memang mengambil jadwal penerbangan siang saat itu. Tidak ada hal yang membuat saya kwatir, bahkan cuaca siang itu sangat cerah. Saya pikir penerbangan kali ini akan sama dengan penerbangan berangkat.

Pesawat kami take off dengan mulusnya tanpa mengalami kendala apapun. Beberapa menit penerbangan awal di udara terasa sangat mulus. Sampai beberapa menit kemudian, pesawat kami tiba-tiba turun mendadak yang membuat smua penumpang refleks berteriak. Saya pun ikut berteriak karena kaget tiba-tiba pesawat melakukan gerakan turun mendadak. Saya langsung memegang tangan adik saya yang berada di sebelah saya, adik saya pun membalas menggenggam tangan saya yang sudah keringat dingin. Lampu tanda seat belt menyala. Pilot langsung memberitahukan bahwa pesawat kami sedang mengalami cuaca yang buruk dan menyuruh penumpang agar tetap berada di kursinya.

Beberapa lama kemudian pesawat kami tetap mengalami naik turun dan kondisi miring kanan kiri sedikit seperti dalam keadaan tidak stabil. Saya makin pucat dan tidak berhenti berdoa karena panik. Saya begitu heran karena cuaca di luar sangat cerah, hanya saja saya bisa merasakan angin diluar begitu kencang. Saya masih tetap menggenggam tangan adik saya saat itu.

Pesawat stabil beberapa menit setelahnya namun pesawat kami mengalami turbulensi lagi dan tanda seat belt pun menyala lagi. Saya makin tak berhenti berdoa, bahkan saya bingung apa yang saya katakan karena saat itu mulut saya seperti berbisik begitu cepat. Adik saya mencoba menenangkan saya namun tetap saja pikiran saya melayang ke hal-hal buruk yang bisa saja terjadi.

Semua penumpang dalam keadaan diam di kursinya, tidak ada satupun yang berbicara. Satu-satunya yang masih terlihat ceria hanyalah anak kecil di sebrang bangku saya yang sedang dipangku oleh ibunya. Anak tersebut tampak kegirangan dan sesekali menaikkan turunkan badannya seolah-olah mau bermain ayunan. Saya masih tetap tegang sambil berdoa. Pikiran saya mulai memikirkan hal-hal lain seperti iman sebiji sesawi dan angin ribut di danau, kisah-kisah yang saya baca dalam Alkitab. Kisah tentang iman biji sesawi yang bisa memindahkan gunung serta Tuhan yang bisa meredakan angin ribut di danau dalam sekejap. Saya juga berdoa di dalam hati dengan tujuan untuk bernegosiasi dengan Tuhan, tolong jangan panggil saya sekarang. Saya juga membayangkan seandainya saya ga sampai dengan selamat. Saya juga mulai membayangkan wajah keluarga dan orang-orang terdekat saya jika hal itu kemungkinan terjadi.

Setelah cukup lama mengalami turbulensi, pilot memberitahukan bahwa kami akan segera bersiap untuk landing. Saya langsung menghembuskan nafas lega. Ketegangan saya mulai berkurang, adik saya pun mulai senang karena saya mulai tenang. Saya mulai berhenti berdoa dan menantikan pemandangan awan di luar jendela pesawat berganti menjadi sebuah daratan. Karena tidak sabar ingin cepat mendarat, saya sampai nanya ke Bapak di sebelah saya yang duduk tepat di sebelah jendela pesawat.

 

“Pak, daratannya sudah kelihatan belum?”

“Belum, mungkin sebentar lagi. Oh ya Mbak, terima kasih ya buat doanya. Saya tadi sudah takut setengah mati.”

Bapak tersebut mengucapkan terima kasih sembari menjabat tangan saya. Saya kaget sekaligus bingung ketika bapak tersebut menjabat tangan saya sembari mengucapkan terima kasih atas doa saya. Padahal saya berdoa dengan kalimat tidak jelas dan dengan suara yang kecil tapi bapak ini malah mengucapkan terima kasih. Padahal saya sudah panik bahkan sempat nangis sebentar ketika pesawat mendadak mengalami turbulensi.

“Saya juga sudah takut pak sebenarnya tadi. Bapak darimana asalnya?

“Saya dari Denpasar mau ke Jakarta, daerah Tanah Abang.”

Beberapa saat kemudian pesawat kami sudah landing dengan mulus di Bandara Halim Perdana Kusuma. Saya pamitan dengan bapak yang tadi duduk di sebelah saya, sambil membawa tas kecil saya keluar pesawat. Saya kebetulan bertemu dengan pilot pesawat tersebut ketika melalui pintu depan pesawat. Saya langsung mengucapkan terima kasih kepada pilot tersebut karena kami sampai dengan selamat, pilot itu pun membalas ucapan saya sambil tersenyum.

Ketika kaki saya menyentuh tanah, ada rasa syukur yang luar biasa di hati saya. Tangan saya masih dingin pasca panik ketika di pesawat tadi namun saya bersyukur saya dan adik saya bisa pulang dengan selamat. Sesampainya saya di rumah saya masih ga mood mau makan. Adik saya dengan santainya bisa cepat move on dan selalu bilang ke saya “yang penting kita udah sampai rumah selamat.” Saya sampai sempat kesal kenapa saya ga sesantai adik saya dalam menghadapi kejadian tersebut.

Saya sempat cerita ke mama saya kejadian yang saya alami siang itu saat penerbangan pulang. Mama saya ngerti saya itu sangat sensitif orangnya. Mama saya juga pernah mengalami hal lebih menegangkan waktu dia naik pesawat di cuaca yang hujan sepanjang hari. Kejadiannya justru lebih serem lagi yaitu ga bisa turun di Bandara Soekarno Hatta karena landasannya banjir, sehingga pesawat yang ditumpangi sampai harus pergi ke dua bandara lainnya agar punya tempat untuk mendarat sementara. Saya cuma bisa diem aja denger ceritanya Mama saya karena ga bisa bayangin kalo ngalamin hal kayak gitu. Mama saya tetap mengingatkan saya tentang satu hal, yaitu kita bisa dipanggil kapan saja.

“Gak pa pa turbulensi itu biasa tapi ingat kalau kita dipanggil kapan pun itu kita harus udah siap dan berserah sama Tuhan”

Saya mengiyakan meski jujur pikiran akan menuju kematian masih membuat saya takut. Bukan kematiannya yang menyeramkan tapi take off-nya yang menyakitkan. Saya juga sempat teringat salah satu rekan kerja saya yang sekarang sudah menjadi pramugari sebuah Maskapai Penerbangan. Saya cerita tentang kejadian yang saya alami ke teman saya itu via whatsaap, saya juga menanyakan kabar dirinya apakah dalam keadaan baik. Nasehat teman saya itu cuma satu yang penting berdoa.

“Gak pa pa mah itu biasa Mon, yang penting kita sudah doa”

Malamnya tentu saya ga bisa tidur. Saya masih teringat kejadian di pesawat waktu itu. Saya bersyukur masih sampai dengan selamat di rumah. Bagaimanapun juga cuaca kadang tidak bisa ditebak perubahannya. Apapun yang terjadi di udara tidak pernah kita bisa sepenuhnya diprediksi. Kapan kita dipanggil pun kita tidak bisa mengetahuinya, itu adalah salah satu waktu yang hanya diketahui oleh Tuhan.

Saya termenung malam itu sebelum akhirnya saya bisa tertidur juga. Ucapan bapak di sebelah saya masih saya ingat jelas, “Terima kasih ya Mbak buat doanya”. Padahal doa saya sudah tidak jelas dan sudah tidak karu-karuan. Padahal sebenarnya saya pun berdoa dalam ketakutan karena saya selalu berpikir bahwa Tuhan sangat susah ditebak pikiran-Nya. Kadang saya sendiri juga bertanya untuk apa bapak itu berterima kasih hanya untuk sebuah doa. Saya tidak tahu bahwa doa dalam ketakutan saya justru Tuhan pakai untuk menguatkan seseorang yang bahkan tidak saya kenal. Saya rasa memang kita tidak akan pernah tahu hal apa yang Tuhan pakai di hidup kita untuk memberkati orang lain. Thanks God, we have arrived home safely!

21/12/2016

Safe and Sound

After Office Hours

rg

Geng kuliah saya sudah merencanakan untuk bertemu bulan Desember 2016 lalu, sebenarnya yang bikin wacana cuma salah satu teman kami aja sih yaitu si Ray yang sejak di dunia kerja ntah mengapa semangat banget bikin wacana ngumpul. Padahal pas kuliah nih orang termasuk paling males ngumpul dan selalu kasih ketidakpastian mau datang apa ngak, apalagi pas saya yang bikin wacananya *lukalamamona. Kesambet apa ini anak sehingga aktif banget bikin wacana kumpul kami sejak lulus dari kuliah.

Acara kumpul bulan Desember itu agak susah sih memang karena di akhir tahun biasanya masing-masing dari kami punya acara keluarga, liburan ke luar kota dan juga ada yang mudik. Kebetulan saya juga baru saja liburan dari bali bersama adek saya selama empat hari di pertengahan bulan Desember. Jadwal kumpul jadi lebih ngaret ke tanggal 20-an dimana sebagian dari kami sudah banyak acara. Memang dari dulu geng kuliah saya susah kalau ngumpul lengkap karena domisilinya sudah mencar-mencar sejabodetabek. Sekalinya pernah ngumpul lengkap, saya ga bisa datang karena sakit, hikss..nasib oh nasib.

Pertengahan Desember lalu tentunya setelah saya pulang dari liburan, kami memutuskan untuk ngumpul dengan wacana nonton STAR WARS ; ROGUE ONE. Kita semua oke dengan wacana tersebut namun ternyata ketika hari H tiba, yang datang cuma saya, Kreshna dan Ray. Anggota geng yang lain Ana, Melanie, dan Gege sudah punya acara lain. Martina sudah mudik ke Surabaya. Tresia tentu ga bisa datang karena harus ngurus anak serta tidak fleksibel untuk pergi di malam hari. Kesannya gimana gitu ya saya cewe sendiri nonton bareng nih dua makhluk tapi percayalah saya sudah terbiasa dengan mereka, secara temen geng kuliah selama 4 tahun, mana ada jaim-jaimnya lagi.

Kami memutuskan untuk ambil jadwal nonton malam sekitar jam 7 di Grand Indonesia, karena mall ini terletak di tengah-tengah. Kreshna kebetulan masih masuk kerja jadi baru free sehabis jam 6 sore sedangkan saya dan Ray itungannya masih freelance jadi waktunya lebih fleksibel. Tadinya Kreshna bilang akan datang telat karena mau lembur eh ternyata dia datang jam 6 sore pas di GI, kebetulan kantornya berada di daerah sudirman. Saya sempat nanya pas dia sampai, “ga jadi lembur Kres?” trus dia cuma jawab “Gak, gw selesain secepat-cepatnya. Paling besok revisi lagi, yang penting gw mau nonton.” Ternyata karena terlalu semangat dia kerja express demi bisa nonton Star Wars.

Kami sempat menunggu Ray sebentar kemudian langsung beli tiket bioskop. Tidak berapa lama setelah itu kami masuk ke ruangan bioskop untuk nonton. Suasana bioskop saat itu ga ramai-ramai banget sih karena mungkin kami nonton di hari weekdays dan setelah jam pulang kerja jadi pengunjungnya lebih sedikit di bandingkan akhir minggu. Ternyata iklannya banyak banget sebelum nonton film, ampe pop corn-nya udah habis setengah coba.

Saya udah siap jadi sapi ompong karena sebenarnya saya tuh NGAK NGIKUTIN STAR WARS ahahahhaha. Saya mau protes pas mau beli tiket pasti juga ga ada gunanya, saya yakin bakal balik di protes keras sama kedua oknum ini ahahaha. Trus keselnya pas saya bilang mungkin bakal nanya-nanya selama film karena ga ngerti, Kreshna dengan juteknya bilang ga mau karena dia mau menikmati filmnyaa..*kezellss.

Beruntungnya film STAR WARS berseri dan isi ceritanya lepas namun masih berhubungan. Saya cukup menikmati malah, sempat kebawa alur filmnya juga selama nonton. Filmnya seru juga sih, ada action dan fiksinya, kebetulan saya suka genre-nya. Bahkan sempat ada bagian yang bikin saya terharu gituu..ya bolehlah ya filmnyaa.

Selesai nonton, saya dan Ray memutuskan untuk makan malam sedangkan Kreshna buru-buru pulang karena besok harus ngantor lagi. Saya makan sambil ngobrol. Untungnya Ray tipe yang nyantai (bahkan datar) orangnya jadi saya bisa bebas nanya-nanya ala orang yang baru pertama kali nonton STAR WARS.

“Force itu apa sih Ray maksudnya?”

“Jedi itu apa?”

“Cewe yang pakai baju putih di akhir adegan itu siapa Ray?”

“Trus yang item-item tadi tuh siapa sih? Kok dia sakti banget?”

Ray sempat diam sebentar trus balik nanya ke saya setelah dia dihujani banyak pertanyaan dari saya tentang STAR WARS.

“Emang lu belum pernah nonton STAR WARS sama sekali?”

“Belum.”

Terus saya di ketawain dong. Untungnya karena Ray orangnya nyantai (bahkan datar) jadi ketawanya bntar aja, durasinya ga lama meski ga tau dalam hatinya mungkin ngetawain saya berkali-kali. Sambil makan mie, Ray mulai bercerita.

“Jadi tuh Mon, ceritanya tuh gini…”

Saya menyimak setiap penjelasan yang diberikan sampai akhirnya saya mulai lebih ngeh dengan cerita film yang baru kami tonton tadi. Bahkan saya mau pinjam koleksi film STAR WARS-nya Ray, bakal di bawain kalo geng kuliah kami ngumpul lagi…yippieee.

Obrolan selanjutnya ya ga jauh-jauh dari apa yang sedang kami kerjakan masing-masing, rencana karir di masa depan, sampai nyerempet curhat ke hal-hal lainnya. Tak lama kemudian mall sudah akan tutup, sehingga kami bergegas pulang. Ray balik ke lobby untuk ngambil Gojek sedangkan saya ke tempat parkiran karena saya bawa kendaraan. Saya memang lebih sering bawa kendaraan kalau lokasi yang saya tuju jauh dan pulangnya malam. Saya lebih merasa aman sih sebagai perempuan untuk bawa kendaraan sendiri. Alasan lain juga supaya saya cepat sampai rumah daripada harus berganti rute kendaraan umum.

Meski ga ngumpul lengkap bahkan cuma dikit hehehe, saya cukup senang sih bisa ketemu teman lama saya. Quality time bersama sahabat terdekat itu salah satu mood booster untuk saya apalagi ketika saya belum kerja kantoran lagi. Semakin bertambah usia saya semakin sadar bahwa kenalan saya bertambah banyak namun sahabat terdekat saya makin mulai terlihat yang itu-itu lagi hehehe. Semoga pertemuan berikutnya geng kuliah saya bisa lengkap ngumpul..amin!

 

Our Last Goodbye, Chester 2016/12/29

IMG_20161230_115324Kemarin jadi hari yang berat bagi saya dan keluarga. Saya baru saja kehilangan anjing peliharaan keluarga yang sudah 16 tahun menemani keluarga saya. Seharusnya saya tidak shock dengan kejadian tersebut karena sejak bulan lalu saya memeriksakan kedua anjing saya, dokter sudah bilang bahwa anjing yang sudah berumur 16 tahun biasanya sudah mendekati waktunya untuk pergi. Ketika dokter menyampaikan hal tersebut saya masih tenang karena saya pikir masih ada waktu untuk bersama anjing saya, meski umurnya sudah tua.

Anjing saya yang umur 16 tahun ini sempat diperiksa, kondisinya masih bagus untuk anjing seusianya, hanya saja suka moody untuk urusan makan, kadang banyak kadang ga mau makan, kadang hanya makan sedikit saja meski sudah saya bujuk. Memang pergerakan anjing saya sudah lambat, sudah tidak bisa lari-lari lagi, bahkan kaki belakangnya sudah susah untuk jalan. Saya ga ada firasat apa-apa saat itu, saya pikir ya wajar namanya juga anjing yang sudah berumur.

Menjelang bulan berikutnya kondisinya mulai rapuh, suka ga mau makan dan maunya minum susu. Sudah susah gerak sana sini bahkan suka jatuh ketika sedang jalan. Saya masih belum ada firasat apa-apa, bahkan ketika saya tinggal dia ke Bali untuk liburan, saya ga ada pikiran apa-apa. Kebetulan orang tua saya tidak ikut liburan, jadi saya tenang karena mama saya bisa merawat dan memperhatikan anjing saya ini. Kata mama saya justru ketika saya dan adik ke Bali, Chester (nama anjing saya yang sudah tua) lebih aktif jalan kesana kemari di halaman rumah meski jalannya sudah pelan-pelan.

Ketika saya pulang, saya sempat kaget ketika adik saya bilang kalau Chester udah ga bisa jalan ke rumput untuk buang air kecil. Chester hanya bisa duduk tiduran ketika buang kecil sehingga badannya jadi kena pipisnya sendiri. Saya mulai kuatir. Saya dan adik saya memutuskan untuk membawanya ke dokter hewan rekomendasi teman dekat saya, Friska. Untungnya saya sudah menghubungi via telepon tentang kondisi anjing saya, dan dokter bersedia menunggu saya datang sebelum dia pergi ke tempat lain.

Sesampainya di klinik dokter hewan, dokter sempat cek detak jantungnya Chester dan kemudian mengajak kami berdua bicara secara pribadi. Setelah tahu umur Chester sudah 16 tahun, dokter pun bilang bahwa Chester sudah mendekati waktunya. Apalagi melihat keadaan Chester tadi, mungkin ga sampai dua minggu kata Dokternya.

Dokter sempat nanya rencana kami selanjutnya apa. Adik saya juga sempat menanyakan tentang suntik mati karena Papa saya pikir lebih baik untuk melakukan suntik mati agar Chester tidak kesakitan, namun saya keberatan karena saya masih belum rela. Saya pikir kalau sudah waktunya pasti Chester bisa meninggal dengan tenang tanpa perlu di suntik mati. Dokter pun tidak mau melakukan tindakan suntik mati karena baginya hanya Tuhan yang boleh mencabut nyawa, namun memang tidak semua dokter punya prinsip seperti itu.

Saya mengerti sih urusan suntik mati atau tidak, itu ada hubungannya dengan prinsip dari masing-masing dokter, prosedur tersebut juga tidak sepenuhnya salah, namun pemilik perlu pertimbangan matang untuk memutuskan hal tersebut supaya tidak ada timbul perasaan menyesal nantinya. Perkataan selanjutnya dari Dokter tersebut lebih menghujam batin saya.

“Ada yang belum ikhlas ya? Biasanya kalo sudah lama seperti ini kondisinya namun belum pergi, masih ada anggota keluarga yang belum ikhlas.

Coba pada ngomong untuk ikhlasin Chester sambil di elus tiap hari, biar Chesternya juga ga beban untuk pergi.

Apa yang baik untuk pemilik belum tentu baik bagi hewan peliharaan begitu juga sebaliknya. Ga mudah mengikhlaskan peliharaan yang sudah lama bersama dengan kita.

Pemiliknya harus ikhlas dulu baru peliharaannya bisa tenang pergi. Jangan lupa juga doa untuk ikhlasin Chester pergi. Tuhan sebenarnya tahu yang terbaik namun Ia juga tahu isi hati kita yang terdalam”

Hati saya langsung terasa berat, saya mikir apa jangan-jangan saya yang belum ikhlasin ya. Setiap kali Papa saya usulin untuk suntik mati, saya selalu protes paling keras, saya ga mau pokoknya ga mau. Saya masih ingin lihat Chester dan ingin Chester meninggalnya normal, tapi sampai kapan waktunya? Saya juga ga tahu sampai kapan. Kami pulang dengan kebimbangan setelah itu. Adik saya langsung nuduh saya yang belum ikhlas, terus saya cuma jawab, “kayaknya iya deh nin, gw yang masih berat hati”.

Setelah kami berdua memberitahukan nasehat dari dokter hewan kepada orang tua saya, saya sekeluarga ganti-gantian mengucapkan terima kasih dan sudah ikhlasin Chester pergi, sambil elus-elus Chester. Hal ini kami lakukan berulang kali agar kami pun bisa lega melepasnya. Setidaknya kami punya momen untuk mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal.

Kondisinya memang makin lama makin lemah, bahkan ga mau makan lagi meski makanannya sudah di blender halus. Chester lebih banyak tidur dan berbaring karena sudah tidak kuat lagi untuk jalan. Meski sudah dipakaikan pampers, pup dan pipisnya masih bleber kemana-mana sehingga kamu harus siap sedia membereskan.

Saya yang paling ga bisa nahan nangis pas momen berdua dengan anjing saya itu. Rasanya kayak hati saya berat banget, tapi di satu sisi saya tahu bahwa lebih baik merelakan daripada kondisinya seperti ini terus-terusan. Enam belas tahun sudah termasuk waktu yang cukup lama untuk hidup seekor anjing. Duhh..pokoknya tiap kali saya ucapin udah ikhlas ke Chester pasti saya nangis.

Chester tidur di ruang dalam dekat dapur. Sengaja kami pisah dengan anjing yang satu lagi karena ketika digabungin, Chester jadi gelisah dan gonggong terus seperti ga nyaman. Setelah di pisah, Chester lebih tenang. Semalam sebelumnya, tidurnya pulas karena kami sudah selimutin dia dengan kain tebal supaya dia nyaman. Besoknya kondisi Chester mulai drop, dia mulai gelisah di dalam ruangan, justru lebih tenang di dekat taman belakang tempat biasa dia tidur siang. Saya sempat pindahin ke situ namun tetap saya awasi supaya tidak di ganggu anjing yang satu lagi. Siangnya saya masukkan lagi agar dia lebih tenang di dalam ruangan.

Kebetulan kemarin saya ada janji makan siang dengan teman-teman magang saya dulu di Bali yang sekarang lagi di Jakarta. Saya pergi cukup lama karena tempat janjiannya jauh, pulangnya pun jalan tol sempat macet. Adik saya sempat wa menanyakan posisi saya dimana. Saya sempat mikir Chester udah pergi ketika saya di perjalanan pulang, supaya saya ga beban-beban amat melepasnya. Ternyata pas saya sampai, Chester sudah dalam kondisi lemah dan nafasnya tidak stabil lagi. Saya cepat-cepat ganti baju dan menemani anjing saya itu bersama adik saya. Kami ga berhenti ngelus bulunya sambil mata saya mulai meneteskan air mata.

“Chester nungguin ya dari tadi? Udah gak pa-pa, Mona udah ikhlas kok. Chester udah bisa pergi sekarang biar ga sakit-sakit lagi”

Saya lihat tubuhnya mulai kejang-kejang kecil dan nafasnya sudah tidak menentu saat dia berbaring. Perasaan saya kacau banget kayak hati saya di hujam paku besar, rasanya makin lama makin sakit dan kosong. Saya sempat doa untuk berserah kepada Tuhan supaya saya ga berat untuk melepaskan. Beberapa detik kemudian Chester menghela nafas panjang sebelum akhirnya saya ga merasakan badannya bergerak lagi. Tangisan saya dan adik saya pecah. Saya juga kasih tahu Mama dan Papa yang berada di kamar kalau Chester sudah pergi.

Kami sempat menerima tamu. Kebetulan tetangga kami datang berkunjung untuk mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru. Saya sudah ga fokus nyambut tamu, karena pikiran saya pengen cepat menguburkan anjing saya. Kami sempat susah menemukan orang yang mau menggalikan tanah untuk mengubur Chester karena saat itu sudah jam 11 malam. Beruntungnya ada salah satu satpam yang mau membantu untuk menguburkan anjing kami.

Setelah di kuburkan, memang saya merasa agak sedikit lega namun tetap saja saya susah tidur dengan perasaan berat dan kosong. Saya tidur pada akhirnya karena saya kecapean nangis. Keesokan harinya saya masih merasa kosong. Saya merasa ada yang janggal dengan halaman rumah saya. Anjing saya yang satu lagi juga tampak lesu padahal biasanya lincah.

Saya masih menangis tiap kali saya lewat tempat-tempat dimana biasanya Chester tidur. Saya masih jalan ke teras halaman belakang yang merupakan tempat tidur siang favorite Chester, dan mendadak sedih ketika menemukan tempat itu kosong. Saya merasa janggal untuk membuat makanan anjing dengan jatah satu porsi padahal biasanya saya selalu buat untuk jatah dua porsi. Bahkan saya menunda beberapa artikel Blog yang harusnya segera saya tulis karena saya masih berduka. Saya sama sekali ga bisa fokus. Saya cuma curhat ke beberapa teman dekat saya karena sebenarnya dalam hati saya tahu bahwa saya lebih membutuhkan waktu menyendiri untuk berduka.

Adik saya sempat bilang kayaknya Chester nungguin saya pulang karena semua anggota keluarga sudah ada di rumah, tinggal saya aja yang belum pulang waktu itu. Saya bersyukur masih bisa nemenin di saat terakhir anjing saya itu menghembuskan nafas. Saya baru merasa 16 tahun waktu yang terasa sangat sebentar setelah kejadian kemarin. Kita selalu berpikir bahwa waktu akan berjalan lama, bahkan saya sering menunda beberapa hal karena berharap pasti akan ada waktu yang tepat, padahal waktu bisa berakhir kapan saja dan waktu 16 tahun terasa cepat ketika kita sampai di penghujung waktu tersebut.

Saya sempat refleksi ke diri saya sendiri hari ini. Masih adakah yang belum saya ikhlaskan yang akhirnya menghambat jalan saya atau mungkin menghambat jalan orang lain? Saya pikir saya sering ga sadar bahwa diri saya belum ikhlas. Saya belajar dari pengalaman saya melepaskan Chester, dimana saya baru sadar setelah diingatkan lagi oleh Dokter Hewan. Tuhan tahu yang terbaik namun Tuhan juga tahu pergumulan hati kita. Saya mulai melihat hidup saya lagi, manatau ada bagian yang belum saya ikhlaskan tanpa saya sadari. Semoga saya bisa mengikhlaskan semua hal yang belum beres di hati saya. Amin.

Goodbye Chester! Till we meet again in heaven dear. Thank you for 16 yeas, you will always in our heart..

Cerita di Perjalanan Pulang

Image source : unsplash.com. Photo by Israel Sundseth
Image source : unsplash.com. Photo by Israel Sundseth

Minggu lalu saya berkesempatan dapat hadir dalam sebuah acara dari komunitas blogger Indonesia yang berlokasi di JDC (Jakarta Design Center). Topik dan ilmu yang di dapat sangat bermamfaat bagi para blogger tentunya karena topik yang dibawakan seputar Beauty and Photography yang akan saya bahas di blog post berikutnya karena materinya cukup panjang hehehe. Kebetulan acara berlangsung dari sore sampai malam pada hari Jumat dimana kondisi jalan Jakarta tidak pernah bersahabat dan macet dimana-mana. Saya sempat udah ga mood dan ngantuk karena acara selesai agak malam. Untungnya saya bawa kendaraan pribadi mengingat bahwa acara ini selesainya pasti malam dan juga biasanya transportasi ke arah Bekasi sudah susah di malam hari.

Saya pulang barengan dengan salah satu teman blogger yang ternyata tinggal di daerah Bekasi juga. Saya bersyukur karena dapat teman pulang daripada harus nyetir sendiri ditengah kemacetan Jakarta. Karena kemacetan yang panjang malam itu saya jadi ngobrol panjang lebar dengan teman saya ini. Sampai di topik pekerjaan dan akhirnya temen saya pun curhat tentang keinginannya mendapat pekerjaan yang menantang di banding pekerjaan sekarang yang memang lebih stabil secara waktu dan gaji, mengingat teman saya ini baru lulus. Saya pikir hal tersebut sangat wajar, iya dong, karena saya sehabis lepas dari dunia kampus pun ingin menemukan banyak tantangan, perubahan dan tujuan yang berarti di dunia kerja sampai banyak impian muluk di hati saya (maklum namanya baru lepas dari kandang hehehe).

Saya juga sempat cerita pengalaman saya ketika sempat bekerja dulu terkait profesi yang saya tekuni. Saya bilang tidak ada salahnya mencari tantangan di dunia kerja agar setiap hari kita bangun dengan semangat namun ya balik lagi mendapat kantor yang cocok itu tidak segampang membalik tangan, kalo pun cocok ya ga akan deh 100 % banget cocok semaunya kita, kalaupun yang di tempat sekarang tidak banyak tantangan toh gaji cocok dan jam kerja lebih tentu. Teman saya pun mengiyakan sambil bercerita tentang curhatan temannya dimana jam kerja kantornya tidak tentu, gaji lebih pelit, dan lingkungan kerjanya lebih kasar bahkan sampai sering keluar kata-kata binatang. Saya juga sampai agak kaget kalo sampai ada lingkungan kerja yang sering keluar kata binatang karena menurut saya, orang-orang berpendidikan seharusnya bisa lebih tahu bertata krama apalagi untuk lingkungan kantor dimana hal tersebut merupakan lingkungan profesional.

Di akhir pembicaraan kami jadi sama-sama mengingatkan diri kami untuk bersyukur apapun pekerjaan yang sedang di geluti dan apapun kondisi kami sekarang. Saya juga bersyukur dengan kondisi saya meski kadang ada rasa ingin balik kerja kantoran seperti dulu namun saya jalani saja apa yang tangan saya dapat kerjakan sambil melihat jika ada kesempatan lain yang datang. Akhirnya saya sampai di rumah sangat malam. Saya menurunkan teman saya di daerah yang sudah agak dekat dengan rumahnya. Sampai dirumah saya habis diomelin dan dimarahi Ibu saya karena mungkin beliau kuatir tapi namanya macet juga mau diapain lagi, masa saya mau terbang hehehe. Apa pun kondisi saya sekarang bersyukur saya masih bisa belajar banyak hal, bertemu banyak kenalan baru dan sedikit demi sedikit sudah dilirik untuk jadi writter dengan fee yang tidak seberapa memang namun saya tetap bersyukur J.

 

Be grateful for small things, big things, and everything in between. Count your blessings, not your problems.

–Mandy Hale

Lagi Lagi JATUH SAKIT

Image source https://unsplash.com/photos/m0l5J8Lqnzo. Photo by David Mao
Image source https://unsplash.com/photos/m0l5J8Lqnzo. Photo by David Mao

Kalau soal riwayat sakit penyakit sepertinya untuk tubuh saya tuh ga ada habisnya. Cerita nyokap saya dari dulu selalu bilang kalau saya waktu kecil gampang sakit bahkan melahirkan saya saja itu susah karena saya terlilit tali pusat waktu di dalam kandungan. Waktu saya kecil saya juga tipe anak yang gampang alergi makanan, namun setelah dewasa alerginya sudah mulai berkurang.

Saya memang punya riwayat sakit maag yang bisa dibilang sudah lumayan parah karena sering kambuh-kambuhan. Jika saya telat makan dikit dan makan sesuatu yang kotor pengaruhnya langsung kerasa di perut saya. Sampai saat saya kuliah, saya masih sakit-sakitan dan bahkan sampai saya kerja dua kali di kantor konsultan arsitek pun saya masih sering jatuh sakit, maklum bekerja sebagai arsitek memang frekuensi lemburnya lebih sering apalagi jika proyek sedang padat-padatnya. Saya juga sering diingatkan bos lama saya untuk tidak telat makan karena saya sering sakit perut di kantor kalau maag saya kambuh.

Saya juga tipe yang gampang stress, berkaitan dengan penyakit maag, penderita penyakit ini asam lambungnya bisa naik jika mengalami stress. Saya ingat waktu tahun kedua kuliah di jurusan Arsitektur, saya mengalami diare pada pagi hari selama beberapa hari yang akhirnya menyebabkan saya lemas dan tidak berenergi untuk melakukan aktivitas. Dokter saya menanyakan hal ini kepada saya “Mona, kamu sedang banyak pikiran ya?” terus saya cuma diam dan ga merasa sama sekali bahwa sebenarnya saya memang sedang dalam kondisi stress sampai dokter melanjutkan percakapannya, “kondisi diare khususnya pada pagi hari biasanya dipicu karena cemas dan stress”. Saya agak kaget namun memang pada tahun kedua dalam perkuliahan saya merasakan tekanan dengan perkuliahan saya sendiri yaitu dengan berbagai tugas serta jadwal presentasi yang padat, tapi anehnya saya ga ngeh saya lagi stress.

Pengalaman berikutnya saya rasakan sebelum saya off kerja dimana saya mengalami insomnia akut dan juga kecemasan yang susah saya kendalikan sehingga kondisi saya dropnya minta ampun mulai dari fisik dan mental. Setelah saya jelaskan panjang lebar dengan atasan saya mengenai kondisi saya, beliau memaklumi dan juga setuju dengan keputusan saya untuk off dari dunia kerja untuk sementara. Selama masa off dari dunia kerja dan memulihkan badan, saya langsung memulai pola hidup sehat namun kadang-kadang saya balik lagi ke pola lama saya yang suka telat makan dan tidak bisa tidur kalau malam. Saya juga mencari banyak kegiatan di waktu luang mulai dari blogging, ikut workshop, dan buka usaha kecil bersama dengan teman saya, namun tetap saja mood saya kadang turun, dan saya masih kadang sakit meski tidak sesering biasanya.

Minggu lalu saya mulai tidak enak badan seperti masuk angin setelah saya selesai menstruasi. Keponakan saya memang minggu sebelumnya terserang batuk parah dan sangat rewel dirumah, sedangkan ibunya yaitu kakak saya sedang melanjutkan kuliah s2. Akhirnya saya dan adik saya yang sudah selesai sidang skripsi, ikut merawat keponakan saya. Setelah seminggu keponakan saya sembuh dari batuk, barulah gantian saya yang sakit batuk parah. Saya pikir batuk ini cuma batuk biasa yang 4 hari minum obat bisa langsung baikan namun ternyata di hari ke-3 kondisi saya tambah parah. Badan saya keringat dingin, saya semalaman tidak bisa tidur karena saya batuk terus menerus. Rasanya tenggorokan saya sakit, badan saya juga capek karena harus batuk terus, saya sempat menangis di malam hari karena saya tidak bisa istirahat dengan tenang. Obat-obat yang saya minum pun seperti tidak ada gunanya. Saya sampai mikir apa karena dari dulu saya sering banget minum obat kalau sakit makanya obatnya jadi kebal sama tubuh saya.

Hari Sabtu saya minta ibu saya menemani saya ke dokter, saya kapok tidak bisa tidur semalaman karena batuk terus menerus. Hasil pemeriksaan dari dokter sih batuk ini hanya karena virus biasa dan dokter pun memberikan resep racikan yang bukanlah antibiotik untuk saya minum. Dalam racikan obat tersebut ada obat yang digunakan untuk menekan refleks batuk saya dari otak agar saya bisa istirahat dan frekuensi batuk bisa ditekan untuk sementara. Setelah minum obat pada sore hari, malamnya saya jauh lebih bisa tidur dibanding malam sebelumnya meski kadang sesekali saya masih terbangun karena batuk. Besoknya kondisi saya sudah agak mendingan meski masih keringat dingin.

Datang ke pernikahan teman kantor lama. Lokasi di Rumah Sarwono, Jakarta Selatan.
Datang ke pernikahan teman kantor lama. Lokasi di Rumah Sarwono, Jakarta Selatan.
Foto dengan pengantinnya, Mas Ryan dan Mbak Sarah.
Foto dengan pengantinnya, Mas Ryan dan Mbak Sarah. Fotonya cepet2 karena banyak yang ngantri untuk salaman.

Saya sempet kesal sekali harus sakit menjelang weekend kemarin, karena pada hari Sabtu kemarin saya sudah ada jadwal kumpul reuni dengan geng kuliah saya namun saya tidak bisa datang karena harus ke dokter. Pada hari Minggu saya juga ada acara nikahan teman kantor lama, yang cukup dekat hubungannya dengan saya dan saya sudah janji untuk datang serta tidak mengambil acara event apa pun untuk weekend ini. Pada hari Minggu akhirnya saya menyempatkan diri untuk datang sebentar ke pernikahan teman saya dan setelah itu saya buru-buru pulang karena sedang tidak enak badan. Sampai di rumah saya langsung lemas, saya buru-buru mandi dan langsung istirahat. Keesokan harinya saya masih bed rest untuk memulihkan kondisi badan sampai pada hari ini saya baru bisa menulis blog lagi.

Saya sebenarnya merasa capek sama badan saya yang dikit-dikit sakit, dikit-dikit moodnya turun. Dibalik kekesalan saya dengan kondisi fisik saya, saya juga sadar bahwa saya harus belajar lebih bersabar dengan diri saya sendiri. Kalau saya aja ga sabar sama diri saya terus gimana sama orang lain, belum tentu juga orang lain lebih sabar dengan diri kita.

Kabar baiknya geng kuliah saya memutuskan untuk temu kangen lagi bulan Desember nanti dan rencananya setiap peserta harus bawa makanan untuk gathering nanti. Saya harus jaga kondisi badan supaya fit, semoga mood malas olahraga dan mood malas makan ga sering kambuh-kambuhan lagi kedepannya.

Cerita di Senja Hari

668049CD0E
Free image from https://stocksnap.io/

Libur lebaran kali ini saya dan keluarga tidak pergi kemana mana karena sudah dipastikan semua jalur kendaraan dan wisata pasti sedang padat-padatnya. Saya dan keluarga juga tidak merayakan Lebaran karena kami penganut Kristiani namun kami tetap bersilahturahmi ke tetangga yang beragama Muslim untuk bercengkrama dan mengucapkan selamat Hari Raya, hal ini sudah biasa di lingkungan tetangga kami bahkan kadang kami tetap kebagian makanan yang dikirimkan dari tetangga. Sebaliknya ketika kami merayakan natal, kami pun dapat kunjungan dari tetangga kami yang berbeda agama dan kami juga aktif mengirim kue atau makanan ke beberapa tetangga. Keluarga saya biasanya memutuskan untuk bersilahturahmi sehari atau dua hari setelah hari lebaran karena ketika hari H, rumah tetangga sedang penuh-penuhnya dengan kunjungan saudara-saudara mereka.

Kemarin, ayah saya sudah berniat untuk berkunjung ke tetangga yang merayakan Lebaran dan memilih waktu sore mengingat biasanya masih ada kunjungan saudara di tetangga H+1. Kebetulan tetangga saya sebagian besar sedang mudik semua jadi daerah perumahan agak sepi dari biasanya, cuma beberapa tetangga yang stay di rumah mereka masing-masing. Saya sendiri juga sedang tidak ada keperluan khusus untuk event, job article, atau pesanan produk, jadi saya lebih banyak waktu luang dirumah. Jika libur panjang saya lebih suka bertemu dengan teman teman terdekat saya, karena agak susah bagi kami untuk bertemu di hari kerja biasa dimana teman-teman saya sibuk kerja, freelance dan saya juga sering ada event terkait blog.

Saya sempat di nasehati keluarga saya karena saya lebih banyak dirumah dan dikira ansos (anti sosial), hehehe. Sebenarnya saya bukan ansos namun belakangan ini ntah mengapa saya sering lelah jika bertemu banyak orang, mungkin karena saya juga sering ikut event jadi bertemu dengan orang lain terasa seperti kebiasaan rutin. Ketika saya chat via media sosial juga saya mengalami keletihan seolah-olah bukannya saya jadi bahagia saya malah jadi capek dan ga mood, makanya beberapa hari ini saya ga ngurus blog dan malas untuk melakukan berbagai hal, mungkin saya sedang bosan.

Saya sempat menanyakan hal ini ke salah satu psikolog kenalan saya dan jawaban beliau membuat saya tercengang. Ketika berhubungan sosial via telepon atau chat, kadang memang kita bisa letih dan frustasi karena alat gadget ini justru melepas radiasi negatif kepada kita meski niat kita baik yaitu bersosialisasi. Saya disarankan untuk bertemu face to face dengan teman-teman saya daripada berhubungan via dunia maya, namanya juga dunia maya antara ada dan tidak ada hehehe. Ketika kita bertemu langsung justru kita saling memberi energi satu sama lain sedangkan ketika kontak sosial lewat media sosial kita cenderung hanya memberi energi kita kepada alat gadget dan gadget tidak akan bisa memberi energi sama seperti manusia memberi kita energi.

Saya sempat kaget karena saya pikir saya yang bermasalah karena sering merasa capek berhubungan dengan orang lain. Saya memang hanya berhubungan dengan beberapa teman dekat dengan intens namun saya sering merasa mereka juga capek mendengar cerita saya sehingga saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan menulis dan membaca blog orang lain.

QNVF339N2W
Free image from https://stocksnap.io/

Janjian dengan teman lama saya, Erin

Beberapa hari yang lalu saya memang sudah janjian dengan teman saya Erin yang merupakan teman SMP saya dan teman Kuliah saya dulu, untuk bertemu. Rumah saya masih satu daerah dengan rumah Erin jadi jarak dan tempat bertemu tidak jadi masalah bagi kami. Saya janjian di tempat kopi yang terletak di salah satu mall dekat daerah kami untuk ngobrol dan siangnya kami pindah ke mall lain yang lebih banyak pilihan makanan karena kami sama-sama ingin makan shushi hari itu hehehhe. Kebetulan karena masih suasana Lebaran jadi Mall tidak terlalu penuh di siang hari namun mulai ramai ketika menuju sore hari.

Saya ngobrol banyak hal mulai dari kabar, kerjaan, keluh kesal, asmara, dan banyak hal lainnya sampai ga kerasa kami sudah seharian ngobrol sampai sore hehehe. Karena Erin merupakan salah satu teman terdekat saya dan sudah banyak tau masalah pribadi saya, jadi saya lebih nyaman ngobrol tentang apa saja tanpa takut di judge. Kami juga sama-sama suka menulis meski saya lebih suka menulis di blog sedangkan Erin lebih suka menulis novel atau fanfic. Saya sangat mendukung Erin untuk merilis karya-karyanya dalam bentuk buku karena kan sayang kalo kita berkarya namun tidak berani untuk di publikasikan hehehe. Saya juga sharing bagaimana menulis blog telah mengubah saya sedikit demi sedikit dan mulai ada pemasukan dari blog ini meski tidak seberapa dibandingkan ketika saya kerja kantoran.

Ketika saya ditanya mau lanjut kerja kantoran lagi apa ngak, saya sempat bingung, sebenarnya saya sih oke dengan kerjaan kantoran asal saya dapat kantor yang cocok dan mendukung perkembangan diri saya serta beban kerjanya sesuai, namun memang kantor cocok-cocokan sih meski tidak ada juga yang namanya kerja bahagia dan lancar terus setiap hari. Saya masih ragu karena takut blog serta usaha yang saya rintis terbengkalai. Biasanya ketika kerja kantoran, sabtu minggu saya cuma ingin dirumah untuk istirahat. Saya juga sebenarnya tipe yang susah beradaptasi dengan lingkungan baru. Erin juga sempat cerita bagaimana kerjaan kantor kadang membuatnya capek di akhir pekan untuk melanjutkan hobinya menulis namun menulis sudah menjadi pelepasan stress bagi dirinya.

Berbeda ketika saya chat yang kadang bisa terputus dengan kegiatan lain yang saya lakukan, acara hang out ini justru tidak kenal waktu karena tiba-tiba saja tanpa kami sadari hari sudah menuju sore. Kami juga tidak ada habis-habisnya membagi cerita hidup kami satu sama lain sambil tertawa dengan kejadian-kejadian lucu yang kami alami.

Selesai dari acara hang out, kami memutuskan untuk balik ke rumah masing-masing. Saya mengantarkan Erin sampai jalan dekat rumahnya karena kebetulan kami melewati jalan yang sama ketika pulang dan saya bawa mobil hari itu. Setelah selesai mengantarkan Erin, saya jadi merasa lebih plong dan lega tidak seperti ketika saya curhat dan ngobrol via chat.

Silahturahmi ke tetangga yang merayakan Lebaran

Sampai dirumah saya sadar bahwa orang rumah saya sedang keluar dan silahturahmi ke rumah tetangga, saya pun langsung menyusul untuk silahturahmi. Kebetulan saya silahturahmi ke tetangga terdekat kami dimana saya dan saudara saya sering memanggil tetangga kami dengan sebutan Bu De dan Pak De karena hubungan keluarga kami termasuk dekat. Selama silahturahmi kami saling cerita satu sama lain dan terkadang Bu De dan Pak De juga memberikan nasehat kepada kami yang masih muda khususnya dalam karir.

Setelah Silahturahmi, kami sekeluarga makan di Mall dekat rumah karena ibu saya tidak masak hari itu hehhehe. Setelah pulang ke rumah saya langsung tepar di kamar sambil setel CD musik yang baru di beli. Ntah kenapa hari itu saya puas dan plong di bandingkan hari-hari sebelumnya, mungkin itu yang di bilang psikolog tentang saling memberi energi satu sama lain. Pada akhirnya kita memang makhluk sosial biasa dimana sosialisasi merupakan kebutuhan dasar sehari-hari. Saya jadi ingat cerita teman saya ketika main the sims dimana dia iseng buat karakter game itu dikurung di ruangan tertutup, ternyata yang terjadi karakter game tersebut sampai nangis-nangis depresi karena dikurung tanpa sosialisai sampai akhirnya meninggal, duhh serem amat percobaan teman saya #janganditiru.

Meski saya lebih suka punya waktu sendiri, saya tetap harus mengingatkan diri saya bahwa saya butuh berbagi dengan orang lain, saya butuh bersosialisasi khususnya sosialisasi di dunia nyata. Saya juga ingin mengucapkan selamat hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin untuk yang merayakan dan orang terdekat saya serta pembaca blog saya.

Nostalgia dengan AADC 2

Untitled

Saya excited banget sejak iklan LINE mini clip dari AADC tayang di youtube. Siapa sih yang ga nunggu-nunggu kejelasan akhir dari Cinta dan Rangga yang pisah di bandara karena Rangga pindah ke Amerika? Cuplikan LINE bikin gemes sekaligus penasaran karena pengambilan gambar yang bagus dan sosok Rangga yang well harus saya akui lebih ganteng pas mini clip LINE heheheh.

Setelah trailer  AADC 2 muncul di youtube, beberapa banyak yang kecewa karena sudah terbawa nuansa mini clip versi LINE termasuk saya yang agak kecewa lihat style rambut Rangga, tetapi balik lagi sih ini masalah selera. Beberapa hari yang lalu grup #ASKSASYACHI memang merencanakan wacana nobar AADC 2 bersama kak Sasyachi. Saya pas liat wacana itu pun memutuskan ikut karena lokasi bioskop yang di Lotte Avenue jadi masih bisa dijangkau dari rumah yang nun jauh ini dan sekalian ketemu sama kak Sasyachi serta teman-teman grup line lainnya.

426-hawa-jatuh-cinta-lagi-dengan-ada-apa-dengan-cinta-2-5

Saya sempat baca review beberapa orang dari blog mereka tentang film AADC 2 ini dan jadi tahu sedikit cerita awal dari film ini dimana Cinta sudah bertunangan sebelumnya dengan pacarnya sekarang yaitu mas Trian kemudian tanpa sengaja bertemu Rangga di jogja ketika Cinta sedang berlibur bersama gengnya. Ketika saya tahu hal itu saya langsung jadii bete, jadi Rangga ngilangg lama terus datang nikung orang yang udah serius mau nikahin Cinta? Oke fix gw ga akan nonton tuh film >.<’’. Tetapi karena wacana grup #ASKSASYACHI untuk nobar AADC 2 dan banyak yang bilang bagus, saya jadi okelah, saya sedikit penasaran juga jadinya -_-‘’.

Selama saya nonton pun saya jadi terbawa dengan alur film ini ternyata. Saya suka dengan akting natural dari Cinta dan Gengnya Carmen, Milly dan Maura. Saya sampai teringat geng saya sendiri yaitu Dian, Erin, dan Katherine ketika kami berlibur ke Bandung. Semua tokoh dalam film ini terlihat berubah dan masing-masing sudah memiliki kehidupannya sendiri, beberapa sudah menikah. Saya juga senang melihat Mamet yang masih lucu tetapi sudah jadi suami yang perhatian untuk Milly. Tokoh Alya tidak di perlihatkan karena dalam cerita film, tokoh Alya sudah meninggal karena kecelakaan. Tokoh Carmen di gambarkan telah banyak melalui cobaan dari mencoba drugs dan juga ditinggal pergi suami karena wanita lain. Saya juga suka dengan sosok Rangga yang sekarang lebih dewasa dan lebih banyak bicara dibandingkan sosoknya yang masih SMA. Sempat juga diceritakan tentang adik tiri Rangga yang memintanya mengunjungi ibu kandungnya di jogja. Ibu Rangga pernah meninggalkan Rangga dan Bapaknya waktu Rangga masih kecil. Saya sampai pengen nangis pas adegan Rangga ketemu Ibunya dan juga ketika scene Rangga duduk makan bareng dengan keluarganya lengkap :’).

bb

Cerita relationship dalam film ini lebih dewasa karena memang tokoh-tokohnya sudah dewasa dalam film ini jadi berbeda dengan cerita AADC 1 ketika Rangga dan Cinta masih SMA. Awal mereka bertemu tidak ada chemistry sama sekali karena sudah 9 tahun tidak saling bertemu dan putusnya pun lewat surat. Semakin lama chemistry kedua pemain utama semakin bertambah tambah sampai akhirnya keduanya memutuskan untuk tidak bertemu lagi namun perpisahan kali ini justru menambah galau kedua belah pihak karena sebenarnya keduanya masih sama-sama menyimpan rasa.

Setelah selesai menonton film ini saya jadi agak galau ahahahha karena nostalgia juga dengan film ini namun bahagia karena segala kesalah pahaman dan gundah galau kedua pemain terselesaikan, kalo pisah lagi di bandara bisa di demo sama penontonnya ahahaha. Saya suka dengan pembawaan setiap tokoh yang natural, tempat-tempat adegan film yang sangat indah di Jogja, pengambilan gambar yang segar, puisi-puisi Rangga dan juga dialog serta adegan lucu di film ini.

ccc

Saya beneran jadi galau karena saya sudah tidak nonton film cinta lagi atau pun membaca novel percintaan, duh kayaknya saya lebih tertarik dengan hobi-hobi baru saya sekarang daripada memikirkan kegalauan cinta yang tidak ada habisnya. Saya sadar juga bahwa kejelasan dalam hubungan apalagi jika kita putus itu penting, sosok Cinta sempat hancur karena diputusin Rangga lewat sepucuk surat tanpa alasan yang jelas. Sosok Carmen jadi berantakan dan lari ke drugs karena ditinggalkan suami demi wanita lain.

Tentu saja relationship sesuatu yang liar dan tidak bisa di control atau di duga. Masa-masa ditinggalkan pun pernah saya alami dulu. Betapa rapuhnya dan lemahnya kita jika sudah menyangkut masalah ini. Saya sendiri jadi cenderung menghindari dan tidak mau terikat dibandingkan harus mengalami naik turun suatu hubungan dan perasaan. Ditengah-tengah fase dimana teman-teman sekitar saya mempunyai hubungan serius dengan pasangannya, menikah, dan mempunyai anak, saya masih bergulat dengan trust issue dan juga ketidaksiapan untuk mengalami babak belur hubungan dengan orang lain. Setelah saya kesel dengan sosok Rangga yang sudah meninggalkan Cinta dan putus dengan alasan tidak jelas, saya mulai memahami alasan-alasan di balik semua itu. Relationship bukan sesuatu yang mudah, menentukan kepada siapa cinta kita diberikan pun tidak gampang, dan memberi kesempatan bagi orang yang sudah menyakiti kita lebih susah lagi. Film ini menggambarkan bagaimana ada suratan takdir dan juga usaha dari manusia dalam menemukan cinta mereka sendiri. Setelah Cinta tanpa rencana bertemu Rangga di Jogja, bukan berarti hubungan mereka langsung lancar, justru malah banyak konflik, banyak pilihan, mengingat kondisi Cinta yang sudah memiliki orang lain. Namun memang sekali lagi Tuhan hanya mempertemukan, kita pun harus menemukan jodoh kita sendiri. Saya puas dengan film ini, dengan alur cerita dan konflik antar tokohnya. Jadi yang belum nonton, segera nonton AADC 2 kalau jadi penasaran setelah baca review film ini ahahaha *bukan pesan sponsor ya.

1462716056857

Setelah selesai nonton, saya dan grup #ASKSASYACHI makan di School Food Lotte Avenue, saya lanjut gereja sore karena saya belum gereja. Saya juga senang karena bisa bertemu Kak Sasyachi dan teman-teman yang lain. Saya sudah pernah bertemu dengan kak sas sebelumnya ketika ada acara workshop make up tetapi belum pernah yang ngobrol langsung personal seperti ini. She’s so humble, fun and down to earth. Sampai saya agak ga percaya, ini beneran kak sas beauty influencer terkenal itu? Hehehe. Sekali lagi thank you kak Sasyachi sudah mau datang dan ngajakin nobar serta teman-teman #ASKSASYACHI yang kenalan hari ini :).

Happy Long Weekend Guys!