Pameran Baur Rasa

SAM_5228

Bulan lalu saya pergi ke pameran seni kecil di daerah Blok M. Kebetulan saya hari itu juga ada urusan ke daerah Jakarta. Siangnya saya juga ada janji sama adek kelas saya, Connie yang kerja dekat daerah situ. Saya pikir sayang kalau saya siangnya langsung kembali ke Bekasi padahal perjalanan ke Jakarta juga cukup memakan waktu. Setelah makan siang saya langsung memutuskan untuk pergi ke daerah Blok M untuk mengunjungi sebuah pameran seni.

Siapa yang disini suka mengambil foto dengan kamera atau hp? Sayaaa… Saya termasuk orang yang senang mengambil foto ketika saya sedang jalan ke suatu tempat meski saya bukanlah seorang Fotografer. Foto yang saya ambil juga lebih banyak untuk koleksi pribadi saya semata. Saya juga selalu membawa kamera pocket di tas saya untuk mengantisipasi kalau sewaktu-waktu saya perlu mengambil foto. Konon katanya kamu bisa mengetahui apa yang dianggap paling berharga atau bermakna bagi seseorang melalui apa yang orang itu abadikan dalam sebuah foto. Bila gambar mengungkapkan beribu kata, foto cenderung bisa mengungkapkan beribu rasa. Baik rasa yang pernah ada, masih ada atau yang selalu ada *jadi galau sendiri nulisnya. Terlepas orang tersebut merupakan forografer profesional atau bukan, sebuah foto biasanya dibuat dengan berbagai alasan-alasan termasuk alasan yang personal. Lima orang yang mengikuti Pameran Baur Rasa ini memamerkan foto-foto mereka untuk bercerita kepada pengunjung.

Saya datang sekitar siang menjelang sore ke Kedai Kopi Djule. Kedai kopi ini terletak persis di pinggir jalan besar. Kedai kopi ini tidak mempunyai tempat parkir sendiri, jadi saya harus memarkir kendaraan di dalam tempat parkir Plaza Blok M. Saya sampai di Kedai kopi tersebut dengan berjalan kaki dari tempat parkir. Waktu saya datang, kondisi di dalam kedai kopi ini lumayan sepi. Saya di arahkan ke lantai dua kedai kopi ini ketika pelayan tahu bahwa saya ingin mengunjungi pameran seni. Saya disambut oleh Ibu Ani yang merupakan salah satu seniman yang ikut serta dalam pameran tersebut. Ibu Ani juga menemani saya sambil menjelaskan satu persatu karya foto yang dipamerkan oleh empat orang lainnya.

SAM_5223SAM_5227

Pertama kali masuk, saya disuguhkan sebuah meja kerja yang diatasnya berserakan foto-foto hasil karya Gabriel Sena. Foto-foto yang ditampilkan berupa foto-foto koleksi pribadi dari momen-momen menyebalkan yang Sena alami. Karya ini sebenarnya lebih menekankan bahwa sebaik apapun kita merencakan hidup kita, akan selalu ada momen-momen menyebalkan yang terjadi tanpa bisa diprediksi, namun begitulah hidup. Hal paling penting adalah bagaimana kita menyikapi momen tidak terduga itu. Banyak koleksi foto yang membuat saya kesal, gemas dan juga tertawa karena foto tersebut berisi kejadian konyol yang dialami oleh si seniman.

SAM_5209

Tak jauh dari meja tadi saya lanjut ke karya berikutnya. Karya dari Gloria Pearl ini menyuguhkan foto-foto dari benda-benda pemberian orang terdekatnya. Ternyata benda-benda tersebut mempunyai kenangan berarti antara si pemberi dan si penerima meskipun si pemberi sudah tiada. Benda-benda tersebut seperti momento yang membuat si seniman bisa merasakan kembali rasa yang pernah ia rasakan dan juga mengingatkannya dengan si pemberi barang. Benda pemberian memberikan rasa pada waktu tertentu di masa lalu yang bisa membuat si penerima mengingat rasa dan momen tersebut.

SAM_5214

Saya melanjutkan langkah saya ke hasil karya dari Imron Zuhri. Imron memamerkan foto-foto dan beberapa barang kepunyaan ibunya. Karya ini sebagai cara Imron menenangkan dirinya dan berdamai dengan masa lalu. Imron memiliki hubungan yang naik turun dan banyak kesalah pahaman dengan ibunya, serta rasa-rasa yang belum ia ungkapkan sampai akhir hayat ibunya. Memandangi foto-foto mendiang ibunya menjadi obat dan doa tersendiri bagi Imron. Ketika saya melihat apa yang dipamerkan oleh Imron saya tentu teringat akan ibu saya sendiri. Sering kali sebagai anak kita sering cek cok dengan orang tua kita, namun karya ini juga mengingatkan saya akan ketakutan saya paling dalam yaitu ditinggalkan oleh orang tua saya. Sebanyak apapun perbedaan pendapat antara kita dan orang tua, kehilangan mereka akan jadi duka besar bagi kita. Barang-barang pribadi ibunya yang dipamerkan juga seolah-olah mengingatkan saya bahwa orang yang diceritakan ini pernah ada dan hidup.

SAM_5204

Saya beralih ke foto-foto karya Tandika yang kebetulan orangnya juga ada bersama saya di pameran tersebut. Tandika mengabadikan foto-foto ayah ibunya yang sedang beraktivitas dirumah. Ide ini diambil ketika ia balik ke rumahnya dan melihat foto-foto pernikahan ayah ibunya semasa muda dulu. Tandika mengambil foto ayah ibunya pada masa sekarang. Ternyata meski raga mereka telah tua, rasa dan keharmonisan masa lalu mereka masih terlihat dari foto-foto mereka berdua. Tandika juga sempat cerita ke saya bahwa ia pernah merasa kehilangan akan makna orang tua karena ia hidup merantau ke Jakarta. Tentu saya bisa mengerti maksudnya, meski saya hanya merantau dari daerah Jabodetabek ke Jakarta, namun rasanya ada yang hilang dari diri saya.

SAM_5200

Saya sampai pada hasil karya terakhir pada pameran seni yang terletak di bagian pojok ruangan. Hasil karya tersebut merupakan milik bu Ani yang dari tadi sudah menemani saya melihat karya-karya sebelumnya. Saya masuk ke ruangan kecil yang di pisahkan oleh sekat. Ruangan tersebut memang sengaja di buat redup hanya dengan beberapa lampu tambahan yang menyala. Saya memlihat banyak barang-barang pribadi milik seseorang di meja paling pojok. Saya juga melihat barang khas yang biasanya digunakan seseorang yang sedang sakit. Saya duduk di kursi yang disediakan sambil menonton foto-foto yang berlalu perlahan-lahan dari layar TV. Banyak foto-foto yang lokasinya diambil di rumah sakit. Saya sendiri hanya terdiam ketika menyaksikan gambar hitam putih itu berlalu di layar TV.

Bu Ani juga menceritakan tentang makna foto-foto yang ia ambil. Semua foto tersebut adalah foto yang diambil ketika ia menunggu suaminya di rumah sakit. Ibu Ani bilang bahwa semua benda kenangan yang tidak sempat suaminya pakai, masih ia simpan. Semua benda tersebut adalah benda yang menemaninya selama ia menunggu masa kritis suaminya. Saya hanya terdiam sambil mendengarkan cerita Ibu Ani. Rasa duka seperti masih begitu dekat, namun begitu juga dengan rasa ikhlas yang tergambar dari tulisan-tulisan Ibu Ani. Karya Ibu Ani sendiri mengingatkan saya akan sebuah rasa kehilangan yang pernah saya rasakan beberapa kali, ketika saya merelakan orang yang saya kasihi. Beberapa menit mendengar cerita Ibu Ani membuat saya terasa begitu dekat dengan beliau, seperti rasanya saya berbagi rasa duka kehilangan itu bersama-sama.

SAM_5231

Minum di Kedai Kopi Djule

Selesai saya mengucapkan terima kasih dan berpamitan kepada Ibu Ani dan Tandika, saya menuju ke lantai satu dari Kedai Kopi Djule. Kebetulan saya juga ingin bersantai sebentar di Kedai Kopi sebelum akhirnya saya pulang ke rumah. Saya memesan cokelat dingin dan kue tart kecil untuk jadi cemilan saya siang itu. Ternyata minuman selain kopi disediakan dalam bentuk botol yang sudah disimpan di lemari es untuk pengunjung.

Saya duduk sambil menikmati pemandangan Kedai Kopi tersebut. Tak seperti kebanyakan Kedai Kopi yang lebih menekankan nuansa redup, Kedai ini justru memiliki jendela yang banyak sampai lantai dua. Hal ini membuat cahaya matahari yang natural masuk dengan baik ke dalam ruangan. Saya mengambil foto sekitar jam 3 sore dan cahaya ruangan masih sangat baik untuk mengambil foto. Jendela besar yang merupakan sisi depan Kedai Kopi ini menjadi spot pemandangan yang menarik. Saya duduk sambil mengamati mobil lalu lalang dan juga mengamati Bajaj yang sedang menunggu penumpang. Bagian sisi dalam Kedai Kopi lebih redup dengan pencahayaan berwana kuning. Sama seperti Kedai Kopi pada umumnya, kesan ruangan terasa nyaman karena material kayu, beton dan bata yang digunakan pada ruangan. Hal yang paling menarik buat saya yaitu lampu besar di tengah ruangan Kedai Kopi ini yang terbuat dari kepingan keramik. Lampu yang bersifat sebagai dekorasi ini membuat kesan megah pada ruangan.

SAM_5242

SAM_5235

ttt

Kedai kopi ini lebih banyak menyediakan menu kopi dan snack ringan. Minuman non kopi pilihannya tidak terlalu banyak. Menu makananya juga tidak terlalu banyak. Saya pikir Kedai Kopi ini memang lebih dikhususkan untuk minum kopi. Rasa minuman cokelat yang saya pesan sih enak, pahit cokelatnya masih terasa ketika saya minum jadi manisnya pas menurut saya. Kue cokelat yang saya pesan juga enak. Harga minuman dan makanan di Kedai Kopi ini lumayan mahal menurut saya. Saya habis sekitar 100 ribu untuk minuman cokelat dan potongan kue tart. Kalau soal kopi mungkin saya ga bisa komentar karena saya bukan pecinta kopi namun melihat menu di sini lebih mengutamakan menu minuman kopi, seharusnya minuman kopinya sudah seharusnya enak.

Tak berapa setelah kue saya habis, saya memutuskan untuk pulang ke rumah. Kedai kopi ini sangat cocok untuk nongkrong dan berlama-lama bersama teman. Atmosfer yang diciptakan memang membuat saya cukup betah. Meski terletak di pinggir jalan, namun pemandangan ke arah jalan malah jadi pemandangan yang menarik. Pencahayaan di Kedai Kopi ini oke untuk mengambil foto karena lebih banyak mengutamakan cahaya natural dari matahari. Ada yang sudah pernah ke Kedai Kopi Djule? See you on my next post readers!

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Akhir Minggu Produktif di Kopi Kalyan

SAM_5173

Bulan lalu saya sempat mengikuti sebuah sesi sharing yang diadakan oleh Catalyst Art dan Publisher Indie The Pagggges. Acara sharing ini memang lebih terkesan santai yaitu berupa sharing pengalaman oleh beberapa illustrator yang berhasil mempublikasikan ide dan karya mereka dalam bentuk zine. Publisher Indie The Pagggges juga menceritakan awal mula terbentuknya The Pagggges sebagai publisher lokal yang bertujuan mempublikasikan karya illustrator ke beberapa komunitas penikmat seni.

Bagi yang belum tahu mengenai zine, sebenarnya zine itu sendiri berbentuk seperti booklet. Zine tidak dibatasi dalam bentuk tulisan, percakapan, ataupun karya seni. Istilah zine mulai populer ketika digunakan oleh kaum punk pada masa populeritasnya. Kaum punk menggunakan zine untuk menyebarkan idealisme mereka. Pada masa tersebut, zine sempat di larang oleh masyarakat dan pemerintah karena isinya yang mengandung konten vulgar, kekerasan dan terlalu bebas.

SAM_5193

Seiring berkembangnya jaman, zine juga berkembang menjadi sebuah media bagi para seniman untuk menyalurkan ide-ide mereka dalam bentuk kumpulan karya seni. The Pagggges sendiri berperan sebagai kurator dalam penyeleksian zine yang akan mereka promosikan. Para seniman sendirilah yang memperbanyak zine mereka apabila berhasil lulus dalam tahap seleksi. Zine juga bertujuan agar kumpulan karya seni para seniman dapat dibeli oleh penikmat seni dengan harga yang lebih terjangkau.

Setelah sesi sharing selesai, para peserta mengikuti workshop yang diadakan oleh panitia. Pada sesi ini setiap peserta diharapkan untuk spontan membuat doodling di sebuah kertas yang akan diberikan ke peserta lainnya secara bergantian. Peserta lainnya pun harus merespon doodling yang peserta sebelumnya buat secara spontan. Hasil kumpulan doodling tersebut kemudian digabungkan menjadi sebuah zine. Hasil akhirnya memang unik, zine kami berisi sesuatu yang nyeleneh dan lucu. Setelah sesi workshop selesai, saya berkeliling untuk melihat zine-zine yang dibuat oleh para seniman. Zine tersebut juga bisa dibeli selama pameran berlangsung.

SAM_5199

MAKAN SIANG DI KOPI KALYAN

Kebetulan hari itu saya tidak datang sendirian, saya datang bersama teman saya yang juga sama-sama menyenangi bidang seni dan illustrasi. Kami sempat membuka usaha kecil dalam bidang illustrasi produk. Sudah lama sekali kami tidak mengikuti workshop atau bertemu untuk membicarakan usaha kami untuk ke depannya. Teman saya memang sedang sibuk dengan kerjaan kantor sekarang, sedangkan saya juga mengikuti beberapa event blogger di akhir pekan. Saya juga sudah mulai mengikuti les bahasa Inggris pertengahan bulan lalu. Saya pikir mumpung akhir pekan ini waktu kosong kami sedang cocok, jadi sekalian saya sempatkan waktu untuk bertemu sambil makan siang.

Kopi Kalyan terletak di daerah Senopati yang lebih di dominasi dengan perumahan. Butuh sedikit usaha lebih untuk datang ke kedai kopi ini yang cukup jarang dilalui oleh angkutan umum. Saya sarankan untuk memakai kendaraan pribadi atau menggunakan transportasi online jika ingin datang ke tempat ini. Tempat parkir-nya juga sedikit, jadi lebih baik datang lebih pagi jika ingin membawa kendaraan sendiri.

SAM_5161

SAM_5160

Gaya interior yang ditonjolkan oleh Kopi Kalyan lebih ke arah industrial dengan tetap mempertahankan kesan bangunan unfinished. Material yang ditonjolkan pada ruangan kedai kopi ini lebih banyak menggunakan kayu, besi, dan beton unfinished. Material beton juga semakin di expose dengan membiarkan sisi tiang terkesan tidak selesai. Saya termasuk penyuka gaya industrial seperti ini, karena lebih terkesan simpel dan ga ribet. Saya malah kurang tertarik dengan interior ruangan diberi terlalu banyak material heboh yang menonjol. Meski kesan ruangan kedai kopi ini simpel namun kesan nyaman masih dapat tercipta dari ruangan kedai kopi ini.

SAM_5153

Tak berapa lama ketika saya sedang melihat menu makanan, seorang Bapak muncul dari balik pintu sambil membawa seekor anjing Alaskan Malmute yang besar. Beberapa pengunjung langsung berdatangan untuk menghampiri anjing besar tersebut, termasuk saya. Nama anjing Alaskan Malmute tersebut adalah Teebar. Anjingnya ramah kepada para pengunjung yang datang menghampirinya. Saya paling ga tahan kalau lihat binatang peliharaan apalagi anjing yang besar, pasti saya langsung pengen elus-elus.

SAM_5157

Selesai puas main dengan Teebar, saya pergi memesan makanan dan minuman. Saya memesan nasi goreng kebuli dan green tea latte. Saya ga memesan kopi karena saya memang bukan pecinta kopi. Nasi goreng kebuli kedai kopi kalyan ini enak banget, hanya saja rasanya pedas panas. Lidah dan perut akan terasa sedikit panas setelah memakannya. Nasi goreng kebuli merupakan salah satu menu favorite di Kopi Kalyan. Menu makanan di kedai kopi ini lumayan banyak dan harga yang ditawarkan juga lumayan. Saya habis sekitar 90 ribu untuk makanan dan minuman yang saya pesan.

Kedai kopi ini memiliki ruang luar hijau yang aktif yaitu dapat digunakan oleh para pengunjungnya. Salah satu ruang luar digunakan sebagai ruangan khusus merokok. Ruang luar merokok-nya asik untuk duduk-duduk atau pun untuk mengobrol. Ruang dalam kedai kopi ini justru lebih redup dengan cahaya namun lebih terasa adem. Bagian depan kedai kopi justru lebih terang dan sering dipakai untuk tempat pameran skala kecil. Para pengunjung yang datang ke kedai kopi ini biasanya melakukan aktivitas seperti mengerjakan tugas, nongkrong bersama teman, dan melihat pameran.

SAM_5163

Saya memang ingin lebih ingin produktif di akhir pekan. Jika saya ada acara di daerah Jakarta, sering saya padatkan acaranya seharian untuk ke pameran, workshop, atau sekedar menulis supaya besok-besoknya saya ga perlu pergi jauh ke Jakarta lagi. Hari minggu lebih saya khususkan untuk keluarga. Sebenarnya saya juga mulai jenuh dengan kemacetan daerah Jakarta, khususnya pada hari Jumat dan Sabtu malam. Kalau ga perlu-perlu amat, saya ga akan pergi ke Jakarta. Akhir pekan kali ini cukup produktif bagi saya karena siangnya saya membahas banyak hal tentang usaha kecil yang sedang kami bangun, jadi saya cukup puas hari itu.

Ada yang sering menghabiskan hari Sabtu dengan pergi ke pameran atau ikut workshop? Cerita dong di bagian komen tentang Sabtu produktif versi kalian. See you on my next post readers!

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

FOR MORE INFORMATION

Kopi Kalyan

JL. Cikajang no 61, Senopati. Jakarta

Open : Sun-Thur 7AM-10PM /Fri-Sat 7AM-11PM

Instagram : @kopikalyan

Unexpected Day!

SAM_4820

Bulan Januari lalu merupakan bulan yang cukup sibuk bagi keluarga saya, bukan sibuk masalah kerjaan atau apa tetapi karena banyaknya acara kumpul-kumpul keluarga. Bulan tersebut juga merupakan bulan dimana kakak tertua saya sibuk-sibuknya menyelasaikan thesis S2-nya di Kedokteran Gigi. Kesibukan kakak tertua saya ternyata berdampak juga kepada saya dan adik saya. Kami turut serta menyumbang tenaga untuk menghibur ponakan saya yang semakin tambah rewel karena sering ditinggal mamanya ke kampus.

Suatu hari di minggu pertengahan Januari, kakak saya tiba-tiba menelpon adik saya yang saat itu sedang berada di rumah. Saya sempat dengar beberapa kalimat percakapan adik saya di telepon karena kebetulan juga saya sedang di rumah. Setelah telepon ditutup, adik saya buru-buru menyuruh saya siap-siap untuk pergi. Saya agak bingung sih waktu itu. Ternyata kakak tertua saya minta dibawakan printer dari rumahnya ke kampus hari itu, karena tempat print di kampus penuh dengan orderan mahasiswa S1 dan S2. Kami buru-buru berangkat sambil membawa printer kakak saya itu ke daerah Salemba dengan menggunakan mobil.

Setelah kami sampai di kampus UI Salemba, kakak saya langsung mengambil printernya dibantu oleh kami berdua. Saya dan adik memutuskan makan siang di kantin kampus karena kami sampai tepat di jam makan siang. Karena kami juga akan menunggu kakak saya sampai urusan print-an thesisnya selesai, kami memutuskan untuk mencari cafe kecil daerah Menteng atau Cikini. Kebetulan kami ga tau-tau banget area sekitar Cikini selain tempat makan di Metropole 21. Saya sempat cari-cari tempat nongkrong area Cikini via instagram dan akhirnya postingan salah satu fashion blogger yang saya ikuti, Olivia Lazuardy, membawa saya dan adik saya ke Shophaus. Ternyata Lokasi Shophaus tidak jauh dari kampus Salemba dan mudah di lacak dengan waze.

SAM_4821

SHOPHAUS, Menteng.

Setibanya kami di Shophaus, petugas parkir lansung menawarkan valet kepada kami. Awalnya kami tolak karena takut harganya mahal namun ternyata layanan ini memang termasuk layanan dari Shophaus sendiri karena tempat parkir Shophaus sedikit, plus biaya parkir tetap normal kok kata si bapak petugasnya. Kami akhirnya mengunakan tawaran valet si petugas tadi supaya ga repot cari parkir ke area sekitar Shophaus.

Pertama kali yang saya amati dari tempat ini ialah bagian fasad (tampak depan) bangunannya yang dominan dengan jalusi kayu berwarna putih. Tampak depan bangunan ini sepertinya berfungsi sebagai fasad kedua untuk menjaga privasi dalam bentuk pandangan dari luar ke dalam bangunan tanpa menghalangi jalur sirkulasi udara. Hal lain yang saya amati dari tempat ini ialah perpaduan antara warna dominannya yaitu putih dan sentuhan material kayu yang digunakan dalam ruangan. Tidak kalah cantik lagi yaitu tangga spiral-nya yang menjadi salah satu spot bagus untuk foto-foto cantik.

SAM_4794 a

SAM_4799

SAM_4791

SAM_4802Shophaus sebenarnya terdiri dari beberapa toko di dalamnya seperti toko ice cream/gelato, dessert, barber shop, dan klinik kecantikan kecil. Khusus untuk lantai dua Shophaus dipakai untuk tempat sebuah restauran. Sepintas Shophaus mengingatkan saya dengan sebuah ruko, dimana biasanya di dalam sebuah ruko terdiri dari beberapa toko. Namun ruko memang terkesan lebih kaku dengan design yang hampir sama serta toko yang berjejer ke lantai atas, berbeda dengan Shophaus yang menawarkan sebuah design gabungan beberapa toko namun disesuaikan dengan lifestyle masyrakat kota sekarang yang tentunya tetap mencari suasana nyaman kekinian ditengah padatnya kota Jakarta.

SAM_4805

SAM_4787

SAM_4786aKebetulan setelah jam makan siang, pengunjung Shophaus tidak terlalu ramai, dalam artian kami masih dapat spot tempat duduk. Saya dan adik saya memesan satu cup kecil gelato dari Gelato Secrets. Satu cup kecil/cone terdiri dari dua varian rasa gelato yang bisa dipilih sendiri, tentunya bisa di coba terlebih dahulu dengan satu sendok kecil. Saya memilih satu cone kecil dengan dua rasa gelato yaitu chocolate dan charcoal seharga Rp 30.000,00. Satu porsi cukup membuat perut saya kenyang karena cone yang diberikan termasuk padat porsinya.

Pengunjung akan semakin padat ketika menjelang sore apalagi jam-jam menuju pulang kantor, hampir dipastikan akan susah untuk mendapatkan tempat duduk di sini. Tempat ini cocok untuk nongkrong lama karena tempatnya sangat comfy. Saya nongkrong makan gelato sekalian menulis draft blog post baru untuk blog yang sebenarnya sudah ada di buku jurnal saya. Kebetulan menjelang sore, cuaca cerah berganti dengan derasnya hujan di daerah Menteng. Area dalam ruangan langsung terasa ribut bukan hanya karena pengunjung namun karena bunyi air hujan yang jatuh dengan deras di atas sky light atap yang terbuat dari polycarbonate. Meskipun hal tersebut menyumbangkan suara ribut di dalam ruangan, pengunjung tetap bertahan dan melakukan aktivitas nongkrong mereka seperti biasa.

SAM_4823

METROPOLE 21, Cikini.

Menjelang jam makan malam, kami mendapat kabar bahwa kakak kami belum selesai urusan presentasi dan thesisnya. Kami memutuskan untuk mencari makanan berat sebagai makan malam di daerah Metropole 21. Setelah di renovasi menjadi lebih bagus memang Metropole 21 ini lebih banyak pengunjungnya karena sekarang tempatnya lebih bersih dan nyaman dibandingkan ketika jaman dulu hehehhe.

Kebetulan kami sampai di saat jam makan malam dan juga jam orang-orang kantoran pulang, jadi Metropole saat itu ramai sekali. Kami sempat tidak mendapatkan tempat duduk, baik di area dalam ataupun area luar, sampai mungkin sekitar 30 menit akhirnya kami dapat meja di bagian indoor. Kami sama-sama memesan satu porsi sate ayam dan lontong dengan harga Rp 25.000,00. Standard harga makanan di Metropole lumayan sih untuk pekerja kantoran yaitu kurang lebih start dari harga Rp 25.000,00 untuk makanannya.

Setelah kami selesai makan, kami memutuskan untuk nonton di Cinema 21 Metropole karena kabar dari kakak kami yang katanya baru akan selesai malam sekali hari itu. Ketika kami sedang pilih film bioskop, saya udah pesan duluan sama adik saya malam itu, “Jangan pilih film galau!”. Saya ga terlalu mood nonton film galau di bioskop hari itu. Pilihan kami akhirnya jatuh pada film Arrival yang merupakan film sci-fiction. Filmnya bagus menurut saya karena mengajarkan banyak hal, khususnya pentingnya arti komunikasi apalagi ketika menghadapi lawan bicara yang berbeda dimensi dengan kita, kalau dalam film sih lawan bicaranya Alien dari luar angkasa.

Sebelum jadwal film kami tayang, saya ga sengaja bertemu salah satu senior saya yang pernah satu kosan dengan saya disaat kuliah dulu. Ternyata kakak senior saya itu nonton film bersama suaminya sehabis pulang kerja, kebetulan kantor mereka dekat dengan Metropole 21. Saya sempat ga mengenali senior saya itu karena sekarang ia tambah gemuk dan sedang dalam keadaan hamil. Kakak senior saya itu nampak bahagia meski penampilannya berbeda dari terakhir kali saya bertemu dengannya ditambah dia sekarang sedang mengandung si buah hati, wow time flies so fast. Kami sempat mengobrol sebentar sampai akhirnya saya balik lagi ke tempat adik saya menunggu.

Selesai nonton film, saya dan adik saya menyusul kakak saya ke kampusnya. Ternyata abang ipar saya sudah ikut menunggu di kampus sekalian menemani kakak saya print tugas-tugasnya. Kakak saya selesai print sekitar tengah malam dan akhirnyaa saudara-saudara, kami pun pulang kerumah dengan saya yang bertugas sebagai supir. Sesampainya di rumah, saya dan adik saya tepar di kasur cuma kami senang sih meski capek nunggu berbuah jalan-jalan juga seharian ahahahha. Ternyata kadang sesuatu hal yang dadakan justru mengantarkan kita ke tempat-tempat yang tidak terduga. Padahal kalo direncanain biasanya malah sering banyak batalnya ahahahah. It’s really an unexpected day! but sure we really enjoy it. See you on my next post readers!

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

FOR MORE INFORMATION

Shophaus Menteng

Jl. Teuku Cik Ditiro No. 36

Everyday: 10am-10pm

t: +62 21 22393252

e: info@shophaus.id

w: www.shophaus.space

Metropole 21 Cikini

Kompleks Megaria

Jalan Pegangsaan No. 21

Jakarta Pusat

Let’s eat some pancake and waffle at Humming Bird

SAM_2689

Halo! Sebelumnya saya sudah pernah post di instagram tentang tempat makan pancake dan waffle favorite saya yaitu Humming Bird. Sebelumnya saya dulu ga sengaja nongkrong di tempat ini ketika jalan sama adek saya di kuncit. Pertama kali liat langsung tertarik sama interior restaurannya karena dominan kayu dan ada beberapa spot berbentuk sangkar yang berfungsi sebagai meja makan.

SAM_2677

Saya sempat search beberapa blog post tentang humming bird, ternyata humming bird juga ada di bandung dan cabang restauran ini di jakarta ada di Kuningan City. Humming Bird merupakan sebutan untuk burung kolibri yang bisa terbang maju mundur *cantik hehehe. Saya sempat search foto restauran Humming Bird yang di Bandung dan dekorasi dominan kayu serta bentuk spot meja makan berbentuk sangkar dari restauran ini telah menjadi ciri khas dari restauran Humming Bird itu sendiri.

Saya dan adek saya waktu itu cuma tertarik untuk mencoba menu pancake dan waffle yang banyak varian, saya belum coba menu yang lainnya. Pelayannya cukup ramah dan cukup memberikan alternatif pilihan pancake dan waffle yang jadi favorite di restauran ini. Pelayan juga memberikan info promo, atau diskon yang sedang berlangsung, jadi jangan ragu-ragu untuk banyak bertanya ke pelayannya.

Restaurant ini ramai ketika jam makan siang dimana para pegawai dari TAXA tower juga turun dan membuat ramai mall kuncit dalam sekejap dan kemudian jadi agak sepi ketika jam makan siang selesai. Mall kuncit memang termasuk mall yang lebih sepi dibandingkan mall daerah kuningan yang lain, bahkan ketika Sabtu Minggu pun mall ini tidak sepadat mall lain. Mall ini termasuk mall yang cocok untuk meeting atau untuk mengerjakan tugas/skripsi karena banyak coffee shop disini dan mall ini paling murah hati menyediakan banyak tempat duduk di beberapa spot mall.

Waffle dan pancake di restauran termasuk dalam ukuran yang cukup besar dan membuat perut kenyang serta variannya banyak. Saya sempat coba beberapa varian tetapi favorite saya yang sering saya pesan adalah Anna’s waffle dan Banoffe. Sebenarnya varian dessert bisa dipilih antara waffle, pancake atau crepes, favorite saya adalah waffle. Harga untuk pancake dan waffle sekitar 40-60ribu rupiah, untuk makanan lainnya mungkin sekitar 40-70ribu rupiah.

20160203_144154
ANNA’S WAFFLE
SAM_2685
BANOFEE WAFFLE
SAM_2686
BANOFEE WAFFLE

Saya betah dengan suasana restaurant dan spot meja makan berbentuk sangkar juga merupakan daya tarik tersendiri. Tidak perlu takut jika anda kesini untuk mengerjakan tugas/kerja dengan membawa laptop karena beberapa spot bangku disediakan lumayan banyak stop kontak. Saya pernah beberapa kali diskusi di restauran ini ketika sedang mengerjakan lomba design dengan rekan kerja saya ataupun menemani adik saya mengerjakan tugas kuliahnya dan spot kontak sangat membantu kami yang mengerjakan tugas/ kerjaan cukup lama dengan laptop.

SAM_2687

SAM_2680

SAM_2688

Saya cukup senang dengan restauran ini dari segi makanan, fasilitas stop kontak, dan spot berbentuk sangkar burung, dan pelayan-pelayannya yang ramah serta cukup memberikan banyak info dan penjelasan tentang restauran. Keadaan restauran hanya ramai di jam-jam tertentu dan tidak terlalu ramai di jam-jam berikutnya juga jadi nilai plus sendiri bagi yang memang ingin mencari tempat nongkrong agak sepi dengan pilihan makanan dessert yang enak.

 

Nama Restauran : Humming Bird Restaurant

Lokasi : Upper Ground Kuningan City 

Range harga : 40-70 ribu rupiah