BEBAS ANYANG-ANYANGAN BERSAMA PRIVE URI-CRAN PLUS

SAM_5830 resize

Bulan lalu saya bertemu dengan salah satu adek kelas saya di kuliah dulu. Kami memang sengaja janjian untuk bertemu hari itu. Banyak yang kami bahas pada hari itu, khususnya tentang kehidupan kami sekarang dan pekerjaan yang sedang kami geluti. Kami juga menyempatkan waktu untuk nonton di salah satu bioskop di Bekasi. Kebetulan ada film yang sedang saya ingin sekali tonton.

Perjalanan kami ke bioskop memang agak lama karena kemacetan ibu kota. Kalau jalanan sudah macet, mau ga mau saya harus nahan buang air kecil selama menyetir karena susah cari toilet umum di sekitar jalan. Saya juga termasuk orang yang pilih-pilih banget soal toilet umum karena kondisi toilet umum biasanya jorok dan airnya kotor. Saya lebih milih untuk menahan buang air kecil daripada harus buang air di toilet yang airnya tidak bersih.

Setelah kami sampai ke bioskop, kami sama-sama pergi ke toilet. Saya buru-buru ke toilet karena sudah lama menahan buang air kecil. Destiny (adek kelas saya) agak kaget ketika melihat saya balik lagi ke toilet dua kali padahal tadi dia baru saja melihat saya keluar dari toilet.

“Aku berasa pengen pipis terus deh Des tapi pasti keluarnya tuh dikit aja”

“Hoo..Tadi kak Mon nahan buang air kecil ya?”

“Iya Des, aku pikir nanggung jadi sekalian aja aku tahan.”

“Emang gitu kak kalau sering nahan jadi berasa kebelet terus”

Percakapan kami berlanjut tentang kebiasaan menahan buang air kecil. Saya termasuk yang sering menahan buang air kecil. Salah satu penyebab kenapa saya sering menahan buang air kecil karena kemacetan ibu kota terkait beberapa infrastruktur jalan dan transportasi sedang dibangun. Kebiasaan menahan buang air kecil lebih sering sekali terjadi tanpa saya sadari, karena saya sering menyetir sendiri ke arah Jakarta.

kemacetan Ibu Kota yang kadang membuat pengendara mobil menahan buang air kecil
kemacetan Ibu Kota yang kadang membuat pengendara mobil menahan buang air kecil

Awalnya saya menganggap enteng kebiasaan menahan buang air kecil namun lama kelamaan saya merasa ada yang aneh dengan frekuensi saya ke toilet. Saya sering merasa kebelet buang air kecil namun jumlah air seni yang dikeluarkan sedikit. Pernah juga saya merasa sakit ketika sedang buang air kecil karena saya sudah menahannya agak lama.

Ibu saya pernah bilang bahwa bisa jadi saya mengalami yang namanya gejala anyang-anyangan. Saya pikir ngak mungkin saya kena anyang-anyangan kan saya masih muda. Setau saya yang sering kena anyang-anyangan itu orang yang sudah tua karena saluran kencingnya tidak terlalu berfungsi dengan baik.

TENTANG ANYANG-ANYANGAN

Akibat penasaran tentang anyang-anyangan, akhirnya saya searching beberapa sumber untuk mengetahui tentang penyakit tersebut. Ternyata semua golongan usia bisa terkena resiko anyang-anyangan. Orang dewasa, anak-anak dan ibu hamil dapat terkena resiko mengalami anyang-anyangan. Bahkan dibanding pria, wanita lebih rentan mengalami infeksi saluran kemih. Salah satu gejala awal dari infeksi saluran kemih yang sering disebut anyang-anyangan ini ialah rasa buang air kecil terus menerus disertai nyeri dan tidak lancar.

Baca juga : Gejala Anyang-Anyangan yang Harus Anda Ketahui

PENYEBAB INFEKSI SALURAN KEMIH

Penyebab infeksi saluran kemih 80% karena adanya bakteri E-coli yang menempel pada dinding saluran kemih/kencing. Ada beberapa kebiasaan kita juga yang ternyata memicu penyebab sakit buang air kecil atau anyang-anyangan yang berlanjut sampai menjadi infeksi saluran kemih.

Berikut ini hal-hal lain yang memicu anyang-anyangan yaitu toilet yang tidak bersih, sering menahan buang air kecil, arah proses pembasuhan setelah BAB yang tidak benar, dan air untuk membasuh yang tidak bersih. Arah basuh dari belakang ke depan mengakibatkan bakteri E. Coli dapat keluar dari anus dan masuk ke saluran kencing. Bakteri inilah yang menyebabkan infeksi pada kandung kemih, jika tidak diobati maka bakteri ini dapat menginfeksi ginjal.

CARA MENGATASI ANYANG-ANYANGAN DAN PENCEGAHANNYA

Sebenarnya ketika gejala anyang-anyangan sudah berlanjut cukup lama, kita harus serba waspada dan segera memeriksakan diri ke dokter. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan melakukan pemeriksaan sample urin. Dokter akan memberikan antibiotik jika kita memang mengalami infeksi kandung kemih.

Sebelum gejala anyang-anyangan semakin berlanjut, sebaiknya kita berupaya juga untuk mencegah anyang-anyangan, toh lebih baik mencegah daripada mengobati. Kita juga bisa mencegah anyang-anyangan dengan kebiasaan kita yang lebih sehat. Beberapa tips yang bisa kita lakukan demi mencegah anyang-anyangan yaitu minum air putih cukup dalam sehari (8 gelas sehari), tidak menahan buang air kecil, memilih toilet yang bersih, membasuh dengan gerakan dari depan ke belakang.

Ada satu lagi cara untuk mencegah kita terkena anyang-anyangan yaitu dengan meminum minuman kesehatan Prive Uri-cran Plus. Apa sih Uri-cran Plus itu? Prive Uri-cran adalah minuman kesehatan dengan ekstrak Cranberry yang dapat mencegah anyang-anyangan. Buah Cranberry telah lama diteliti dan digunakan di Amerika karena efektif mencegah infeksi saluran kemih. Proantocyanidin (PAC) pada buah Cranberry dapat mencegah penempelan bakteri E-coli pada dinding sel epitel saluran kemih dan membuangnya bersama air kencing. Sangat disarankan mengkonsumsi 2 gelas (@150 ml) jus Cranberry per hari selama kurang lebih 10 hari.

Buah Cranberry sangat susah dijumpai di Indonesia, biasanya kalau pun ada, harganya tergolong mahal. Saya pernah mencari buah ini di Farmers Market dengan rumah saya, hasilnya nihil karena meski buah ini bisa di import, tidak semua swalayan menjual buah ini. Setelah membaca beberapa referensi tentang buah Cranberry, ternyata kita tidak perlu susah-susah lagi untuk mencari buah Cranberry. Buah ini bisa dinikmati dalam bentuk minuman kemasan yaitu Prive Uri-cran Plus yang dikeluarkan oleh Combiphar.

SAM_5839 resize

Beberapa hari sebelum hari raya Lebaran saya cukup rutin meminum Prive Uri-cran Plus sesudah makan. Prive Uri-cran Plus berbentuk seperti bubuk yang mudah larut dalam air putih. Saya biasanya melarutkan bubuk Prive Uri-cran Plus ini ke dalam air putih dingin supaya lebih terasa segar di mulut. Setelah melarutkan bubuk Prive Uri-cran Plus, air putih tersebut akan berubah warna menjadi larutan merah jambu yang siap di minum. Rasanya minuman Prive Uri-cran Plus mengingatkan saya pada minuman sachet  bubuk rasa buah yang sering saya minum waktu SD dulu. Rasa minuman kesehatan ini memang manis dan asam, namun rasanya masih pas di lidah saya.

Saya sedang membiasakan untuk tidak menahan buang air kecil terlalu lama. Saya juga rutin membawa tissue basah di tas supaya bisa saya pakai dalam kondisi darurat, ketika duduk wc tidak terlalu bersih atau air toilet kurang bersih. Hal yang masih sering saya lupakan yaitu meminum banyak air putih. Selama ini saya lebih sering melakukan aktivitas di lantai 2. Saya jadi malas untuk mengambil minum ke lantai 1 rumah. Kebiasaan ini telah membuat saya lupa minum banyak, karena terlalu sibuk beraktivitas di lantai atas, akhirnya saya membawa tempat minum dengan ukuran agak besar ke lantai 2 supaya saya tidak lupa untuk minum air putih.

SAM_5828 resize

Banyak orang mungkin menyepelekan menahan buang air kecil sama seperti menyepelekan lupa untuk minum air putih dengan kadar yang cukup, padahal hal-hal sepele seperti ini kalau dibiarkan bisa memicu penyakit berbahaya untuk tubuh. Saya mau membiasakan diri untuk rutin meminum Prive Uri-cran Plus supaya bisa mencegah penyakit anyang-anyangan karena minum air putih saja ternyata tidak cukup untuk mencegahnya. Selama tindakan mencegah tersebut masih menyenangkan seperti meminum larutan ekstrak buah Cranberry, saya pikir kenapa tidak 🙂 . Satu hal yang selalu saya ingat bahwa kesehatan itu sangat mahal harganya. Kamu bisa membeli Prive Uri-cran Plus di drug store terdekat salah satunya Guardian, dengan harga Rp 94.000,00 (1 kotak isi 15 sachet)See you on my next post readers!

NOTE

This is a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Sumber Inspirasi di Bulan Mei 2017

SAM_5557edit

Bagi yang mengikuti blog saya mungkin sadar bahwa sudah dua minggu lebih saya tidak mem-publish artikel di blog. Berkali-kali saya mencoba mengumpulkan mood untuk menulis namun hasilnya tetap saja saya sedang enggan untuk menulis atau membagikan sesuatu. Instagram juga sempat ga saya update karena mood saya masih turun. Meski tidak aktif di media social namun saya masih kadang online untuk update berita seperlunya saja. Saya memang tidak menetapkan target ambisius yang harus saya capai untuk blog ini karena alasan saya menulis itu bukan hanya sekedar karena uang atau ingin terkenal, kedua hal itu bonus bagi saya yang senang menulis.

Bulan ini memang mood saya naik turun drastis. Pertengahan bulan ini bahkan saya mengalami penurunan suasana hati yang cukup berat kalau saya bisa bilang. Saya ga mau melakukan segala sesuatu yang biasanya merupakan hal-hal yang antusias untuk saya kerjakan. Padahal awal bulan ini semangat saya lagi menyala sekali untuk post tulisan di blog blueskyandme. Tanpa sebab pertengahan bulan malah semangatnya menurun. Sampai akhirnya pada akhir bulan ini mood saya berangsur-angsur membaik, baru saya mulai update di blog dan instagram. Sepertinya mood labil saya terjadi karena kebetulan saya juga sedang datang bulan, jadi saya sempat merasa tidak enak badan beberapa hari ini.

PICK UP LIMES by Sadia Badiei.

Bulan ini saya lagi senang-senangnya menonton video youtube Pick Up Limes dari Sadia Badiei, seorang ahli diet dan nutrisi yang tinggal di Netherlands. Saya lupa bagaimana akhirnya saya sampai ke youtube chanel Sadia, padahal biasanya saya lebih sering menonton tutorial make up di youtube. Saya baru menonton beberapa video dari Sadia yang secara tidak langsung menarik perhatian saya karena fokus kepada food and healthy lifestyle. Menonton video youtube-nya juga membuat saya merasa nyaman dan positif.

Sejak sering jatuh sakit semasa saya masih kerja dulu, saya memang ingin fokus kepada kehidupan yang lebih sehat, bukan hanya sehat secara fisik namun juga sehat secara mental. Penyebab penyakit para pekerja di Ibu Kota ini mungkin lebih kepada stress, makanan tidak sehat, dan juga kebiasaan yang tidak sehat. Memang tinggal di sebuah Ibu Kota yang ramai dan sibuk memiliki nilai positif dan negatif tersendiri. Banyak yang bilang beban pekerja di Jakarta bukan hanya pada kerjaan mereka saja namun juga beban kemacetan yang di hadapi setiap harinya ketika berangkat dan pulang kantor. Saya yakin bahwa tubuh yang sehat dan mental yang sehat itu saling mendukung satu sama lain dan tidak bisa dipisahkan.

Selama menonton video Sadia Badiei, rasanya saya ingin langsung terbang ke Netherlands supaya bisa menikmati kehidupan tenang disana ahahaha. Hidup sehat dengan lingkungan yang nyaman memang merupakan impian saya dari dulu. Saya ingin sekali punya rumah kecil yang memang nyaman dan dekat dengan lingkungan yang hijau. Saya juga ingin bekerja dari rumah dengan pendapatan yang cukup untuk hidup, istilahnya kerja sendiri namun memiliki kondisi keuangan yang cukup stabil. Mungkin itu impian sebagian besar penduduk Jakarta, mengingat jalanan Jakarta makin hari makin menguji iman para pengendara kendaraan bermotor.

Sadia Badiei juga membagikan resep-resep masakan sehat di videonya namun harus saya akui beberapa bahan mungkin akan cukup susah di temui di Indonesia atau beberapa masakan mungkin tidak sesuai dengan selera lidah orang Indonesia hehehehe. Tips yang Sadia Badiei bagikan sangat bermamfaat bagi saya yang sering kembali ke kebiasaan buruk seperti menumpuk barang dan kepanikan. Hanya saja sudah beberapa lama ini Sadia belum update video lagi padahal saya nungguin video selanjutnya dari dia.

SAM_5643 edit

MEMORIES by Lang Leav

Beberapa hari lalu saya juga baru saja beli buku Memories karangan Lang Leav. Banyak yang membicarakan puisi Lang Leav melalui postingan di Facebook. Karena saya sempat baca beberapa postingan Lang Leav di Facebook dan Instagram, akhirnya saya membulatkan tekad untuk membeli bukunya yang berjudul Memories di Periplus Online. Bukunya sampai dengan cepat ke rumah saya dengan kemasan yang rapi dan aman.

Beberapa hari membaca kumpulan puisi dan prosa dari Lang Leav membuat saya ga bisa berhenti membacanya. Sebelumnya ada beberapa orang yang sudah mengulas buku ini di blog mereka dan merasa tidak cocok dengan gaya puisi Lang Leav. Memang namanya selera puisi setiap orang berbeda-beda ya, yang cocok untuk orang lain belum tentu cocok untuk kita. Ada yang suka dan ada juga yang merasa tidak suka dengan gaya puisi tersebut. Saya justru termasuk tipe yang suka dengan puisi puisi-nya Lang Lev yang simpel dan apa adanya. Buku ini menemani pagi saya dan juga menjadi teman menjelang saya tidur di malam hari.

Banyak juga yang bilang buku Lang Leav ini terlalu galau padahal ketika saya baca ga, saya ga merasa isi buku ini hanya tentang kegalauan aja, banyak juga lhoo puisi tentang melepaskan dan kehilangan. Kadang saya suka lucu sendiri sama orang-orang yang apa-apa suka bilang “jangan baper” dan yang apa-apa suka bilang “jangan galau”. Padahal ya namanya manusia pasti mengalami semua fase kehidupan dan bermacam-macam perasaan, kalau cuma mengalami satu perasaan saja bisa jadi dia bukan manusia, nah lhoo. Padahal yang baper dan galau kadang ga melakukan hal yang ganggu orang-orang tersebut kok. Kita kan ga tiba-tiba galau terus bakar rumah tetangga guyss *versi lebay.

Lagi pula seni dan bidang kreatif memang sangat erat kaitannya dengan perasaan, karena dari sana-lah biasanya sumber ide kreatif para seniman yang akhirnya dituangkan dalam bentuk karya seni indah. Jadi kadang saya suka geli-geli sendiri sih sama yang dikit-dikit nuduh orang baper dan dikit-dikit nuduh orang galau apalagi kalau sebabnya hanya karena baca buku puisi ahahahha. Karya seni memang untuk di nikmati dengan hati dan perasaan, kalau ga ya karya seni itu cuma jadi sesuatu yang ga bisa dinikmati orang-orang.

Dua hal ini lagi sering-seringnya saya tonton dan baca bulan ini. Dampak yang saya rasakan memang lebih positif dan tenang. Saya juga ga pernah menyangka kumpulan puisi sederhana yang dibaca tiap pagi dapat membuat saya menjadi sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Saya juga sempat merapikan kamar saya dan membuang beberapa barang yang ternyata sudah lama menumpuk di kamar. Saya sukses bersih-bersih tahap pertama karena nonton video Sadia Badei. Kalau kalian lagi sering nonton dan baca apa aja bulan ini? See you on my next post readers!

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

New Habit : Writing a Journal

SAM_4811

Tepat menjelang akhir tahun 2016 lalu, saya mulai membiasakan sebuah kebiasaan baru yaitu menulis jurnal baik untuk artikel di blog saya atau hanya untuk konsumsi pribadi. Saya memutuskan untuk mencoba kebiasaan baru ini setelah melihat postingan instagram Mbak Alodita. Waktu itu saya takut nulis jurnal, apalagi dalam bentuk tulisan. Ketakutan pertama saya adalah tulisan jurnal pribadi saya bisa dibaca-baca oleh banyak orang apalagi sangat bisa disebarluaskan atau di foto copy layaknya catatan pelajaran jaman SMA *tsaelaaahhh. Saya juga takut dengan reaksi orang-orang yang ga sengaja membaca jurnal saya, meski ga ada hal aneh sih yang saya tulis. Adik saya pernah ga sengaja lihat tulisan saya di jurnal yang selalu saya bawa-bawa, tapi reaksinya biasa aja bahkan kayak malas liat lagi karena tulisannya panjang-panjang bahkan ada bagian yang tulisannya kayak ceker ayam *lagiemosipasnulis.

Setelah saya ikut workshop How to Make Your Own Book dengan Mbak Lala Bohang, saya makin mantap untuk menulis jurnal. Saya belum sampai di titik mau pasang target untuk nerbitin sebuah buku, mungkin nanti ada target itu, tapi yang sekarang saya ingin usahakan yaitu menulis untuk blog dan untuk saya sendiri. Saya juga ingin lihat “does it works for me?” karena saya pikir tidak semua hal yang orang lain lakukan bisa cocok untuk kita lakukan. Itu sebabnya semua orang punya metode belajar yang sesuai bagi mereka masing-masing.

Sebagai seseorang yang aktif menulis di blog, tentunya saya pernah dalam kondisi yang bingung mau nulis apa. Pernah juga saya merasakan yang saya tulis lebih banyak tentang review event dan produk, sebenarnya sih ini ga salah hanya saja ada sisi kurang puas jika hanya menulis sesuatu yang memang harus kita lakukan hanya sebagai sebuah pekerjaan. Kendala yang sering timbul juga karena saya susah menemukan mood untuk menulis. Sering kali ketika saya baru menyalakan laptop dan ingin menulis, saya bingung mau nulis artikel apa hari ini di blog.

Ide memang terkadang muncul saat tidak di duga, ketika saya sedang di jalan atau ketika saya sedang hang out di mall. Ide pun kadang malu-malu keluar dan sembunyi ketika kita ingin mencurahkannya ke dalam sebuah bentuk tulisan. Memang ide itu mirip-mirip seperti gebetan, pas di kejar malah pergi eh pas lagi ga dikejar malah datang sukarela *jadicurcol. Sering kali jika tidak langsung dituangkan dalam bentuk tulisan, kita bisa mudah lupa untuk mengingatnya kembali.

Membiasakan untuk membawa jurnal kemana-mana ternyata membantu saya menulis banyak, bahkan belum pertengahan tahun ternyata isi jurnal saya udah berlembar-lembar. Saya sering ngeluh betapa susahnya untuk dapat inspirasi dan mood menulis, namun dengan membawa jurnal setiap hari telah membantu saya menulis apapun yang saat itu menginspirasi saya. Menulis jurnal juga membantu saya menghadapi pikiran saya yang sering overthinking, tentunya hal negatif dalam pikiran bisa saya keluarkan dalam bentuk kreatif seperti tulisan, doodle atau puisi singkat. Saya juga sempat berpikir kapan terakhir kali saya menulis manual di buku dengan jaman yang serba digital dimana buku kosong telah digantikan dengan sebuah layar laptop.

Selama saya menulis blog pun saya sering terjebak ingin punya tulisan seperti para blogger-blogger yang namanya sudah terkenal. Sampai di satu titik saya sadar bahwa saya ga akan pernah bisa jadi sama dengan mereka. Saya mulai beralih fokus untuk menemukan sisi terbaik dari diri, saya yang paling terbaik dari saya yang sebelum-sebelumnya bukan saya yang terbaik dari orang lain. Tuhan menciptakan kita itu unik setiap pribadi dengan jalannya masing-masing. Saya ingin pusing karena berusaha menemukan jalan saya sendiri bukan pusing karena saya tersesat di jalan milik orang lain.

Menulis jurnal juga bagian latihan saya untuk jujur terhadap diri saya sendiri. Dulu saya adalah tipe yang apa-apa gampang curhat bahkan curhatan yang sebenarnya ga perlu-perlu bangetlah orang lain tahu. Sekarang saya lebih banyak menahan semua hal agar saya bisa cerna terlebih dahulu. Saya masih cerita kok ke beberapa inner circle saya, namun dengan pertimbangan sangat matang kalau cerita itu cocok untuk dibagikan. Saya juga semakin sadar bahwa belum tentu kita siap dengan reaksi orang yang kita curhati, meski saya lagi belajar banget untuk tetap netral dengan reaksi-reaksi orang lain. Apalagi dengan saya suka sensi dan tipe yang emosinya bisa meledak sewaktu-waktu.

Saya juga sedang memperbaiki pengertian saya tentang sebuah content yang baik dan bermamfaat untuk sebuah blog. Apa yang sebenarnya generasi ini perlukan ditengah jaman yang serba cepat ini dan bukan hanya selalu menulis untuk hal yang sedang hangat-hangatnya booming. Apa yang bisa saya bagi dari hidup dan pengalaman saya untuk membantu orang lain meski hanya sekedar dalam bentuk tulisan. Saya yakin setiap penulis punya tujuan dan nilainya sendiri terkait dengan apa yang mereka tulis.

Menulis jurnal juga bisa menjadi kebiasaan sehat khususnya bagi orang dewasa yang sehari-harinya sibuk. Kalau saya bisa bilang dunia ini penuh dengan banyak suara mulai dari suara handphone, status di media sosial, suara berita, suara lingkungan sekitar yang pada akhirnya membuat saya sadar betapa ributnya tinggal di dunia serba digital. Bisa saja kita melupakan suara hati kita sendiri ditengah dunia yang ribut ini. Kita juga bisa jadi orang lain dan tidak benar-benar jadi diri kita sendiri. Itulah sebabnya menulis untuk diri sendiri sangat membantu bagi saya.

Awalnya saya pikir kebiasaan ini bertujuan agar saya bisa rajin nulis di blog tapi ternyata kebiasaan ini justru membawa mamfaat lain bahkan diluar apa yang saya bayangkan. Salah satunya membuat saya lebih bisa menyalurkan apa yang saya pikirkan baik yang negatif dan positif. Hidup sehat itu bukan hanya tentang tubuh yang sehat kan tapi juga tentang pikiran yang sehat. Kebiasaan ini juga membantu saya untuk lebih jujur dan menerima diri saya sendiri. Yes, this habit works for me. I guess everyone can try this healthy habit and see how it changes them 🙂

My Night Time Reading, The Book of Forbidden Feeling

ll2

Banyak orang bilang bahwa buku bisa menjadi teman yang baik kapan pun kita butuhkan. Saya masih ingat momen ketika saya sangat terhanyut dengan cerita yang sedang saya baca, seolah olah tiap kata, kalimat, gambar bisa terkoneksi dengan apa yang saya rasakan atau yang saya pernah alami. Saya juga menyenangi membaca buku dalam kesendirian, ketika berada di gerbong kereta yang sedang melaju, ketika berada sendirian di sebuah kedai kopi, atau ketika saya berada di kasur sebelum saya akan terlelap tidur di malam hari. Saya bisa bilang hal tersebut merupakan salah satu momen me time favorite saya.

Saya suka bagaimana sebuah buku membuka dirinya terlebih dahulu. Saya bisa membuka tiap halaman demi halaman, membaca tiap kalimat yang tertulis kemudian beberapa menit setelahnya saya sudah hanyut dengan cerita dari buku tersebut. Sering kali saya menemukan chemistry dengan apa yang diceritakan, seketika itu juga emosi saya bergejolak dan berusaha terkoneksi dengan apa yang baru saja saya baca. Kadang saya juga heran dengan cara sebuah buku bisa mengerti tentang luka, tangisan, benci, kebahagiaan, harapan, marah, dan sesuatu yang tidak saya ceritakan. Hal yang paling utama bagi saya yaitu saya bisa terkoneksi dengan semua emosi tersebut hanya melalui buku tanpa disertai respon langsung yang terkadang tidak perlu.

Ketika seorang Lala Bohang menerbitkan sebuah buku “The Book of Forbidden Feeling”, saya langsung mikir this  must be something. Sebenarnya saya sudah penasaran mulai dari postingan-postingan instagram yang mulai mempromosikan buku ini dan juga melalui instagram Mbak Lala sendiri yang membuat hint-hint tentang buku ini. Apalagi buku ini bukan hanya berisi tulisan namun juga berisi karya-karya Mbak Lala Bohang. Saya akhirnya beli buku “The Book of Forbidden Feeling” ketika saya menghadiri workshop Mbak Lala bulan Desember lalu, sekalian supaya saya bisa minta tanda tangan langsung dari penulisnya hehehe.

Saya langsung baca buku tersebut di gerbong kereta api, ketika saya dalam perjalanan pulang ke rumah. Buku ini membuat saya hanyut selama perjalanan. Beberapa halaman mengingatkan saya tentang apa yang pernah saya rasakan dan alami, mimpi, kenangan, kegagalan, dan hal remeh temeh yang tanpa sadar sebenarnya sering ada di pikiran saya namun tidak saya ungkapkan. Karena buku ini berisi tulisan dan gambar hitam putih khas Lala Bohang, setiap orang akan punya interpretasi dan koneksi yang berbeda pada buku ini. Saya terkoneksi dengan kata dan gambar yang sangat erat hubungan dengan pengalaman hidup saya serta apa yang saya rasakan sekarang.

Buku ini mengangkat hal yang selama ini mungkin sering kita tutupi namun kenyataannya tetap kita alami, emosi-emosi negatif yang tidak ditunjukkan ke permukaan, permikiran-pemikiran remeh yang sering kita pikiran namun tidak kita bicarakan bahkan ke teman terdekat kita sendiri. Pada akhirnya semua hal tersebut juga berperan membentuk kita menjadi pribadi seperti sekarang. Buku ini telah menjadi teman di saat saya sedih, galau, cemas, dan gagal tanpa perlu merespon kembali perasaan saya. Buku ini telah membuka dirinya dan membangun koneksi terhadap Forbidden Feeling yang saya miliki serta menyadarkan saya bahwa saya tidak sendirian. Saya menaruh buku ini di samping tempat tidur saya dan telah beberapa hari ini menjadi bacaan favorite saya sebelum tidur. Thank you Lala Bohang untuk buku “The Book of Forbidden Feeling” yang telah menjadi teman dimana saya bisa jujur dengan apa yang saya rasakan.

bbbbb2Humanity needs to be understood by looking within and befriending ourselves as she stated, “This book is meant to be a good friend, the one you can keep by your side, the one you can be honest with.”

Mia Maria, art curator and integrative health enthusiast.

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Semua Orang Berhak Menulis Bukunya Sendiri

SAM_4445

Saya pertama kali bertemu Mbak Lala Bohang itu ketika workshop Inkxiety yang di fasilitasi oleh Lingkaran.co. Saya ikut workshop tersebut karena tertarik dengan tema yang diangkat yaitu melepaskan emosi negatif dalam metode menggambar menggunakan tinta. Saat workshop itulah saya jatuh cinta dengan karya-karya mbak Lala dan pemikiran-pemikirannya. Metode Inkxiety masih saya terapkan sampai sekarang sebagai salah satu metode untuk melepaskan kecemasan saya dalam bentuk yang kreatif yaitu dengan menggambar.

Baca juga : My Anxiety Box and Me

Pertengahan Desember lalu saya juga mengikuti workshop mbak Lala Bohang lagi yang berlokasi di Museum Nasional atau sering disebut juga sebagai Museum Gajah. Saya memang mengambil kegiatan berbeda di weekend hari itu selain mengikuti event blogger. Memang tidak semua weekend saya habiskan dengan event dari komunitas blogger, bahkan sekarang saya lebih banyak menghabiskan weekend dengan me time, hang out dengan teman atau jalan dengan keluarga.

Kebetulan juga workshop ini sebagai salah satu rangkaian acara Festival Pembaca Indonesia yang sudah diselenggarakan tiap tahun sejak tahun 2010. Masih banyak workshop lain dengan tema berbeda yang diadakan selama sabtu dan minggu saat itu. Saya sampai merasa rugi karena telat mengetahui tentang acara ini padahal workshop lainnya tuh menarik untuk diikuti. Untungnya meski saya telat tahu tentang festival ini, saya ga telat daftar workshop “Make Your Own Book with What You Have and What You Can Do” bersama Lala Bohang karena saya dapat infonya dari akun Instagram Mbak Lala sendiri. Saya juga sudah dikirimkan konfirmasi via email oleh panitia dan disarankan untuk membawa bahan-bahan sendiri untuk buku yang akan saya buat seperti kolase, karya sendiri, alat lukis, foto dan macam-macam.

Saya naik kereta disambung gojek untuk ketempat acara hari itu. Sesampainya di Museum Nasional, saya kaget karena hari itu museum sedang ramai-ramainya dengan pengunjung. Karena saya lagi-lagi datang lebih awal, jadi saya punya banyak waktu luang sebelum jam workshop tersebut dimulai. Sembari menghabiskan waktu, saya jalan-jalan keliling museum. Hari itu juga ada les tari tradisional yang berlokasi di salah satu hall museum, jadi museum makin ramai dengan adanya alunan musik tradisional. Ternyata peserta tarinya banyak lho, mulai dari anak-anak sampai dewasa semuanya antusias belajar tari. Saya juga sempat mencari spot makan siang namun susah menemukan tempat makan di dalam museum dan disekitarnya. Karena rasa lapar yang tidak tertahankan lagi, akhirnya saya memutuskan makan makaroni panggang dan kue di sebuah cafe kecil yang terletak di pojok ruangan museum untuk mengganjal perut.

Acara workshop dimulai tepat waktu dan berlokasi di Auditorium Museum. Ruangan Auditoriumnya besar, cocok untuk menampung seminar/workshop dalam jumlah yang lumayan pesertanya. Saya sempat berkenalan dengan salah satu peserta workshop yang bernama Mbak Lia. Kami akhirnya pindah ke meja paling depan supaya bisa fokus mengikuti workshop hehehe :). Kebetulan peserta yang datang tidak seramai workshop jam sebelumnya namun bisa dikatakan cukup.

SAM_4442

TUJUAN DARI WORKSHOP “MAKE YOUR OWN BOOK”

Apa sih sebenarnya tujuan dari workshop ini? Workshop ini bertujuan untuk membantu kita membuat sebuah buku dengan ide-ide dan karya kita sendiri dalam bentuk yang kreatif. Workshop ini juga sebagai bagian dari kampanye buku mbak Lala Bohang yang berjudul “The Book of Forbidden Feeling”. Buku tersebut berisi curhatan, pikiran, ide dan karya-karya dari Mbak Lala sendiri. The Book of Forbidden Feeling memang berbeda dari buku pada umumnya namun buku ini laris lhoo di pasaran karena banyak peminatnya.

Mengapa judulnya “The Book of Forbidden Feeling”? Ide dari buku ini sebenarnya berasal dari pengamatan Mbak Lala sendiri terhadap generasi masa kini dan perilakunya yang timbul akibat maraknya media social dan pesatnya perkembangan technology. Banyak yang keliru dengan mengkategorikan emosi yang mereka pikir negatif seperti cemas, sedih, stress, galau, dan masih banyak lagi sebagai “Forbidden Feeling” atau emosi yang tidak layak ditampilkan. Tanggapan ini semakin kuat ketika media social bermunculan. Tanpa kita sadari media social membuat kita cenderung menyimpan emosi negatif tersebut dan hanya menampilkan emosi-emosi yang dianggap positif saja ke permukaan.

Mbak Lala ingin menekankan bahwa Forbidden Feeling itu ada, bahwa kita punya dan merasakan emosi negatif tersebut hanya saja kita tidak menampilkannya ke public. Forbidden Feeling itu real dan dapat dirasakan semua orang. Mbak Lala ingin menjadikan Forbidden Feeling sebagai topik yang dia angkat ke permukaan karena segala bentuk emosi tersebut telah membentuk kita menjadi pribadi seperti sekarang.

Pembuatan “The Book of Forbidden Feeling” ini cukup memakan banyak waktu. Mbak Lala sendiri sempat pesimis kalau bukunya tidak akan laku di pasaran. Ketika ide tentang buku ini muncul, Mbak Lala justru keep everything to herself, bahkan dia ga cerita-cerita ke teman-temannya karena takut tidak siap mendengar kritikan atau tanggapan dari mereka. Mbak Lala sadar bahwa tidak semua orang bisa dalam kondisi siap mendengar dan memahami ide serta pemikiran kita, begitu juga sebaliknya kita juga belum tentu dalam kondisi siap dengan kritik, tanggapan, serta respon orang lain. Dari situ Mbak Lala belajar untuk tetap jujur kepada dirinya sendiri, tentang pemikirannya dan ide-idenya, dan tetap keeps her ideas sampai matang serta siap dikirim ke penerbit. Hasilnya buku “The Book of Forbidden Feeling” justru mendapat tanggapan yang positif dari masyarakat.

SAM_4450HOW TO MAKE YOUR OWN BOOK

Sebelum memulai sesi, tentunya saya dan peserta lain sudah mempersiapkan bahan-bahan yang kami bawa. Saya bawa gambar doodling-doodling yang saya buat, majalah lama, dan alat gambar lainnya. Saya juga melihat peserta lain ada yang membawa foto dan karya sendiri.

MEDITASI

Kami juga melakukan meditasi sebelum benar-benar memulai sesi workshop ini. Meditasi berguna untuk menenangkan pikiran agar pikiran kita lebih fokus. Cara meditasi cukup mudah, yaitu dengan memejamkan mata dan mencoba rileks sambil mengatur ritme pernafasan. Kita diharapkan fokus ke pengaturan nafas kita agar lebih teratur. Efek setelah melakukan meditasi memang saya lebih merasa tenang dan pikiran jadi lebih terarah dibanding sebelumnya, ketika saya pertama kali masuk ke ruang auditorium. Setelah selesai dengan meditasi, kami melanjutkan dengan langkah “Make Your Own Book with What You Have and What You Can Do”.

FIND YOUR VOICE OR IDEA

Temukan apa yang ingin kamu suarakan dan yang ingin kamu angkat ke permukaan. Ide apa yang ingin kamu ungkapkan? Apakah memori yang sangat berkesan bagimu? Perasaan-perasaan yang dipendam? Setiap orang punya idenya masing-masing ntah ingin mengungkapkan tentang impian yang belum terwujud, atau perasaan yang selama ini hanya disimpan sendiri. Pada tahap ini kita bebas untuk mengambil ide yang ingin kita munculkan karena kembali lagi buku ini buku kita sendiri lhoo bukan buku orang lain :).

FIND THE SHAPE OF YOUR OWN VOICE/IDEA

Dalam bentuk apa ide itu akan dikeluarkan? Apakah dalam bentuk kolase? apakah dalam bentuk foto koleksi pribadi? apakah dalam bentuk gambar? Apa dalam bentuk puisi? Atau dalam bentuk pesan singkat di whatsaap? Setiap peserta bebas untuk memilih bentuk visual apa yang mengungkapkan ide mereka masing-masing.

KEEP IT TO YOURSELF!

Warning! this is your personal book! You better be careful to share it!  Tidak semua orang siap mendengar ide dan pemikiran-pemikiran kita, begitu juga sebaliknya tidak semua kritik dan tanggapan orang siap kita dengar. No matter what happened, appreciate your though and your idea!

STICK TO YOUR TIMELINE

Buat timeline dan jadwal apa saja yang akan kamu buat dan lakukan untuk pembuatan buku personalmu. Sediakan waktu dan tetap disiplin menuruti jadwal yang sudah dibuat.

LESS HANG OUT, EXPENSES, INTERNET

Kurangi waktu bermalas-malasan atau hal-hal yang membuat jadwal pembuatan buku tertunda.

DO IT NOW! (NOBODY CAN DO IT FOR YOU)

Jangan takut untuk memulainya, jangan tunda untuk melakukannya, mulai saja sekarang. Tidak akan ada yang bisa membuat buku tersebut kecuali dirimu karena hanya kamu yang mengerti ide-ide yang akan kamu keluarkan dalam bentuk sebuah buku.

SAM_4454AFTER WORKSHOP

Para peserta sudah diberikan beberapa lembar foto kopian alur outline membuat buku personal mereka sebelum workshop dimulai yaitu berupa halaman sampul depan dan belakang kosong yang harus kita isi sendiri. Kita diberi kesempatan seperti apa bentuk sampul depan dan belakang buku kita jika seandainya sudah terbit. Kami juga diberikan kertas berupa guideline untuk menjabarkan ide yang kami pilih untuk buku personal kami. I really enjoy this workshop so much!

Setelah sesi workshop selesai, para peserta bisa minta tanda tangan langsung dan foto bersama Mbak Lala Bohang di lantai bawah tempat berlangsungnya bazaar buku dari Festival Pembaca Indonesia. Kondisi Bazaar cukup ramai dengan beberapa stand yang sudah berjejer dan siap untuk dkunjungi. Ada talkshow juga yang diadakan selama bazaar tersebut berlangsung.

Saya ga menyia-nyiakan waktu untuk foto dan minta tanda tangan ke Mbak Lala Bohang. Saya juga senang karena Mbak Lala ternyata masih ingat dengan saya padahal saya ikut workshop Inxiety itu udah lumayan lama meskipun doi udah lupa nama saya hehehe. Pas dia tahu nama saya Monalisa, Mbak Lala langsung bilang “nama kamu statement banget ya”. Kalau dipikir-pikir nama saya termasuk nama yang jarang digunakan meskipun kenyataannya ya ada-ada aja pasti yang pakai, cuma setiap kali dengar nama Monalisa pasti orang langsung teringat lukisan Monalisa.

SAM_4458WHAT I LEARN FROM THIS WORKSHOP

I do have my own personal book after this workshop. Saya jadi sering nulis ntah itu quotes, puisi, doodling, coretan atau apapun yang mengambarkan Forbidden Feeling versi saya. Terkadang gambar, puisi, dan kata-kata tersebut hanya saya yang mengerti, tentu saja karena itu my own personal book dan my own Forbidden Feeling. Hal-hal sangat personal tentu tidak saya share ke siapa-siapa apalagi ke publik karena hal tersebut murni untuk konsumsi pribadi saya.

Menurut saya semua orang berhak punya personal book-nya untuk mengungkapkan berbagai Forbidden Feeling dalam bentuk yang kreatif. Metode ini sudah menjadi sebuah terapi kecil bagi saya. Banyak letupan-letupan pertanyaan kecil yang bermunculan di benak saya setelah melewati wokrshop ini. Kapan terakhir kali saya berdiam hanya untuk mendengarkan keinginan saya, mendengarkan isi hati saya yang paling dalam, mengekpresikan apa yang saya rasakan daripada harus berekpresi seperti apa yang lingkungan saya mau. Kapan terakhir kali saya merasa nyaman dengan pemikiran-pemikiran saya tanpa perlu saya umbar ke banyak orang dan tanpa perlu intervensi dari orang lain? Kapan terakhir kali saya merasakan semua emosi negatif dalam diri saya tanpa perlu orang lain melihat dan men-judge sesuka hati mereka? Kapan terakhir kali saya benar-benar jujur dengan diri saya?

Workshop ini membawa saya ke banyak pertanyaan yang pada akhirnya saya temukan sendiri jawabannya bahwa Forbidden Feeling itu ada, bahwa emosi negatif bukanlah sesuatu yang perlu kita acuhkan dan jauhi, bahwa jujur terhadap diri sendiri adalah yang terbaik, bahwa emosi-emosi tersebut adalah kepunyaan saya, bahwa suara saya perlu saya dengar, bahwa hidup tidaklah sesempurna media social, dan bahwa semua orang berhak untuk menuliskan bukunya sendiri :).

Special Thank to Lala Bohang dan Festival Pembaca Indonesia.

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Live in the Moment

photo by maria from unsplash.com
photo by maria from unsplash.com

Semakin menjelang akhir tahun sebenarnya saya semakin takut. Saya tuh sebenarnya takut dengan yang namanya perubahan dan ntah kenapa saya lebih gampang cemas ketika saya semakin mendekati perubahan tersebut. Saya baru sadar bahwa waktu cepat banget berlalu, hanya sebentar lagi kita akan mengakhiri tahun ini. Saya juga sadar ga banyak yang saya lakukan di tahun ini, harus saya akui justru lebih banyak ketakutannya.

Di tahun-tahun sebelumnya, saya lebih excited menyambut pergantian tahun, karena di bulan Desember saya merayakan dua hari penting, yaitu ulang tahun saya dan natal. Ntah mengapa sekarang saya malah takut menghadapi bulan-bulan terakhir pergantian tahun ini. Mungkin ada sisi ketidakpuasan dalam hidup di tahun ini sehingga saya lebih cenderung tidak excited lagi. Tahun ini pun jadi salah satu pergumulan berat saya yang tidak bisa saya ceritakan di blog ini.

Ada banyak perubahan memang di tahun ini khususnya ketika saya lebih banyak menjalani aktivitas sebagai blogger. Selama saya aktif di komunitas blogger dan ikut event, banyak ilmu dan barang yang saya dapat. Saya juga sudah berani ikut lomba artikel di tahun ini yang menurut saya salah satu kemajuan, mengingat saya cukup malas ikut lomba. Saya juga tidak terlalu pusing dengan masalah skin care dan make up karena kebutuhan saya lebih tercukupi, malah saya jadi mengurangi membeli make up dan skincare karena persediaannya masih banyak. Penawaran-penawaran kerja sama juga sudah mulai muncul di email saya meski dalam jumlah yang bisa dibilang sedikit.

Photo by sunset girl from unsplash.com
Photo by sunset girl from unsplash.com

Fokus dan Ambisi serta banyaknya pelarian

Waktu dulu saya punya banyak fokus, khususnya dalam hubungan asmara saya ingin serius dan awet sampai saya menikah, ibaratnya saya bukan tipe tebar jala, ya sekali saya sreg ya cuma sama satu orang itu aja bukan sama beberapa ikan yang tertangkap di jala hehehe, maklum saya mungkin tipe tradisional yang memancing ikan di laut dengan pancing biasa *jadiberasapromosi. Makanya saya sebenarnya rada bingung sama orang yang cepat banget gonta ganti pacar bahkan yang sampai ngeduain atau bahkan mentigakan orang ketika pacaran. Saya sampai mikir itu gmana rasanya ya suka sama orang sekali banyak begitu. Kalo kata partner kerja saya sih mungkin definisi cinta mereka berbeda, pas kalimat ini keluar dari mulut K (partner kerja), sejenak saya baru sadar bahwa yang jomblo itu memang lebih bijak ahahahha*aseekkk *karenacobaanhidupnyalebihbanyak.

Namun ketika impian saya dalam relationship itu gagal, saya cenderung berganti fokus kepada karir dan pekerjaan. Saya sempat mengalami masa frustasi dengan bekerja terus-terusan, kelihatannya sih rajin tapi sebenarnya itu adalah pelarian saya dari rasa frustasi saya selama ini, work until you’ll no longer feel anyhting. Saya ga sadar bahwa itu salah satu cara pelampiasan yang ternyata menyiksa diri saya sendiri. Saya ingin fokus saja dalam karir, seengaknya karir saya berhasil diatas kegagalan-kegagalan saya yang lain. Sampai akhirnya saya pun jatuh sakit.

Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Matius 6 : 25-34)

Setelah saya menjadi Blogger, fokus saya juga berubah, saya ingin seperti ini itu ini ya sama aja sih saya sempat ingin jadi wanita ambisius lagi dengan target dan impian-impian saya yang dulu banyak gagal. Saya juga excited ikut event dari berbagai komunitas untuk nambah ilmu dan melatih diri saya untuk lebih pede lagi. Tanpa saya sadari sebagai beauty and lifestyle blogger, saya rentan terjebak dalam fokus hidup yang berorientasi pada barang, I know it’s easy to maintain stuff than to maintain a relationship or people. Saya juga mengurangi waktu saya berinteraksi dengan orang-orang, saya ga mau lagi dikit-dikit curhat, dikit-dikit bergantung sama orang lain, saya ga mau di cap needy atau di cap ga bisa apa-apa. That’s why I end up focus on stuff rather build relationship with people. Sampai akhirnya karena sempat capek ikut banyak event, saya jadi pilih-pilih jadwal event supaya saya juga punya me time dan waktu dengan keluarga serta sahabat-sahabat saya. Efek buruknya ketika fokus saya lebih ke pada barang ntah mengapa saya juga lebih cepat bosan dan merasa sepi. Saya sadar sih apapun fokus kita sebagai manusia kita ga akan pernah puas.

Dengan begitu banyaknya fokus yang berganti-ganti, saya sampai di titik dimana saya sendiri nanya sama diri saya “sebenarnya value saya itu apa sih?” karena selama ini saya lebih banyak merasa gagal baik dalam karir, dalam hubungan dan dalam apa pun yang saya kerjakan. Sampai akhirnya saya saya sadar bahwa value saya tidak bergantung dari prestasi, relationship dan barang. Saya berpikir seolah-olah ketika saya mencapai sesuatu saya barulah mempunyai value, lalu apakah ketika saya gagal kemudian saya ga punya value lagi? Capek dong kalo kita beranggapan kita baru mempunyai nilai jika kita berprestasi. Bisa dibilang pemikiran saya ini ada pengaruhnya dengan didikan orang tua saya dulu. Kalau saya ga berprestasi ya orang tua saya ga akan bangga dan memuji saya, saya ga akan dibanggakan seperti saudara saya yang lain meski segala pemikiran saya itu berubah ketika akhirnya saya mengenal Tuhan dan semakin mendalami kekristenan. Tanpa saya sadari pemikiran itu masih terbawa sampai saya tumbuh dewasa. Generasi orang tua saya mungkin generasi dimana IQ itu diagung-agungkan sehingga when you don’t have any kind of achievement that’s mean you are nothing. Saya berharap nanti saya ga menanamkan prinsip ini pada anak saya dan lebih menanamkan kebahagiaan dalam berkarya serta seni menikmati hidup.

photo by annie spratt from unsplash.com
photo by annie spratt from unsplash.com

Menghargai diri sendiri dan lebih menikmati momen

What I learn now is to live in the moment and don’t force myself to get that “bling bling” achievement. Terlalu fokus pada karir, relationship, dan barang kadang hanya menghilangkan kenikmatan pada momen hari ini dan sekarang. Kita tidak perlu seuatu hal yang hebat untuk menyatakan diri kita bernilai. Inget lho smua hal dalam hidup ini hanyalah titipan Tuhan yang sewaktu-waktu bisa Ia ambil dan hancurkan. We are valuable because we are God’s masterpiece not because of many  achievements that we got.

I praise You because I am fearfully and wonderfully made; Your works are wonderful, I know that full well. (Psalm 139 : 14 NIV)

Akhir kata, saya menulis ini sebagai reminder bagi saya sendiri tentunya bahwa saya tetap bernilai bahkan tanpa artribut-atribut yang orang dunia pikir hebat. Saya tidak bilang berprestasi itu ga penting namun bukan hanya karena itu saja kita menilai diri kita berharga. Di saat saya tidak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa saya malah baru mulai mengerti nilai saya yang sebenarnya. Bahkan terlalu fokus untuk menggapai sesuatu pun menghilangkan niat saya untuk menikmati proses dan momen, seolah-olah saya menunda untuk menjadi bahagia padahal hidup untuk hari ini pun adalah sebuah anugerah.

Saya menulis ini juga untuk orang-orang yang merasa hidupnya belum berharga ketika pencapaiannya belum terpenuhi. Please don’t postpone your happiness, live in the moment, live in now. Hidup bukan hanya tentang hal-hal besar, namun hal-hal kecil pun bagian dari hidup yang harus kita nikmati dan syukuri. Saya juga berharap tahun depan ada harapan-harapan baru dan juga keberanian baru bagi saya untuk melangkah lagi tanpa lupa untuk menikmati hidup. Saya juga berharap supaya tahun depan saya lebih tahu mau kemana dan menikmati setiap perjalanannya. See you on my next post readers!

“Live Today! Do not allow your spirit to be softened of your happiness to be limited by a day you cannot have back or a day that does not yet exist.”― Steve Maraboli

A Road To Healthy Mind and Life

Photo by Grzegorz Mleczek from unsplash.com
Photo by Grzegorz Mleczek from unsplash.com

Butuh keberanian bagi saya untuk menuliskan artikel ini di blog karena saya punya banyak pertimbangan ketika akhirnya saya memutuskan untuk menceritakan sesuatu apalagi menyangkut pengalaman pribadi dan hidup saya. Mengapa saya perlu pertimbangan masak-masak? Karena media sosial sebenarnya bukanlah tempat yang baik untuk sepenuhnya curhat segamblang-gamblangnya tentang masalah hidup kita. Bisa -bisa kita malah di gosipin oleh banyak orang hehehe.

Pertimbangan saya mensharingkan pengalaman saya ini adalah mana tau ada yang membutuhkannya. Kita tidak pernah tahu apa yang kita share bisa memberkati orang-orang dengan masalah yang sama. Seperti saya yang juga sangat terberkati oleh blog post dari pengalaman hidup orang lain. Saya juga ingin paling tidak blog post ini bisa membantu orang yang memang benar-benar membutuhkan.

Berawal dari kecemasan yang makin tidak wajar, saya mulai bertanya-tanya tentang diri saya. Kecemasan yang tidak wajar itu pun semakin mempengaruhi saya mulai dari semangat saya yang turun dan juga turunnya minat saya untuk bersosialisasi. Memang saya sempat mengalami kejadian yang cukup traumatik bagi saya sebelumnya. Awalnya saya sih cuek toh semua orang dewasa pun mengalami hal dimana susah mempunyai waktu luang untuk sekedar santai karena kerjaan. Sampai suatu ketika saya jadi sering insomnia dan kejadian itu makin sering terjadi sampai berdampak keletihan bagi diri saya.

Saat itu saya bingung dengan diri saya, semakin saya curhat ke orang lain yang saya temukan cuma kata-kata “kamu kurang beriman kali, kurang berdoa, ahh lebay banget sih kamu semua orang juga ngalamin kok, ada lho yang posisinya lebih buruk dari kamu..” dan sebagainya dan sebagainya namun perlu di garis bawahi tidak ada yang salah dalam aktivitas saat teduh (berdoa dan membaca Alkitab) saya, aktivitas ke gereja saya tiap minggu, namun saya makin merasa cemas, takut dan makin kosong. Saya juga malas cerita ke orang dan bersosialisasi karena toh ujung-ujungnya kalimat itu-itu lagi yang keluar.

Ketika sedang cerita via LINE dengan salah satu senior saya yang sekarang bekerja di Singapur tentang kondisi saya, beliau langsung memberikan kontak nomor Psikolog yang merupakan kenalannya. Awalnya saya ragu, “masa sih saya harus ke Psikolog? mental tempe banget dong saya” begitu pikir saya secara mind set orang Indonesia ketika kita ke psikolog berarti kita mengalami gangguan jiwa alias gila atau lemah mental alias mental tempe. Namun saya pikir tidak ada salahnya saya coba konsultasi via email terlebih dahulu daripada saya kebingungan sendiri.

Sebenarnya konsultasi ke psikolog via email sama seperti konsultasi ke dokter. Saya menceritakan kondisi saya akhir-akhir ini, kecemasan saya, dan sebagainya tentunya sesuatu yang sangat privasi di bahas. Psikolog pun menanyakan beberapa hal semakin dalam dan akhirnya berujung konsultasi via LINE supaya lebih mudah bagi saya untuk update kondisi saya ke Psikolog tersebut. Karena tempat praktek psikolog tersebut jauh dari lokasi saya, saya disarankan konsultasi ke rumah sakit terdekat. Bedanya konsultasi dengan psikolog di Rumah Sakit yaitu saya di suruh menceritakan keluhan saya dan juga disuruh tes menggambar. Setelah itu baru Psikolognya menceritakan kesimpulan yang ia dapat dari tes dan wawancara serta menawari saya untuk terapi agar dapat mengatasi kecemasan berlebih saya.

Saya tetap konsultasi dengan psikolog saya yang pertama via LINE meski saya mengikuti terapi di Rumah Sakit terdekat. Psikolog saya yang pertama beda umurnya hanya dua tahun lebih tua dari saya dan sama-sama perempuan jadi saya merasa lebih bisa terbuka dan gamblang menceritakan masalah saya mulai dari keluarga, karir dan asmara hehehe. Sampai sekarang saya masih sering konsultasi dengan psikolog saya via LINE meski tidak sesering dulu. Apa sih sebenarnya yang saya rasakan ketika saya konsultasi ke Psikolog?

ADA RASA AMAN dan DIMENGERTI

Psikolog membantu pasien untuk menangani masalah dalam hidupnya, jadi kembali lagi motivasi dari kitalah untuk sehat secara pikiran yang menentukan kita mau berubah atau tidak. Secara psikolog sudah sering menangani yang aneh-aneh dan memang tugasnya menangani masalah kejiwaan dan pikiran, tentunya saya jadi punya tempat curhat yang lebih mengerti saya, dibandingkan ketika saya curhat ke orang lain karena sekali lagi, masih banyak yang awam soal mental disorder dan berpikiran sempit bahwa mental disorder artinya gila padahal mental disorder itu banyak dan tidak mudah terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

ADA BANTUAN dari TENAGA AHLI

Dari segala komentar dan tanggapan yang diberikan orang yang saya curhati, sedikit yang membesarkan hati saya sisanya saya ga kuat dengan responnya, malah bikin saya down. Saya cuma bisa maklum dan berbesar hati bahwa tidak semua orang dalam kondisi siap untuk mendengarkan curhatan, toh semua orang punya masalahnya masing-masing. Sejak saya sering curhat ke Psikolog, saya selalu ditanggapi dengan netral tanpa di-judge karena secara profesional hubungan kami adalah pasien dan tenaga ahli medis. Saya merasa mendapat bantuan yang tadinya saya kira tidak akan saya dapatkan.

MENJADI LEBIH MENGERTI tentang DIRI SAYA LEBIH LAGI

Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan dari psikolog saya lebih mengarahkan saya untuk menemukan titik permasalahan dan membantu saya menemukan solusinya. Awalnya saya kesal, kok dari kemarin saya ditanya terus tanpa ada keterangan saya tuh sebenernya kenapaa gitu lhoo #jadikeselsendiri. Ibarat saya udah kirim sinyal sinyal tapi ga ditembak-tembak #duhjadibaper #tobatmontobattt #inibukancurhatcintaaamoon ahhahaha. Sampai suatu waktu saya sadar makin lama pertanyaan tersebut mengarahkan saya untuk bertanya kembali kepada diri saya sendiri, apa yang saya rasakan, kenapa saya cemas, kenapa saya tidak pernah puas dengan hubungan saya dengan orang lain dan sebagainya. Pertanyaan tersebut juga membawa saya kepada trauma-trauma lama dan kekecewaan yang membuat saya lebih semakin mengerti tentang masalah saya dan diri saya sendiri.

Trus sekarang gimana? Apakah saya sudah sembuh dan happy lagi? Ya ngak juga, tetapi semakin membaik iya, daripada sebelumnya ketika saya menutup diri. Tidak semudah itu menghadapi masa-masa down dalam hidup saya, bukan semudah ketika kamu sakit terus minum obat lalu beberapa hari kemudian kamu sembuh. Mental Disorder itu banyak dan faktor yang menyebabkannya juga banyak mulai dari keturunan, ada sesuatu yang berbeda dengan saraf otak si penderita, lingkungan, trauma dan berbagai macam faktor lain yang sampai sekarang pun masih diteliti. Jadi tidak begitu kamu ke psikolog terus sehari setelahnya kamu langsung tahu penyebabnya dan langsung berubah #kayakksatriabajahitam. Sampai hari ini saya masih berjuang menghadapi masa down saya dan ketika panic attack itu menyerang atau kambuh.

Perbedaannya, sekarang saya lebih bisa menerima hal tersebut sebagai bagian dari diri saya, menerima bahwa saya tidak sempurna karena saya manusia, saya juga tidak bertanya mengapa lagi, karena Tuhan pasti tahu mengapa Ia ijinkan saya mengalami semua ini. Saya juga ngak kaget dan sibuk mengomentari orang yang akhirnya bunuh diri atau stress parah, karena saya tahu semua manusia punya pergumulannya sendiri-sendiri, saya tahu bagaimana pikiran buruk bisa sebegitu mengerogotinya sampai kamu mau lari dari hidup. Saya jadi mengerti mengapa ada anak yang sampai ogah untuk kuliah atau yang kabur-kaburan skripsinya karena ga punya semangat lagi. Lagipula siapa saya sok berkomentar seolah hidup saya sudah perfect dan jadi panutan? Saya juga lebih bisa mendengarkan ketika teman saya curhat tentang masalahnya apalagi yang berhubungan dengan kondisi mentalnya karena hal tersebut sangat dekat dengan keadaan saya.

Saya pernah mikir dulu kenapa saya harus mengalami semua ini padahal dulu saya gak pernah down separah ini, kalau cemas sih iya dulu, bahkan soal nilai saya turun, saya cemas banget. Coba bayangin kalau saya sukses, karir saya bagus, IP saya tinggi, gaji saya gede, boro-boro saya mau dengar masalah hidup teman saya, paling saya cuma komentar seadanya karena saya ngak pernah ngalamin itu, saya juga ga bisa merasakan empati untuk teman saya itu. Saya sadar bahwa saya lebih bisa membantu orang lain ketika saya pernah mengalami hal ini daripada jika saya hanya sekedar sukses.

Saya juga sadar bahwa hati dan pikiran yang sehat lebih penting daripada sekedar jabatan dan kesuksesan, fokus saya tidak lagi pada pencapaian yang wah namun lebih bersyukur akan hidup dan tentunya untuk lebih merasa bahagia dan damai. Saya lebih mengerti arti sehat dari dalam dan luar meski saya akui hidup sehat itu susah. Banyak hal mengalihkan saya dari tujuan saya untuk hidup sehat, hal itu bisa jadi kerjaan saya, lingkungan, atau mungkin pikiran saya sendiri.

Trus apa sih yang harus dilakukan kepada orang-orang yang punya masalah seperti ini? Menerima dan lebih banyak mendengar. Jangan menganggap sepele apa yang mereka rasakan dan ceritakan, karena kamu tidak mengalaminya. Jangan buru-buru memintanya berubah, mengalaminya dan mengusir pikiran tersebut saja mungkin sudah perjuangan bagi mereka. Jika memang orang tersebut menunjukkan tanda yang sudah mulai parah dan berusaha melukai dirinya, bujuklah untuk menemui psikolog kalau perlu ditemani, dan katakan padanya bahwa tidak apa-apa untuk berkonsultasi ke psikolog, hal itu bukan berarti mereka gila, it’s okay to ask for help. Jangan mendiskriminasi orang-orang yang mengalami hal ini, bahkan banyak dari mereka termasuk orang yang cerdas dan rajin bekerja.

Jika kamu yang membaca post ini sedang mengalami hal-hal seperti merasa down tanpa sebab, cemas berlebih, susah tidur, dan hal tersebut telah terjadi berlarut-larut atau bahkan mulai memikirkan hal-hal untuk melukai diri sendiri, please don’t do that :”(…saya harap kamu segera menceritakan hal tersebut kepada sahabat yang kamu percayai atau keluargamu. It’s okay to ask for help, there is no need to be ashamed of it. Jangan takut untuk berkonsultasi ke psikolog karena apa yang kamu alami termasuk dalam kondisi medis. Tidak perlu merasa sendiri atau minder karena di luar sana banyak yang mengalami hal semacam itu :).

Akhir kata, saya menulis ini bukan untuk di kasihani, NO!, toh saya kok yang berjuang menghadapi pergumulan saya sendiri. Saya juga tidak menulis ini untuk mencari perhatian alias caper, I already got what I need, God, my family and my close friends who always support me. Saya hanya berharap artikel ini bermamfaat bagi yang juga kebingungan dengan masalahnya dan tidak tahu ingin cerita kepada siapa, agar mereka mulai lebih terbuka dan tidak menutup diri kepada keluarga dan orang terdekat, apalagi mengambil jalan pintas untuk melukai dirinya sendiri. Tulisan ini juga sebagai reminder agar orang lain mulai care dengan orang-orang sekelilingnya yang terlihat mengalami hal-hal yang sudah saya sebutkan di atas. Mental disorder itu ada dan bukan berarti orang yang menderitanya gila, banyak dari mereka terlihat menjalani hidup seperti biasa namun menyimpan pergumulannya sendiri, hal tersebut pun tidak selalu bisa dikaitkan dengan keimanan seseorang.

And please don’t talk about how weak they are, if you can help them why not? Why criticize them while you can help them? Please be wise and think twice when you want to criticize someone about how weak they are. Be human with a great heart not a human with a great brain but has a numb heart.

Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis (Roma 12 : 15)

What I learn from Negative Emotions

photo-1441935687025-5101154c6eca
Photo by Aaron Burden. Image Source : https://unsplash.com/photos/rP1sy-UPAGE

Ketika saya masih kecil, menangis di depan umum bukanlah pilihan yang baik bagi saya. Ketika saya berlaku nakal dan di pukul, Ibu saya pun makin menyuruh saya untuk tidak menangis. Entah mengapa hal tersebut masih membekas di dalam ingatan saya, seolah-olah menangis adalah sesuatu yang dilakukan oleh orang yang lemah dan cengeng padahal hal tersebut tidak dapat langsung dikategorikan seperti itu.

Semakin dewasa tentu tentu saya semakin jarang nangis di depan umum bahkan mungkin ga pernah, yaiyalah selain malu adanya malah ditatap heran dan aneh sama orang-orang sekitar. Saya juga sebenarnya bukan tipe yang suka marah-marah di depan umum, namun jika saya marah , saya pastikan hal tersebut memang sudah diluar batas tolerir saya terhadap kelakukan yang menurut saya kurang ajar. Jika saya tidak suka dengan seseorang ya saya diem saja dan berusaha menghindar daripada saya harus keluar kata-kata kasar yang saya sendiri tidak sadari bisa melukai orang lain dengan sangat dalam.

Menangis, cemas, marah, galau sering dikaitkan dengan emosi negatif padahal sebenarnya semua emosi merupakan pemberian Tuhan kepada manusia. Mungkin emosi tersebut bisa dikatakan negatif jika merugikan orang lain dan diri sendiri. Semakin dewasa, memang orang jarang sekali menunjukkan emosi sedih, cemas dan sebagainya karena terkesan sangat privasi.

Saya pernah mengalami kejadian kurang menyenangkan ketika saya sedang curhat, seperti orang tersebut bosan dengan curhatan saya yang berisi keluhan dan masalah-masalah saya. Saya pikir wajar toh semua orang punya masalah sendiri dan mungkin orang tersebut memang lagi malas mendengar curhatan saya yang dianggap negatif. Namun hal tersebut menyadarkan saya bahwa emosi negatif memang sangat personal sangking personalnya mungkin tidak semua orang bisa memiliki connection dalam bentuk empati kepada kita jika tidak dekat secara pribadi dengan kita.

Pada tahap tersebut saya merasa diri saya hanyalah pribadi yang membosankan karena orang yang mendengar curhatan saya jadi malas dan bosan mendengar saya berkeluh kesah. Sejak itu jadi cuek bebek dengan perasaan saya maupun untuk mengungkapkan apa yang saya rasa ke orang terdekat #jadisensitif. Sampai suatu saat saya teringat pada kalimat yang ada pada buku yang pernah saya baca.

 “ ….People often choose to numb their pain with substances, but it’s more courageous to walk through the fire with your eyes open. Instead of numbing my pain by using, I let myself feel all of the emotions that came to me. It was difficult time in my life, but allowing myself to feel sadness and despair helped give way for the celebration of his life. It allowed me to begin healing in healthy and honest fashion.” (Demi Lovato, 2013)

Banyak orang dewasa memilih untuk tidak merasakan emosi-emosi negatif tersebut namun yang terjadi adalah penyangkalan terhadap apa yang dirasakan. Ketika saya berada dalam kondisi down, saya memilih untuk menghadapi semua emosi tersebut sendiri (tentunya tidak saya umbar ke orang-orang lagi) dan membiarkan emosi tersebut mengalir melalui diri saya. Saya tidak ingin jadi pengecut yang tidak bisa menghadapi emosi saya sendiri. I just feel like I’m really human when I let all emotions flow through me. Even when I decide to share this emotion, I choose to share with God or someone who really close and care for me because it’s really personal emotions. Setelah emosi-emosi tersebut keluar, emosi lain lebih mudah masuk untuk menggantikannya yaitu mulai dari emosi lega, tenang, dan bahagia. Menjadi vulnerable tidak selamanya berarti menjadi ringkih dan lemah.

Ketika seseorang teman dekat menceritakan kecemasan dan masalahnya, saya tidak kaget maupun ogah-ogahan, karena saya pernah merasakan hal tersebut. Bagi saya ketika seseorang menceritakan tentang perasaan dan emosi negatif yang dialaminya kepada orang lain, hal tersebut merupakan suatu bentuk kepercayaan, like I said before it’s personal emotions, if they share it with you that means they trust you.

Saya tidak lagi bertanya-tanya ketika saya mengalami masa-masa down dan buru-buru mengalihkan pikiran saya, I let those emotions flow through me so I can heal. Saya juga merasakan ketika saya sedih dan kecewa merupakan saat-saat saya lebih khusuk berdoa kepada Tuhan. I know God close to the brokenhearted and saves those who are crushed in spirit. Saya belajar menerima bahwa seluruh emosi yang saya miliki adalah bagian dari saya sebagai manusia dan seharusnya saya tidak perlu merasa malu terhadap hal tersebut. I should be real, not be perfect.

Life can be so difficult at times, but fighting through the pain is so worth it. It’s better to feel every kind of emotion than not feel at all (Staying Strong, 2013)

Whenever I feel down

Processed with VSCO with hb2 preset
Photo by Madison Bersuch from unsplash.com

Ntah mengapa saya menulis malam ini. Rencana tulisan yang akan saya tulis sebenarnya lebih ke event report minggu lalu, namun karena materinya cukup banyak jadi saya putuskan untuk menyusun artikel tersebut besok saat pikiran saya lebih fresh. Memang ketika menulis di malam hari saya lebih banyak menulis tentang apa yang saya pikirkan dan apa yang saya rasakan, mungkin bagi orang lain hal itu ga penting namun bagi saya hal tersebut penting.

Akhir-akhir ini memang banyak yang jadi beban pikiran saya, banyak hal juga yang kadang saya sesalkan salah satunya pernah menolak dua tempat kerja yang saya idamkan karena saya masih ragu untuk kembali ke profesi saya yang dulu. Banyak ketakutan sebenarnya dari segi waktu, tenaga, dan pikiran. Memang profesi saya yang dulu termasuk profesi yang berat dan tekanan kerjanya tinggi. Saya sampai di tahap bertanya pada diri saya sendiri, saya sebenarnya mau apa sih? Terakhir saya malah bingung sendiri menjawabnya.

Banyak keraguan saya memang terkait beberapa peristiwa yang dulu pernah saya alami. Saya selalu berharap saya bisa melegakan semuanya suatu saat nanti. Saya juga berharap saya bisa bangun lagi dengan penuh harapan dan dalam kondisi siap walaupun tujuan saya kelihatan remang-remang. Tanpa sadar saya sebenarnya ragu dengan tulisan tangan sang Pencipta. Setiap saya berdoa sering saya sisipkan kalimat “duh, Tuhan, saya capek…”, saya pun bingung mengapa saya begitu letih dalam pikiran padahal hari esok bukanlah sesuatu yang bisa saya rangkai sendiri. Saya juga merasa tidak excited lagi dengan apa yang terjadi di depan.

Kalau saya ngomel hanya saya yang mengalami kejenuhan ini tentunya tidak. Banyak yang mengalami kejenuhan dalam hidup dan krisis umur pertengahan. Saya beruntung, teman-teman dekat saya selalu mengingatkan saya untuk bersabar dan jadi tempat berpulang saya ketika saya sedang down, sisa-sisa kesedihan saya tentu cukup saya simpan sendiri karena sangat privasi.

Ketika saya mengalami masa down yang parah saya lebih memilih sendiri karena saya rasa tidak semua orang mengerti tentang apa yang saya rasakan dan alami. Kesendirian justru membuat saya menghargai diri saya sebagai seseorang. Saya lebih menghargai emosi saya termasuk emosi kemarahan, kegalauan, kecemasan dan tangisan. Saya sampai bingung mengapa hanya perasaan bahagia yang mendapat tempat istimewa? Saya justru lebih merasa seperti seorang individu ketika semua emosi bisa saya rasakan.

Tidak ada gunanya juga menurut saya memaksakan diri untuk happy di saat sedang down. Saya tidak ingin jadi pengecut yang tidak bisa menghadapi kekecewaan dan kesedihan saya sendiri padahal semua emosi tersebut adalah pemberian dari sang Pencipta. Saya sedih, saya marah, saya kecewa ntah apalagi ungkapan kalimat yang bisa menggambarkan perasaan saya ketika sedang down. Saya harap ini pun bagian dari jalan yang Tuhan tentukan sehingga hari-hari yang saya alami bukanlah sesuatu yang sia-sia.

Mungkin saya kurang berserah kepada yang Maha Kuasa. Mungkin saya sudah jarang membisikkan mimpi-mimpi saya lagi ke telingaNya saat saya sedang berdoa. Suatu saat mungkin Tuhan akan menjawab doa-doa saya atau mungkin Ia akan menjawab dengan cara lain yang lebih baik untuk saya.

Photo by Seth Schwiet from unsplash.com

Serenity Prayer has been my favorite all time prayer. I speak this prayer whenever I feel down and sad. I know this prayer from Staying Strong book by Demi Lovato. She said “those whose recovering use this prayer on daily basis, but what truly amazing about it is that you don’t have to recovery to speak these words” (Demi Lovato, 2013)

Serenity Prayer

God grant me the serenity
to accept the things I cannot change;
courage to change the things I can;
and wisdom to know the difference.

Living one day at a time;
Enjoying one moment at a time;
Accepting hardships as the pathway to peace;
Taking, as He did, this sinful world
as it is, not as I would have it;
Trusting that He will make all things right
if I surrender to His Will;
That I may be reasonably happy in this life
and supremely happy with Him
Forever in the next.
Amen.
 

–Reinhold Niebuhr

 

Memulihkan Diri Pasca Sakit

Multivitamin-Mineral Theragran-M
Multivitamin-Mineral Theragran-M

Saya sadar bahwa badan saya termasuk tipe yang gampang sakit apalagi kondisi badan saya sering drop ketika datang bulan. Beberapa minggu yang lalu juga saya sempat mengalami sakit batuk yang membuat saya susah tidur dan ternyata penyembuhannya agak lama (ceritanya bisa dibaca di sini). Saya kadang kesel sama badan saya sendiri yang gampang sakit namun saya juga sadar saya suka kembali ke bad habit saya yaitu tidur kemalaman, malas makan buah dan malas olah raga. Saya juga termasuk tipe yang bergantung pada mood jika harus olah raga.

Karena minggu lalu saya sakit batuk yang lumayan menguras waktu, saya jadi mengurangi aktivitas pergi-pergi ketika saya dalam tahap penyembuhan. Saya lebih banyak istirahat dirumah dan makan banyak,mumpung nafsu makan saya sedang kembali. Saya juga jadi rajin di buatkan jus oleh ibu saya dan disuruh minum madu.

Dalam masa penyembuhan tentunya tubuh kita butuh asupan lebih untuk mengembalikan tubuh ke kondisi semula. Saya sadar sih semakin berumur maka semakin tubuh saya butuh proses agak lama untuk memulihkan diri. Waktu kuliah, saya masih kuat mengerjakan tugas-tugas sampai malam bahkan ada waktu dimana saya mengerjakan tugas perancangan sampai pagi meskipun besoknya kepala saya langsung pusing dan badan sempoyongan. Pada waktu kuliah memang badan ini masih bisa diajak kompromi meskipun bagi saya kebiasan tersebut sangat merusak badan dan saya tidak ingin mengulangi lagi kebiasan-kebiasan kurang tidur tersebut. Berbeda ketika saya sudah kerja, badan saya sudah ngak kuat sama sekali jika harus lembur lama, lebih gampang drop dan jatuh sakit. Upaya untuk memulihkan badan setelah sakit pun lebih lama.

sam_3700
Tablet Theragran-M berwarna merah dan tanggal kadarluarsa di cetak di setiap bungkus tablet
sam_3706
Komposisinya terdiri dari berbagai vitamin dan mineral.

Saya biasanya diberi vitamin oleh Ibu saya atau dokter ketika saya sedang sakit. Karena stock vitaminnya cukup banyak, saya masih disuruh minum setelah sakitnya mereda, mungkin untuk membantu memulihkan tubuh lebih cepat. Beberapa hari lalu saya mencoba vitamin baru yang saya beli di salah satu toko obat di mall yaitu Theragran-M. Ketika saya membaca bagian komposisi vitamin ini, kandungan dalam tablet Theragran-M bukan hanya vitamin saja namun ternyata juga ada kandungan mineral. Vitamin ini merupakan vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Berdasarkan komposisinya, Theragran-M memang cukup lengkap mulai dari berbagai vitamin dan juga mineral, komposisinya bisa dilihat lengkap di bagian belakang kemasan. Pada bagian depan kemasannya ada lambang halal dari MUI. Tanggal kadarluarsa ditulis dibagian kemasan obat dan ditulis perbungkus tablet. Hal ini termasuk memudahkan menurut saya. Jika kita memecah bungkus per tablet, kadang tanggal kadarluarsa bisa ikut tersobek atau hilang, namun dengan ditulisnya tanggal kadarluarsa per bungkus tablet maka tidak perlu kwatir untuk memecah-mecah tablet karena setiap bungkus tablet tetap tertulis tanggal kadarluarsanya.

Saya sebenarnya bukan tipe orang yang suka minum vitamin, ntah kenapa saya tidak terlalu suka dengan obat ataupun vitamin karena rasanya pahit atau hambar di mulut. Karena dari dulu juga sering sakit, saya bosan kalau harus disuruh minum obat dan vitamin terus. Pertama kali tablet merah Theragran-M ini masuk ke mulut saya rasanya manis, ternyata tablet vitamin ini di balut lapisan manis di luarnya sehingga saya tidak langsung buru-buru menelannya. Setelah saya rasa agak lama di mulut, kemudian langsung saya telan dengan air putih. Beberapa jam kemudian saya merasa agak mual. Ketika buang air kecil, warna air seni saya berubah menjadi agak kuning. Saya sempat takut dan kemudian saya langsung memberitahukan hal itu kepada ibu saya yang kebetulan berprofesi sebagai dokter. Kata ibu saya hal itu wajar, beberapa vitamin memang mengakibatkan air seni menjadi berwarna. Ibu saya bilang tablet Theragran-M ini juga diminum oleh nenek saya ketika beliau sudah keluar dari ICU. Nenek saya juga sempat mengeluhkan rasa mual yang dirasakan setelah meminum beberapa obat dan vitamin. Ibu saya bilang hal itu wajar karena vitamin mempunyai banyak zat sekaligus dalam satu tablet karena tujuannya memang untuk mempercepat pemulihan tubuh. Saya disarankan untuk meminum vitamin ini sebelum tidur jika rasa mualnya mengganggu. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya merasa mual setelah minum vitamin, saya juga pernah merasa sangat mual ketika saya minum vitamin penambah darah. Saat itu saya sedang mengalami anemia. Hal itu ternyata wajar karena zat besi dalam jumlah tinggi mengakibatkan efek samping mual.

Saya cukup senang dengan Theragran-M karena ada rasa manis ketika tablet menyentuh lidah, biasanya sehabis sakit lidah kita masih kecut atau hambar jadi adanya rasa manis pada vitamin jadi nilai plus buat saya. Rasa manis tersebut juga lumayan menghibur saya yang tidak terlalu suka minum vitamin. Teman saya juga sempat bilang kalau vitamin Theragran-M ini di rekomendasikan oleh dokter sebagai asupan vitamin untuk mengembalikan kondisi tubuh setelah sakit. Saya menyarankan meminum vitamin ini sebelum tidur sehingga efek mualnya tidak menganggu. Vitamin ini bisa di beli Watson/Guardian/Toko obat dengan harga Rp 19.751,00 sebungkus dengan isi 4 tablet. Selain meminum vitamin, saya juga minum jus buah setiap hari dan makan makanan yang bergizi. Satu hal lagi yang penting setelah sembuh dari sakit yaitu cukup tidur ketika malam hari. Sekian cerita saya memulihkan tubuh setelah mengalami sakit, bagaimana dengan kalian? Apakah punya tips khusus ketika dalam masa penyembuhan sakit? 🙂

NOTE :

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho . Segala sesuatu yang ditulis merupakan pengalaman jujur pribadi penulis tanpa ada pesan keharusan dari pihak sponsor.