Daily Journal : Saturdate at Casa Maitreya

Taman depan ruang makan Casa Maitreya
Taman depan ruang makan Casa Maitreya

Awal bulan ini saya, Wina, Susy, Fetty dan Stevany diajak ngumpul hari Sabtu di rumah Alodita. Saya langsung kosongin jadwal di Hari Sabtu supaya bisa ngobrol lama. Rumah Malo jaraknya cukup jauh dari tempat saya tinggal. Awalnya saya niat ingin naik angkutan umum saja, namun saya kepikiran sepertinya bakal sambung menyambung kendaraan umum untuk sampai ke sana dari rumah saya. Saya memutuskan untuk membawa kendaraan pribadi agar bisa menghemat waktu di jalan. Saya juga sempat mampir beli lapis bogor untuk di bawa sebagai cemilan ngobrol di sana manatau lanjut ngobrol lama sambil ngemil.

Saya berangkat lebih pagi untuk mengantisipasi jalanan tol Ibu Kota yang suka berubah mendadak jadi macet, padahal hanya selang beberapa menit. Saya sudah siapkan waze supaya saya ga nyasar dan mendapat rute yang lancar. Saya ternyata sempat nyasar juga lhoo ahahahha, akhirnya nanya orang setempat dan berhasil sampai ke rumah Malo di daerah Jakarta Selatan. Saya datang kecepatan sendiri. Kami janjian jam 11 siang eh saya udah sampe jam 10 pagi. Saya sempat ga enak juga datang kepagian, takutnya Malo dan keluarga lagi siap-siap dirumah. Ternyata Malo lagi pergi beli kopi, jadi saya disuruh masuk saja ke rumah karena Malo sudah bilang ke ART-nya kalau saya sudah menunggu di depan rumahnya.

Pertama kali saya masuk ke Casa Maitreya, mata saya langsung liat sana sini seluruh ruangan lantai 1 tempat saya menunggu. Mungkin karena saya dulu kerja sebagai Arsitek yang lebih sering mengurusi design rumah jadi saya suka penasaran banget dengan ruang-ruang di dalam rumah seseorang. Kepribadian seseorang atau keluarga bisa kelihatan dari ruang-ruang di dalam rumahnya, dari material yang digunakan, dan bahkan dari pernak pernik yang mereka pajang di dinding atau gelas minuman yang dikoleksi. Saya duduk di meja makan yang sepertinya berfungsi sekaligus sebagai meja untuk menyambut tamu, sambil menunggu Malo pulang. Saya cukup senang karena ruang makannya langsung menghadap taman luar jadi mata saya bisa lihat yang hijau-hijau sebentar.

Baca Juga : WEEKLY JOURNAL #07-FIRST LOOK OF CASA MAITREYA

Tak berapa lama Malo, Mas Abenk dan Aura pulang. Saya akhirnya ketemu juga sama Aura Suri. Aura awalnya agak malu-malu karena baru ketemu saya namun lama kelamaan jadi sering senyumin dan nunjuk-nunjuk ke arah saya heheheh. Selang beberapa menit kemudian, Stevany datang sambil membawa puding dua toples besar untuk cemilan.

Nasi Liwet @dapur_nengepoy
Nasi Liwet @dapur_nengepoy

Sembari menunggu yang lain, kami mulai menyusun nasi liwet dari @dapur_nengepoy untuk makan siang hari itu. Susy dan Fetty datang barengan di rumah Malo dengan menggunakan taxi online. Ada teman dekat Malo juga yang datang hari itu ke rumah, namanya Mbak Kenny. Seketika itu juga rumah langsung jadi rame karena ada anak-anaknya juga yang diajak ikut, Fetty bawa Enzo dan Mbak Kenny bawa Dommy.

“Semoga Berkat dan Karma Baik ini juga sampai dan mengalir ke kalian ya”

 -Alodita

Porsi nasi liwet hari itu ternyata banyak banget. Saya sengaja cuma minum jus dan makan roti karena takut kekenyangan pas menuju makan siang. Wangi nasi liwetnya memang menggoda, lauknya juga udah bikin ngiler mata dan perut. Sebelum kami memulai makan, kami mengucap syukur terlebih dahulu. Malo juga membuka ucapan syukur dengan kalimat “Semoga Berkat dan Karma Baik ini juga sampai dan mengalir ke kalian ya”. Setelah itu langsung deh kami makan nasi liwet. Beberapa menit kemudian Wina sampai di rumah Malo. Porsi nasi liwetnya ternyata memang banyak, bahkan kami masih sisa banyak setelah selesai makan.

hadiah arisan dari Malo
hadiah arisan dari Malo

Selesai makan siang, ternyata Malo menyiapkan sesi arisan dadakan berhadiah. Kami disuruh ambil nomor kocokan untuk mendapatkan hadiah sesuai nomor. Bingkisan yang kami dapat berisi skincare, make up dan beauty products dari Malo. Saya sempat kaget karena ada barang yang saya sudah lama inginkan namun terlupakan untuk saya beli, yaitu Lamica Instant Switcher. Ada conditioner Dove juga di dalam bingkisan saya, baru aja hari ini saya pengen beli conditioner karena conditioner Dove di rumah sudah habis eh kebetulan hari ini dapat conditioner baru. Bingkisannya jadi stock saya beberapa bulan ke depan supaya ga belanja make up untuk sementara hehehe. Thank youu Malooo..sangking terkejutnya kayak berasa mimpi gitu ngeliat hasil arisan yang di dapat *masih tercengang.

Selesai dengan arisan dadakan, kami naik ke lantai dua dimana ada ruang santai keluarga. Saya juga sempat intip ruang kerja Malo dan suami, duh jadi kepengen juga punya ruang kerja sendiri di rumah. Sampai sekarang saya masih menulis blog atau mengerjakan freelance di dalam kamar, itu pun pakai meja dan kursi kecil yang gampang di geser-geser. Memang ga terlalu kondusif kalau mengerjakan sesuatu di kamar karena dikit-dikit liat kasur jadi pengen rebahan terus bawaannya. Ada beberapa lukisan Mas Abenk dalam versi besar juga yang ditaruh dekat dinding ruangan lantai 2. Lukisan-lukisannya cakep-cakep bangettt, salut sama Mas Abenk yang bisa bikin lukisan sampai ukuran besar.

SAM_5457

Sesi penampilan tunggal Aura Suri yang menghibur kita semuaa :)
Sesi penampilan tunggal Aura Suri yang menghibur kita semuaa 🙂

Acara selanjutnya kami lebih banyak ngobrol, main juga sama Aura, Enzo dan Dommy. Obrolan kami ga jauh-jauh seputar blog, beauty products, anak dan kehidupan rumah tangga para wanita, trus saya lebih banyak dengerin karena belum punya suami dan anak hihihihi *semoga cepet nyusul aminnn! Tidak lupa kami dihibur dengan penampilan solo Aura Suri yang lincah banget jogetnya pas diputerin lagu-lagu kartun anak..gemesshh minta di bawa pulang Auraaanyaa. Kami ga tahan juga ikut ketawa liat tingkah Aura dan liat Malo yang ketawa ketiwi karena Aura joget-joget heboh di depan TV.

Kami ngobrol sampai hari menuju sore. Saya dan yang lain mulai beres-beres untuk pulang. Saya pamitan sama Malo dan yang lain. Sebelum pulang kami disuruh bawa bekal cemilan yang tadinya masing-masing kami bawa, pulangnya saya berasa bawa bekal buat di jalan hehehehe. Saya melaju meninggalkan komplek perumahan tempat Malo tinggal.

Stevany, Alodita, Susy, Fetty, Wina dan saya (dari kiri bawah ke kanan)
Stevany, Alodita, Susy, Fetty, Wina dan saya (dari kiri bawah ke kanan)

Sesaat sebelumnya saya masih ketemu Aura sama Mbak pengasuhnya, mereka lagi jalan sore. Saya langsung lambai-lambai tangan ke Aura yang kemudian Aura balas lambai-lambai tangan sambil bilang “Da Dagh”. Saya pulang sore itu melewati jalan tol lingkar luar Jakarta. Kebetulan sore itu ga terlalu macet, masih padat merayap di jalan sehingga saya ga terlalu malam sampai di rumah. Malamnya saya masih ngemilin bekal dari rumah Malo tadi hehehe. Malamnya juga saya langsung bablas tidur ga pake susah-susah tidur, mungkin karena seharian puas pergi dan ketemuan sama Malo dan yang lain. Terima Kasih Malo, Susy, Fetty, Stevany dan Wina untuk Saturdate-nya. Terima Kasih Malo untuk jamuan dan bingkisan arisannya, semoga Karma Baiknya selalu kembali lagi ke Malo dan keluargaa..amiinnn!

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Daily Journal : Taking a New Step

SAM_5418

Bulan lalu adik saya mengungkapkan keinginannya untuk belajar bahasa Inggris lagi. Saya sempat menyarankannya untuk pergi ke sebuah tempat les Inggris yang pernah saya datangi, karena memang waktu itu saya tertarik untuk daftar. Saya tertarik dengan jadwal fleksibel yang di sediakan oleh tempat les tersebut. Tempat les tersebut memang di tujukan bagi para karyawan dan orang dewasa yang jadwalnya kurang menentu ketika berada di dunia kerja. Bagi para pekerja tetap maupun yang freelance seperti saya, jadwal les yang fleksibel tentu jadi keuntungan tersendiri. Jam pekerja kantor memang bisa berubah sewaktu-waktu karena lembur. Bagi pekerja freelance, jadwal memang terasa lebih fleksibel, namun tetap saja ada kendala lain seperti klien yang mendadak memindahkan hari untuk meeting dan job yang datang secara mendadak. 

Awalnya adik saya yang semangat banget untuk ikut les karena adik saya menyenangi bahasa Inggris dan bahasa ini sangat dibutuhkan di area pekerjaannya sekarang. Saya sebenarnya waktu itu ga terlalu tertarik untuk ikut les lagi, malah saya lagi mikirin banget mau les private make up. Setelah saya pikir-pikir lagi, bahasa Inggris bisa jadi modal dalam segala bidang termasuk juga memudahkan saya jika mau melanjutkan sekolah S2 di luar negri. Saya juga sudah lama tidak berada dalam situasi bekerja atau belajar secara kelompok, karena selama ini pekerjaan yang saya ambil lebih membuat saya bekerja sendirian. Kondisi usaha ilustrasi saya dengan teman juga lebih banyak mengutamakan komunikasi via email atau wa karena kebetulan teman saya lagi sibuk dengan pekerjaan kantornya.

Pertama kali saya memutuskan untuk bekerja sendiri memang saya sempat merasakan kesepian. Hal ini saya rasakan karena perpindahan pekerjaan dari yang kerja kantoran ke fase freelance. Saya akui kerja bersama orang lain apalagi dalam jumlah yang cukup banyak, sangat rentan dengan konflik mau dari segi pekerjaan atau segi kepribadian. Karena saya juga punya pengalaman tidak terlalu menyenangkan ketika berada di suatu kelompok pertemanan, saya kadang suka skeptis dengan lingkungan baru. Saya jadi was-was dan perlu waktu yang lebih lama untuk beradaptasi. Saya merasa memang lebih bijak untuk pelan-pelan mengenali seseorang atau ketika berada di sebuah komunitas daripada langsung membuka diri secara terang-terangan.

Setelah melakukan banyak pertimbangan, saya memutuskan untuk ikut mendaftarkan diri ke tempat les tersebut. Menurut saya ga ada salahnya menambah ilmu bahasa Inggris yang sudah lama saya lupakan. Apalagi bahasa itu dibutuhkan untuk berbagai bidang pekerjaan. Saya juga merasa perlu lingkungan yang mendukung untuk belajar, karena jujur belajar di rumah kurang kondusif bagi saya.

“Kenapa ga belajar sendiri aja?”

“Kan bisa beli buku materi Inggris untuk belajar sendiri?”

“Sayang dong uangnya emang dulu ga belajar bahasa Inggris?”

Salah satu ungkapan di atas sempat terucap oleh ayah saya yang sempat skeptis dengar saya mau les bahasa Inggris lagi. Saya tetap kekeh waktu itu ingin mengambil les bahasa. Bisa sih sebenarnya kita belajar bahasa sendiri, namun belum tentu kita bisa tahu salah kita yang mana sepenuhnya. Saya juga ga menghakimi orang yang merasa lebih suka belajar sendiri dibandingkan harus les. Semua orang punya kebutuhan yang berbeda menurut saya. Bila itu baik bagi orang lain belum tentu hal itu baik bagi saya. Jika kamu bisa lancar berbahasa Inggris dengan belajar sendiri, Good for you, not for me!

Hal yang saya paling suka dari tempat les ini ialah saya di tanya goal saya ke depan yang terkait dengan alasan saya untuk belajar bahasa Inggris. Pertanyaan ini juga bertujuan agar pembimbing les mengarahkan dan membimbing sesuai goal masing-masing bukannya untuk ber-kompetisi supaya lebih pintar menggunakan bahasa Inggris. Saya juga diberikan homework secara online seusai level saya sehingga pembimbing bisa mengetahui progress saya selama belajar.

Semakin dewasa semakin jelas bagi saya bahwa apa yang saya lakukan itu bukan untuk ber-kompetisi lagi karena goal hidup setiap orang berbeda-beda. Kompetisi menurut saya bertujuan untuk mengasah kemampuan kita lebih baik dari sebelum-sebelumnya, bukan hanya untuk lebih baik dari orang lain saja. Bahkan dulu saya sempat ga nyaman dengan sistem pendidikan sekolah di Indonesia yang terlalu kaku dengan sistem pembelajaran satu arah. Saya sendiri ga heran kenapa bimbingan belajar lebih laris karena memang fokusnya jelas membantu anak yang belum bisa menjadi bisa. Sistem belajar pun lebih di modifikasi sesuai kebutuhan anak. Sejauh pengalaman saya, guru bimbel lebih kreatif membawakan sebuah materi pelajaran. Saya ga bilang sistem pendidikan Indonesia sepenuhnya jelek lhoo, hanya saja memang kita perlu banyak berpikir lagi tentang sistem pendidikan yang baik bagi anak-anak, mengingat kemampuan setiap anak berbeda.

Pertama kali saya masuk ke tempat les, tentu ada perasaan takut yang timbul. Saya bahkan sampai berpikir apakah saya bisa nyaman dan cocok dengan lingkungannya. Ternyata ketakutan saya tidak sepenuhnya terbukti malah saya jadi rajin ikut kelas dan datang ke tempat les. Saya menemukan teman-teman baru yang bisa saya ajak diskusi tentang bahasa Inggris, karir, dan hidup. Saya bahkan pernah cerita tentang kebingungan saya akan karir yang akan saya pilih dengan Student Consultant yang saya kenal. Saya juga jadi bisa melihat dari sudut pandang lain karena orang yang saya temui bermacam-macam.

Setelah beberapa kali ikut kelas, minggu lalu saya memberitahukan kabar saya kepada psikolog kenalan saya. Saya bilang bahwa saya mengambil langkah les Bahasa Inggris untuk membiasakan diri saya berada di lingkungan baru, padahal dulu saya ogah beradaptasi dengan lingkungan baru. Saya lebih banyak memilih pekerjaan yang bisa saya lakukan sendiri. Psikolog kenalan saya langsung senang mendengar kabar saya. Beliau senang karena saya berani mengambil langkah berbeda setelah selama ini saya mengungkung diri saya sendiri. Saya juga bilang bahwa saya mulai membiasakan diri berada di lingkungan baru serta bersyukur bahwa lingkungan tempat les saya aura-nya lebih positif dan kondusif.

Bagi beberapa orang mungkin perkara mengambil les Bahasa Inggris merupakan perkara yang sepele, namun tidak bagi saya yang sempat mengalami social anxiety. Hal ini pekerjaan yang extra bagi saya. Saya harus mendorong diri saya keluar dari pemikiran buruk saya sendiri. Saya bahkan pernah mengalami masa dimana saya ga mau ketemu dengan orang-orang atau menutup diri saya sangat rapat. Saya bersyukur masa itu boleh lewat perlahan-lahan, meski jujur saya masih was-was kalau berkenalan dengan orang baru. Saya harap penderita anxiety bisa tetap mengambil langkah kecil untuk keluar dari pemikiran mereka.

Baru beberapa minggu berlalu sejak saya belajar bahasa Inggris, badan saya langsung kena flu. Saya memang terlalu tancap gas di awal yaitu langsung mengambil banyak jadwal kelas sampai malam. Badan saya masih belum terbiasa untuk pulang pergi dengan rute Bekasi-Jakarta karena sudah lama tidak ada kegiatan sangat rutin yang saya lakukan setiap hari. Banyak hal lucu juga terjadi selama saya berada di tempat les, mulai dari pelajar lain yang frontal menanyakan saya sudah punya pacar apa belum sampai kejadian saya di kira anak SMA ahahahhaa. Intinya saya lagi senang-senangnya belajar bahasa Inggris lagi. Semoga blog post kali ini menginspirasi pembaca untuk tetap belajar hal baru atau lama yang sudah lama ingin dipelajari. Adakah yang sudah mengambil langkah untuk belajar tentang sesuatu hal? Kamu bisa sharing tentang cerita-mu di kolom komentar. See you on my next post readers!

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.