Pameran Baur Rasa

SAM_5228

Bulan lalu saya pergi ke pameran seni kecil di daerah Blok M. Kebetulan saya hari itu juga ada urusan ke daerah Jakarta. Siangnya saya juga ada janji sama adek kelas saya, Connie yang kerja dekat daerah situ. Saya pikir sayang kalau saya siangnya langsung kembali ke Bekasi padahal perjalanan ke Jakarta juga cukup memakan waktu. Setelah makan siang saya langsung memutuskan untuk pergi ke daerah Blok M untuk mengunjungi sebuah pameran seni.

Siapa yang disini suka mengambil foto dengan kamera atau hp? Sayaaa… Saya termasuk orang yang senang mengambil foto ketika saya sedang jalan ke suatu tempat meski saya bukanlah seorang Fotografer. Foto yang saya ambil juga lebih banyak untuk koleksi pribadi saya semata. Saya juga selalu membawa kamera pocket di tas saya untuk mengantisipasi kalau sewaktu-waktu saya perlu mengambil foto. Konon katanya kamu bisa mengetahui apa yang dianggap paling berharga atau bermakna bagi seseorang melalui apa yang orang itu abadikan dalam sebuah foto. Bila gambar mengungkapkan beribu kata, foto cenderung bisa mengungkapkan beribu rasa. Baik rasa yang pernah ada, masih ada atau yang selalu ada *jadi galau sendiri nulisnya. Terlepas orang tersebut merupakan forografer profesional atau bukan, sebuah foto biasanya dibuat dengan berbagai alasan-alasan termasuk alasan yang personal. Lima orang yang mengikuti Pameran Baur Rasa ini memamerkan foto-foto mereka untuk bercerita kepada pengunjung.

Saya datang sekitar siang menjelang sore ke Kedai Kopi Djule. Kedai kopi ini terletak persis di pinggir jalan besar. Kedai kopi ini tidak mempunyai tempat parkir sendiri, jadi saya harus memarkir kendaraan di dalam tempat parkir Plaza Blok M. Saya sampai di Kedai kopi tersebut dengan berjalan kaki dari tempat parkir. Waktu saya datang, kondisi di dalam kedai kopi ini lumayan sepi. Saya di arahkan ke lantai dua kedai kopi ini ketika pelayan tahu bahwa saya ingin mengunjungi pameran seni. Saya disambut oleh Ibu Ani yang merupakan salah satu seniman yang ikut serta dalam pameran tersebut. Ibu Ani juga menemani saya sambil menjelaskan satu persatu karya foto yang dipamerkan oleh empat orang lainnya.

SAM_5223SAM_5227

Pertama kali masuk, saya disuguhkan sebuah meja kerja yang diatasnya berserakan foto-foto hasil karya Gabriel Sena. Foto-foto yang ditampilkan berupa foto-foto koleksi pribadi dari momen-momen menyebalkan yang Sena alami. Karya ini sebenarnya lebih menekankan bahwa sebaik apapun kita merencakan hidup kita, akan selalu ada momen-momen menyebalkan yang terjadi tanpa bisa diprediksi, namun begitulah hidup. Hal paling penting adalah bagaimana kita menyikapi momen tidak terduga itu. Banyak koleksi foto yang membuat saya kesal, gemas dan juga tertawa karena foto tersebut berisi kejadian konyol yang dialami oleh si seniman.

SAM_5209

Tak jauh dari meja tadi saya lanjut ke karya berikutnya. Karya dari Gloria Pearl ini menyuguhkan foto-foto dari benda-benda pemberian orang terdekatnya. Ternyata benda-benda tersebut mempunyai kenangan berarti antara si pemberi dan si penerima meskipun si pemberi sudah tiada. Benda-benda tersebut seperti momento yang membuat si seniman bisa merasakan kembali rasa yang pernah ia rasakan dan juga mengingatkannya dengan si pemberi barang. Benda pemberian memberikan rasa pada waktu tertentu di masa lalu yang bisa membuat si penerima mengingat rasa dan momen tersebut.

SAM_5214

Saya melanjutkan langkah saya ke hasil karya dari Imron Zuhri. Imron memamerkan foto-foto dan beberapa barang kepunyaan ibunya. Karya ini sebagai cara Imron menenangkan dirinya dan berdamai dengan masa lalu. Imron memiliki hubungan yang naik turun dan banyak kesalah pahaman dengan ibunya, serta rasa-rasa yang belum ia ungkapkan sampai akhir hayat ibunya. Memandangi foto-foto mendiang ibunya menjadi obat dan doa tersendiri bagi Imron. Ketika saya melihat apa yang dipamerkan oleh Imron saya tentu teringat akan ibu saya sendiri. Sering kali sebagai anak kita sering cek cok dengan orang tua kita, namun karya ini juga mengingatkan saya akan ketakutan saya paling dalam yaitu ditinggalkan oleh orang tua saya. Sebanyak apapun perbedaan pendapat antara kita dan orang tua, kehilangan mereka akan jadi duka besar bagi kita. Barang-barang pribadi ibunya yang dipamerkan juga seolah-olah mengingatkan saya bahwa orang yang diceritakan ini pernah ada dan hidup.

SAM_5204

Saya beralih ke foto-foto karya Tandika yang kebetulan orangnya juga ada bersama saya di pameran tersebut. Tandika mengabadikan foto-foto ayah ibunya yang sedang beraktivitas dirumah. Ide ini diambil ketika ia balik ke rumahnya dan melihat foto-foto pernikahan ayah ibunya semasa muda dulu. Tandika mengambil foto ayah ibunya pada masa sekarang. Ternyata meski raga mereka telah tua, rasa dan keharmonisan masa lalu mereka masih terlihat dari foto-foto mereka berdua. Tandika juga sempat cerita ke saya bahwa ia pernah merasa kehilangan akan makna orang tua karena ia hidup merantau ke Jakarta. Tentu saya bisa mengerti maksudnya, meski saya hanya merantau dari daerah Jabodetabek ke Jakarta, namun rasanya ada yang hilang dari diri saya.

SAM_5200

Saya sampai pada hasil karya terakhir pada pameran seni yang terletak di bagian pojok ruangan. Hasil karya tersebut merupakan milik bu Ani yang dari tadi sudah menemani saya melihat karya-karya sebelumnya. Saya masuk ke ruangan kecil yang di pisahkan oleh sekat. Ruangan tersebut memang sengaja di buat redup hanya dengan beberapa lampu tambahan yang menyala. Saya memlihat banyak barang-barang pribadi milik seseorang di meja paling pojok. Saya juga melihat barang khas yang biasanya digunakan seseorang yang sedang sakit. Saya duduk di kursi yang disediakan sambil menonton foto-foto yang berlalu perlahan-lahan dari layar TV. Banyak foto-foto yang lokasinya diambil di rumah sakit. Saya sendiri hanya terdiam ketika menyaksikan gambar hitam putih itu berlalu di layar TV.

Bu Ani juga menceritakan tentang makna foto-foto yang ia ambil. Semua foto tersebut adalah foto yang diambil ketika ia menunggu suaminya di rumah sakit. Ibu Ani bilang bahwa semua benda kenangan yang tidak sempat suaminya pakai, masih ia simpan. Semua benda tersebut adalah benda yang menemaninya selama ia menunggu masa kritis suaminya. Saya hanya terdiam sambil mendengarkan cerita Ibu Ani. Rasa duka seperti masih begitu dekat, namun begitu juga dengan rasa ikhlas yang tergambar dari tulisan-tulisan Ibu Ani. Karya Ibu Ani sendiri mengingatkan saya akan sebuah rasa kehilangan yang pernah saya rasakan beberapa kali, ketika saya merelakan orang yang saya kasihi. Beberapa menit mendengar cerita Ibu Ani membuat saya terasa begitu dekat dengan beliau, seperti rasanya saya berbagi rasa duka kehilangan itu bersama-sama.

SAM_5231

Minum di Kedai Kopi Djule

Selesai saya mengucapkan terima kasih dan berpamitan kepada Ibu Ani dan Tandika, saya menuju ke lantai satu dari Kedai Kopi Djule. Kebetulan saya juga ingin bersantai sebentar di Kedai Kopi sebelum akhirnya saya pulang ke rumah. Saya memesan cokelat dingin dan kue tart kecil untuk jadi cemilan saya siang itu. Ternyata minuman selain kopi disediakan dalam bentuk botol yang sudah disimpan di lemari es untuk pengunjung.

Saya duduk sambil menikmati pemandangan Kedai Kopi tersebut. Tak seperti kebanyakan Kedai Kopi yang lebih menekankan nuansa redup, Kedai ini justru memiliki jendela yang banyak sampai lantai dua. Hal ini membuat cahaya matahari yang natural masuk dengan baik ke dalam ruangan. Saya mengambil foto sekitar jam 3 sore dan cahaya ruangan masih sangat baik untuk mengambil foto. Jendela besar yang merupakan sisi depan Kedai Kopi ini menjadi spot pemandangan yang menarik. Saya duduk sambil mengamati mobil lalu lalang dan juga mengamati Bajaj yang sedang menunggu penumpang. Bagian sisi dalam Kedai Kopi lebih redup dengan pencahayaan berwana kuning. Sama seperti Kedai Kopi pada umumnya, kesan ruangan terasa nyaman karena material kayu, beton dan bata yang digunakan pada ruangan. Hal yang paling menarik buat saya yaitu lampu besar di tengah ruangan Kedai Kopi ini yang terbuat dari kepingan keramik. Lampu yang bersifat sebagai dekorasi ini membuat kesan megah pada ruangan.

SAM_5242

SAM_5235

ttt

Kedai kopi ini lebih banyak menyediakan menu kopi dan snack ringan. Minuman non kopi pilihannya tidak terlalu banyak. Menu makananya juga tidak terlalu banyak. Saya pikir Kedai Kopi ini memang lebih dikhususkan untuk minum kopi. Rasa minuman cokelat yang saya pesan sih enak, pahit cokelatnya masih terasa ketika saya minum jadi manisnya pas menurut saya. Kue cokelat yang saya pesan juga enak. Harga minuman dan makanan di Kedai Kopi ini lumayan mahal menurut saya. Saya habis sekitar 100 ribu untuk minuman cokelat dan potongan kue tart. Kalau soal kopi mungkin saya ga bisa komentar karena saya bukan pecinta kopi namun melihat menu di sini lebih mengutamakan menu minuman kopi, seharusnya minuman kopinya sudah seharusnya enak.

Tak berapa setelah kue saya habis, saya memutuskan untuk pulang ke rumah. Kedai kopi ini sangat cocok untuk nongkrong dan berlama-lama bersama teman. Atmosfer yang diciptakan memang membuat saya cukup betah. Meski terletak di pinggir jalan, namun pemandangan ke arah jalan malah jadi pemandangan yang menarik. Pencahayaan di Kedai Kopi ini oke untuk mengambil foto karena lebih banyak mengutamakan cahaya natural dari matahari. Ada yang sudah pernah ke Kedai Kopi Djule? See you on my next post readers!

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Akhir Minggu Produktif di Kopi Kalyan

SAM_5173

Bulan lalu saya sempat mengikuti sebuah sesi sharing yang diadakan oleh Catalyst Art dan Publisher Indie The Pagggges. Acara sharing ini memang lebih terkesan santai yaitu berupa sharing pengalaman oleh beberapa illustrator yang berhasil mempublikasikan ide dan karya mereka dalam bentuk zine. Publisher Indie The Pagggges juga menceritakan awal mula terbentuknya The Pagggges sebagai publisher lokal yang bertujuan mempublikasikan karya illustrator ke beberapa komunitas penikmat seni.

Bagi yang belum tahu mengenai zine, sebenarnya zine itu sendiri berbentuk seperti booklet. Zine tidak dibatasi dalam bentuk tulisan, percakapan, ataupun karya seni. Istilah zine mulai populer ketika digunakan oleh kaum punk pada masa populeritasnya. Kaum punk menggunakan zine untuk menyebarkan idealisme mereka. Pada masa tersebut, zine sempat di larang oleh masyarakat dan pemerintah karena isinya yang mengandung konten vulgar, kekerasan dan terlalu bebas.

SAM_5193

Seiring berkembangnya jaman, zine juga berkembang menjadi sebuah media bagi para seniman untuk menyalurkan ide-ide mereka dalam bentuk kumpulan karya seni. The Pagggges sendiri berperan sebagai kurator dalam penyeleksian zine yang akan mereka promosikan. Para seniman sendirilah yang memperbanyak zine mereka apabila berhasil lulus dalam tahap seleksi. Zine juga bertujuan agar kumpulan karya seni para seniman dapat dibeli oleh penikmat seni dengan harga yang lebih terjangkau.

Setelah sesi sharing selesai, para peserta mengikuti workshop yang diadakan oleh panitia. Pada sesi ini setiap peserta diharapkan untuk spontan membuat doodling di sebuah kertas yang akan diberikan ke peserta lainnya secara bergantian. Peserta lainnya pun harus merespon doodling yang peserta sebelumnya buat secara spontan. Hasil kumpulan doodling tersebut kemudian digabungkan menjadi sebuah zine. Hasil akhirnya memang unik, zine kami berisi sesuatu yang nyeleneh dan lucu. Setelah sesi workshop selesai, saya berkeliling untuk melihat zine-zine yang dibuat oleh para seniman. Zine tersebut juga bisa dibeli selama pameran berlangsung.

SAM_5199

MAKAN SIANG DI KOPI KALYAN

Kebetulan hari itu saya tidak datang sendirian, saya datang bersama teman saya yang juga sama-sama menyenangi bidang seni dan illustrasi. Kami sempat membuka usaha kecil dalam bidang illustrasi produk. Sudah lama sekali kami tidak mengikuti workshop atau bertemu untuk membicarakan usaha kami untuk ke depannya. Teman saya memang sedang sibuk dengan kerjaan kantor sekarang, sedangkan saya juga mengikuti beberapa event blogger di akhir pekan. Saya juga sudah mulai mengikuti les bahasa Inggris pertengahan bulan lalu. Saya pikir mumpung akhir pekan ini waktu kosong kami sedang cocok, jadi sekalian saya sempatkan waktu untuk bertemu sambil makan siang.

Kopi Kalyan terletak di daerah Senopati yang lebih di dominasi dengan perumahan. Butuh sedikit usaha lebih untuk datang ke kedai kopi ini yang cukup jarang dilalui oleh angkutan umum. Saya sarankan untuk memakai kendaraan pribadi atau menggunakan transportasi online jika ingin datang ke tempat ini. Tempat parkir-nya juga sedikit, jadi lebih baik datang lebih pagi jika ingin membawa kendaraan sendiri.

SAM_5161

SAM_5160

Gaya interior yang ditonjolkan oleh Kopi Kalyan lebih ke arah industrial dengan tetap mempertahankan kesan bangunan unfinished. Material yang ditonjolkan pada ruangan kedai kopi ini lebih banyak menggunakan kayu, besi, dan beton unfinished. Material beton juga semakin di expose dengan membiarkan sisi tiang terkesan tidak selesai. Saya termasuk penyuka gaya industrial seperti ini, karena lebih terkesan simpel dan ga ribet. Saya malah kurang tertarik dengan interior ruangan diberi terlalu banyak material heboh yang menonjol. Meski kesan ruangan kedai kopi ini simpel namun kesan nyaman masih dapat tercipta dari ruangan kedai kopi ini.

SAM_5153

Tak berapa lama ketika saya sedang melihat menu makanan, seorang Bapak muncul dari balik pintu sambil membawa seekor anjing Alaskan Malmute yang besar. Beberapa pengunjung langsung berdatangan untuk menghampiri anjing besar tersebut, termasuk saya. Nama anjing Alaskan Malmute tersebut adalah Teebar. Anjingnya ramah kepada para pengunjung yang datang menghampirinya. Saya paling ga tahan kalau lihat binatang peliharaan apalagi anjing yang besar, pasti saya langsung pengen elus-elus.

SAM_5157

Selesai puas main dengan Teebar, saya pergi memesan makanan dan minuman. Saya memesan nasi goreng kebuli dan green tea latte. Saya ga memesan kopi karena saya memang bukan pecinta kopi. Nasi goreng kebuli kedai kopi kalyan ini enak banget, hanya saja rasanya pedas panas. Lidah dan perut akan terasa sedikit panas setelah memakannya. Nasi goreng kebuli merupakan salah satu menu favorite di Kopi Kalyan. Menu makanan di kedai kopi ini lumayan banyak dan harga yang ditawarkan juga lumayan. Saya habis sekitar 90 ribu untuk makanan dan minuman yang saya pesan.

Kedai kopi ini memiliki ruang luar hijau yang aktif yaitu dapat digunakan oleh para pengunjungnya. Salah satu ruang luar digunakan sebagai ruangan khusus merokok. Ruang luar merokok-nya asik untuk duduk-duduk atau pun untuk mengobrol. Ruang dalam kedai kopi ini justru lebih redup dengan cahaya namun lebih terasa adem. Bagian depan kedai kopi justru lebih terang dan sering dipakai untuk tempat pameran skala kecil. Para pengunjung yang datang ke kedai kopi ini biasanya melakukan aktivitas seperti mengerjakan tugas, nongkrong bersama teman, dan melihat pameran.

SAM_5163

Saya memang ingin lebih ingin produktif di akhir pekan. Jika saya ada acara di daerah Jakarta, sering saya padatkan acaranya seharian untuk ke pameran, workshop, atau sekedar menulis supaya besok-besoknya saya ga perlu pergi jauh ke Jakarta lagi. Hari minggu lebih saya khususkan untuk keluarga. Sebenarnya saya juga mulai jenuh dengan kemacetan daerah Jakarta, khususnya pada hari Jumat dan Sabtu malam. Kalau ga perlu-perlu amat, saya ga akan pergi ke Jakarta. Akhir pekan kali ini cukup produktif bagi saya karena siangnya saya membahas banyak hal tentang usaha kecil yang sedang kami bangun, jadi saya cukup puas hari itu.

Ada yang sering menghabiskan hari Sabtu dengan pergi ke pameran atau ikut workshop? Cerita dong di bagian komen tentang Sabtu produktif versi kalian. See you on my next post readers!

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

FOR MORE INFORMATION

Kopi Kalyan

JL. Cikajang no 61, Senopati. Jakarta

Open : Sun-Thur 7AM-10PM /Fri-Sat 7AM-11PM

Instagram : @kopikalyan