Personal Thought : Hidup Tanpa Harapan

fff

Saya sempat tertegun ketika salah satu sahabat SMA saya berkata bahwa kita hidup karena mempunyai harapan. Awalnya saya biasa aja menanggapi hal itu sampai bulan lalu adik saya mendapatkan jawaban dari doa yang selama ini ia pinta. Setelah menganggur lama semenjak lulus, adik saya tidak putus-putusnya berdoa agar bisa diterima di sebuah Konsultan Hukum. Adik saya berharap dapat diterima di sebuah kantor konsultan hukum yang memang sesuai dengan nilai-nilai yang ia pegang selama ini. Tentu saja saya mendukungnya dalam doa. Saya juga turut senang dengan wajah puas adik saya tiap kali pulang kantor meskipun ia sangat lelah mengarungi kemacetan ibu kota.

Kejadian ini mengingatkan saya bahwa doa sebenarnya merupakan bentuk harapan kita akan hari esok yang kita sampaikan kepada Tuhan. Ketika kita malas untuk berdoa bisa jadi karena kita malas untuk berharap lagi untuk hari esok. Tentu hidup sudah seharusnya penuh harapan, setidaknya berharap bahwa hari esok masih ada. Saya memang sudah lama tidak meminta di dalam doa saya. Salah satu alasan mengapa saya malas meminta dalam doa, karena saya takut terlalu berharap dalam hidup dan berakhir kecewa dengan kenyataan yang terjadi.

Saya pernah mengalami masa-masa tanpa harapan dalam hidup. Saya malas untuk bangun di pagi hari karena saya merasa tidak ada sesuatu yang wah akan terjadi dalam hidup saya. Saya juga ingat betapa bosannya saya melalui setiap hari karena saya pikir hari ini akan sama saja dengan hari esok. Saya malas untuk meminta dalam doa saya karena saya lebih takut sia-sia meminta. Hidup tanpa harapan memang mudah untuk dilakukan. Hidup saja tanpa berharap. Hidup saja tanpa meminta dalam doa. Hidup saja tanpa menanti sebuah perubahaan atau menanti mimpimu untuk tercapai.

Dalam hidup ini, saya menemukan banyak orang yang memberi saya harapan namun saya juga menemukan orang-orang yang telah membuat saya enggan untuk berharap lagi. Mudah untuk menghancurkan harapan seseorang. Bilang saja kepada orang itu bahwa ia tidak layak untuk bermimpi. Bilang saja pada orang tersebut bahwa ia tidak layak mendapatkan apa pun dalam kehidupan, karir dan hubungan. Remehkan mimpinya sehingga ia tidak berani bermimpi lagi. Ambil keputusan atas hidupnya, supaya dia merasa dia tidak punya hak untuk memutuskan dalam hidupnya. Tutup mata saja atas kerja kerasnya selama ini, meski yang ia lakukan sudah yang terbaik. Buat ia merasa tidak berharga dengan kata-kata kasarmu, sehingga ia merasa hidupnya tidak berharga lagi. Bukankah hal-hal ini yang sering terjadi sebelum seseorang akhirnya memutuskan untuk bunuh diri?

Sangat mudah untuk membenci dan menghilangkan harapan seseorang. Semua orang bisa melakukannya. Hal ini bukan sesuatu yang hebat malah menurut saya hal yang remeh banget untuk bisa dilakukan. Semua orang bisa jadi haters, semudah membuat akun bodong di media social dan mengincar orang-orang yang terlihat bahagia di media social untuk dijadikan objek kebencian. Tapi apakah si pembenci di ingat? Mungkin diingat, namun hanya sekedar sebagai penyebar kebencian.

Butuh usaha untuk menumbuhkan harapan di diri setiap orang yang sudah hidup tanpa harapan. Butuh kerja keras untuk membuktikan bahwa sebenarnya kita bisa maju dan berubah. Butuh keringat untuk membangun apa yang sudah rusak menjadi sesuatu yang berguna dan berharga lagi. Butuh semangat yang membara untuk membangkitkan semangat-semangat lain yang sudah padam sejak lama.

Malam kemarin saya yang sedang surut harapan ini, justru berdoa dan menangis untuk seseorang yang saya tidak kenal. Saya hanya tahu kerja kerasnya selama ini dari apa yang media sampaikan dan dari hasil kerjanya yang saya nikmati sebagai rakyat ketika saya jalan ke Ibu Kota. Belum pernah saya segitu perhatiannya dengan perkembangan di negara ini sebelum sosok ini muncul. Saya sedih ketika sosok ini dituduh atas tuduhan yang sebenarnya dibuat-buat saja. Mungkin ada yang tidak senang kalau bangsa ini pada akhirnya mempunyai harapan untuk berkembang dan maju.

Perbedaan memang sudah ada di negara ini sejak dulu, namun bukan berarti hal itu menjadi masalah yang harus dibesar-besarkan untuk suatu kepentingan politik. Selama saya hidup saya berusaha untuk menghormati segala perbedaan selayaknya saya ingin di hormati. Saya masih mengingat guru les bahasa inggris semasa SMA dulu yang beragama muslim, pernah menyidang salah satu teman les saya yang dengan frontal menghina teman les lain yang berdarah Tionghoa.

Beragam kata-kata kasar berbau sara ia lontarkan dengan pedenya kepada teman saya yang merupakan keturuan Tiong Hoa, pada saat kami sedang dalam proses belajar mengajar di tempat les. Padahal teman saya yang berdarah Tiong Hoa ini ga pernah nyinggung dia sama sekali. Kalau bisa dibilang sih hampir satu kelas ga suka sama orang ini yang tiba-tiba suka mengejek orang tanpa sebab. Saya bersyukur guru saya tegas waktu itu menyidang temen saya yang bandel itu di depan kelas, karena menurut guru saya, ia tidak ingin teriakan menyudutkan ras tertentu itu ditiru oleh anak-anak yang lain.

Salah satu sahabat SMA saya ada yang beragama muslim. Sampai sekarang saya banyak belajar dari sahabat saya tersebut. Ga pernah tuh kami ribut karena urusan agama. Salah satu sahabat semasa saya kuliah juga adalah seorang penganut Budha yang taat. Saya sering bertukar pikiran dengannya termasuk soal agama kami masing-masing. Pasti ada perbedaan pendapat diantara kami berdua, namun bukan berarti saya harus berteriak karena ia mempunyai pandangan yang berbeda. Setiap agama tentu mempunyai ajaran yang berbeda, namun satu hal yang kami terus pegang yaitu saling menghormati dan mengasihi satu sama lain di atas perbedaan tersebut. Lagipula agama adalah tentang hubunganmu dengan Tuhan dan bagaimana kamu memperlakukan sesama dengan baik, bukan tentang apa yang orang lain katakan tentang agamamu.

Seribu Bunga untuk Pak Ahok
Seribu Bunga untuk Pak Ahok

Saya terharu melihat siaran berita kemarin malam dimana banyak orang dari berbagai suku, agama dan ras berkumpul untuk menyalakan lilin pengharapan. Hukum negara ini memang sudah banyak timpang, bukan hanya pada kasus yang belakangan ini terjadi namun juga kasus-kasus yang sudah pernah terjadi sebelumnya di negara ini. Saya sedih menanggapi fenomena yang sudah terjadi. Saya juga sempat tidak semangat beberapa hari karena fenomena tersebut. Hanya saja saya masih mengingat sosok tersebut yang masih dengan sabar tersenyum dan tidak melawan ketika di bawa ke tempat penghukuman, mengingatkan saya akan Sosok Besar yang 2.000 tahun lalu yang pernah mengalami hal lebih berat dari ini.

Teruntuk Putera Bangsa…

yang raganya terkurung di balik jeruji besi,

Bapak mungkin ga kenal saya, ga perlu juga sih pak untuk mengenal saya. Saya cuma rakyat jelata yang mungkin belum ada kontribusi apa-apa bagi negara ini, namun saya kirimkan doa saya yang tulus untuk Bapak di sana. Saya harap Bapak tidak kehilangan harapan Bapak ditengah-tengah bangsa yang sedang hilang arah ini dan ditengah-tengah bangsa yang masih memilih membesar-besarkan hal yang sebenarnya ga perlu daripada membangun Negara. Saya berdoa agar Tuhan memberikan penghiburan terhadap Bapak di sana karena saya yakin damai sejahterah merupakan pemberian Tuhan bukan pemberian manusia yang fana. Terima kasih Pak untuk kerja kerasnya dan teladan hidup yang Bapak berikan selama ini, untuk bekerja dengan tulus meski di cemooh, menerima dengan sabar meski orang lain mereka-rekakan kejahatan dan dengan tetap teguh berharap kepada Tuhan. Terima kasih sudah menyalakan lilin dan harapan bagi kami di saat bangsa ini kehilangan harapan. Terima kasih untuk mengajarkan kami bahwa seorang pemimpin adalah teladan bagi orang lain dan bukannya hanya soal memiliki kekuasaan. Semoga suatu saat saya bisa bertemu dengan Bapak dan keluarga agar saya bisa lebih banyak belajar dari Bapak.

Tuhan menyertai Bapak selalu. Amin.

Tulisan ini saya buat bukan untuk membesar-besarkan masalah. Saya yakin semua berhak mengungkapkan pendapatnya dengan bijak tanpa perlu memaksakan kehendak. Saya yakin tidak usah berkoar-koar negatif jika pendapat orang berbeda denganmu. Sosok yang saya ceritakan sudah begitu berjiwa besar menerima hukuman yang dijatuhkan padanya, jika memang ada beberapa orang yang masih belum puas juga, saya rasa sudah seharusnya orang tersebut memeriksa hatinya sendiri. Keputusanmu sendirilah untuk masih memelihara sakit hati dan kebencian bukan karena orang lain lagi. Mintalah Tuhan memeriksa hatimu karena seorang manusia tidak mampu memeriksa hatinya sendiri dengan benar.

Ga perlu juga berpikir saya ingin famous dengan menulis artikel ini, ga perlu kamu mengenal saya. Saya sudah bahagia dengan memiliki sedikit teman yang benar-benar mengenal saya. Saya hanya berdoa pesan damai ini tersampaikan. Teriring doa saya juga untuk Gubernur yang terpilih semoga bisa banyak belajar dari pemimpin sebelumnya dan bisa bekerja lebih lebih baik lagi. Peran-mu sekarang berat Pak, karena sebelum dirimu sudah ada seorang pemimpin besar yang menyentuh banyak hati dengan ketulusan dan kerja kerasnya.

“Mintalah Tuhan memeriksa hatimu karena seorang manusia tidak mampu memeriksa hatinya sendiri dengan benar.”

Saya memilih mencintai perbedaan. Saya memilih menghormati perbedaan tanpa perlu memaksakan sesuatu kepada orang yang berbeda dengan saya. Saya memilih pengampunan daripada dendam. Saya memilih bersabar daripada reaktif. Saya memilih Indonesia yang penuh toleransi antar suku, ras dan agama.

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Personal Thought : About Forgiveness

SAM_5190

Saya bukan tipe orang yang bisa mengampuni orang lain dengan baik. Saya bisa berkata seperti itu karena saya suka memendam masalah. Selama ini banyak yang mengira saya terlihat baik-baik saja namun saya orang yang begitu tertutup untuk urusan yang berhubungan dengan perasaan sakit hati.

Saya besar di keluarga yang kaku dengan gaya asuh orang tua yang otoriter. Hal kecil seperti berbeda pendapat dengan orang tua bahkan bisa di salah artikan sebagai bentuk perlawanan terhadap orang tua saya. Padahal sah-sah saja kok punya pendapat yang berbeda. Hal ini juga yang membuat saya membenci tipe kepemimpinan yang otoriter karena membuat saya merasa tertekan secara batin dan mental.

Ketika saya masih kecil, saya tumbuh dalam lingkungan yang penuh kata-kata negatif terhadap diri saya. Banyak perkataan menyakitkan yang saya dapatkan, bahkan dari lingkungan yang terdekat. Semakin saya menginjak dewasa ternyata mengampuni menjadi sesuatu yang sulit bagi saya. Semakin saya dewasa semakin saya juga merasa lebih sensitif, meskipun saya mulai belajar untuk tidak take it personally perkataan setiap orang yang belum tentu membangun.

Baca juga Sunday Thoughts : The Freedom of Taking Nothing Personally by Olivia Lazuardy.

Sebenarnya mengampuni bukan topik hangat yang sering saya ingat dalam hidup, sampai kotbah minggu kemarin di gereja kebetulan adalah tentang mengampuni. Kotbah ini sangat ingin saya lewatkan karena saya tidak ingin mengingat luka-luka lama yang ternyata masih saya simpan. Siapa sih yang mau teringat-ingat lagi dengan kepahitan-kepahitan di masa lalu? Pasti ngak ada kan.

Dalam kotbahnya, Pendeta tersebut menceritakan pengalamannya mengampuni rekan pendeta lain yang sering menjelekkan dirinya. Ternyata hidup dalam kepahitan dan sakit hati bukanlah hidup yang menyenangkan. Ada masa dimana setiap kali pendeta tersebut berdoa rasanya sangat hambar dan kosong, sampai Tuhan menyuruh bapak pendeta tersebut mengunjungi orang yang sudah menyakitinya. Hal yang tidak di duga ternyata terjadi, orang yang dikunjungi justru jadi orang yang menangis duluan untuk meminta pengampunan si pak pendeta. Sejak saat itu hidup pak pendeta mulai berubah menjadi lebih baik. Hubungan pak pendeta dan rekan se-kerjanya itu pun dipulihkan.

Selama kita hidup pasti ada banyak orang yang telah menyakiti perasaan kita. Saya juga pernah mengalami masa dimana ada aja orang yang dengan mudahnya merendahkan saya, menghina karya saya dan menganggap remeh apa yang saya kerjakan, meski saya sudah berusaha sebaik-baiknya. Saya bukan tipe yang meluap-luap secara frontal ketika menghadapi masalah, namun memang emosi saya bisa meledak ketika saya dalam keadaan sangat letih. Saya lebih sering memutuskan komunikasi dan hubungan dengan orang-orang yang menyakiti saya. Saya pikir tidak baik meneruskan hubungan yang tidak didasari oleh rasa saling menghargai satu sama lain. Saya juga merasa butuh jarak dan waktu ketika saya sedang terluka karena orang lain.

“Yang lain mati dengan sakit hati, dengan tidak pernah merasakan kenikmatan” (Ayub 21 :25)

Kok kita yang menderita? kan yang salah dia harusnya dia dong yang menderita. Pertanyaan ini juga muncul ketika kalimat tersebut terlontar dari kotbah minggu lalu. Ternyata orang yang menyimpan dendam dan kepahitan lebih rentan jatuh sakit dan meninggal. Itu sebabnya mengampuni bertujuan untuk menjaga agar kita hidup lebih bahagia dan sehat. Kitalah yang harus melepaskan pengampunan agar hidup kita lebih bahagia.

Saya masih ingat pernah mengalami sakit hati begitu dalam kepada seorang pria dari masa lalu. Saya ga akan panjang lebar menceritakan pengalaman tersebut. Tiga tahun kemudian setelah hubungan kami berakhir dengan masalah, pria tersebut menghubungi saya berkali-kali via sms dan telepon. Saya yang masih shock saat itu tidak membalas satu pun sms atau mengangkat telepon dari pria tersebut. Saya bingung harus merespon seperti apa. Di sisi lain saya masih merasakan sakit hati dan kegeraman di dalam hati saya meski tidak sebesar dulu. Untungnya saat itu sahabat-sahabat terdekat saya terus menerus menenangkan saya. Salah satu sahabat saya juga membujuk saya untuk mengampuni pria tersebut agar saya lebih bisa lega dalam menjalani hidup. Pada akhirnya saya membalas sms pria tersebut dengan singkat, padat dan jelas yang inti dari pesan saya ialah saya sudah mengampuni dia. Saya berharap dia bisa memperlakukan wanita selanjutnya dengan lebih baik.

Butuh perjuangan memang untuk mengampuni seseorang. Sampai detik ini saya masih berjuang untuk mengampuni orang-orang yang sadar atau tanpa sadar telah menyakiti saya. Saya juga mulai rutin berdoa meminta Tuhan untuk memberikan saya kekuatan untuk mengampuni karena sebagai manusia mungkin saya tidak sanggup untuk mengampuni. Saya juga harus menyadarkan diri saya bahwa saya masih ada sampai hari ini semua itu juga karena pengampunan Tuhan.

“Orang yang terluka cenderung melukai orang lain”

Ada satu kalimat menarik dalam kotbah minggu kemarin yaitu orang yang terluka cenderung akan melukai orang lain. Pernah ga sih kita melihat orang yang omongannya suka kasar dan perilakunya cenderung melukai orang lain bahkan dilakukan tanpa sebab tertentu? Pernah ga menemukan orang yang masih mengungkit trauma dan kesalahan orang lain? Saya pernah menemukannya, bahkan saya pernah berada di posisi orang tersebut. Saya jadi sosok yang sangat kasar karena saya sedang terluka sangat dalam saat itu. Itu sebabnya kadang ada orang yang gampang marah-marah ketika sakit hati bukannya malah menangis. Teriakan marah sebenarnya merupakan teriakan kesakitan dari orang itu sendiri.

Sekarang kalau saya lihat orang yang suka marah-marah tanpa sebab dan berkata kasar, saya coba untuk lebih mengerti kondisi orang tersebut. Bisa saja ia memang berasal dari keluarga yang berantakan, lingkungan kerja yang kasar, atau sedang melalui masalah hidup yang berat. Meskipun sebenarnya saya tidak pernah setuju dengan orang yang suka melampiaskan amarah ke orang lain secara membabi buta, saya tetap mencoba bersabar dan mengerti.

“…Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat…” (Lukas 23 : 34)

Orang dewasa cenderung lebih rentan untuk terluka karena hidup dalam banyak tekanan dan tanggung jawab. Meski kita sudah menjadi dewasa tetap saja inner children di dalam diri kita bisa merasakan sakit dan terluka. Saya juga sering melihat orang dewasa melampiaskan amarah dengan kata-kata yang sangat kasar kepada keluarganya, rekan se-kerjanya, bawahannya atau pun orang asing yang ia temui di jalan. Hidup dengan menyimpan luka memang sangat membahayakan bagi orang tersebut maupun bagi sekitarnya.

Saya harap tahun ini saya bisa belajar untuk melepaskan pengampunan lebih banyak lagi untuk diri saya dan orang lain, bahkan tanpa perlu mengharap permohonan maaf dari orang-orang yang telah menyakiti saya. Saya tidak ingin hidup dengan terus-terusan membawa luka. Saya harap artikel kali ini bisa bermamfaat bagi para pembaca khususnya yang belum selesai dengan luka lamanya. Sudahkah kita mengampuni hari ini? See you on my next post readers! 

“Bara api itu sudah seharusnya kamu lepaskan agar kamu sendiri tidak terbakar. -MD”

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Tidak Pernah Sampai Namun Tidak Akan Pernah Sama

SAM_5317Saya bertumbuh di dalam banyak komunitas selama saya hidup sampai sekarang. Ketika saya kuliah, saya punya beberapa komunitas yang begitu mempengaruhi saya sebagai seorang individu. Saya masih mempertahankan hubungan dengan geng SMA saya. Saya masih menyempatkan diri untuk bertemu dengan teman-teman persekutuan semasa saya kuliah. Saya masih jalan dengan geng kuliah saya sampai sekarang. Saya masih melanjutkan Kelompok Kecil yang dulu saya ikuti dari kuliah. Komunitas yang baik telah banyak memberikan pertumbuhan dalam diri saya.

Saya berkembang dan bertumbuh di dalam komunitas yang memang sangat dekat hubungannya dengan saya. Tanpa saya sadari hal ini pun telah membuat saya begitu takut dan begitu lemah ketika komunitas tersebut tidak ada lagi buat saya. Lingkungan saya berubah beberapa kali ketika saya terjun dalam dunia kerja. Saya dituntut untuk lebih utuh secara individual dibandingkan harus berada di dalam sebuah kelompok. Saya harus siap membawa diri saya sendiri. Saya juga harus siap berenang di tengah-tengah kepentingan orang lain, karakter yang berbeda dan suara hati nurani saya sendiri.

Ada masa-masa dimana saya penuh dengan kebingungan dengan jalan yang harus saya hadapi. Sampai sekarang pun saya masih meraba-raba hari depan yang sebenarnya adalah sebuah misteri bagi semua manusia. Hari ini saya pikir keberhasilan akan datang, besoknya saya mengalami kegagalan. Malam ini saya bermimpi tentang banyak hal, besoknya saya bangun dengan menghadapi kenyataan.

Hal yang paling saya benci dari hidup adalah perasaan bahwa saya tidak akan pernah sampai. Saya benci untuk berpindah. Saya benci dengan perubahan drastis. Saya membenci sesuatu yang tidak pernah pasti. Saya benci dengan perasaan tidak pernah sampai. Saya benci harus memulai semuanya dari awal meskipun pada akhirnya saya memulai semua hal dari awal beberapa kali. Saya benci harus meninggalkan dan ditinggalkan, namun saya juga mengerti bahwa perpisahan pun sama baiknya dengan pertemuan.

Selalu ada ruang di antara kebahagiaan yang saya inginkan dengan apa yang akhirnya saya dapatkan. Selalu ada jarak dalam mimpi yang ingin saya wujudkan dengan kenyataan yang harus saya hadapi. Sejenak saya baru menyadari betapa melelahkan-nya sebuah kehidupan. Kita ingin mengapai banyak hal untuk kemudian kita lepaskan di penghujung kehidupan. Bahwa diantara kelahiran dan kematian, kita merajut kebahagiaan hidup yang kita inginkan.

Saya tidak akan pernah sampai dalam hidup. Saya hanya akan melewati waktu, ruang, tempat, rasa dan orang yang saya sudah temui, sedang saya temui dan akan saya temui. Saya akan berubah berkali-kali. Saya akan gagal kemudian berhasil dan gagal lagi. Saya akan bertemu dan berpisah berkali-kali. Saya tidak akan pernah sampai dalam menjalani hidup namun saya tidak akan pernah sama lagi untuk selanjutnya.

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Tentang Kesempatan Kedua

Images from unsplash.com
Images from unsplash.com

Kemarin malam, salah seorang teman menelpon saya. Saya ga terlalu kaget ketika ia menelpon saya malam itu, karena sebelumnya dia sempat curhat via whatsaap tentang hubungannya dengan orang lain yang harus kandas dalam hitungan waktu yang terbilang cepat. Sebagai seorang teman, tentu saya tahu bahwa menerima telepon larut malam dari teman dekat yang sedang patah hati dapat dikategorikan dalam kondisi lumayan darurat. Kebetulan telepon darurat itu tidak datang terlalu larut, masih dalam batas waktu biasanya orang rumah masih nonton TV sebelum akhirnya memutuskan untuk tidur. Sebenarnya malam itu pun saya sedang memilih-milih tulisan yang ada di jurnal harian saya, jadi saya cukup dalam keadaan santai untuk mendengar sebuah curhatan.

Saya cukup pelan-pelan memilih perkataan saya ketika berbicara kepada seseorang yang sedang patah hati, karena pada saat itu seseorang bisa sangat-sangat sensitif dalam segala sesuatu. Saya juga tidak ingin salah memberikan respon yang akhirnya malah menyakiti tanpa disadari. Perkataan seperti “udahlah move on”, “kamu sih milihnya orang kayak dia”, “makanya lain kali diliat dulu orangnya” dan sebagainya bisa terdengar sangat kejam ketika diucapkan di depan seseorang yang baru saja putus. Alasan kenapa saya juga tidak pernah menaruh perkataan ini dalam kamus kosa kata saya tentu jelas karena perkataan-perkataan tersebut juga pernah menyakiti saya secara tidak langsung. Saya sadar ketika berada dalam posisi rapuh, berbagai ucapan yang kelihatannya biasa saja menurut orang lain bisa salah diartikan.

Perkataan tersebut seperti meremehkan betapa sepele-nya apa yang dirasakan dan dialami seseorang yang baru saja kehilangan. Padahal sebenarnya ga ada yang salah lho merasa sedih ketika kehilangan sesuatu atau seseorang yang paling di sayangi. Setiap orang memang menanggapi perpisahan dengan berbeda. Tidak semua orang memiliki respon cepat untuk bisa pulih kembali seperti tidak terjadi apa-apa dalam hidupnya. Jika kamu tipe yang serba cepat bisa move on atau bahkan bisa langsung mengejar cinta yang lain, ya silahkan. Bila kamu tipe yang sangat sensitif dan susah sekali untuk move on, saya tidak akan menghakimi sama sekali. Menurut saya, semua orang punya respon dan pilihannya sendiri terhadap kejadian pahit yang ia alami sebagai bentuk dari cara orang tersebut menyembuhkan lukanya.

Di sela-sela ceritanya, kekecewaannya bertambah ketika ia tahu bahwa orang yang ia cintai dengan mudahnya langsung merajut kasih dengan orang lain dengan begitu cepat. Saya mengerti pasti sangat membingungkan melihat seseorang yang tadinya mencintai kita namun kemudian berpaling kepada orang lain, namun saya juga sadar terkadang perasaan manusia memang sangat kacau dan membingungkan.

“No matter what, Dear. We will never know someone else’s true feeling towards us. All we know is to do the best thing with what we feel and what we have in that moment”

Sebaik-baiknya kita memilih seseorang untuk mendampingi kita, hal tersebut tidak akan menjamin suatu saat kita tidak akan berpisah dengannya. Kita tidak pernah tahu pasti perasaan sesungguhnya dari seseorang. Kita juga tidak akan tahu kapan perasaan tersebut berubah atau pun menghilang. Kita tidak punya kontrol atas semua hal di dalam hidup termasuk perasaan orang lain. Kita hanya bisa melakukan yang terbaik dengan apa yang kita rasakan dan bisa kita lakukan saat itu.

“Do you believe in Second Chance Mon?”

“Of Course I do. I also do believe in another chances after the second chance in life. If there is no chances anymore, we will never live until know.”

Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut saya ketika teman saya bertanya apakah saya percaya akan kesempatan kedua. Saya spontan menjawab iya, meskipun saya begitu takut dengan kesempatan-kesempatan yang ditawarkan oleh hidup. Takut bahwa itu hanya awal dari sebuah kesalahan lagi. Hanya saja tak peduli betapa takutnya kita akan kesempatan-kesempatan berikutnya, hidup akan terus menawarkan kita kesempatan lagi dan lagi. Terlepas kita akan tahu bahwa itu hanyalah kesalahan atau kebahagiaan bagi nantinya, kita juga bisa memilih untuk mengambil kesempatan itu atau tidak.

“Do you believe in Second Chance even though you will get hurt again?”

I do, even though until now I’m not really sure about that. I can only tell you this, take all the time that you have. Take all time that you have to heal yourself, you deserve it.

Saya mengerti sebuah pengalaman pahit tidak bisa segera di sembuhkan dengan kata-kata mutiara. Saya mengerti semua orang butuh waktu untuk berduka dan menyembuhkan luka yang ia miliki. Memberikan ruang bagi seseorang yang sedang begitu kacau perasaannya merupakan tanda bahwa kita menghargai apa yang sedang di rasakan orang tersebut. Saya tidak ingin memaksa-maksa seseorang untuk move on secepatnya karena masalah hati itu personal.

Sebagai seorang teman saya hanya bisa mendengarkan, menghibur, menyediakan tempat berkeluh kesah dan menemani ketika dibutuhkan sampai suatu saat hati itu menyembuhkan dirinya sendiri. Memperbaiki hati yang hancur bukanlah pekerjaan yang bisa saya lakukan.

Setelah telepon itu berakhir, saya bersiap-siap untuk tidur malam itu. Saya harap teman saya baik-baik saja. Saya juga berharap dia mendapatkan kesempatan yang lebih baik di masa depan. Beberapa menit sebelum saya tidur saya berdoa mengucap syukur kepada Tuhan atas waktu dan proses jatuh bangun yang pernah saya lalui dalam menyembuhkan hati saya berkali-kali. See you on my next post readers!

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Woman and Her Role

girla
Woman, different woman different beauty, we don’t need to compare them

Sejak kecil dulu saya suka menggambar sosok wanita di kertas kosong milik saya. Saya bingung juga sih kenapa figur yang saya suka gambar itu wanita, jarang banget saya gambar sosok pria. Pernah beberapa kali saya gambar figur pria tapi seringnya berakhir dengan gambar yang sama, hasilnya ga berkembang. Kalau pun ada gambar sosok pria, biasanya karena saya lagi belajar gambar wajah teman saya dengan mengambil contoh dari foto. Berbeda dengan figur wanita, saya bisa menggambar berbagai macam sosok wanita dalam coretan saya khususnya untuk gambar yang sifatnya imajinatif. Bagi saya pribadi, figur wanita memang cocok dijadikan sumber inspirasi dalam gambar maupun tulisan.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya juga lebih banyak dikelilingi teman wanita yang telah banyak menginspirasi saya. Dunia pasti hampa sekali rasanya tanpa sosok wanita. Dunia butuh sosok wanita pastinya karena selama ini wanita-lah yang berperan besar membesarkan generasi penerus dan turut serta melahirkan banyak perubahan.

Setelah saya beranjak dewasa, saya makin menyadari betapa susahnya menjadi seorang wanita. Tekanan dan beban itu pelan-pelan menghinggapi pundak saya semenjak saya dewasa. Wanita tuh harus pintar, harus bisa masak, harus kuat, harus, harus dan harus. Sepertinya kata “harus” ini jadi tidak ada habisnya semakin saya dewasa. Saya sadar betul bahwa peran seorang wanita itu susah apalagi jika dirinya sudah menjadi seorang istri dan seorang ibu. Saya lihat ibu saya aja kadang mikir, bisa gak ya nanti saya seperti beliau yang bisa mengurus keluarga dan juga pekerjaan.

Di balik semua kodrat seorang wanita tentunya ada wanita itu sendiri sebagai pribadi yang unik. Setiap gadis muda tentunya punya perjalanannya sendiri untuk menuju seorang wanita biasa. Perjalanan untuk menemukan siapa mereka sebenarnya terlepas dari gender. Perjalanan menemukan panggilan mereka dalam apa yang mereka kerjakan. Perjalanan menemukan impian-impian mereka sendiri dalam karir, hidup dan cinta. Saya yakin gender tidaklah menentukan siapa kita sebenarnya. Perjalanan menemukan jati diri itu milik semua orang baik pria dan wanita.

Setiap wanita di dunia pun punya perannya masing-masing. Tidak bijak menilai seorang wanita lebih wah dari yang lain hanya karena mereka sukses di aspek yang berbeda dalam hidup. Setiap wanita punya pilihan dalam hidupnya, punya kelebihan, punya kekurangan dan punya pergumulan-nya masing-masing. Tidak perlu juga menentukan standard baku bagi tiap wanita. Capek dong kalau semua wanita di dunia ini dinilai hanya dari standard baku yang diciptakan orang lain.

Pada hari International Woman Day, saya ingin merayakan banyak hal. Merayakan sosok wanita yang begitu penting di dunia ini. Merayakan bahwa setiap wanita berbeda dan itu adalah suatu keindahan tersendiri. Merayakan bahwa setiap wanita punya panggilannya masing-masing, setiap mereka tidaklah seharusnya merasa kurang dari wanita lain hanya karena berbagai perbedaan. Merayakan bahwa wanita sekarang bisa mengenyam pendidikan dan bekerja layaknya para pria. Merayakan bahwa wanita punya pilihan untuk menikah dan tidak menikah demi kebahagiaan-nya sendiri. Merayakan para wanita yang sampai detik ini masih mengerjakan perubahan di dunia dalam hal kecil dan hal besar.

Setiap wanita punya peran berbeda bagi lingkungan sekitarnya. Mungkin bagianmu sebagai ibu rumah tangga. Mungkin bagianmu menjadi pemimpin di kantor. Mungkin bagianmu sebagai karyawan biasa. Mungkin bagianmu hanyalah sebagai seorang penulis di blog pribadi. Apapun peran yang dipilih oleh setiap wanita biarlah itu yang menjadi sebuah kontribusi untuk lingkungan sekitar dan generasi seterusnya. Happy International Woman Day 2017!

 The problem with gender is that prescribes how we should be rather than recognizing how we are. -Chimamanda Ngozi Adichie-

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Mengemis Empati

SAM_4462 resize

Bulan Februari ini bisa dibilang bulan yang tidak terduga, keluarga saya mengalami satu musibah yang sempat membuat keluarga saya cukup trauma. saya ga akan panjang lebar tentang musibah tersebut di blog ini karena fokus tulisan ini bukan untuk hal itu. Alasan lain kenapa saya tidak akan bahas musibah tersebut karena hal ini masih dalam ranah sangat privasi khususnya bagi keluarga saya. Pasca musibah tersebut juga sempat membuat keluarga saya cukup shock beberapa hari setelahnya, namun saya masih bersyukur bahwa keluarga saya tetap dalam keadaan sehat dan selamat.

Saya juga cukup mengambil banyak waktu diam saat itu, karena masih mengalami perasaan campur aduk beberapa hari setelahnya. Saya juga sempat bimbang ketika mau berdoa, jujur saya capek menanyakan “Mengapa” kepada Tuhan. Saya pikir segala sesuatu mau yang baik maupun buruk tidak harus dapat dimengerti saat itu juga. Saya juga memilih fokus menenangkan pikiran saya daripada kebanyakan mikir yang berujung jatuh sakit. Saya berkali-kali menyakinkan diri saya bahwa Tuhan tahu yang terbaik, titik tanpa koma dan tanpa perlu saya menambah panjang barisan doa saya. Saya juga hanya menceritakan masalah ini khusus ke beberapa inner circle saya yang paling terdekat dan itupun dengan tujuan memohon doa agar saya dan keluarga dikuatkan.

Setahun ini memang saya membiasakan diri untuk tidak gembar gembor cerita panjang lebar kesana kesini. Saya juga tidak mau heboh pasang status di Medsos ketika perasaan saya sedang campur aduk daripada hal tersebut malah menjadi tindakan makan tuan sendiri bagi saya. Saya belajar untuk tidak buru-buru bercerita dan membiasakan diri untuk mengambil momen privasi untuk perasaan campur aduk yang dirasakan. Saya ga mau seolah-olah “mengemis empati” dengan kejadian-kejadian sedih yang saya ceritakan apalagi menceritakannya ke sembarang orang.

Saya pernah mengalami trauma dengan respon balik yang diberikan oleh beberapa orang di dalam hidup saya terdahulu. Saya tidak menyalahkan sepenuhnya respon balik yang ternyata justru menyakiti, saya mengerti mungkin tidak semua orang siap dihujani dengan cerita-cerita buruk atau curhatan perasaan negatif yang dirasakan seseorang. Tidak semua orang siap dengan hal yang kita ungkapkan dengan gamblangnya saat itu juga. Saya semakin maklum di jaman serba sibuk ini semua orang jadi serba sensitif karena begitu banyaknya persoalan dan kesibukan sehari-hari namun sedikitnya waktu berdiam.

Satu hal yang menjadi pengingat ialah Empati. Empati adalah cara kita terkoneksi dengan orang lain. Ketika saya ingin terhubung secara emosi kepada beberapa orang di dalam lingkaran pertemanan saya. Beberapa mungkin akan memberikan empatinya sehingga terkoneksi dengan saya, sebagian mungkin hanya memberikan simpatinya dimana hal itu tidak saya anggap sesuatu yang salah, dan sisanya mungkin membangun tembok setinggi-tingginya agar tidak repot mengoneksikan diri dengan saya. Terlepas dari berbagai respon yang pernah saya terima. Saya tidak ingin terlalu capek memikirkan respon orang yang tidak peduli terhadap saya ketika saya sedang bercerita. Saya yakin semua orang punya hak mau dengan siapa mereka memberikan empati yang mereka punya. Saya juga tidak ingin lagi terlalu berekspektasi tinggi apalagi mengharapkan “sedekah empati” atau minta dikasihani.

Hal yang sering jadi pengamatan saya tentang empati di jaman serba digital ini ialah melalui komen di media social. Saya pernah begitu shocknya membaca banyak komen nyirnyir dan merendahkan dari banyak orang terkait berita sebuah mahasiswa yang ditemukan bunuh diri karena dugaan depresi sejak nilai kuliahnya menurun. Saya shock bukan main dengan komen-komen candaan dan nyirnyiran tentang mental tempe dari banyak orang. Saya pikir wow empati sudah hilang dari sebagian besar masyarakat kita, rest in peace humanity! Saya pikir saat ini dunia makin ga waras karena berita kematian malah dikomentarin dengan komentar-komentar tidak pantas untuk almarhum. Saya ga tahu sih standard dunia sekarang masih mengucapkan turut berduka cita lagi apa tidak untuk seseorang yang baru meninggal. Bagi saya standard dunia kadang terdengar gila, itu sebabnya apapun kejadiannya saya pasti selalu balik kepada standard yang Alkitab katakan karena itu pegangan saya dalam hidup. Kejadian tersebut namun membuka mata saya bahwa kita tidak pernah tahu respon balik dari seseorang apalagi seseorang yang tidak pernah kita kenal baik.

Semakin saya dewasa saya semakin menyadari besarnya dampak empati tersebut. Saya bisa membagi perasaan saya dengan orang lain. Dimana dari sebegitu banyak manusia yang memilih mendinginkan kasihnya sendiri, beberapa diantaranya memilih untuk terkoneksi agar kasih itu tidak padam. Saya merasa beruntung masih ada beberapa orang dalam hidup saya yang mau memberikan empatinya kepada saya ketika saya menghadapi masalah yang berat. Saya yakin mungkin saya pun bisa jadi salah satu dari orang-orang yang hatinya mulai dingin jika orang-orang tersebut tidak menyentuh hati saya dengan empati yang mereka berikan. Jadi masihkah saya mengemis empati? Jawabannya iya tapi khusus bagi yang memang siap memberikan empati yang ia punya. Terlepas dari mengemis empati, saya masih tetap setuju bahwa empati bukan sesuatu yang harus kita minta-minta seperti pengemis, namun harusnya sesuatu yang selayaknya kita dapatkan dari orang lain karena kita sama-sama manusia. I still don’t lose hope for humanity!

“All I ever wanted was to reach out and touch another human being not just with my hands but with my heart.”
Tahereh Mafi, Shatter Me

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

New Habit : Writing a Journal

SAM_4811

Tepat menjelang akhir tahun 2016 lalu, saya mulai membiasakan sebuah kebiasaan baru yaitu menulis jurnal baik untuk artikel di blog saya atau hanya untuk konsumsi pribadi. Saya memutuskan untuk mencoba kebiasaan baru ini setelah melihat postingan instagram Mbak Alodita. Waktu itu saya takut nulis jurnal, apalagi dalam bentuk tulisan. Ketakutan pertama saya adalah tulisan jurnal pribadi saya bisa dibaca-baca oleh banyak orang apalagi sangat bisa disebarluaskan atau di foto copy layaknya catatan pelajaran jaman SMA *tsaelaaahhh. Saya juga takut dengan reaksi orang-orang yang ga sengaja membaca jurnal saya, meski ga ada hal aneh sih yang saya tulis. Adik saya pernah ga sengaja lihat tulisan saya di jurnal yang selalu saya bawa-bawa, tapi reaksinya biasa aja bahkan kayak malas liat lagi karena tulisannya panjang-panjang bahkan ada bagian yang tulisannya kayak ceker ayam *lagiemosipasnulis.

Setelah saya ikut workshop How to Make Your Own Book dengan Mbak Lala Bohang, saya makin mantap untuk menulis jurnal. Saya belum sampai di titik mau pasang target untuk nerbitin sebuah buku, mungkin nanti ada target itu, tapi yang sekarang saya ingin usahakan yaitu menulis untuk blog dan untuk saya sendiri. Saya juga ingin lihat “does it works for me?” karena saya pikir tidak semua hal yang orang lain lakukan bisa cocok untuk kita lakukan. Itu sebabnya semua orang punya metode belajar yang sesuai bagi mereka masing-masing.

Sebagai seseorang yang aktif menulis di blog, tentunya saya pernah dalam kondisi yang bingung mau nulis apa. Pernah juga saya merasakan yang saya tulis lebih banyak tentang review event dan produk, sebenarnya sih ini ga salah hanya saja ada sisi kurang puas jika hanya menulis sesuatu yang memang harus kita lakukan hanya sebagai sebuah pekerjaan. Kendala yang sering timbul juga karena saya susah menemukan mood untuk menulis. Sering kali ketika saya baru menyalakan laptop dan ingin menulis, saya bingung mau nulis artikel apa hari ini di blog.

Ide memang terkadang muncul saat tidak di duga, ketika saya sedang di jalan atau ketika saya sedang hang out di mall. Ide pun kadang malu-malu keluar dan sembunyi ketika kita ingin mencurahkannya ke dalam sebuah bentuk tulisan. Memang ide itu mirip-mirip seperti gebetan, pas di kejar malah pergi eh pas lagi ga dikejar malah datang sukarela *jadicurcol. Sering kali jika tidak langsung dituangkan dalam bentuk tulisan, kita bisa mudah lupa untuk mengingatnya kembali.

Membiasakan untuk membawa jurnal kemana-mana ternyata membantu saya menulis banyak, bahkan belum pertengahan tahun ternyata isi jurnal saya udah berlembar-lembar. Saya sering ngeluh betapa susahnya untuk dapat inspirasi dan mood menulis, namun dengan membawa jurnal setiap hari telah membantu saya menulis apapun yang saat itu menginspirasi saya. Menulis jurnal juga membantu saya menghadapi pikiran saya yang sering overthinking, tentunya hal negatif dalam pikiran bisa saya keluarkan dalam bentuk kreatif seperti tulisan, doodle atau puisi singkat. Saya juga sempat berpikir kapan terakhir kali saya menulis manual di buku dengan jaman yang serba digital dimana buku kosong telah digantikan dengan sebuah layar laptop.

Selama saya menulis blog pun saya sering terjebak ingin punya tulisan seperti para blogger-blogger yang namanya sudah terkenal. Sampai di satu titik saya sadar bahwa saya ga akan pernah bisa jadi sama dengan mereka. Saya mulai beralih fokus untuk menemukan sisi terbaik dari diri, saya yang paling terbaik dari saya yang sebelum-sebelumnya bukan saya yang terbaik dari orang lain. Tuhan menciptakan kita itu unik setiap pribadi dengan jalannya masing-masing. Saya ingin pusing karena berusaha menemukan jalan saya sendiri bukan pusing karena saya tersesat di jalan milik orang lain.

Menulis jurnal juga bagian latihan saya untuk jujur terhadap diri saya sendiri. Dulu saya adalah tipe yang apa-apa gampang curhat bahkan curhatan yang sebenarnya ga perlu-perlu bangetlah orang lain tahu. Sekarang saya lebih banyak menahan semua hal agar saya bisa cerna terlebih dahulu. Saya masih cerita kok ke beberapa inner circle saya, namun dengan pertimbangan sangat matang kalau cerita itu cocok untuk dibagikan. Saya juga semakin sadar bahwa belum tentu kita siap dengan reaksi orang yang kita curhati, meski saya lagi belajar banget untuk tetap netral dengan reaksi-reaksi orang lain. Apalagi dengan saya suka sensi dan tipe yang emosinya bisa meledak sewaktu-waktu.

Saya juga sedang memperbaiki pengertian saya tentang sebuah content yang baik dan bermamfaat untuk sebuah blog. Apa yang sebenarnya generasi ini perlukan ditengah jaman yang serba cepat ini dan bukan hanya selalu menulis untuk hal yang sedang hangat-hangatnya booming. Apa yang bisa saya bagi dari hidup dan pengalaman saya untuk membantu orang lain meski hanya sekedar dalam bentuk tulisan. Saya yakin setiap penulis punya tujuan dan nilainya sendiri terkait dengan apa yang mereka tulis.

Menulis jurnal juga bisa menjadi kebiasaan sehat khususnya bagi orang dewasa yang sehari-harinya sibuk. Kalau saya bisa bilang dunia ini penuh dengan banyak suara mulai dari suara handphone, status di media sosial, suara berita, suara lingkungan sekitar yang pada akhirnya membuat saya sadar betapa ributnya tinggal di dunia serba digital. Bisa saja kita melupakan suara hati kita sendiri ditengah dunia yang ribut ini. Kita juga bisa jadi orang lain dan tidak benar-benar jadi diri kita sendiri. Itulah sebabnya menulis untuk diri sendiri sangat membantu bagi saya.

Awalnya saya pikir kebiasaan ini bertujuan agar saya bisa rajin nulis di blog tapi ternyata kebiasaan ini justru membawa mamfaat lain bahkan diluar apa yang saya bayangkan. Salah satunya membuat saya lebih bisa menyalurkan apa yang saya pikirkan baik yang negatif dan positif. Hidup sehat itu bukan hanya tentang tubuh yang sehat kan tapi juga tentang pikiran yang sehat. Kebiasaan ini juga membantu saya untuk lebih jujur dan menerima diri saya sendiri. Yes, this habit works for me. I guess everyone can try this healthy habit and see how it changes them 🙂

Terima Kasih atas Doanya!

SAM_4499
foto diambil ketika penerbangan pergi ke Bali

Saya termasuk orang yang paling suka menggunakan transportasi pesawat terbang untuk urusan traveling ke luar kota, meski hal itu jarang saya lakukan beberapa tahun belakangan ini. Saya juga penikmat rancangan bangunan bandar udara. Banyak spot menarik di Bandara untuk foto-foto atau sekedar jalan-jalan. Saya juga sering memperhatikan para pengunjung yang sedang mengucapkan kata perpisahan atau yang sedang memberi pelukan selamat datang untuk keluarga dan orang terdekat mereka. Bandara memang jadi tempat berpisah sekaligus tempat bertemu kembali bagi banyak orang.

Pesawat memang telah jadi kendaraan yang masih paling aman untuk traveling jarak jauh. Kendaraan ini masih tercatat mempunyai angka minim kecelakaan dibandingkan angka kecelakaan di jalur darat. Namun sekalinya mengalami kecelakaan, burung besi ini bisa merenggut banyak nyawa sekali jatuh.

Saya memang baru saja pulang dari liburan akhir tahun di Bali dengan menggunakan jalur pesawat terbang. Saya mengalami kejadian cukup menegangkan pada penerbangan saya dengan rute Denpasar-Jakarta. Saya memang mengambil jadwal penerbangan siang saat itu. Tidak ada hal yang membuat saya kwatir, bahkan cuaca siang itu sangat cerah. Saya pikir penerbangan kali ini akan sama dengan penerbangan berangkat.

Pesawat kami take off dengan mulusnya tanpa mengalami kendala apapun. Beberapa menit penerbangan awal di udara terasa sangat mulus. Sampai beberapa menit kemudian, pesawat kami tiba-tiba turun mendadak yang membuat smua penumpang refleks berteriak. Saya pun ikut berteriak karena kaget tiba-tiba pesawat melakukan gerakan turun mendadak. Saya langsung memegang tangan adik saya yang berada di sebelah saya, adik saya pun membalas menggenggam tangan saya yang sudah keringat dingin. Lampu tanda seat belt menyala. Pilot langsung memberitahukan bahwa pesawat kami sedang mengalami cuaca yang buruk dan menyuruh penumpang agar tetap berada di kursinya.

Beberapa lama kemudian pesawat kami tetap mengalami naik turun dan kondisi miring kanan kiri sedikit seperti dalam keadaan tidak stabil. Saya makin pucat dan tidak berhenti berdoa karena panik. Saya begitu heran karena cuaca di luar sangat cerah, hanya saja saya bisa merasakan angin diluar begitu kencang. Saya masih tetap menggenggam tangan adik saya saat itu.

Pesawat stabil beberapa menit setelahnya namun pesawat kami mengalami turbulensi lagi dan tanda seat belt pun menyala lagi. Saya makin tak berhenti berdoa, bahkan saya bingung apa yang saya katakan karena saat itu mulut saya seperti berbisik begitu cepat. Adik saya mencoba menenangkan saya namun tetap saja pikiran saya melayang ke hal-hal buruk yang bisa saja terjadi.

Semua penumpang dalam keadaan diam di kursinya, tidak ada satupun yang berbicara. Satu-satunya yang masih terlihat ceria hanyalah anak kecil di sebrang bangku saya yang sedang dipangku oleh ibunya. Anak tersebut tampak kegirangan dan sesekali menaikkan turunkan badannya seolah-olah mau bermain ayunan. Saya masih tetap tegang sambil berdoa. Pikiran saya mulai memikirkan hal-hal lain seperti iman sebiji sesawi dan angin ribut di danau, kisah-kisah yang saya baca dalam Alkitab. Kisah tentang iman biji sesawi yang bisa memindahkan gunung serta Tuhan yang bisa meredakan angin ribut di danau dalam sekejap. Saya juga berdoa di dalam hati dengan tujuan untuk bernegosiasi dengan Tuhan, tolong jangan panggil saya sekarang. Saya juga membayangkan seandainya saya ga sampai dengan selamat. Saya juga mulai membayangkan wajah keluarga dan orang-orang terdekat saya jika hal itu kemungkinan terjadi.

Setelah cukup lama mengalami turbulensi, pilot memberitahukan bahwa kami akan segera bersiap untuk landing. Saya langsung menghembuskan nafas lega. Ketegangan saya mulai berkurang, adik saya pun mulai senang karena saya mulai tenang. Saya mulai berhenti berdoa dan menantikan pemandangan awan di luar jendela pesawat berganti menjadi sebuah daratan. Karena tidak sabar ingin cepat mendarat, saya sampai nanya ke Bapak di sebelah saya yang duduk tepat di sebelah jendela pesawat.

 

“Pak, daratannya sudah kelihatan belum?”

“Belum, mungkin sebentar lagi. Oh ya Mbak, terima kasih ya buat doanya. Saya tadi sudah takut setengah mati.”

Bapak tersebut mengucapkan terima kasih sembari menjabat tangan saya. Saya kaget sekaligus bingung ketika bapak tersebut menjabat tangan saya sembari mengucapkan terima kasih atas doa saya. Padahal saya berdoa dengan kalimat tidak jelas dan dengan suara yang kecil tapi bapak ini malah mengucapkan terima kasih. Padahal saya sudah panik bahkan sempat nangis sebentar ketika pesawat mendadak mengalami turbulensi.

“Saya juga sudah takut pak sebenarnya tadi. Bapak darimana asalnya?

“Saya dari Denpasar mau ke Jakarta, daerah Tanah Abang.”

Beberapa saat kemudian pesawat kami sudah landing dengan mulus di Bandara Halim Perdana Kusuma. Saya pamitan dengan bapak yang tadi duduk di sebelah saya, sambil membawa tas kecil saya keluar pesawat. Saya kebetulan bertemu dengan pilot pesawat tersebut ketika melalui pintu depan pesawat. Saya langsung mengucapkan terima kasih kepada pilot tersebut karena kami sampai dengan selamat, pilot itu pun membalas ucapan saya sambil tersenyum.

Ketika kaki saya menyentuh tanah, ada rasa syukur yang luar biasa di hati saya. Tangan saya masih dingin pasca panik ketika di pesawat tadi namun saya bersyukur saya dan adik saya bisa pulang dengan selamat. Sesampainya saya di rumah saya masih ga mood mau makan. Adik saya dengan santainya bisa cepat move on dan selalu bilang ke saya “yang penting kita udah sampai rumah selamat.” Saya sampai sempat kesal kenapa saya ga sesantai adik saya dalam menghadapi kejadian tersebut.

Saya sempat cerita ke mama saya kejadian yang saya alami siang itu saat penerbangan pulang. Mama saya ngerti saya itu sangat sensitif orangnya. Mama saya juga pernah mengalami hal lebih menegangkan waktu dia naik pesawat di cuaca yang hujan sepanjang hari. Kejadiannya justru lebih serem lagi yaitu ga bisa turun di Bandara Soekarno Hatta karena landasannya banjir, sehingga pesawat yang ditumpangi sampai harus pergi ke dua bandara lainnya agar punya tempat untuk mendarat sementara. Saya cuma bisa diem aja denger ceritanya Mama saya karena ga bisa bayangin kalo ngalamin hal kayak gitu. Mama saya tetap mengingatkan saya tentang satu hal, yaitu kita bisa dipanggil kapan saja.

“Gak pa pa turbulensi itu biasa tapi ingat kalau kita dipanggil kapan pun itu kita harus udah siap dan berserah sama Tuhan”

Saya mengiyakan meski jujur pikiran akan menuju kematian masih membuat saya takut. Bukan kematiannya yang menyeramkan tapi take off-nya yang menyakitkan. Saya juga sempat teringat salah satu rekan kerja saya yang sekarang sudah menjadi pramugari sebuah Maskapai Penerbangan. Saya cerita tentang kejadian yang saya alami ke teman saya itu via whatsaap, saya juga menanyakan kabar dirinya apakah dalam keadaan baik. Nasehat teman saya itu cuma satu yang penting berdoa.

“Gak pa pa mah itu biasa Mon, yang penting kita sudah doa”

Malamnya tentu saya ga bisa tidur. Saya masih teringat kejadian di pesawat waktu itu. Saya bersyukur masih sampai dengan selamat di rumah. Bagaimanapun juga cuaca kadang tidak bisa ditebak perubahannya. Apapun yang terjadi di udara tidak pernah kita bisa sepenuhnya diprediksi. Kapan kita dipanggil pun kita tidak bisa mengetahuinya, itu adalah salah satu waktu yang hanya diketahui oleh Tuhan.

Saya termenung malam itu sebelum akhirnya saya bisa tertidur juga. Ucapan bapak di sebelah saya masih saya ingat jelas, “Terima kasih ya Mbak buat doanya”. Padahal doa saya sudah tidak jelas dan sudah tidak karu-karuan. Padahal sebenarnya saya pun berdoa dalam ketakutan karena saya selalu berpikir bahwa Tuhan sangat susah ditebak pikiran-Nya. Kadang saya sendiri juga bertanya untuk apa bapak itu berterima kasih hanya untuk sebuah doa. Saya tidak tahu bahwa doa dalam ketakutan saya justru Tuhan pakai untuk menguatkan seseorang yang bahkan tidak saya kenal. Saya rasa memang kita tidak akan pernah tahu hal apa yang Tuhan pakai di hidup kita untuk memberkati orang lain. Thanks God, we have arrived home safely!

21/12/2016

Safe and Sound

2016 A year of Grief and Going Nowhere

photo taken by me (blueskyandme)
photo taken by me (blueskyandme)

Tahun lalu menjadi tahun stuck terlama bagi saya. Saya seperti capek jalan di tempat dan ga kemana mana. Saya beberapa kali mendapat panggilan test dan wawancara namun ntah mengapa ada saya hal yang saya kurang sreg. Saya bahkan sempat dalam fase malas mau kirim lamaran kerja lagi karena dalam hati saya sempat ragu jangan-jangan panggilan berikutnya nanti pun hanya buang waktu saya lagi. Semakin saya dewasa saya semakin picky memang karena semakin banyak pertimbangan untuk mengambil keputusan bekerja lagi di suatu kantor. Memang sih saya sempat di nasehati untuk ga picky banget karena siapa sih yang tahu masa depan cuma tetap saja saya was-was ketika mengambil sebuah keputusan.

Tahun lalu juga jadi tahun sembunyi bagi saya. Saya jarang untuk bertemu beberapa komunitas dan teman lama kecuali memang beberapa inner circle yang sangat vital bagi saya. Saya masih ikut event komunitas blogger meski saya juga jadi pilih-pilih acara karena kendala lokasi yang jauh, namun hal ini saya kategorikan dalam lingkup kerjaan, tujuannya jelas ya untuk penulisan artikel blog. Tahun ini bawaannya lebih malas untuk ngumpul-ngumpul, ntahlah saya jadi malas berlama-lama ketemu orang kecuali kalo saya lagi mood. Saya lebih banyak dirumah atau menghabiskan me time sendirian di mall dekat rumah.

Menjelang akhir Tahun juga banyak kejutan yang bikin saya skot jantung. Mulai dari kabar salah satu beauty blogger yang meninggal mendadak di usia muda dengan dugaan tersengat listrik saat mandi, saya sampai speechless dengar kabarnya. Saya sadar memang hidup dan mati sudah ditentukan oleh Tuhan, soal kapan dan bagaimana, kita sebagai manusia sama sekali tidak tahu, yang kita tahu pada akhirnya kapan pun itu kita harus siap mempertanggung jawabkan hidup kita di hadapanNya. Hanya saja berita tersebut jadi beban pikiran saya cukup lama.

Saya juga mengalami hal mengejutkan sewaktu saya naik pesawat pulang dari liburan di Bali. Pesawat saya sempat mengalami turbulensi mendadak yang cukup bikin deg-degan. Herannya cuaca sangat cerah waktu itu bahkan penerbangan di awal terasa sangat mulus sampai pesawat saya tiba-tiba turun naik secara mendadak meski saya rasa turbulensi ini masih wajar harusnya. Hanya saja pilot telat untuk memberitahukan cuaca kurang baik yang sedang pesawat lewati. Saya sempat mikir waktu itu di pesawat, duhh jangan-jangan udah waktunya, saya sampai panick attack beberapa lama sampai saya sempat nangis. Jarang banget saya panik selama saya naik pesawat dan mengalami turbulensi, namun saat itu pikiran buruk sudah membayangi saya karena dua kali kami mengalami turbulensi yang cukup lama padahal cuaca di luar begitu cerah. Semua penumpang pun sudah diam semua di tempat selama melewati cuaca buruk. Sampai ada pemberitahuan untuk siap-siap landing, saya mulai agak tenang. Puji Tuhan saya dan adek saya sampai dengan selamat di bandara Halim Perdana Kusuma.

Saya juga baru saja kehilangan anjing peliharaan saya yang sudah menemani keluarga saya selama 16 tahun. Saya ga meyangka anjing saya meninggal dengan begitu cepat, memang dokter sudah memberitahu kami tentang hal ini, namun tetap saja kami ga siap. Hanya selang beberapa hari dari pemberitahuan, anjing saya menghembuskan nafas terakhir. Saya kehilangan sangat dalam bahkan saat itu saya kayak baru tersadar “gini ya rasanya kehilangan”. Beberapa hari lalu baru saja ngobrol via wa dengan seorang teman lama, saya ingat ketika saya tanya kenapa dia tidak pelihara anjing lagi, jawabannya karena masih merasa kehilangan. Awalnya saya masih belum mengerti dengan alasan tersebut, akhirnya saya baru mengerti setelah anjing saya meninggal. Saya baru sadar bahwa hal tersebut memang tidak mudah. Masih ada bagian yang kosong di hati saya sejak anjing saya pergi. Untungnya masih ada anjing lain yang sudah kami pelihara sebelumnya, anjing tersebut cukup jadi penghiburan bagi saya dan keluarga.

Baca juga Our Last Goodbye, Chester 2016/12/29

Saya masih mengalami serangan panik dan kecemasan beberapa kali bahkan pernah serangan tersebut sangat intens sehingga menimbulkan turunnya semangat saya dalam menjalani hari-hari dan usaha kecil saya. Sejak beberapa teman dekat saya mengetahui kondisi ini memang mereka lebih aware akan kondisi saya. Beberapa teman juga mulai lebih terbuka dengan kondisi mentalnya dan masalahnya kepada saya. Kalau dulu mungkin saya akan malas untuk mendengar curhatan atau malah kasih tanggapan serba positif ala motivator-motivator, sekarang tanggapan saya lebih berbeda. Saya rasanya ingin berada di dekat mereka untuk menangis, memeluk dan berduka bersama karena saya tahu tidak ada satupun kata motivasi yang cukup bagi sebuah hati yang hancur. Saya mengerti bahwa di dalam kondisi paling terburuk kadang yang diperlukan hanyalah sebuah pelukan dan tangisan bersama untuk melegakan semua hal buruk yang di lalui. Saya menghormati waktu berduka dan tangisan teman dekat saya, dan memberikan waktu baginya untuk menyembuhkan diri. Saya bersyukur karakter saya berubah perlahan lahan ditengah-tengah padang gurun yang saya lalui.

Janganlah mengatakan : “Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang?” Karena bukannya berdasarkan hikmat engkau menanyakan hal itu. (Pengkotbah 7 : 10)

Semakin banyak kegagalan yang saya alami juga menyadarkan saya bahwa segala sesuatu hanyalah anugerah. Kadang ada saja kegagalan meski kita sudah berusaha dengan giat dan keras. Saya makin percaya bahwa segala sesuatu yang saya terima atas izin Tuhan adalah anugerah dan kasih karunia. Sehingga ketika Tuhan memporak-porakdakan segala sesuatu yang saya kerjakan, mungkin maksudnya agar saya tidak mengandalkan kekuatan saya sendiri, jangan ada manusia yang menyombongkan diri.

Baca juga Blog post My Lovely Sister – 2016 The Years of Dying

Meski saya merasa saya tidak kemana mana dan banyak mengalami masalah serta kehilangan, tahun ini sebenarnya banyak berkat yang juga Tuhan berikan ke saya. Baru saja kemarin saya membereskan kamar saya, dan barang-barang saya ternyata cukup banyak, bahkan barang-barang tersebut saya dapat gratis dari brand, hadiah menang lomba blog dan lomba lainnya. Waktu saya susun semua barang itu di tempat penyimpanan dan saya langsung bergumam “ini juga berkat dari Tuhan selama setahun lhoo mona”, saat itu juga saya bersyukur bahwa saya ga berkekurangan apapun selama tahun kemarin, malah banyak hal yang diberikan ke saya. Padahal saya sempat merasa kosong meski barang yang saya punya cukup banyak, memang saya selalu mengingatkan diri saya bahwa barang atau hal materi tidak akan dapat memenuhi kepuasan hidup seseorang.

Berkat lainnya juga Tuhan berikan dalam bentuk komunitas dan teman baru yang selalu support saya padahal cara saya bertemu dengan mereka pun dengan cara yang tidak saya sangka-sangka. Christy, if you read this, I want to say thank you for your support. Saya juga bersyukur geng kuliah saya lebih sering merencanakan untuk bertemu meski susah mengatur jadwal ketemu. Saya juga mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan salah satu beauty influencer favorite saya, Alodita dan juga bisa membagi kisah dan positive vibe dengan sesama readernya yang lain yaitu Fetty, Susy dan Wina. Saya masih merasakan penyertaan Tuhan selama tahun kemarin meski saya baru sadar setelah saya renungkan lagi.

Saya sempat menulis di blog saya bulan lalu bahwa saya takut menyambut tahun 2017 ini, saya takut tahun ini pun jadi tahun saya ga menuju kemana mana lagi, namun ntah mengapa ada satu letupan kecil di hati saya yang sudah lama padam, ada satu terang kecil yang menyala. Saya berharap letupan itu menjadi pertanda baik meski saya sering bad mood dan ga semangat. Semoga Tuhan menyertai kita semua di Tahun 2017 ini. Semoga tahun ini arah dan jalan setiap orang yang kebingungan semakin menjadi lebih pasti dan jelas..amin! Saya juga mengucapkan banyak terima kasih untuk para pembaca blog saya yang sudah menyediakan waktu untuk membaca curhatan dan review di blog saya, I really appreciate it. Happy New Year 2017 everyone!

Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu (Keluaran 16:12b)

The Life Lesson I learned When I’m turning 26 years old

blue26years

Tidak seperti biasa saya kurang excited menyambut ulang tahun saya kali ini. Entahlah namun sejak umur 23 tahun dan seterusnya saya kurang excited tentang hidup dibandingkan ketika saya masih lebih muda dulu *tuabangetsekarangyak. Biasanya saya menulis artikel edisi ulang tahun tepat sehari sebelum hari H, ntah mengapa artikel kali ini saya buat dua minggu sebelum saya ulang tahun dan masih saya revisi sehari setelahnya. Jadwal terbit tulisan ini telat sehari, harusnya saya publish tanggal 3 Desember kemarin bertepatan dengan hari ulang tahun saya, namun karena seharian itu saya lagi ga mood dan lupa revisi lagi, jadi tulisan ini baru saya publish hari ini.

Bersyukurnya sehari setelah saya ulang tahun, mood saya berangsur-angsur membaik sehingga saya melanjutkan lagi tulisan ini. Setiap ulang tahun memang saya khusus membuat tulisan apa saja pelajaran hidup yang saya dapatkan selama setahun ini. Meski sempat revisi sana sini akibat mood yang tidak stabil akhirnya tulisan ini selesai juga. Tulisan ini sebagai reminder bagi saya sendiri menjelang umur 26 tahun dan juga sebagai sharing hidup kepada para pembaca blog. Enjoy my post guys!

  1. Bersyukur bahwa Tuhan masih mengasihi saya

Selama perjalanan hidup saya, baru kali ini saya melakukan pemberontakan kepada yang Maha Kuasa. Berkali-kali saya selalu memutuskan dengan pikiran saya sendiri daripada membiarkan Tuhan membimbing saya. Baru kali ini saya merasa begitu letih untuk dituntun dan untuk berserah. Banyak hal yang saya yakini nampaknya bukanlah sesuatu yang nyatanya terjadi di dalam hidup saya. Saya bersyukur ketika berkali-kali memberontak dan mengandalkan diri sendiri, Tuhan masih menyertai dan mengasihi saya, tanganNya tetap meraih saya meskipun mungkin beberapa kali saya memberontak. Saya mungkin tidak bekerja kantoran dan penghasilan dari usaha serta blog tidak tetap bahkan kadang kurang namun saya masih dicukupkan olehNya.

  1. Keluarga adalah hal paling penting

Saya ingat betapa lelahnya saya ketika menghadapi deadline kantor dulu sampai beberapa kali saya sempat jatuh sakit karena terlalu letih. Ketika saya jatuh sakit, keluarga sayalah yang merawat saya sampai saya sembuh. Detik itu juga saya sadar bahwa keluarga adalah hal paling penting dalam hidup saya, ga bisa kebayang kalo saya ga punya siapa-siapa di dunia ini. Keluarga bahkan lebih penting dari rekan-rekan kantormu, teman nongkrongmu, ataupun teman-teman persekutuanmu sekalipun. Sering kali ketika kita sibuk dengan pekerjaan dan pergaulan kita, keluarga jadi terlupakan, padahal keluargalah yang membantu kita di saat kita sedang kesusahan.

  1. Media social yang selalu membingungkan

Hidup di era digital sebenarnya lebih memicu kesalah pahaman antar manusia. Semua orang membagikan semua hal tentang hidupnya di media social bahkan ada yang sampai mengumbar hal paling privasinya. Memang akan selalu ada dampak buruk dan dampak baik dari media social semua itu tergantung bagaimana kita menyikapinya dengan bijak. Semua informasi sekarang begitu cepat untuk diakses dan untuk dibagikan namun begitu juga bisa dengan cepat dipelintir dan dibumbui dengan berbagai macam hasutan. Bahkan banyak yang sudah menganggap media social seperti kehidupan nyata sehingga segala informasi ditelan mentah-mentah tanpa di teliti terlebih dahulu. Media social hanyalah media social, tidak semua hal yang orang lain bagikan, menggambarkan seluruh realita di dunia nyata. Ga mungkin juga kan kita upload foto selfie ketika kita lagi nangis ke instagram, it’s a weird thing. Coba bayangin kalo tiba-tiba listrik mati tentunya social media lenyap dengan seketika bukan 🙂 . So don’t lean on it too muchbecause when electricity and wi-fi shut down, the social media will also disappear.

  1. Lingkaran pertemanan kita menjadi kecil namun berisi teman-teman yang terbaik.

I might meet and know a lot of people but that doesn’t mean they are my close friends. Sebagai makhluk social, kita akan selalu mencari cara untuk berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan yang lain. Sebagai blogger pun saya bertemu banyak sekali orang di berbagai event namun bukan berarti semuanya langsung jadi teman dekat saya. Saya kehilangan beberapa teman yang tadinya akrab dengan saya namun hal ini bukan berarti sesuatu yang negatif. When we talk about friendship, it is not about the numbers and size anymore, it’s more about how they affect me for good reasons. Saya juga bersyukur atas teman-teman lama saya yang masih bertahan sampai sekarang, they also my precious gifts.

  1. Semakin dewasa maka semakin saya menghargai sebuah privasi

Update banyak hal di social media bukan berarti saya tidak menghargai sesuatu yang privasi. Percayalah ketika saya sedang bersama keluarga dan teman-teman terdekat saya ga asik unggah foto setiap saat. Kehidupan di social media saya bedakan, sama seperti kehidupan kerja, bukan seluruh hidup saya share lewat media social. Saya justru menghargai momen-momen yang sangat privasi dan juga lebih sedikit sharing hal yang terlalu personal di blog atau social media. Saya pun mulai menghargai ketika seorang teman dekat saya enggan bercerita beberapa masalahnya karena mungkin terlalu pribadi untuk di ceritakan ke orang lain.

  1. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang

Ketika berbicara tentang kebahagiaan dan standard bahagia hidup, semua orang punya versinya masing-masing. Standard bahagiamu belum tentu menjadi standard bahagia orang lain. Mustahil untuk memenuhi semua standard bahagia versi semua orang, jadi pastikan standard yang kamu penuhi adalah standard bahagia versimu.

  1. Kesempurnaan adalah musuh terbesar di dalam hidup

Ada dua hal yang baru saya pahami menjelang umur 26 tahun bahwa kesempurnaan adalah musuh terbesar bagi hidup saya. Fokus pada kesempurnaan telah membuat saya terlalu idealis sehingga saya ga mau menerima sesuatu yang tidak sesuai standard saya sama sekali. Saya juga jadi malas melakukan sesuatu karena saya pikir ujung-ujungnya tidak menghasilkan sesuatu yang sempurna menurut pemikiran saya. Dua-duanya mempunyai efek senjata makan tuan bagi hidup saya. Lagipula untuk apa berfokus kepada kesempurnaan hidup jika pada akhirnya saya sama sekali tidak bisa menikmati hidup yang dijalani.

  1. Meminta pertolongan bukan berarti saya lemah

Saya masih ingat betapa bencinya saya ketika harus mengandalkan bantuan orang lain. Saya tipe yang paling ga suka harus mengandalkan orang lain. Saya bahkan kesel dengan diri saya sendiri yang sering dikit-dikit curhat dan dikit-dikit nanya ke orang, meski sekarang kebiasaan itu sudah mulai saya kurangi. Saya juga ga suka di ungkit-ungkit kalo ga bisa apa-apa dan seolah-olah saya tuh bisa karena bantuan orang lain. Sampai akhirnya saya mengalami sesuatu hal terkait kondisi mental saya yang mengharuskan saya untuk mencari bantuan pihak lain. Presepsi saya mulai perlahan-lahan berubah. Pada titik tersebut saya baru sadar bahwa meminta bantuan orang lain bukanlah suatu kelemahan, justru sebuah tanda bahwa kamu cukup dewasa untuk tahu bahwa dirimu perlu ditolong.

  1. Menerima bantuan orang lain bukan berarti saya lemah

Hal kedua yang saya paling ga saya suka selain meminta bantuan orang lain yaitu menerima bantuan orang lain. Saya selalu merasa saya bisa melakukan semuanya sendiri, kalau saya menerima bantuan orang lain rasanya kayak saya butuh banget dikasihani, kesannya kayak saya lemah banget gitu. Saya akhirnya sadar bahwa tidak menerima bantuan orang lain bisa dikategorikan sebuah kesombongan. Selama pemberian tersebut tulus untuk membantu dan bukan mengandung unsur sogokan dan niat lain, saya belajar untuk menerima bantuan tersebut, mana tau memang Tuhan menolong saya melalui bantuan orang tersebut.

  1. Berani bermimpi lagi

Menginjak usia 26 tahun saya sering mempertanyakan tentang mimpi saya. Bahkan saya sempat mikir emangnya saya masih punya mimpi ya hehehe, karena terlalu apatisnya. Saya memang merasa lebih realistis dibandingkan ketika saya masih kuliah dulu, supaya ketika kenyataan tidak berjalan semulus yang saya kira, saya ga kecewa amatlah dengan hidup. Tidak berani mempunyai mimpi ternyata membuat saya kebingungan sendiri. Saya ga tau pasti apa yang saya mau atau apa yang akan saya tuju. Saya baru tahu betapa berharganya mimpi ketika saya merasa hidup saya mulai hambar tanpa tujuan.

  1. Apa yang ada di dalam dirimu lebih berharga

Besar dengan orang tua yang berada di generasi IQ adalah segalanya, jadi sesuatu yang sulit bagi saya. Sampai saya sadar bahwa pekerjaan yang bagus, IQ yang tinggi, prestasi yang gemilang, tidak ada gunanya dibandingkan apa yang ada di dalam diri kita. Setiap individu tetap berharga tanpa atribut-atribut prestasi dan segala macam pencapaian.

Beberapa hari yang lalu saya mendengar speech dari Selena Gomez ketika ia menerima sebuah penghargaan, betapa terkejutnya saya ketika kalimat ini justru keluar ketika ia berpidato. Betapa hancurnya dirinya padahal ia mempunyai segalanya. Pidato Selena menjadi sebuah peringatan bagi saya dan mungkin semua orang yang mendengarnya bahwa apa yang ada di dalam diri kita lebih penting dari segala hal yang kita punya.

“I had to stop. Because I had everything, and I was absolutely broken inside. And I kept it all together enough to where I would never let you down, but I kept it too much together to where I let myself down. I don’t want to see your bodies on Instagram. I want to see what’s in here.” – Selena Gomez

  1. Sedikit berbicara dan lebih banyak mendengar

Tidak semua orang bisa menjadi pendengar yang baik. Saya baru menyadari bahwa mendengarkan merupakan sebuah anugerah tersendiri, karena tidak semua orang mempunyai ketulusan untuk mendengarkan orang lain. Tidak semua orang punya perkataan yang bisa membangun dan meneduhkan jiwa orang lain. Kelihatannya seperti anugerah yang sepele lho dibandingkan anugerah lain yang terlihat wahh, namun tidak demikian jika kita melihat dampaknya. Saya sampai sekarang masih belajar untuk menjadi pendengar yang baik daripada cepat berkomentar.

  1. Bersyukur untuk pintu-pintu yang tertutup

Dulu saya suka kesel jika doa saya tidak dijawab atau kesempatan yang saya ambil malah gagal, namun sekarang saya bersyukur untuk pintu-pintu dan doa-doa yang Tuhan sendiri tutup. Kita seringkali bahagia ketika doa kita di jawab namun kita lupa bahwa doa yang dijawab dengan kata TIDAK merupakan anugerah Tuhan sendiri untuk melindungi kita dari sesuatu yang berakibat buruk. Jika pintu atau keinginan kita di tutup itu berarti Tuhan masih melindungi kita.

  1. Menjadi single adalah anugerah

Ketika saya sendiri sudah move on dari segala jenis dongeng percintaan, prince charming, dan segala jenis panjang lebar lika-liku pergumulan pasangan hidup, baru di titik ini saya bersyukur bahwa saya masih single. Percayalah, menjadi single di usia emas dimana semua teman-temanmu bergantian memulai hidup berumah tangga bukanlah sesuatu yang mudah. Saya juga sempat mengalami trauma dalam hubungan dengan lawan jenis, namun hal tersebut justru membuka mata saya, betapa bersyukurnya saya menjadi single. Saya bisa melakukan segala macam kegiatan tanpa perlu permisi terlebih dahulu. Saya juga ingat dulu nenek saya menikah karena di jodohkan oleh keluarga, di usia yang masih sangat muda hingga beliau harus putus sekolah. Saya dan wanita lainnya di luar saya mungkin lebih beruntung hari ini untuk bisa memilih menikah dengan siapa dan di usia yang berhak kita tentukan sendiri.

  1. Berdandan untuk menjadi lebih cantik bukanlah sebuah dosa

Saya ingat betapa saya bahagia ketika pertama kali ikut kelas dandan. Betapa saya menikmati momen mendadani diri saya dan berpakaian serapi mungkin untuk berpergian. Merias diri untuk menjadi cantik dan layak dipandang bukanlah suatu dosa. Semua wanita berhak untuk merasa dirinya cantik dengan riasan wajah dan baju yang bagus. Hal ini bukan berarti saya selalu tampil dengan make up. Saya yakin dengan atau tanpa make up semua wanita berhak untuk merasa dirinya cantik. Merias diri merupakan bentuk perhargaan kita terhadap diri kita untuk tampil secantik yang kita inginkan dan bukannya sebuah tindakan untuk menarik atau memukau kaum pria.

  1. Bahagia dimulai dari dalam diri kita sendiri

Saya sempat membaca salah satu tulisan Olivia lazuardy yang berjudul TO MY FELLOW SISTERS ; BEING HAPPY IS NOT SELFISH . Tulisan tersebut membuka mata saya tentang arti kebahagiaan. Kita mungkin diajarkan untuk mengutamakan kebahagiaan orang lain lebih dari kebahagiaan kita, padahal semua orang punya tanggung jawab sendiri terhadap kebahagiaannya. Saya ingat bagaimana teman saya mengatakan kepada saya betapa pelitnya saya jika saya tidak membagi bekal makanan saya atau ketika tidak segera meminjamkan barang berharga saya dengan segera. Selalu berkata iya untuk membuat orang lain bahagia justru membuat kita melakukan hal yang tidak kita inginkan, pergi ke acara yang tidak kita mau, menjawab percakapan yang sebenarnya tidak kita inginkan. Semua itu terjadi karena kita takut melukai hati orang lain.

Kebahagiaan sejati dimulai dari apa yang kita rasakan secara internal baru kemudian menjadi eksternal atau mengalir ke orang lain. Jika kita sendiri tidak bahagia bagaimana mungkin kita bisa mengalirkan kebahagiaan itu ke orang lain. Penting untuk menjadi bahagia dari dalam agar kebahagiaan itu bisa mengalir ke orang lain

  1. Saya selalu punya hak untuk berkata TIDAK!

Setahun kemarin menjadi tahun latihan bagi saya untuk mengatakan TIDAK pada apapun yang menurut saya tidak sesuai dengan hati nurani saya. Saya sering merasa bersalah dengan mengatakan TIDAK apalagi sesudah mengatakan tidak, orang yang kita tolak memperlihatkan ekspresi kecewa, menyindir atau lebih parahnya mengatakan kalau kita sombong. Saya membiasakan diri untuk mengatakan TIDAK tanpa perlu merasa bersalah, karena mengatakan TIDAK adalah hak penuh saya sebagai seorang individu.

  1. Saya punya hak untuk berkata IYA!

Sebagai seseorang yang mempunyai kecemasan berlebih, sulit bagi saya mengatakan IYA. Hal tersebut karena saya sering terpengaruh pemikiran orang lain. Belum lagi selalu saja ada perkataan orang lain bahkan orang terdekat saya yang membuat saya ragu untuk berkata IYA.

Mengatakan IYA merupakan hak saya sebagai seorang individu. Saya juga sering takut mengatakan IYA kepada sebuah kebahagiaan yang ditawarkan oleh orang lain kepada saya. Mengatakan IYA untuk kebahagiaan saya sendiri menjadi suatu beban, karena saya takut menyesal di kemudian hari, sampai saya sadar ketika saya tidak mengunakan hak saya berkata IYA berakibat penundaan untuk sebuah kebahagiaan yang seharusnya berhak saya terima saat itu.

  1. Memaafkan orang lain untuk menerima kedamaian hati

Selama setahun lebih saya sering merasa susah untuk memaafkan orang lain, ntah mengapa semakin saya dewasa saya semakin sensitif dengan segala sesuatu. Tidak memaafkan orang lain ternyata seperti memendam bara api yang akhirnya malah menghanguskan diri kita sendiri. Memaafkan adalah kunci untuk terciptanya kedamaian hati, meski saya akui hal ini masih susah saya lakukan.

  1. Rejeki tidak akan tertukar dan bahkan kadang tidak terduga sama sekali

Sering kali kita iri dengan melihat orang lain mendapatkan berkat tidak terduga apalagi berkat itu adalah hal yang kita nanti-nantikan. Sebenarnya kalau soal rejeki saya ga muluk-muluk, saya ga mau iri sama orang lain yang dapat rejeki lebih karena saya yakin Tuhan sudah menetapkan setiap rejeki/berkat tiap orang dengan adil menurut pandanganNya. Lagipula siapa sih saya yang bisa menilai adil tidaknya setiap rejeki yang diterima oleh orang lain. Beberapa berkat tidak terduga juga saya alami di tahun ini. Percaya deh, Tuhan selalu punya cara untuk selalu bikin kita kaget dengan berkat-berkatnya asalkan kita berserah penuh.

  1. Belajar mencintai tanpa beban

Topik ini agak sedikit galau sih cuma saya ga akan frontal-frontal amat untuk topik yang satu ini. Sering kali ketika saya mencintai seseorang atau sesuatu, saya merasa beban berlebih di pundak saya. Beban untuk mengikat dan memiliki sesuatu yang saya cintai padahal semua hal itu bukan milik saya, segala hal di dunia ini hanyalah titipan yang bisa sewaktu-waktu Tuhan ambil. Saya mulai belajar mencintai sesuatu tanpa beban mau itu seseorang, impian, karir, pekerjaan dan lain-lainnya. Saya ga mau lagi kecewa karena mencintai secara berlebihan yang akhirnya menjadi beban bagi hidup saya sendiri.

  1. Belajar memaafkan diri saya sendiri

Belajar memaafkan diri sendiri kayaknya memang pelajaran seumur hidup. Selalu saja ada hal yang membuat kita menyalahkan diri sendiri entah itu keputusan yang berakhir fatal, kegagalan di masa lalu, sikap keras kepala kita, tidak sengaja melukai orang lain dan sebagainya. Bukan hanya untuk orang lain, mengingatkan diri kita sendiri bahwa kita tidak sempurna itu perlu. Don’t be hard on yourself!

  1. Belajar untuk menghormati semua bentuk emosi yang dirasakan

Sering kali orang sekitar kita menyeletuk tentang sesuatu hal yang berhubungan dengan ungkapan emosi kita yang berakhir melukai diri kita sendiri. Bahkan tidak jarang hal tersebut mengakibatkan banyak orang dewasa lebih memilih menghampakan perasaannya.

“Gitu aja kok nangis sih”

“Lebay banget sih cuma gitu aja juga”

“Lemah banget sih mentalnya”

Padahal kalau dipikir-pikir lagi, untuk menangis, marah, dan gembira adalah hak setiap orang menurut saya. Mengeluarkan emosi agar tidak terpendam di dalam diri justru lebih baik daripada cuma sekedar stay cool padahal didalamnya memendam bara api. Memendam perasaan negatif dan tidak mengeluarkannya secara bijak hanya akan merugikan diri kita sendiri. Pasti ada maksud Tuhan menciptakan setiap bentuk emosi bagi manusia secara bergantian, meniadakan beberapa emosi hanya membuat emosi kita menjadi tidak seimbang.

  1. Menyadari bahwa kita memiliki keterbatasan sebagai manusia

Manusia mempunyai batas dalam hidup ini, itu sebabnya kita akan sakit jika tidak mengerti batasan dalam tubuh kita. Kita bisa meninggal jika kita tidak tidur dalam beberapa hari. Tidak mengingat bahwa kita sebagai manusia mempunyai batasan seperti menganggap diri kita sendiri adalah Tuhan yang tidak terbatas, nah lhoo, seremm ya hehehe. Saya baru sadar tentang hal ini ketika saya baca postingan salah satu teman Facebook saya yang mengutip kalimat sebuah buku Rohani Kristen. Padahal postingannya simpel yaitu tentang tidur sebagai penyerahan diri kepada Tuhan, tapi itu jleb banget deh di saya yang suka susah tidur maupun sering ngurangin waktu tidur untuk urusan kerjaan.

“..kalau tidur adalah penyerahan diri. Tidur adalah deklarasi iman.Tidur berarti mengakui bahwa kita bukan Allah (yang tidak pernah tidur) dan hal itu adalah hal yg baik. Tidur cukup jg membuat kita lebih segar, lebih kreatif, lebih produktif, lebih bahagia. Tidak memedulikan tubuh juga akan menghambat pertumbuhan rohani.” -The Good and Beautiful God. 2014

Seketika itu juga kutipan tersebut menohok saya. Apalagi saya kuliah di jurusan Teknik Arsitektur dimana jam tidur kadang kacau ketika tugas kuliah sedang banyak-banyaknya. Belum lagi ketika kerja tentu saya pernah mengurangi waktu tidur atau ga tidur sama sekali untuk menyelesaikan kerjaan. Terus saya juga suka kambuh insomnia di malam hari, kurang berontak apalagi coba saya, berasa nyaingin Tuhan aja jadinya.

  1. Belajar untuk tidak meremehkan diri sendiri

Saya sering banget minder, rasanya ga punya talenta apa-apa, kalaupun buat karya, masa sih ada yang mengapresiasi hehehe. Saya belajar satu hal selama setahun ini yaitu ketika kita ragu dengan diri kita sendiri maka kemungkinan orang lain pun akan ragu dengan diri kita. Bagaimana kita bisa menyakinkan orang lain kalau kita aja ga yakin dengan diri kita sendiri, meskipun ini saya akui susah dalam prakteknya hehehe. Susah bagi saya untuk bisa meyakini diri saya bahwa saya bisa. Kalaupun nanti hasilnya tidak memuaskan, yang terpenting saya sudah berusaha sebisa mungkin dengan apa yang saya punya.

  1. Fokus pada solusinya

Akhir-akhir ini dunia pemerintahan kita sedang heboh-hebohnya mengalami banyak isu mulai dari isu penting sampai yang menurut saya yah ga penting-penting amat. Saya dapat pelajaran juga dari semua kondisi heboh yang disiarkan oleh berbagai stasiun tv bahwa fokuslah pada solusinya, jangan hanya sampai di fase kritik.

Bangsa kita ga pernah kekurangan orang yang mengkritik, semua orang bisa memberi komentar dan kritik, apalagi sekarang sudah ada media social sebagai wadah untuk bebas berekpresi. Tapi coba deh kita pikir lagi bahwa perubahan baru terlihat ketika yang punya berbagai solusi menjalankan hasil dari solusinya.

Melihat semua itu saya jadi belajar untuk selalu menyertakan solusi dan saran bersama-sama ketika melayangkan sebuah kritikan. Yak ini bukan kampanye, bukan sama sekali, cuma perenungan ini benar-benar menjadi pelajaran bagi saya sendiri. Jika niat saya mengkritik yang bertujuan membangun ke arah yang lebih baik, berarti paling tidak saya menyertakan saran juga sesudahnya.

Saya ga sangka sih tulisan ini akan jadi lumayan panjang, semoga yang baca sabar untuk membacanya ya hehehe. Saya bersyukur di usia 26 tahun saya masih sehat dan berkecukupan segala sesuatu meski kondisi saya sekarang diluar dari yang saya harapkan. Semoga tahun depan jadi tahun yang lebih-lebih membahagiakan bagi saya..aminnn aminnn.

Sekian 26 hal yang saya pelajari menjelang umur 26 tahun semoga bisa bermamfaat bukan hanya bagi saya namun juga bagi yang membaca tulisan ini. Akhir kata saya ucapkan terima kasih bagi yang sering mampir untuk sekedar membaca tulisan saya, I really appreciate it 🙂 ! See you on my next post!