Personal Thought : Hidup Tanpa Harapan

fff

Saya sempat tertegun ketika salah satu sahabat SMA saya berkata bahwa kita hidup karena mempunyai harapan. Awalnya saya biasa aja menanggapi hal itu sampai bulan lalu adik saya mendapatkan jawaban dari doa yang selama ini ia pinta. Setelah menganggur lama semenjak lulus, adik saya tidak putus-putusnya berdoa agar bisa diterima di sebuah Konsultan Hukum. Adik saya berharap dapat diterima di sebuah kantor konsultan hukum yang memang sesuai dengan nilai-nilai yang ia pegang selama ini. Tentu saja saya mendukungnya dalam doa. Saya juga turut senang dengan wajah puas adik saya tiap kali pulang kantor meskipun ia sangat lelah mengarungi kemacetan ibu kota.

Kejadian ini mengingatkan saya bahwa doa sebenarnya merupakan bentuk harapan kita akan hari esok yang kita sampaikan kepada Tuhan. Ketika kita malas untuk berdoa bisa jadi karena kita malas untuk berharap lagi untuk hari esok. Tentu hidup sudah seharusnya penuh harapan, setidaknya berharap bahwa hari esok masih ada. Saya memang sudah lama tidak meminta di dalam doa saya. Salah satu alasan mengapa saya malas meminta dalam doa, karena saya takut terlalu berharap dalam hidup dan berakhir kecewa dengan kenyataan yang terjadi.

Saya pernah mengalami masa-masa tanpa harapan dalam hidup. Saya malas untuk bangun di pagi hari karena saya merasa tidak ada sesuatu yang wah akan terjadi dalam hidup saya. Saya juga ingat betapa bosannya saya melalui setiap hari karena saya pikir hari ini akan sama saja dengan hari esok. Saya malas untuk meminta dalam doa saya karena saya lebih takut sia-sia meminta. Hidup tanpa harapan memang mudah untuk dilakukan. Hidup saja tanpa berharap. Hidup saja tanpa meminta dalam doa. Hidup saja tanpa menanti sebuah perubahaan atau menanti mimpimu untuk tercapai.

Dalam hidup ini, saya menemukan banyak orang yang memberi saya harapan namun saya juga menemukan orang-orang yang telah membuat saya enggan untuk berharap lagi. Mudah untuk menghancurkan harapan seseorang. Bilang saja kepada orang itu bahwa ia tidak layak untuk bermimpi. Bilang saja pada orang tersebut bahwa ia tidak layak mendapatkan apa pun dalam kehidupan, karir dan hubungan. Remehkan mimpinya sehingga ia tidak berani bermimpi lagi. Ambil keputusan atas hidupnya, supaya dia merasa dia tidak punya hak untuk memutuskan dalam hidupnya. Tutup mata saja atas kerja kerasnya selama ini, meski yang ia lakukan sudah yang terbaik. Buat ia merasa tidak berharga dengan kata-kata kasarmu, sehingga ia merasa hidupnya tidak berharga lagi. Bukankah hal-hal ini yang sering terjadi sebelum seseorang akhirnya memutuskan untuk bunuh diri?

Sangat mudah untuk membenci dan menghilangkan harapan seseorang. Semua orang bisa melakukannya. Hal ini bukan sesuatu yang hebat malah menurut saya hal yang remeh banget untuk bisa dilakukan. Semua orang bisa jadi haters, semudah membuat akun bodong di media social dan mengincar orang-orang yang terlihat bahagia di media social untuk dijadikan objek kebencian. Tapi apakah si pembenci di ingat? Mungkin diingat, namun hanya sekedar sebagai penyebar kebencian.

Butuh usaha untuk menumbuhkan harapan di diri setiap orang yang sudah hidup tanpa harapan. Butuh kerja keras untuk membuktikan bahwa sebenarnya kita bisa maju dan berubah. Butuh keringat untuk membangun apa yang sudah rusak menjadi sesuatu yang berguna dan berharga lagi. Butuh semangat yang membara untuk membangkitkan semangat-semangat lain yang sudah padam sejak lama.

Malam kemarin saya yang sedang surut harapan ini, justru berdoa dan menangis untuk seseorang yang saya tidak kenal. Saya hanya tahu kerja kerasnya selama ini dari apa yang media sampaikan dan dari hasil kerjanya yang saya nikmati sebagai rakyat ketika saya jalan ke Ibu Kota. Belum pernah saya segitu perhatiannya dengan perkembangan di negara ini sebelum sosok ini muncul. Saya sedih ketika sosok ini dituduh atas tuduhan yang sebenarnya dibuat-buat saja. Mungkin ada yang tidak senang kalau bangsa ini pada akhirnya mempunyai harapan untuk berkembang dan maju.

Perbedaan memang sudah ada di negara ini sejak dulu, namun bukan berarti hal itu menjadi masalah yang harus dibesar-besarkan untuk suatu kepentingan politik. Selama saya hidup saya berusaha untuk menghormati segala perbedaan selayaknya saya ingin di hormati. Saya masih mengingat guru les bahasa inggris semasa SMA dulu yang beragama muslim, pernah menyidang salah satu teman les saya yang dengan frontal menghina teman les lain yang berdarah Tionghoa.

Beragam kata-kata kasar berbau sara ia lontarkan dengan pedenya kepada teman saya yang merupakan keturuan Tiong Hoa, pada saat kami sedang dalam proses belajar mengajar di tempat les. Padahal teman saya yang berdarah Tiong Hoa ini ga pernah nyinggung dia sama sekali. Kalau bisa dibilang sih hampir satu kelas ga suka sama orang ini yang tiba-tiba suka mengejek orang tanpa sebab. Saya bersyukur guru saya tegas waktu itu menyidang temen saya yang bandel itu di depan kelas, karena menurut guru saya, ia tidak ingin teriakan menyudutkan ras tertentu itu ditiru oleh anak-anak yang lain.

Salah satu sahabat SMA saya ada yang beragama muslim. Sampai sekarang saya banyak belajar dari sahabat saya tersebut. Ga pernah tuh kami ribut karena urusan agama. Salah satu sahabat semasa saya kuliah juga adalah seorang penganut Budha yang taat. Saya sering bertukar pikiran dengannya termasuk soal agama kami masing-masing. Pasti ada perbedaan pendapat diantara kami berdua, namun bukan berarti saya harus berteriak karena ia mempunyai pandangan yang berbeda. Setiap agama tentu mempunyai ajaran yang berbeda, namun satu hal yang kami terus pegang yaitu saling menghormati dan mengasihi satu sama lain di atas perbedaan tersebut. Lagipula agama adalah tentang hubunganmu dengan Tuhan dan bagaimana kamu memperlakukan sesama dengan baik, bukan tentang apa yang orang lain katakan tentang agamamu.

Seribu Bunga untuk Pak Ahok
Seribu Bunga untuk Pak Ahok

Saya terharu melihat siaran berita kemarin malam dimana banyak orang dari berbagai suku, agama dan ras berkumpul untuk menyalakan lilin pengharapan. Hukum negara ini memang sudah banyak timpang, bukan hanya pada kasus yang belakangan ini terjadi namun juga kasus-kasus yang sudah pernah terjadi sebelumnya di negara ini. Saya sedih menanggapi fenomena yang sudah terjadi. Saya juga sempat tidak semangat beberapa hari karena fenomena tersebut. Hanya saja saya masih mengingat sosok tersebut yang masih dengan sabar tersenyum dan tidak melawan ketika di bawa ke tempat penghukuman, mengingatkan saya akan Sosok Besar yang 2.000 tahun lalu yang pernah mengalami hal lebih berat dari ini.

Teruntuk Putera Bangsa…

yang raganya terkurung di balik jeruji besi,

Bapak mungkin ga kenal saya, ga perlu juga sih pak untuk mengenal saya. Saya cuma rakyat jelata yang mungkin belum ada kontribusi apa-apa bagi negara ini, namun saya kirimkan doa saya yang tulus untuk Bapak di sana. Saya harap Bapak tidak kehilangan harapan Bapak ditengah-tengah bangsa yang sedang hilang arah ini dan ditengah-tengah bangsa yang masih memilih membesar-besarkan hal yang sebenarnya ga perlu daripada membangun Negara. Saya berdoa agar Tuhan memberikan penghiburan terhadap Bapak di sana karena saya yakin damai sejahterah merupakan pemberian Tuhan bukan pemberian manusia yang fana. Terima kasih Pak untuk kerja kerasnya dan teladan hidup yang Bapak berikan selama ini, untuk bekerja dengan tulus meski di cemooh, menerima dengan sabar meski orang lain mereka-rekakan kejahatan dan dengan tetap teguh berharap kepada Tuhan. Terima kasih sudah menyalakan lilin dan harapan bagi kami di saat bangsa ini kehilangan harapan. Terima kasih untuk mengajarkan kami bahwa seorang pemimpin adalah teladan bagi orang lain dan bukannya hanya soal memiliki kekuasaan. Semoga suatu saat saya bisa bertemu dengan Bapak dan keluarga agar saya bisa lebih banyak belajar dari Bapak.

Tuhan menyertai Bapak selalu. Amin.

Tulisan ini saya buat bukan untuk membesar-besarkan masalah. Saya yakin semua berhak mengungkapkan pendapatnya dengan bijak tanpa perlu memaksakan kehendak. Saya yakin tidak usah berkoar-koar negatif jika pendapat orang berbeda denganmu. Sosok yang saya ceritakan sudah begitu berjiwa besar menerima hukuman yang dijatuhkan padanya, jika memang ada beberapa orang yang masih belum puas juga, saya rasa sudah seharusnya orang tersebut memeriksa hatinya sendiri. Keputusanmu sendirilah untuk masih memelihara sakit hati dan kebencian bukan karena orang lain lagi. Mintalah Tuhan memeriksa hatimu karena seorang manusia tidak mampu memeriksa hatinya sendiri dengan benar.

Ga perlu juga berpikir saya ingin famous dengan menulis artikel ini, ga perlu kamu mengenal saya. Saya sudah bahagia dengan memiliki sedikit teman yang benar-benar mengenal saya. Saya hanya berdoa pesan damai ini tersampaikan. Teriring doa saya juga untuk Gubernur yang terpilih semoga bisa banyak belajar dari pemimpin sebelumnya dan bisa bekerja lebih lebih baik lagi. Peran-mu sekarang berat Pak, karena sebelum dirimu sudah ada seorang pemimpin besar yang menyentuh banyak hati dengan ketulusan dan kerja kerasnya.

“Mintalah Tuhan memeriksa hatimu karena seorang manusia tidak mampu memeriksa hatinya sendiri dengan benar.”

Saya memilih mencintai perbedaan. Saya memilih menghormati perbedaan tanpa perlu memaksakan sesuatu kepada orang yang berbeda dengan saya. Saya memilih pengampunan daripada dendam. Saya memilih bersabar daripada reaktif. Saya memilih Indonesia yang penuh toleransi antar suku, ras dan agama.

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Personal Thought : About Forgiveness

SAM_5190

Saya bukan tipe orang yang bisa mengampuni orang lain dengan baik. Saya bisa berkata seperti itu karena saya suka memendam masalah. Selama ini banyak yang mengira saya terlihat baik-baik saja namun saya orang yang begitu tertutup untuk urusan yang berhubungan dengan perasaan sakit hati.

Saya besar di keluarga yang kaku dengan gaya asuh orang tua yang otoriter. Hal kecil seperti berbeda pendapat dengan orang tua bahkan bisa di salah artikan sebagai bentuk perlawanan terhadap orang tua saya. Padahal sah-sah saja kok punya pendapat yang berbeda. Hal ini juga yang membuat saya membenci tipe kepemimpinan yang otoriter karena membuat saya merasa tertekan secara batin dan mental.

Ketika saya masih kecil, saya tumbuh dalam lingkungan yang penuh kata-kata negatif terhadap diri saya. Banyak perkataan menyakitkan yang saya dapatkan, bahkan dari lingkungan yang terdekat. Semakin saya menginjak dewasa ternyata mengampuni menjadi sesuatu yang sulit bagi saya. Semakin saya dewasa semakin saya juga merasa lebih sensitif, meskipun saya mulai belajar untuk tidak take it personally perkataan setiap orang yang belum tentu membangun.

Baca juga Sunday Thoughts : The Freedom of Taking Nothing Personally by Olivia Lazuardy.

Sebenarnya mengampuni bukan topik hangat yang sering saya ingat dalam hidup, sampai kotbah minggu kemarin di gereja kebetulan adalah tentang mengampuni. Kotbah ini sangat ingin saya lewatkan karena saya tidak ingin mengingat luka-luka lama yang ternyata masih saya simpan. Siapa sih yang mau teringat-ingat lagi dengan kepahitan-kepahitan di masa lalu? Pasti ngak ada kan.

Dalam kotbahnya, Pendeta tersebut menceritakan pengalamannya mengampuni rekan pendeta lain yang sering menjelekkan dirinya. Ternyata hidup dalam kepahitan dan sakit hati bukanlah hidup yang menyenangkan. Ada masa dimana setiap kali pendeta tersebut berdoa rasanya sangat hambar dan kosong, sampai Tuhan menyuruh bapak pendeta tersebut mengunjungi orang yang sudah menyakitinya. Hal yang tidak di duga ternyata terjadi, orang yang dikunjungi justru jadi orang yang menangis duluan untuk meminta pengampunan si pak pendeta. Sejak saat itu hidup pak pendeta mulai berubah menjadi lebih baik. Hubungan pak pendeta dan rekan se-kerjanya itu pun dipulihkan.

Selama kita hidup pasti ada banyak orang yang telah menyakiti perasaan kita. Saya juga pernah mengalami masa dimana ada aja orang yang dengan mudahnya merendahkan saya, menghina karya saya dan menganggap remeh apa yang saya kerjakan, meski saya sudah berusaha sebaik-baiknya. Saya bukan tipe yang meluap-luap secara frontal ketika menghadapi masalah, namun memang emosi saya bisa meledak ketika saya dalam keadaan sangat letih. Saya lebih sering memutuskan komunikasi dan hubungan dengan orang-orang yang menyakiti saya. Saya pikir tidak baik meneruskan hubungan yang tidak didasari oleh rasa saling menghargai satu sama lain. Saya juga merasa butuh jarak dan waktu ketika saya sedang terluka karena orang lain.

“Yang lain mati dengan sakit hati, dengan tidak pernah merasakan kenikmatan” (Ayub 21 :25)

Kok kita yang menderita? kan yang salah dia harusnya dia dong yang menderita. Pertanyaan ini juga muncul ketika kalimat tersebut terlontar dari kotbah minggu lalu. Ternyata orang yang menyimpan dendam dan kepahitan lebih rentan jatuh sakit dan meninggal. Itu sebabnya mengampuni bertujuan untuk menjaga agar kita hidup lebih bahagia dan sehat. Kitalah yang harus melepaskan pengampunan agar hidup kita lebih bahagia.

Saya masih ingat pernah mengalami sakit hati begitu dalam kepada seorang pria dari masa lalu. Saya ga akan panjang lebar menceritakan pengalaman tersebut. Tiga tahun kemudian setelah hubungan kami berakhir dengan masalah, pria tersebut menghubungi saya berkali-kali via sms dan telepon. Saya yang masih shock saat itu tidak membalas satu pun sms atau mengangkat telepon dari pria tersebut. Saya bingung harus merespon seperti apa. Di sisi lain saya masih merasakan sakit hati dan kegeraman di dalam hati saya meski tidak sebesar dulu. Untungnya saat itu sahabat-sahabat terdekat saya terus menerus menenangkan saya. Salah satu sahabat saya juga membujuk saya untuk mengampuni pria tersebut agar saya lebih bisa lega dalam menjalani hidup. Pada akhirnya saya membalas sms pria tersebut dengan singkat, padat dan jelas yang inti dari pesan saya ialah saya sudah mengampuni dia. Saya berharap dia bisa memperlakukan wanita selanjutnya dengan lebih baik.

Butuh perjuangan memang untuk mengampuni seseorang. Sampai detik ini saya masih berjuang untuk mengampuni orang-orang yang sadar atau tanpa sadar telah menyakiti saya. Saya juga mulai rutin berdoa meminta Tuhan untuk memberikan saya kekuatan untuk mengampuni karena sebagai manusia mungkin saya tidak sanggup untuk mengampuni. Saya juga harus menyadarkan diri saya bahwa saya masih ada sampai hari ini semua itu juga karena pengampunan Tuhan.

“Orang yang terluka cenderung melukai orang lain”

Ada satu kalimat menarik dalam kotbah minggu kemarin yaitu orang yang terluka cenderung akan melukai orang lain. Pernah ga sih kita melihat orang yang omongannya suka kasar dan perilakunya cenderung melukai orang lain bahkan dilakukan tanpa sebab tertentu? Pernah ga menemukan orang yang masih mengungkit trauma dan kesalahan orang lain? Saya pernah menemukannya, bahkan saya pernah berada di posisi orang tersebut. Saya jadi sosok yang sangat kasar karena saya sedang terluka sangat dalam saat itu. Itu sebabnya kadang ada orang yang gampang marah-marah ketika sakit hati bukannya malah menangis. Teriakan marah sebenarnya merupakan teriakan kesakitan dari orang itu sendiri.

Sekarang kalau saya lihat orang yang suka marah-marah tanpa sebab dan berkata kasar, saya coba untuk lebih mengerti kondisi orang tersebut. Bisa saja ia memang berasal dari keluarga yang berantakan, lingkungan kerja yang kasar, atau sedang melalui masalah hidup yang berat. Meskipun sebenarnya saya tidak pernah setuju dengan orang yang suka melampiaskan amarah ke orang lain secara membabi buta, saya tetap mencoba bersabar dan mengerti.

“…Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat…” (Lukas 23 : 34)

Orang dewasa cenderung lebih rentan untuk terluka karena hidup dalam banyak tekanan dan tanggung jawab. Meski kita sudah menjadi dewasa tetap saja inner children di dalam diri kita bisa merasakan sakit dan terluka. Saya juga sering melihat orang dewasa melampiaskan amarah dengan kata-kata yang sangat kasar kepada keluarganya, rekan se-kerjanya, bawahannya atau pun orang asing yang ia temui di jalan. Hidup dengan menyimpan luka memang sangat membahayakan bagi orang tersebut maupun bagi sekitarnya.

Saya harap tahun ini saya bisa belajar untuk melepaskan pengampunan lebih banyak lagi untuk diri saya dan orang lain, bahkan tanpa perlu mengharap permohonan maaf dari orang-orang yang telah menyakiti saya. Saya tidak ingin hidup dengan terus-terusan membawa luka. Saya harap artikel kali ini bisa bermamfaat bagi para pembaca khususnya yang belum selesai dengan luka lamanya. Sudahkah kita mengampuni hari ini? See you on my next post readers! 

“Bara api itu sudah seharusnya kamu lepaskan agar kamu sendiri tidak terbakar. -MD”

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Tidak Pernah Sampai Namun Tidak Akan Pernah Sama

SAM_5317Saya bertumbuh di dalam banyak komunitas selama saya hidup sampai sekarang. Ketika saya kuliah, saya punya beberapa komunitas yang begitu mempengaruhi saya sebagai seorang individu. Saya masih mempertahankan hubungan dengan geng SMA saya. Saya masih menyempatkan diri untuk bertemu dengan teman-teman persekutuan semasa saya kuliah. Saya masih jalan dengan geng kuliah saya sampai sekarang. Saya masih melanjutkan Kelompok Kecil yang dulu saya ikuti dari kuliah. Komunitas yang baik telah banyak memberikan pertumbuhan dalam diri saya.

Saya berkembang dan bertumbuh di dalam komunitas yang memang sangat dekat hubungannya dengan saya. Tanpa saya sadari hal ini pun telah membuat saya begitu takut dan begitu lemah ketika komunitas tersebut tidak ada lagi buat saya. Lingkungan saya berubah beberapa kali ketika saya terjun dalam dunia kerja. Saya dituntut untuk lebih utuh secara individual dibandingkan harus berada di dalam sebuah kelompok. Saya harus siap membawa diri saya sendiri. Saya juga harus siap berenang di tengah-tengah kepentingan orang lain, karakter yang berbeda dan suara hati nurani saya sendiri.

Ada masa-masa dimana saya penuh dengan kebingungan dengan jalan yang harus saya hadapi. Sampai sekarang pun saya masih meraba-raba hari depan yang sebenarnya adalah sebuah misteri bagi semua manusia. Hari ini saya pikir keberhasilan akan datang, besoknya saya mengalami kegagalan. Malam ini saya bermimpi tentang banyak hal, besoknya saya bangun dengan menghadapi kenyataan.

Hal yang paling saya benci dari hidup adalah perasaan bahwa saya tidak akan pernah sampai. Saya benci untuk berpindah. Saya benci dengan perubahan drastis. Saya membenci sesuatu yang tidak pernah pasti. Saya benci dengan perasaan tidak pernah sampai. Saya benci harus memulai semuanya dari awal meskipun pada akhirnya saya memulai semua hal dari awal beberapa kali. Saya benci harus meninggalkan dan ditinggalkan, namun saya juga mengerti bahwa perpisahan pun sama baiknya dengan pertemuan.

Selalu ada ruang di antara kebahagiaan yang saya inginkan dengan apa yang akhirnya saya dapatkan. Selalu ada jarak dalam mimpi yang ingin saya wujudkan dengan kenyataan yang harus saya hadapi. Sejenak saya baru menyadari betapa melelahkan-nya sebuah kehidupan. Kita ingin mengapai banyak hal untuk kemudian kita lepaskan di penghujung kehidupan. Bahwa diantara kelahiran dan kematian, kita merajut kebahagiaan hidup yang kita inginkan.

Saya tidak akan pernah sampai dalam hidup. Saya hanya akan melewati waktu, ruang, tempat, rasa dan orang yang saya sudah temui, sedang saya temui dan akan saya temui. Saya akan berubah berkali-kali. Saya akan gagal kemudian berhasil dan gagal lagi. Saya akan bertemu dan berpisah berkali-kali. Saya tidak akan pernah sampai dalam menjalani hidup namun saya tidak akan pernah sama lagi untuk selanjutnya.

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Woman and Her Role

girla
Woman, different woman different beauty, we don’t need to compare them

Sejak kecil dulu saya suka menggambar sosok wanita di kertas kosong milik saya. Saya bingung juga sih kenapa figur yang saya suka gambar itu wanita, jarang banget saya gambar sosok pria. Pernah beberapa kali saya gambar figur pria tapi seringnya berakhir dengan gambar yang sama, hasilnya ga berkembang. Kalau pun ada gambar sosok pria, biasanya karena saya lagi belajar gambar wajah teman saya dengan mengambil contoh dari foto. Berbeda dengan figur wanita, saya bisa menggambar berbagai macam sosok wanita dalam coretan saya khususnya untuk gambar yang sifatnya imajinatif. Bagi saya pribadi, figur wanita memang cocok dijadikan sumber inspirasi dalam gambar maupun tulisan.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya juga lebih banyak dikelilingi teman wanita yang telah banyak menginspirasi saya. Dunia pasti hampa sekali rasanya tanpa sosok wanita. Dunia butuh sosok wanita pastinya karena selama ini wanita-lah yang berperan besar membesarkan generasi penerus dan turut serta melahirkan banyak perubahan.

Setelah saya beranjak dewasa, saya makin menyadari betapa susahnya menjadi seorang wanita. Tekanan dan beban itu pelan-pelan menghinggapi pundak saya semenjak saya dewasa. Wanita tuh harus pintar, harus bisa masak, harus kuat, harus, harus dan harus. Sepertinya kata “harus” ini jadi tidak ada habisnya semakin saya dewasa. Saya sadar betul bahwa peran seorang wanita itu susah apalagi jika dirinya sudah menjadi seorang istri dan seorang ibu. Saya lihat ibu saya aja kadang mikir, bisa gak ya nanti saya seperti beliau yang bisa mengurus keluarga dan juga pekerjaan.

Di balik semua kodrat seorang wanita tentunya ada wanita itu sendiri sebagai pribadi yang unik. Setiap gadis muda tentunya punya perjalanannya sendiri untuk menuju seorang wanita biasa. Perjalanan untuk menemukan siapa mereka sebenarnya terlepas dari gender. Perjalanan menemukan panggilan mereka dalam apa yang mereka kerjakan. Perjalanan menemukan impian-impian mereka sendiri dalam karir, hidup dan cinta. Saya yakin gender tidaklah menentukan siapa kita sebenarnya. Perjalanan menemukan jati diri itu milik semua orang baik pria dan wanita.

Setiap wanita di dunia pun punya perannya masing-masing. Tidak bijak menilai seorang wanita lebih wah dari yang lain hanya karena mereka sukses di aspek yang berbeda dalam hidup. Setiap wanita punya pilihan dalam hidupnya, punya kelebihan, punya kekurangan dan punya pergumulan-nya masing-masing. Tidak perlu juga menentukan standard baku bagi tiap wanita. Capek dong kalau semua wanita di dunia ini dinilai hanya dari standard baku yang diciptakan orang lain.

Pada hari International Woman Day, saya ingin merayakan banyak hal. Merayakan sosok wanita yang begitu penting di dunia ini. Merayakan bahwa setiap wanita berbeda dan itu adalah suatu keindahan tersendiri. Merayakan bahwa setiap wanita punya panggilannya masing-masing, setiap mereka tidaklah seharusnya merasa kurang dari wanita lain hanya karena berbagai perbedaan. Merayakan bahwa wanita sekarang bisa mengenyam pendidikan dan bekerja layaknya para pria. Merayakan bahwa wanita punya pilihan untuk menikah dan tidak menikah demi kebahagiaan-nya sendiri. Merayakan para wanita yang sampai detik ini masih mengerjakan perubahan di dunia dalam hal kecil dan hal besar.

Setiap wanita punya peran berbeda bagi lingkungan sekitarnya. Mungkin bagianmu sebagai ibu rumah tangga. Mungkin bagianmu menjadi pemimpin di kantor. Mungkin bagianmu sebagai karyawan biasa. Mungkin bagianmu hanyalah sebagai seorang penulis di blog pribadi. Apapun peran yang dipilih oleh setiap wanita biarlah itu yang menjadi sebuah kontribusi untuk lingkungan sekitar dan generasi seterusnya. Happy International Woman Day 2017!

 The problem with gender is that prescribes how we should be rather than recognizing how we are. -Chimamanda Ngozi Adichie-

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Mengemis Empati

SAM_4462 resize

Bulan Februari ini bisa dibilang bulan yang tidak terduga, keluarga saya mengalami satu musibah yang sempat membuat keluarga saya cukup trauma. saya ga akan panjang lebar tentang musibah tersebut di blog ini karena fokus tulisan ini bukan untuk hal itu. Alasan lain kenapa saya tidak akan bahas musibah tersebut karena hal ini masih dalam ranah sangat privasi khususnya bagi keluarga saya. Pasca musibah tersebut juga sempat membuat keluarga saya cukup shock beberapa hari setelahnya, namun saya masih bersyukur bahwa keluarga saya tetap dalam keadaan sehat dan selamat.

Saya juga cukup mengambil banyak waktu diam saat itu, karena masih mengalami perasaan campur aduk beberapa hari setelahnya. Saya juga sempat bimbang ketika mau berdoa, jujur saya capek menanyakan “Mengapa” kepada Tuhan. Saya pikir segala sesuatu mau yang baik maupun buruk tidak harus dapat dimengerti saat itu juga. Saya juga memilih fokus menenangkan pikiran saya daripada kebanyakan mikir yang berujung jatuh sakit. Saya berkali-kali menyakinkan diri saya bahwa Tuhan tahu yang terbaik, titik tanpa koma dan tanpa perlu saya menambah panjang barisan doa saya. Saya juga hanya menceritakan masalah ini khusus ke beberapa inner circle saya yang paling terdekat dan itupun dengan tujuan memohon doa agar saya dan keluarga dikuatkan.

Setahun ini memang saya membiasakan diri untuk tidak gembar gembor cerita panjang lebar kesana kesini. Saya juga tidak mau heboh pasang status di Medsos ketika perasaan saya sedang campur aduk daripada hal tersebut malah menjadi tindakan makan tuan sendiri bagi saya. Saya belajar untuk tidak buru-buru bercerita dan membiasakan diri untuk mengambil momen privasi untuk perasaan campur aduk yang dirasakan. Saya ga mau seolah-olah “mengemis empati” dengan kejadian-kejadian sedih yang saya ceritakan apalagi menceritakannya ke sembarang orang.

Saya pernah mengalami trauma dengan respon balik yang diberikan oleh beberapa orang di dalam hidup saya terdahulu. Saya tidak menyalahkan sepenuhnya respon balik yang ternyata justru menyakiti, saya mengerti mungkin tidak semua orang siap dihujani dengan cerita-cerita buruk atau curhatan perasaan negatif yang dirasakan seseorang. Tidak semua orang siap dengan hal yang kita ungkapkan dengan gamblangnya saat itu juga. Saya semakin maklum di jaman serba sibuk ini semua orang jadi serba sensitif karena begitu banyaknya persoalan dan kesibukan sehari-hari namun sedikitnya waktu berdiam.

Satu hal yang menjadi pengingat ialah Empati. Empati adalah cara kita terkoneksi dengan orang lain. Ketika saya ingin terhubung secara emosi kepada beberapa orang di dalam lingkaran pertemanan saya. Beberapa mungkin akan memberikan empatinya sehingga terkoneksi dengan saya, sebagian mungkin hanya memberikan simpatinya dimana hal itu tidak saya anggap sesuatu yang salah, dan sisanya mungkin membangun tembok setinggi-tingginya agar tidak repot mengoneksikan diri dengan saya. Terlepas dari berbagai respon yang pernah saya terima. Saya tidak ingin terlalu capek memikirkan respon orang yang tidak peduli terhadap saya ketika saya sedang bercerita. Saya yakin semua orang punya hak mau dengan siapa mereka memberikan empati yang mereka punya. Saya juga tidak ingin lagi terlalu berekspektasi tinggi apalagi mengharapkan “sedekah empati” atau minta dikasihani.

Hal yang sering jadi pengamatan saya tentang empati di jaman serba digital ini ialah melalui komen di media social. Saya pernah begitu shocknya membaca banyak komen nyirnyir dan merendahkan dari banyak orang terkait berita sebuah mahasiswa yang ditemukan bunuh diri karena dugaan depresi sejak nilai kuliahnya menurun. Saya shock bukan main dengan komen-komen candaan dan nyirnyiran tentang mental tempe dari banyak orang. Saya pikir wow empati sudah hilang dari sebagian besar masyarakat kita, rest in peace humanity! Saya pikir saat ini dunia makin ga waras karena berita kematian malah dikomentarin dengan komentar-komentar tidak pantas untuk almarhum. Saya ga tahu sih standard dunia sekarang masih mengucapkan turut berduka cita lagi apa tidak untuk seseorang yang baru meninggal. Bagi saya standard dunia kadang terdengar gila, itu sebabnya apapun kejadiannya saya pasti selalu balik kepada standard yang Alkitab katakan karena itu pegangan saya dalam hidup. Kejadian tersebut namun membuka mata saya bahwa kita tidak pernah tahu respon balik dari seseorang apalagi seseorang yang tidak pernah kita kenal baik.

Semakin saya dewasa saya semakin menyadari besarnya dampak empati tersebut. Saya bisa membagi perasaan saya dengan orang lain. Dimana dari sebegitu banyak manusia yang memilih mendinginkan kasihnya sendiri, beberapa diantaranya memilih untuk terkoneksi agar kasih itu tidak padam. Saya merasa beruntung masih ada beberapa orang dalam hidup saya yang mau memberikan empatinya kepada saya ketika saya menghadapi masalah yang berat. Saya yakin mungkin saya pun bisa jadi salah satu dari orang-orang yang hatinya mulai dingin jika orang-orang tersebut tidak menyentuh hati saya dengan empati yang mereka berikan. Jadi masihkah saya mengemis empati? Jawabannya iya tapi khusus bagi yang memang siap memberikan empati yang ia punya. Terlepas dari mengemis empati, saya masih tetap setuju bahwa empati bukan sesuatu yang harus kita minta-minta seperti pengemis, namun harusnya sesuatu yang selayaknya kita dapatkan dari orang lain karena kita sama-sama manusia. I still don’t lose hope for humanity!

“All I ever wanted was to reach out and touch another human being not just with my hands but with my heart.”
Tahereh Mafi, Shatter Me

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

Unexpected Day!

SAM_4820

Bulan Januari lalu merupakan bulan yang cukup sibuk bagi keluarga saya, bukan sibuk masalah kerjaan atau apa tetapi karena banyaknya acara kumpul-kumpul keluarga. Bulan tersebut juga merupakan bulan dimana kakak tertua saya sibuk-sibuknya menyelasaikan thesis S2-nya di Kedokteran Gigi. Kesibukan kakak tertua saya ternyata berdampak juga kepada saya dan adik saya. Kami turut serta menyumbang tenaga untuk menghibur ponakan saya yang semakin tambah rewel karena sering ditinggal mamanya ke kampus.

Suatu hari di minggu pertengahan Januari, kakak saya tiba-tiba menelpon adik saya yang saat itu sedang berada di rumah. Saya sempat dengar beberapa kalimat percakapan adik saya di telepon karena kebetulan juga saya sedang di rumah. Setelah telepon ditutup, adik saya buru-buru menyuruh saya siap-siap untuk pergi. Saya agak bingung sih waktu itu. Ternyata kakak tertua saya minta dibawakan printer dari rumahnya ke kampus hari itu, karena tempat print di kampus penuh dengan orderan mahasiswa S1 dan S2. Kami buru-buru berangkat sambil membawa printer kakak saya itu ke daerah Salemba dengan menggunakan mobil.

Setelah kami sampai di kampus UI Salemba, kakak saya langsung mengambil printernya dibantu oleh kami berdua. Saya dan adik memutuskan makan siang di kantin kampus karena kami sampai tepat di jam makan siang. Karena kami juga akan menunggu kakak saya sampai urusan print-an thesisnya selesai, kami memutuskan untuk mencari cafe kecil daerah Menteng atau Cikini. Kebetulan kami ga tau-tau banget area sekitar Cikini selain tempat makan di Metropole 21. Saya sempat cari-cari tempat nongkrong area Cikini via instagram dan akhirnya postingan salah satu fashion blogger yang saya ikuti, Olivia Lazuardy, membawa saya dan adik saya ke Shophaus. Ternyata Lokasi Shophaus tidak jauh dari kampus Salemba dan mudah di lacak dengan waze.

SAM_4821

SHOPHAUS, Menteng.

Setibanya kami di Shophaus, petugas parkir lansung menawarkan valet kepada kami. Awalnya kami tolak karena takut harganya mahal namun ternyata layanan ini memang termasuk layanan dari Shophaus sendiri karena tempat parkir Shophaus sedikit, plus biaya parkir tetap normal kok kata si bapak petugasnya. Kami akhirnya mengunakan tawaran valet si petugas tadi supaya ga repot cari parkir ke area sekitar Shophaus.

Pertama kali yang saya amati dari tempat ini ialah bagian fasad (tampak depan) bangunannya yang dominan dengan jalusi kayu berwarna putih. Tampak depan bangunan ini sepertinya berfungsi sebagai fasad kedua untuk menjaga privasi dalam bentuk pandangan dari luar ke dalam bangunan tanpa menghalangi jalur sirkulasi udara. Hal lain yang saya amati dari tempat ini ialah perpaduan antara warna dominannya yaitu putih dan sentuhan material kayu yang digunakan dalam ruangan. Tidak kalah cantik lagi yaitu tangga spiral-nya yang menjadi salah satu spot bagus untuk foto-foto cantik.

SAM_4794 a

SAM_4799

SAM_4791

SAM_4802Shophaus sebenarnya terdiri dari beberapa toko di dalamnya seperti toko ice cream/gelato, dessert, barber shop, dan klinik kecantikan kecil. Khusus untuk lantai dua Shophaus dipakai untuk tempat sebuah restauran. Sepintas Shophaus mengingatkan saya dengan sebuah ruko, dimana biasanya di dalam sebuah ruko terdiri dari beberapa toko. Namun ruko memang terkesan lebih kaku dengan design yang hampir sama serta toko yang berjejer ke lantai atas, berbeda dengan Shophaus yang menawarkan sebuah design gabungan beberapa toko namun disesuaikan dengan lifestyle masyrakat kota sekarang yang tentunya tetap mencari suasana nyaman kekinian ditengah padatnya kota Jakarta.

SAM_4805

SAM_4787

SAM_4786aKebetulan setelah jam makan siang, pengunjung Shophaus tidak terlalu ramai, dalam artian kami masih dapat spot tempat duduk. Saya dan adik saya memesan satu cup kecil gelato dari Gelato Secrets. Satu cup kecil/cone terdiri dari dua varian rasa gelato yang bisa dipilih sendiri, tentunya bisa di coba terlebih dahulu dengan satu sendok kecil. Saya memilih satu cone kecil dengan dua rasa gelato yaitu chocolate dan charcoal seharga Rp 30.000,00. Satu porsi cukup membuat perut saya kenyang karena cone yang diberikan termasuk padat porsinya.

Pengunjung akan semakin padat ketika menjelang sore apalagi jam-jam menuju pulang kantor, hampir dipastikan akan susah untuk mendapatkan tempat duduk di sini. Tempat ini cocok untuk nongkrong lama karena tempatnya sangat comfy. Saya nongkrong makan gelato sekalian menulis draft blog post baru untuk blog yang sebenarnya sudah ada di buku jurnal saya. Kebetulan menjelang sore, cuaca cerah berganti dengan derasnya hujan di daerah Menteng. Area dalam ruangan langsung terasa ribut bukan hanya karena pengunjung namun karena bunyi air hujan yang jatuh dengan deras di atas sky light atap yang terbuat dari polycarbonate. Meskipun hal tersebut menyumbangkan suara ribut di dalam ruangan, pengunjung tetap bertahan dan melakukan aktivitas nongkrong mereka seperti biasa.

SAM_4823

METROPOLE 21, Cikini.

Menjelang jam makan malam, kami mendapat kabar bahwa kakak kami belum selesai urusan presentasi dan thesisnya. Kami memutuskan untuk mencari makanan berat sebagai makan malam di daerah Metropole 21. Setelah di renovasi menjadi lebih bagus memang Metropole 21 ini lebih banyak pengunjungnya karena sekarang tempatnya lebih bersih dan nyaman dibandingkan ketika jaman dulu hehehhe.

Kebetulan kami sampai di saat jam makan malam dan juga jam orang-orang kantoran pulang, jadi Metropole saat itu ramai sekali. Kami sempat tidak mendapatkan tempat duduk, baik di area dalam ataupun area luar, sampai mungkin sekitar 30 menit akhirnya kami dapat meja di bagian indoor. Kami sama-sama memesan satu porsi sate ayam dan lontong dengan harga Rp 25.000,00. Standard harga makanan di Metropole lumayan sih untuk pekerja kantoran yaitu kurang lebih start dari harga Rp 25.000,00 untuk makanannya.

Setelah kami selesai makan, kami memutuskan untuk nonton di Cinema 21 Metropole karena kabar dari kakak kami yang katanya baru akan selesai malam sekali hari itu. Ketika kami sedang pilih film bioskop, saya udah pesan duluan sama adik saya malam itu, “Jangan pilih film galau!”. Saya ga terlalu mood nonton film galau di bioskop hari itu. Pilihan kami akhirnya jatuh pada film Arrival yang merupakan film sci-fiction. Filmnya bagus menurut saya karena mengajarkan banyak hal, khususnya pentingnya arti komunikasi apalagi ketika menghadapi lawan bicara yang berbeda dimensi dengan kita, kalau dalam film sih lawan bicaranya Alien dari luar angkasa.

Sebelum jadwal film kami tayang, saya ga sengaja bertemu salah satu senior saya yang pernah satu kosan dengan saya disaat kuliah dulu. Ternyata kakak senior saya itu nonton film bersama suaminya sehabis pulang kerja, kebetulan kantor mereka dekat dengan Metropole 21. Saya sempat ga mengenali senior saya itu karena sekarang ia tambah gemuk dan sedang dalam keadaan hamil. Kakak senior saya itu nampak bahagia meski penampilannya berbeda dari terakhir kali saya bertemu dengannya ditambah dia sekarang sedang mengandung si buah hati, wow time flies so fast. Kami sempat mengobrol sebentar sampai akhirnya saya balik lagi ke tempat adik saya menunggu.

Selesai nonton film, saya dan adik saya menyusul kakak saya ke kampusnya. Ternyata abang ipar saya sudah ikut menunggu di kampus sekalian menemani kakak saya print tugas-tugasnya. Kakak saya selesai print sekitar tengah malam dan akhirnyaa saudara-saudara, kami pun pulang kerumah dengan saya yang bertugas sebagai supir. Sesampainya di rumah, saya dan adik saya tepar di kasur cuma kami senang sih meski capek nunggu berbuah jalan-jalan juga seharian ahahahha. Ternyata kadang sesuatu hal yang dadakan justru mengantarkan kita ke tempat-tempat yang tidak terduga. Padahal kalo direncanain biasanya malah sering banyak batalnya ahahahah. It’s really an unexpected day! but sure we really enjoy it. See you on my next post readers!

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog.

FOR MORE INFORMATION

Shophaus Menteng

Jl. Teuku Cik Ditiro No. 36

Everyday: 10am-10pm

t: +62 21 22393252

e: info@shophaus.id

w: www.shophaus.space

Metropole 21 Cikini

Kompleks Megaria

Jalan Pegangsaan No. 21

Jakarta Pusat

New Habit : Writing a Journal

SAM_4811

Tepat menjelang akhir tahun 2016 lalu, saya mulai membiasakan sebuah kebiasaan baru yaitu menulis jurnal baik untuk artikel di blog saya atau hanya untuk konsumsi pribadi. Saya memutuskan untuk mencoba kebiasaan baru ini setelah melihat postingan instagram Mbak Alodita. Waktu itu saya takut nulis jurnal, apalagi dalam bentuk tulisan. Ketakutan pertama saya adalah tulisan jurnal pribadi saya bisa dibaca-baca oleh banyak orang apalagi sangat bisa disebarluaskan atau di foto copy layaknya catatan pelajaran jaman SMA *tsaelaaahhh. Saya juga takut dengan reaksi orang-orang yang ga sengaja membaca jurnal saya, meski ga ada hal aneh sih yang saya tulis. Adik saya pernah ga sengaja lihat tulisan saya di jurnal yang selalu saya bawa-bawa, tapi reaksinya biasa aja bahkan kayak malas liat lagi karena tulisannya panjang-panjang bahkan ada bagian yang tulisannya kayak ceker ayam *lagiemosipasnulis.

Setelah saya ikut workshop How to Make Your Own Book dengan Mbak Lala Bohang, saya makin mantap untuk menulis jurnal. Saya belum sampai di titik mau pasang target untuk nerbitin sebuah buku, mungkin nanti ada target itu, tapi yang sekarang saya ingin usahakan yaitu menulis untuk blog dan untuk saya sendiri. Saya juga ingin lihat “does it works for me?” karena saya pikir tidak semua hal yang orang lain lakukan bisa cocok untuk kita lakukan. Itu sebabnya semua orang punya metode belajar yang sesuai bagi mereka masing-masing.

Sebagai seseorang yang aktif menulis di blog, tentunya saya pernah dalam kondisi yang bingung mau nulis apa. Pernah juga saya merasakan yang saya tulis lebih banyak tentang review event dan produk, sebenarnya sih ini ga salah hanya saja ada sisi kurang puas jika hanya menulis sesuatu yang memang harus kita lakukan hanya sebagai sebuah pekerjaan. Kendala yang sering timbul juga karena saya susah menemukan mood untuk menulis. Sering kali ketika saya baru menyalakan laptop dan ingin menulis, saya bingung mau nulis artikel apa hari ini di blog.

Ide memang terkadang muncul saat tidak di duga, ketika saya sedang di jalan atau ketika saya sedang hang out di mall. Ide pun kadang malu-malu keluar dan sembunyi ketika kita ingin mencurahkannya ke dalam sebuah bentuk tulisan. Memang ide itu mirip-mirip seperti gebetan, pas di kejar malah pergi eh pas lagi ga dikejar malah datang sukarela *jadicurcol. Sering kali jika tidak langsung dituangkan dalam bentuk tulisan, kita bisa mudah lupa untuk mengingatnya kembali.

Membiasakan untuk membawa jurnal kemana-mana ternyata membantu saya menulis banyak, bahkan belum pertengahan tahun ternyata isi jurnal saya udah berlembar-lembar. Saya sering ngeluh betapa susahnya untuk dapat inspirasi dan mood menulis, namun dengan membawa jurnal setiap hari telah membantu saya menulis apapun yang saat itu menginspirasi saya. Menulis jurnal juga membantu saya menghadapi pikiran saya yang sering overthinking, tentunya hal negatif dalam pikiran bisa saya keluarkan dalam bentuk kreatif seperti tulisan, doodle atau puisi singkat. Saya juga sempat berpikir kapan terakhir kali saya menulis manual di buku dengan jaman yang serba digital dimana buku kosong telah digantikan dengan sebuah layar laptop.

Selama saya menulis blog pun saya sering terjebak ingin punya tulisan seperti para blogger-blogger yang namanya sudah terkenal. Sampai di satu titik saya sadar bahwa saya ga akan pernah bisa jadi sama dengan mereka. Saya mulai beralih fokus untuk menemukan sisi terbaik dari diri, saya yang paling terbaik dari saya yang sebelum-sebelumnya bukan saya yang terbaik dari orang lain. Tuhan menciptakan kita itu unik setiap pribadi dengan jalannya masing-masing. Saya ingin pusing karena berusaha menemukan jalan saya sendiri bukan pusing karena saya tersesat di jalan milik orang lain.

Menulis jurnal juga bagian latihan saya untuk jujur terhadap diri saya sendiri. Dulu saya adalah tipe yang apa-apa gampang curhat bahkan curhatan yang sebenarnya ga perlu-perlu bangetlah orang lain tahu. Sekarang saya lebih banyak menahan semua hal agar saya bisa cerna terlebih dahulu. Saya masih cerita kok ke beberapa inner circle saya, namun dengan pertimbangan sangat matang kalau cerita itu cocok untuk dibagikan. Saya juga semakin sadar bahwa belum tentu kita siap dengan reaksi orang yang kita curhati, meski saya lagi belajar banget untuk tetap netral dengan reaksi-reaksi orang lain. Apalagi dengan saya suka sensi dan tipe yang emosinya bisa meledak sewaktu-waktu.

Saya juga sedang memperbaiki pengertian saya tentang sebuah content yang baik dan bermamfaat untuk sebuah blog. Apa yang sebenarnya generasi ini perlukan ditengah jaman yang serba cepat ini dan bukan hanya selalu menulis untuk hal yang sedang hangat-hangatnya booming. Apa yang bisa saya bagi dari hidup dan pengalaman saya untuk membantu orang lain meski hanya sekedar dalam bentuk tulisan. Saya yakin setiap penulis punya tujuan dan nilainya sendiri terkait dengan apa yang mereka tulis.

Menulis jurnal juga bisa menjadi kebiasaan sehat khususnya bagi orang dewasa yang sehari-harinya sibuk. Kalau saya bisa bilang dunia ini penuh dengan banyak suara mulai dari suara handphone, status di media sosial, suara berita, suara lingkungan sekitar yang pada akhirnya membuat saya sadar betapa ributnya tinggal di dunia serba digital. Bisa saja kita melupakan suara hati kita sendiri ditengah dunia yang ribut ini. Kita juga bisa jadi orang lain dan tidak benar-benar jadi diri kita sendiri. Itulah sebabnya menulis untuk diri sendiri sangat membantu bagi saya.

Awalnya saya pikir kebiasaan ini bertujuan agar saya bisa rajin nulis di blog tapi ternyata kebiasaan ini justru membawa mamfaat lain bahkan diluar apa yang saya bayangkan. Salah satunya membuat saya lebih bisa menyalurkan apa yang saya pikirkan baik yang negatif dan positif. Hidup sehat itu bukan hanya tentang tubuh yang sehat kan tapi juga tentang pikiran yang sehat. Kebiasaan ini juga membantu saya untuk lebih jujur dan menerima diri saya sendiri. Yes, this habit works for me. I guess everyone can try this healthy habit and see how it changes them 🙂

2016 A year of Grief and Going Nowhere

photo taken by me (blueskyandme)
photo taken by me (blueskyandme)

Tahun lalu menjadi tahun stuck terlama bagi saya. Saya seperti capek jalan di tempat dan ga kemana mana. Saya beberapa kali mendapat panggilan test dan wawancara namun ntah mengapa ada saya hal yang saya kurang sreg. Saya bahkan sempat dalam fase malas mau kirim lamaran kerja lagi karena dalam hati saya sempat ragu jangan-jangan panggilan berikutnya nanti pun hanya buang waktu saya lagi. Semakin saya dewasa saya semakin picky memang karena semakin banyak pertimbangan untuk mengambil keputusan bekerja lagi di suatu kantor. Memang sih saya sempat di nasehati untuk ga picky banget karena siapa sih yang tahu masa depan cuma tetap saja saya was-was ketika mengambil sebuah keputusan.

Tahun lalu juga jadi tahun sembunyi bagi saya. Saya jarang untuk bertemu beberapa komunitas dan teman lama kecuali memang beberapa inner circle yang sangat vital bagi saya. Saya masih ikut event komunitas blogger meski saya juga jadi pilih-pilih acara karena kendala lokasi yang jauh, namun hal ini saya kategorikan dalam lingkup kerjaan, tujuannya jelas ya untuk penulisan artikel blog. Tahun ini bawaannya lebih malas untuk ngumpul-ngumpul, ntahlah saya jadi malas berlama-lama ketemu orang kecuali kalo saya lagi mood. Saya lebih banyak dirumah atau menghabiskan me time sendirian di mall dekat rumah.

Menjelang akhir Tahun juga banyak kejutan yang bikin saya skot jantung. Mulai dari kabar salah satu beauty blogger yang meninggal mendadak di usia muda dengan dugaan tersengat listrik saat mandi, saya sampai speechless dengar kabarnya. Saya sadar memang hidup dan mati sudah ditentukan oleh Tuhan, soal kapan dan bagaimana, kita sebagai manusia sama sekali tidak tahu, yang kita tahu pada akhirnya kapan pun itu kita harus siap mempertanggung jawabkan hidup kita di hadapanNya. Hanya saja berita tersebut jadi beban pikiran saya cukup lama.

Saya juga mengalami hal mengejutkan sewaktu saya naik pesawat pulang dari liburan di Bali. Pesawat saya sempat mengalami turbulensi mendadak yang cukup bikin deg-degan. Herannya cuaca sangat cerah waktu itu bahkan penerbangan di awal terasa sangat mulus sampai pesawat saya tiba-tiba turun naik secara mendadak meski saya rasa turbulensi ini masih wajar harusnya. Hanya saja pilot telat untuk memberitahukan cuaca kurang baik yang sedang pesawat lewati. Saya sempat mikir waktu itu di pesawat, duhh jangan-jangan udah waktunya, saya sampai panick attack beberapa lama sampai saya sempat nangis. Jarang banget saya panik selama saya naik pesawat dan mengalami turbulensi, namun saat itu pikiran buruk sudah membayangi saya karena dua kali kami mengalami turbulensi yang cukup lama padahal cuaca di luar begitu cerah. Semua penumpang pun sudah diam semua di tempat selama melewati cuaca buruk. Sampai ada pemberitahuan untuk siap-siap landing, saya mulai agak tenang. Puji Tuhan saya dan adek saya sampai dengan selamat di bandara Halim Perdana Kusuma.

Saya juga baru saja kehilangan anjing peliharaan saya yang sudah menemani keluarga saya selama 16 tahun. Saya ga meyangka anjing saya meninggal dengan begitu cepat, memang dokter sudah memberitahu kami tentang hal ini, namun tetap saja kami ga siap. Hanya selang beberapa hari dari pemberitahuan, anjing saya menghembuskan nafas terakhir. Saya kehilangan sangat dalam bahkan saat itu saya kayak baru tersadar “gini ya rasanya kehilangan”. Beberapa hari lalu baru saja ngobrol via wa dengan seorang teman lama, saya ingat ketika saya tanya kenapa dia tidak pelihara anjing lagi, jawabannya karena masih merasa kehilangan. Awalnya saya masih belum mengerti dengan alasan tersebut, akhirnya saya baru mengerti setelah anjing saya meninggal. Saya baru sadar bahwa hal tersebut memang tidak mudah. Masih ada bagian yang kosong di hati saya sejak anjing saya pergi. Untungnya masih ada anjing lain yang sudah kami pelihara sebelumnya, anjing tersebut cukup jadi penghiburan bagi saya dan keluarga.

Baca juga Our Last Goodbye, Chester 2016/12/29

Saya masih mengalami serangan panik dan kecemasan beberapa kali bahkan pernah serangan tersebut sangat intens sehingga menimbulkan turunnya semangat saya dalam menjalani hari-hari dan usaha kecil saya. Sejak beberapa teman dekat saya mengetahui kondisi ini memang mereka lebih aware akan kondisi saya. Beberapa teman juga mulai lebih terbuka dengan kondisi mentalnya dan masalahnya kepada saya. Kalau dulu mungkin saya akan malas untuk mendengar curhatan atau malah kasih tanggapan serba positif ala motivator-motivator, sekarang tanggapan saya lebih berbeda. Saya rasanya ingin berada di dekat mereka untuk menangis, memeluk dan berduka bersama karena saya tahu tidak ada satupun kata motivasi yang cukup bagi sebuah hati yang hancur. Saya mengerti bahwa di dalam kondisi paling terburuk kadang yang diperlukan hanyalah sebuah pelukan dan tangisan bersama untuk melegakan semua hal buruk yang di lalui. Saya menghormati waktu berduka dan tangisan teman dekat saya, dan memberikan waktu baginya untuk menyembuhkan diri. Saya bersyukur karakter saya berubah perlahan lahan ditengah-tengah padang gurun yang saya lalui.

Janganlah mengatakan : “Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang?” Karena bukannya berdasarkan hikmat engkau menanyakan hal itu. (Pengkotbah 7 : 10)

Semakin banyak kegagalan yang saya alami juga menyadarkan saya bahwa segala sesuatu hanyalah anugerah. Kadang ada saja kegagalan meski kita sudah berusaha dengan giat dan keras. Saya makin percaya bahwa segala sesuatu yang saya terima atas izin Tuhan adalah anugerah dan kasih karunia. Sehingga ketika Tuhan memporak-porakdakan segala sesuatu yang saya kerjakan, mungkin maksudnya agar saya tidak mengandalkan kekuatan saya sendiri, jangan ada manusia yang menyombongkan diri.

Baca juga Blog post My Lovely Sister – 2016 The Years of Dying

Meski saya merasa saya tidak kemana mana dan banyak mengalami masalah serta kehilangan, tahun ini sebenarnya banyak berkat yang juga Tuhan berikan ke saya. Baru saja kemarin saya membereskan kamar saya, dan barang-barang saya ternyata cukup banyak, bahkan barang-barang tersebut saya dapat gratis dari brand, hadiah menang lomba blog dan lomba lainnya. Waktu saya susun semua barang itu di tempat penyimpanan dan saya langsung bergumam “ini juga berkat dari Tuhan selama setahun lhoo mona”, saat itu juga saya bersyukur bahwa saya ga berkekurangan apapun selama tahun kemarin, malah banyak hal yang diberikan ke saya. Padahal saya sempat merasa kosong meski barang yang saya punya cukup banyak, memang saya selalu mengingatkan diri saya bahwa barang atau hal materi tidak akan dapat memenuhi kepuasan hidup seseorang.

Berkat lainnya juga Tuhan berikan dalam bentuk komunitas dan teman baru yang selalu support saya padahal cara saya bertemu dengan mereka pun dengan cara yang tidak saya sangka-sangka. Christy, if you read this, I want to say thank you for your support. Saya juga bersyukur geng kuliah saya lebih sering merencanakan untuk bertemu meski susah mengatur jadwal ketemu. Saya juga mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan salah satu beauty influencer favorite saya, Alodita dan juga bisa membagi kisah dan positive vibe dengan sesama readernya yang lain yaitu Fetty, Susy dan Wina. Saya masih merasakan penyertaan Tuhan selama tahun kemarin meski saya baru sadar setelah saya renungkan lagi.

Saya sempat menulis di blog saya bulan lalu bahwa saya takut menyambut tahun 2017 ini, saya takut tahun ini pun jadi tahun saya ga menuju kemana mana lagi, namun ntah mengapa ada satu letupan kecil di hati saya yang sudah lama padam, ada satu terang kecil yang menyala. Saya berharap letupan itu menjadi pertanda baik meski saya sering bad mood dan ga semangat. Semoga Tuhan menyertai kita semua di Tahun 2017 ini. Semoga tahun ini arah dan jalan setiap orang yang kebingungan semakin menjadi lebih pasti dan jelas..amin! Saya juga mengucapkan banyak terima kasih untuk para pembaca blog saya yang sudah menyediakan waktu untuk membaca curhatan dan review di blog saya, I really appreciate it. Happy New Year 2017 everyone!

Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu (Keluaran 16:12b)

Ketika Rumput Tetangga Terlihat Lebih Hijau

Photo by Stas Ovsky from Unsplash.com
Photo by Stas Ovsky from Unsplash.com

Beberapa hari yang lalu saya main ke salah satu blog temen kuliah saya. Saya memang jarang ketemu teman kuliah, karena rumahnya pada mencar semua se-Jabodetabek, belum lagi yang anak rantau, ada yang akhirnya pulang dan berkarir di kotanya sendiri. Intinya kalo ketemu temen kuliah itu jaranglah bagi saya apalagi saya juga tinggal di kota Bekasi yang lumayan susah transport kalau mau ke Jakarta. Hanya beberapa saja yang sering saya temui, itu pun karena rumahnya satu wilayah sama saya ataupun karena buka usaha kecil-kecilan bareng sama saya.

Sampai saya ga sengaja nemu blog salah satu temen kuliah saya dulu yang ternyata juga suka nulis. Saya sempat dua kali ketemu sama teman saya ini sejak di dunia kerja. Pertama kali kami tidak sengaja ketemu ketika saya mau berangkat ke kantor lama saya yang berada di Depok, terus saya ketemu temen saya ini Fitri. Saya pikir dia juga mau berangkat ke kantor sama kayak saya karena kami bertemu di stasiun Tebet, tetapi ternyata dia baru mau pulang ke rumah karena habis menginap di kantor, ngerjain proyek. Saat itu saya ga terlalu kaget, karena kami sama-sama kerja di biro konsultan arsitek meskipun beda kantor, saya cukup ngerti gimana situasi kerja profesi kami kalo ada masalah mendadak yang harus di selesaikan.

Pertemuan kedua kami terjadi ketika saya mau wawancara di sebuah biro konsultan di Kemang, trus saya ketemu Fitri lagi karena doi salah satu pegawai di kantor tersebut. Kebetulan Fitri baru jalan satu tahun kerja disitu setelah pindah dari kantor yang di daerah Tebet. Dulu juga kami pernah ketemu beberapa kali karena bantuin riset peneliti dari Jepang yang merupakan kolega dosen kami, cuma kejadiannya ga se-fenomenal pertemuan kami di stasiun kereta dan di biro konsultan.

Kalau ketemu Fitri, saya tuh ga bisa berhenti cerita, ada-ada ajalah yang jadi obrolan, maklum kami termasuk yang nyambung kalau ngobrol hehehe. Sampai sekarang kadang saya masih chat Fitri di whatsaap untuk sekedar nanya kabar atau ngobrol meski ga sering-sering banget. Saya selalu asumsikan kalau temen yang sering tiba-tiba ketemu ntah dimana itu termasuk ber-jodoh dalam hidup saya, maksudnya jodoh untuk bertemu lagi dan menjalin persahabatan lagi *bukanjodohpasanganhidup *yangbacajanganjadigalau.

Saya udah pernah sih main ke blognya Fitri, tapi saya sempat lupa karena saya lebih sering Blog Walking ke para anggota komunitas Blogger hehehe. Sampai saya berkunjung lagi ke blognya Fitri beberapa hari lalu dan ternyata postingannya sudah banyak update dari terakhir kali saya main ke blognya. Waktu saya baca, kisah curhatannya ada yang hampir mirip dengan yang saya alami, khususnya tentang curhatan doi yang ternyata suka punya mental bersalah dan suka terpengaruh orang lain. Saya pikir saya aja yang sering ngalamin semua itu, ternyata saya ada temen hehheehe.

Semakin saya baca semakin saya baru tahu sisi lain dari kehidupan Fitri *tsaellaahh *jangan terbangyaFit. Selama ini kalau ketemu, kami selalu ngobrol cuma ga sering karena jarang ketemu dan juga sudah pada sibuk jadi ga bisa tahu banyak tentang sisi kehidupan yang lain. Setelah baca blognya saya baru tahu bahwa semua orang punya struggle-nya masing-masing mulai dari masalah di kerjaan dan masalah pribadi. Padahal saya pikir ya Fitri adem-adem aja, dapat kantor yang cocok dan lokasinya bisa dijangkau dari rumah, sedangkan saya aja susah cari tempat kerja yang bisa saya jangkau dari rumah saya, kantor yang manggil untuk wawancara pun letaknya udah far-far away. Kalau kata partner kerja saya, mungkin rejeki saya di tempat yang jauh*janganjanganjodohsayajugajauh *tobatmontobat.

Baca juga : On People’s Influence from fitrisays.blogspot.com

Ada satu curhatan teman saya ini yang menyentil saya yaitu ketika dia curhat kalau kadang merasa insecure disekelilingi oleh teman-teman yang talented dan artistik, orang-orang yang selalu punya hal bagus untuk diceritakan. Knapa saya kaget? Karena saya mengalami hal yang sama. Rasanya saya sering banget minder karena orang-orang di sekeliling saya seperti punya hal bagus yang bisa diceritakan sedangkan saya ya gini-gini aja. Ternyata gak hanya saya yang pernah ngalamin hal seperti itu. Padahal selama ini saya selalu melihat Fitri yang tetap maju meskipun ada banyak masalah dalam kerjaan *chieeFitrriii *prikitiwwww. Ternyata ungkapan rumput tetangga lebih hijau ada benarnya, mungkin kita tidak tahu selagi kita melihat rumput tetangga, diam-diam ada yang sedang mengamati rumput halaman kita.

Saya juga inget teman dekat saya chat saya via Line, trus dia nanya tentang acara NUXExAlodita Brunch Soiree kemarin. Sempat teman saya itu bilang pengen banget bisa ikutan acara itu, padahal saya baru bahas pengen bisa kerja lagi biar bisa nabung dan liburan kayak teman saya ini. Seketika itu kami ketawa karena ternyata benar yang dibilang orang tentang ungkapan rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri ahahah. Bahkan teman saya cerita pas dia lagi dinas ke Luar Negri, dia sempat ngobrol sama orang Singapore trus orang Singapore itu bilang kalau dia ingin pindah dan tinggal di Indonesia, temen saya langsung kaget, saya yang di ceritain lebih kaget lagi heheheh.

Membandingkan kehidupan kita dengan orang lain memang ga akan bisa karena ga akan ada habisnya toh jalan hidup setiap orang berbeda, ga akan deh ada yang sama. Jalan hidup saya mungkin yang memang Tuhan pikir cocok untuk saya lalui. Saya juga ga mau dikit-dikit liat rumput tetangga apalagi pas rumput saya lagi gersang *asikk, lebih baik fokus mengurus rumput sendiri apapun keadaan rumput kita.

Teruntuk teman saya Fitri, keep writing ya Fit, ayoo kita jangan gampang terpengaruh orang lain ahahhaha. I envy your traveling stories Fit, aku jarang banget traveling :’(. Semoga kita ketemu lagi dalam waktu, tempat dan ketidaksengajaan di masa depan heheheh 🙂 .

DEAR SELF, YOU DON’T NEED TO RUSH !

SquareMaker_20151130102927489

Badan saya sedang tidak bersahabat akhir-akhir ini, sering pegal, kadang rasa malas timbul, emosi yang naik turun, dan sering kali rasa bosan muncul bahkan di saat saya sedang sibuk-sibuknya urusan pergi event, pesanan grafis undangan melalui usaha saya @colourpalettedesign, rievew produk/event di blog, dan juga beberapa pesanan make up dari orang terdekat saya. Sebenarnya saya sangat bersyukur, meski belum memutuskan untuk kembali lagi kerja kantoran, banyak berkat yang saya dapatkan.

Saya sempat menonton salah satu video youtube dari salah satu blogger favorite saya, Andra Alodita, di salah satu videonya Mbak Alo sempat memberikan tips dalam relationship yaitu mengucap syukur atas segala sesuatu sebelum tidur. Sejenak saya sempat tersentak karena saya sudah jarang sekali mengucap syukur padahal banyak sekali berkat yang saya terima meski saya belum bekerja secara tetap. Sejak saya mulai membiasakan lagi berdoa dan mengucap syukur saya mem-flash back hal-hal yang kecil namun ternyata juga merupakan berkat bagi saya.

Ditengah-tengah kesibukan event blogging sana sini, jujur saya senang karena saya bisa dapat teman baru, bertemu dengan  beberapa brand, belajar banyak mulai dari make up, skin care, foto, dan membuat video sampai saya sempat jatuh sakit karena kelelahan dan kondisi cuaca yang juga tidak mendukung. Saya kemudian terdiam dan baru kali itu saya menyadari diri saya memang kelelahan dan butuh istirahat. Saya mulai mengingat-ingat apa tujuan saya blogging dan bagaimana blogging juga telah merubah saya. Saya mulai berpikir bahwa saya tidak ingin semakin tidak mengenali diri saya bahkan di dalam tahap saya menemukan diri saya sendiri, saya tidak mau ini hanya bagian kejar target dan agar saya sibuk.

Saya ingat pertama kali membaca salah satu blog dari blogger favorite saya. Saya bukan hanya tertarik dengan semua produk mahal, skin care bagus, event terupdate tetapi bahkan saya paling menikmati masa dimana tulisan-tulisan dari para pembuat blog yang bercerita tentang saat mereka menghadapi masalah dalam hidup, bagaimana mereka pertama kali jadi orang tua, bagaimana mereka berjuang untuk hidup sehat karena sempat sakit parah, bagaimana mereka mengejar karir mereka sampai membuka kantor sendiri, all those things are the real things. Hal personal tersebut justru menginspirasi saya lebih banyak dan membuat saya merasa bahwa saya tidaklah sendiri dalam perjalanan saya yang terkadang buta arah. Saya pernah mendengar quotes ini ketika saya sedang pause and pondering di acara persekutuan kampus saya dulu.

“Pelari yang terlalu keras berlari malah melenceng dari garis finish”

Apakah saya berlari terlalu keras sampai melupakan garis finish? Manusia wajar untuk menjadi letih, kita bukan Tuhan yang tidak pernah tidur. Berhenti, Beristirahat, waktu jeda termasuk waktu penyerahan diri dimana kita tahu kita tidak perlu terlalu keras berlari sehingga melenceng dari garis finsih. Saya sudah mulai mengurangi beberapa event ke depan, mulai memilah-milih mana yang harus diutamakan dan cocok untuk blog, mana yang baik dan mana yang terbaik. Saya perlu selalu mengingatkan diri saya bahwa tidak perlu terlalu keras berlari. DEAR SELF, YOU DON’T NEED TO RUSH !