Going to Africa!

Algier Houari Boumediene

Awal bulan Desember 2017, saya mendapat kabar bahwa saya jadi dikirim ke negara Algeria di Afrika. Reaksi saya saat itu kaget dan cemas, hanya saja saya selalu berusaha untuk terlihat tenang. Kabar bahwa saya akan berangkat semakin sering saya dengar di kantor pusat. Padahal dua bulan setelahnya, saya masih belum juga tuh mendapat kepastian tentang tanggal berangkat dan tiket.

Karena saya saat itu menunggu dalam ketidakpastian, saya memutuskan mengatur janji dengan teman-teman dekat sebelum saya berangkat dinas. Selama dua bulan itu, saya menghabiskan weekend dengan bertemu hampir semua lingkaran pertemanan saya untuk pamitan. Saya bahkan bertemu dengan seseorang dari masa lalu untuk rekonsiliasi sekaligus pamitan.

Hampir dua bulan menunggu tanpa kepastian, saya sudah mulai makin cemas. Pertanyaan-pertanyaan seperti “kok masih disini?”, “kapan berangkat?” atau “kok belum berangkat?” jadi makanan sehari-hari saya di kantor. Jujur, siapa sih yang nyaman dengan lontaran-lontaran pertanyaan seperti itu. Padahal alasan saya belum berangkat karena terkait visa yang belum selesai.

Tepatnya Maret 2018, saya jadi berangkat ke Algeria. Salah satu orang proyek menghubungi saya via whatssap untuk stand by, karena kemungkinan hari itu saya akan mendapat tiket keberangkatan. Malam sebelumnya saya sudah cicil packing untuk antisipasi dapat tiket mendadak. Tiket pergi pun dikirim ke saya melalui email dan whatsaap siang itu. Setelah makan siang, saya dan Sheila (rekan kerja) langsung pamitan dengan orang-orang kantor pusat.

Perkara packing menambah kepanikan saya, karena rasanya saya mau bawa banyak barang kesana. Sore itu saya dan keluarga berangkat menuju terminal 2 Bandara Soekarno Hatta. Saya cuma bawa 1 koper besar dan 1 ransel untuk dinas ke Afrika. Saya takut kelebihan bagasi, karena beberapa maskapai international ketat untuk aturan kapasitas bagasi yang bisa dibawa.

Ketika transit di Bandara Turki bersama rekan kerja yang lain
Ketika transit di Bandara Turki bersama rekan kerja yang lain

Sebelum saya lanjut dengan apa yang saya bawa selama dinas ke Afrika. Saya akan share beberapa hal yang perlu dipertimbangkan bagi kalian yang tertarik untuk kerja di luar negri atau dinas kerja di luar negri. Saya harap poin-poin ini dapat kalian pertimbangkan sebelum menerima kontrak kerja dinas di luar negri.

Negara Afrika yang dijadikan tujuan

Negara-negara di Afrika belum sepenuhnya stabil seperti negara-negara di benua Eropa atau Asia. Saya sangat menyarankan untuk menggali informasi sepenuhnya tentang negara Afrika yang akan dituju, serta kondisi politik negara tersebut. Hal ini sebagai pertimbangan apakah negara tersebut cukup aman untuk dikunjungi. Kita juga perlu menggali informasi tentang budaya dan cuaca negara tersebut agar dapat mempersiapkan pakaian-pakaian yang cocok dan berguna selama kita tinggal disana.

Kontrak kerja untuk kerja di proyek luar negri

Hal ini merupakan hal yang paling penting dalam menerima kontrak kerja di luar negri. Baca baik-baik kontrak kerja yang diberikan, bahkan kalau perlu minta waktu untuk mempertimbangkan kontrak sebelum menyetujuinya. Perusahaan dengan reputasi yang baik akan mempertimbangkan negosiasi dan waktu yang anda minta sebagai calon pegawai. Pastikan kalian benar-benar setuju dengan isi kontrak tersebut, sampai akhirnya menanda tangani. Sayangnya waktu itu saya tidak diberikan kontrak dinas karena saya pegawai kantor pusat. Saya hanya mendapat surat keputusan penempatan dari atasan saja saat itu.

Proses Visa

Proses Visa saya waktu itu seluruhnya diurus oleh kantor pusat, sehingga saya hanya menunggu kepastian selesainya proses visa. Kebetulan untuk negara Algeria, pihak kantor saya bekerja sama dengan badan travel dan kedutaan untuk prosesnya. Bagi yang ingin pergi ke Afrika untuk traveling atau liburan, silahkan langsung ke kedutaan negara masing-masing untuk mendapat info yang lebih lengkap.

Medical Check Up dan Vaksin

Saya sangat menyarakan untuk melakukan medical check up sebelum berangkat ke Algeria. Saya juga melakukan vaksin hepatitis B, flu, difteri, meningitis dan yellow fever sebelum berangkat *untung saya masih hidup. Kebetulan karena ibu saya seorang dokter, jadi beliau cerewet banget soal dunia per-vaksinan. Vaksin yang paling penting sebenarnya adalah vaksin meningitis dan yellow fever. Saya juga menyarankan untuk mencari info vaksin apa saja yang diperlukan sebelum berangkat ke negara tujuan. Bandara juga memberikan layanan vaksin meningitis dan yellow fever di KPP Soetta.

Packing

Sebenarnya saya sudah cicil pakaian musim dingin dari bulan Desember karena saat itu banyak Mall yang memberikan diskon. Negara Algeria masih memiliki empat musim seperti di Eropa yaitu musim dingin, panas, gugur dan semi. Saya sarankan membeli pakaian musim dingin menjelang akhir tahun karena biasanya banyak brand yang memberikan diskon atau melakukan cuci gudang.

Packing untuk dinas ke Algeria, Afrika
Packing untuk dinas ke Algeria, Afrika

Trus apa sih yang saya bawa ke Algeria untuk dinas kerja? Saya memang agak buru-buru ketika berangkat pertama kali ke Algeria. Pemberangkatan kedua setelah cuti pertama habis, saya mulai bisa mengatur barang-barang penting yang perlu saya bawa dan yang tidak perlu saya bawa.

Pakaian

Saya membawa pakaian untuk kerja, pakaian untuk acara atau jalan-jalan. Saya lebih banyak membawa celana bahan dengan jenis sporty daripada jeans agar lebih nyaman untuk saya. Saya juga membawa 5 pasang long john, 2 sweater, dan 1 jaket tebal musim dingin. Sisanya saya membawa beberapa pasang baju tidur atau baju rumah. Tidak lupa juga saya membawa topi hangat untuk musim dingin. Karena udaranya lebih dingin dari yang saya prediksi, saya akhirnya membeli syall, sarung tangan dan kaus kaki disana.

Skincare

Saya membawa Sunblock spf 50 +++, karena matahari disana lebih menyengat, apalagi saat musim panas. Saya membawa berbagai perlengkapan mandi saat pertama kali berangkat. Perlengkapan mandi sendiri termasuk lengkap di negara Algeria, bahkan banyak sabun-sabun disana yang variannya ga ada di Indonesia. Skincare yang saya bawa cukup lengkap dengan varian untuk melembabkan kulit karena kondisi udara disana yang cenderung kering. Saya hanya membawa make up sehari-hari yang biasa saya pakai. Karena bekerja di lingkungan proyek, saya rasa make up bukan sesuatu yang penting untuk dipakai tiap hari.

Perlengkapan kerja

Saya membawa laptop, ransel, buku catatan dan beberapa alat tulis untuk bekerja disana. Untuk perlengkapan kerja, ada baiknya kita bertanya kepada hrd masing-masing tentang perlengkapan kerja yang perlu kita bawa selama dinas.

Obat-obatan

Sangat penting membawa obat-obatan pribadi dari Indonesia. Obat yang biasa dijual di negara Algeria dosisnya dua kali dari dosis obat di Indonesia. Saya bahkan pernah teler setelah minum obat dari dokter disana, karena dosisnya yang tinggi. Beberapa obat juga efeknya sangat kuat ke pasien.

Buku/Jurnal

Saya selalu membawa jurnal pribadi untuk sekedar curhat. Jam kerja proyek memang tidak bisa diprediksi. Jarang sekali saya tidak bisa mendapatkan privasi atau me time yang saya inginkan. Kondisi saya dan rekan kerja sekamar yang capek sehabis kerja pun terkadang membuat kami tidak bisa sering-sering curhat. Jurnal jadi penyelamat saya di masa-masa saya stress dan penat di proyek.

Makanan awet

Selesai cuti pertama, saya balik ke negara Alger dengan membawa indomie, kering kentang dan beberapa snacks andalan. Rasa makanan disana yang saya rasa kurang pas di lidah, membuat saya berinisiatif untuk membawa makanan yang bisa awet untuk dibawa. Sering kali makanan-makanan-makanan tersebut mengingatkan saya akan rumah dan Indonesia. Kalian juga perlu tahu bahwa indomie versi Algeria Cuma tersedia dalam satu varian kuah dan rasanya sekedar asin *sedih ga sih.

Uang Internasional

Berada di negara lain memang mau ga mau menuntut kita untuk membawa uang yang mudah ditukar dengan uang negara setempat. Perlu dicatat kita ga bisa menukar rupiah dengan dinar Algeria karena pasti ga laku hehehe. Saya membawa dolar dalam bentuk cash agar mudah ditukarkan saat ke money changer. Beberapa mesin atm bisa digunakan untuk mengambil uang tabungan kita di Indonesia dan langsung keluar dalam bentuk dinar Algeria. Kartu kredit juga sangat membantu ketika kita jika mendadak ingin memesan hotel atau tiket pesawat.

Perjalanan menuju lokasi proyek lewat jalan tol
Perjalanan menuju lokasi proyek lewat jalan tol

Bagi kalian yang masih belum kebayang Algeria itu seperti apa. Menurut saya Algeria mengingatkan saya dengan Indonesia sekitar tahun 2000-an. Pembangunan lebih pesat di kota-kota besarnya. Tidak banyak pembangunan di kota-kota kecilnya. Negara ini merupakan negara bekas jajahan Perancis. Sebagian kota besar di Algeria memiliki banyak bangunan peninggalan bersejarah dari jaman penjajahan Perancis.

Negara ini juga merupakan negara paling luas di Afrika, namun penduduknya ga sebanding dengan luas negaranya. Masih sangat banyak lahan kosong dan padang rumput apalagi jika kita menggunakan tol luar kota. Kebetulan lokasi proyek saya berada di kota kecil daerah dataran tinggi. Pemandangan gunung dan bukit-bukit hijau jadi pemandangan yang sering dijumpai ketika melewati tol ini.

Bahasa yang digunakan di negara ini ialah Arab dan Perancis. Sebagian besar pemuda disana bisa berbahasa Inggris namun Perancis lebih banyak dipakai penduduk negara tersebut. Nah segitu dulu blog pembukaan tentang pergi ke Afrika. See you on my next post readers!

NOTE

This is NOT a Sponsored Post. All things that are written in this blog post are my own opinions and my honest experience. Do not copy my blog or my photos, if you want to use my blog or my photos please ask my permission by email and credit the copy page or image back to my blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *